Teori Film

Senin, 18 Juni 2012

Gie (Text analysis)



Catatan Seorang Demonstran adalah buku karya seorang tokoh penting gerakan  mahasiswa tahun ’66, Soe Hok Gie. Buku ini berisi tentang catatan-catatan harian dari mulai remaja sampai beberapa hari sebelum meninggalnya tokoh tersebut yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1983 oleh LP3ES. Sedangkan Gie adalah film garapan sutradara Riri Riza, mengisahkan tokoh bernama Soe Hok Gie yang diangkat dari buku berjudul Catatan Seorang Demonstran. Pendeknya film Gie adalah adaptasi dari buku berjudul Catatan Seorang Demonstran.  

Kalau dilihat dari judul diatas, kata ‘antara’ adalah dimaksudkan untuk mengisyaratkan perbedaan, ada kesan membandingkan disini. Perbedaan antara buku Catatan Seorang Demonstran dengan film berjudul Gie. Menurut pikiran paling bodoh kedua hal diatas sudah tentu berbeda sekali. Tapi namanya juga adaptasi, pasti lebih banyak kesamaannya dibanding perbedaannya, untuk film dan buku ini kesamaan terletak pada kisahnya. Permasalahannya disini adalah buku yang menjadi acuan pembuatan film ini bukanlah novel atau roman yang didalamnya jelas-jelas bercerita.  Sedangkan film Gie yang menurut kaidah-kaidah filmis adalah bercerita.

Kita menemukan satu kata yang menunjukan kesamaan yaitu kisah, dan satu kata yang menunjukan perbedaan yaitu becerita. Pada akhirnya kedua kata yang dicetak tebal diatas bisa kita selaraskan menjadi cerita. Karena buku Catatan Seorang Demonstran yang bukan novel atau roman secara tidak langsung telah bercerita, tentang Soe Hok Gie. Maka jelaslah tulisan ini akan membahas perbedaan dari kesamaan antara buku berjudul Catatan Seorang Demonstran dengan film berjudul Gie, yaitu dari unsur cerita.

Permasalahan lain adalah film Gie dibuat berdasarkan buku Catatan Seorang Demonstran dan bukan sebaliknya, jadi bukunya dulu ada baru keluar filmnya. Dan karena kuliah ini adalah belajar untuk yang mana hasil akhirnya adalah film, sehingga untuk pembahasan cerita yang digunakan dalam tulisan ini adalah unsur cerita dalam film yang sering disebut sebagai naratif.

Struktur
Dalam bukunya, penulis mencatat kejadian-kejadian yang dialami dan pikiran-pikirannya tanpa ada pola atau struktur di dalamnya. Ia menulis tentang apapun yang ingin ia tulis sampai-sampai sesuatu yang tidak penting dimasukkan disana. Hal ini dilakukan secara berkesinambungan dari kecil hingga menjelang kematiannya. Sekali lagi tanpa pola ataupun struktur.
Begitu kita lihat hasil filmnya, tampak sekali terdapat struktur dari awal sampai akhir film. Gie berstruktur tiga babak, mulai dari opening yang berisi pengenalan karakter tokoh utama yaitu ketika Soe Hok Gie kecil dilanjutkan dengan middle dimana mulai terlihat masalah-masalah yang dihadapinya dan diakhiri dengan ending yaitu kematian sang tokoh.
Struktur film ini sangat terasa melalui opening yang bergerak lambat dan bertensi rendah. Kemudian sedikit menanjak dalam middle dimana digambarkan bagaimana sang tokoh mulai beranjak dewasa dengan adegan-adegan yang mulai mencekam seperti demonstrasi dan suasana politik saat peristiwa terjadi. Sampai akhirnya sang tokoh mati, adegan-adegan sebelum itu mempunyai tensi yang tinggi yang membuat dramatik cerita sampai pada puncaknya.
Sedangkan untuk mencapai struktur dramatik yang diinginkan, pembuat melakukan semacam penambahan pada tokoh-tokoh dalam film yang di dalam buku tidak ada. Hal ini akan dijelaskan lebih rinci nanti. Kemudian pada akhir film dimana terdapat adegan tokoh utama mati di gunung Semeru. Adegan ini tentu saja tidak ada dalam buku. Pembuat menambahkan sebagai penunjang kebutuhan struktur dramatik cerita.

