Teori Film

Senin, 30 Desember 2013

Jugun Ianfu di Suriah


24 September 2013 pukul 13:43 (by; Nurul Nisa)

Comfort Women merupakan istilah yang diberikan untuk perempuan-perempuan yang memberikan rasa nyaman untuk tentara  yang tengah berperang. Perempuan-perempuan ini ditugaskan melayani kebutuhan biologis para tentara. Perempuan-perempuan ini pernah tercatat dalam sejarah seperti Jugun Ianfu yang disediakan untuk tentara Jepang yang tengah menjajah Indonesia atau Western Princes untuk tentara US dan Korea Selatan pada masa perang korea. 

Namun sejarah juga mencatat, para Comfort Women ini selalu disediakan untuk tentara penjajah, bukan untuk orang-orang yang mempertahankan harga diri dan bangsanya dari penjajahan dan penindasan. Toh, kebutuhan seksual lebih mudah dituntut ketika manusia sedang berada pada posisi superior, dalam kondisi inferior/tertindas kebutuhan seksual bukan menjadi prioritas utama.


Lalu, belakangan banyak isu yang beredar mengenai ‘Jihald Al Nikah’ yang terjadi Suriah. Konon jihad seks ini dihalalkan ketika keluar fatwa dari ulama besar di arab. Jihad seks ini, di peruntukkan oleh kaum pemberontak yang tengah berperang melawan pemerintahan president Bashar al-Assad. 

Namun pada prakteknya ‘Jihad Al Nikah’ tidak jauh berbeda dengan penyediaan ‘Comfort Women’, meskipun penyediaan perempuan-perempuan ini dibalut dengan jihad – yang tidak lain dalam terminology islam merupakan perang suci untuk mempertahankan agama – bahkan disebut-sebut sebelum melakukan hubungan biologis tersebut si perempuan dan pria pemberontak tersebut dinikahkan sementara –prosesnya bisa diduga seperti pernikahan mut’ah- terlebih dahulu. Mirisnya, satu orang perempuan dalam sehari bisa dikawinkan sebanyak 3-4 kali. Ini berarti pernikahan sementara tersebut hanya berlangsung dalam hitungan jam. Akibatnya sejumlah perempuan Tunisiah yang berangkat berjihad ke Suriah pulang dalam keadaan hamil. Diberitakan, keberangkatan para perempuan Tunisiah untuk berjihad ke Suriah cukup terorganisir.

Menarik untuk disimak, melalui pandangan saya setidaknya ada dua poin yang menjadi perhatian. Pertama, ‘Jihad Al Nikah’ secara prakteknya tidak berbeda dengan penyediaan ‘Comfort Women’ pada perang-perang sebelumnya. Yang membedakannya adalah para jihadis perempuan ini datang dengan suka rela, tidak seperti jugun ianfu yang diculik dari kediamannya dan di tempatan di kamp-kamp tentara. Mereka dipaksa melayani kebutuhan seksual tentara Jepang.

Yang menjadi perhatian adalah jika dalam perang sebelumya seperti pada perang Indonesia melawan Jepang maupun perang Korea, Comfort Women disedikan bagi tentara-tentara penjajah yang berada dalam posisi superior. Berbeda dengan yang terjadi di Suriah, perempuan-perempuan tersebut di sediakan untuk para pemberontak, kelompok yang seharusnya berada pada posisi inferior di bawah tentara pemerintah yang sah.
Dua hal yang kemudian cukup mengusik pikiranku. Pertama, jika benar para pemberontak ini tengah melawan pemerintah superior, masih sempatkah mereka memikirkan hasrat seksual ditengah kondisi - yang seharusnya – mereka terintimidasi oleh kekuatan yang lebih besar??? 

Pikiran paling usilpun memunculkan dua kemungkina yaitu; para pemberontak ini sebenarnya hanya sedang memposisikan diri mereka sebagai kelompok yang tengah membebaskan negaranya dari penindasan untuk mendapat simpatik. Jika dilihat dari hasrat paling purbanya para pemberontak ini bisa jadi adalah kelompok yang memiliki atau didukung oleh kekuatan yang lebih superior dibandingkan kekuatan militer pemerintah Bashar al-Assad. Ataukah Jihad Al Nikah dijadikan ‘marketing’ untuk menarik orang-orang agar bersedia secara sukarela bergabung dan memperkuat tentara pemberontak. Jika hal tersebut benar apakah pantas gerakan orang-orang ini di sebut jihad? Jika pada niat awal mereka bergabung hanya untuk mendapatkan servis dari perempuan-perempuan malang ini.

Kedua adalah, pada prakteknya Jihad Al Nikah menggunakan posedural yang sama dengan nikah mut’ah. Nikah mut’ah – nikah sementara – merupakan salah satu ajaran dari penganut Syiah, jika benar para pemberontak tengah tersebut memerangi pemerintah Bashar al-Assad  dengan alasan, presiden Assad merupakan penganut syiah yang bertentangan dengan ajaran Sunni yang diananut para pemberontak. Dengan alasan tersebut mereka lalu menggiring konflik ini menjadi konflik agama (Sunni melawan Syiah), jika benar demikian, mengapa para pemberontak yang Sunni itu mempraktekkan aqidah musuh yang tengah mereka perangi? sesuatu yang ambigu bagi pemberontak Suriah yang Sunni.

Hingga saat ini belum ada otoritas Syiah yang membenarkan Jihad Al Nikah dilakukan dalam kondisi tertentu, berbedada dengan nikah mut’ah yang umumnya di perbolehkan untuk para pengikut syiah. Jadi apa sebenarnya tujuan mereka menghadirkan para ‘Comfort Women’ di tengah konflik pemberontak dan pemerintah presiden Bashar al-Assad? Tapi satu hal yang pasti para perempuan ini adalah korban paling nyata dari sebuah konflik kekuasaan berbalut agama.  Apapun kepentingan yang tengah mereka perjuangkan tidak seharusnya membawa mundur perempuan-perempuan sebangsanya. Bagaimanapun kemasannya, penyediaan ‘Comfort Women’ tetaplah perbudakan seks bagi kaum perempuan.

#hanyaopiniorangawam

0 komentar:

Poskan Komentar