Plot
Dalam plot terjadi pemilihan peristiwa dan pengecualian peristiwa. Untuk kasus Gie, ada kebutuhan memfokuskan cerita sehingga banyak fakta yang tertulis dalam buku acuan terpaksa tidak dipakai dalam film. Lagipula adalah tidak mungkin memasukkan seluruh isi buku ke dalam film. Seperti contohnya dalam buku terdapat sub bab dimana Soe Hok Gie masih kecil. Disana ia menuliskan macam-macam dari buku apa yang telah dibacanya, nilai-nilai yang diperolehnya, siang tadi ia kerumah siapa, dan hal-hal kecil sehari-hari. Tetapi dalam film sub bab ini dipilih mana peristiwa yang menurut pembuat paling penting.
Maka dalam film terdapat adegan Soe Hok Gie  dan guru sastranya sedang berdebat mengenai apakah Chairil Anwar pengarang atau penerjemah puisi-puisi Andre Gide. Kemudian terdapat adegan  ketika seorang sahabatnya, Djin Han, mengalami kekerasan dari bibinya. Djin Han mengungsi di rumah Soe Hok Gie akibat kekerasan tersebut. Ketika bibi Djin Han menyusul bersama seorang hansip, Soe Hok Gie menghalangi sampai akhirnya ia ikut menjadi korban kekerasan.
Saya sudah menyebutkan bahwa didalam buku terdapat sub bab yang kemudian dipilih untuk dimasukkan kedalam film, tetapi pada sub bab dalam buku yang sama sekali tidak ada dalam film. Yaitu ketika Soe Hok Gie pergi ke Amerika.

Karakter
Tan Tjin Han, figur yang menjadi sahabat Soe Hok Gie semasa kecil, adalah seorang tokoh fiktif yang diilhami oleh dua orang sahabatnya yaitu Djin Hok dan Effendi. Dari buku memang tertulis seorang teman kecil bernama Djin Hok yang menjadi korban kekerasan bibinya, tetapi di sub bab ketika Soe Hok Gie dewasa namanya tak pernah lagi disebut-sebut. Teman Soe Hok Gie yang menjadi korban razia PKI adalah Effendi.
Ira dan Sinta adalah dua perempuan yang mewakili wanita-wanita dalam hidup Hok Gie. Meskipun Hok Gie memang pernah berpacaran dengan beberapa gadis UI, Ira dan Sinta dalam film ini adalah tokoh-tokoh fiktif. Dalam buku harian memang menyebutkan keterlibatannya dengan tiga perempuan, tetapi kalimat “aku mencintai......” salah satu dari mereka tidak ada.
Ira adalah seorang wanita muda yang cerdas dan hidup dengan semangat pejuang untuk impian-impian idealistis yang juga dimiliki Soe Hok Gie. Ira adalah sahabat dan pendukung Soe Hok Gie yang paling setia dan selalu hadir, baik saat Gie sedang kerja maupun main. Sempat terlihat tanda-tanda asmara  antara Soe Hok Gie dengan Ira, tetapi baru sekali kencan keduanya sudah tidak berani melanjutkannya menjadi sebuah kisah cinta. 

Selang beberapa tahun, muncullah seorang gadis menawan bernama Sinta. Orangtua Sinta yang berada mengagumi karya-karya tulis Soe Hok Gie. Jelas terlihat bahwa Soe Hok Gie dan Sinta secara fisik memang tertarik satu sama lain, tetapi tidak berhasil menjalin hubungan hati-ke-hati yang mantap. Kelihatannya Sinta sekadar suka ditemani Soe Hok Gie dan bangga menjadi pacar seorang tokoh yang dihormati, tetapi sebenarnya tidak betul-betul peduli dengan hal-hal yang menjadi obsesi hati Soe Hok Gie. Sebaliknya, Soe Hok Gie tidak tahu bagaimana mengambil hati Sinta dan merasa tidak puas dengan hubungan mereka.

Kisah cinta Soe Hok Gie dan Sinta mungkin diilhami oleh pacar Soe Hok Gie yang terdekat. Pacar Soe Hok Gie adalah putri sebuah pasangan kaya yang mengagumi karya-karyanya, dalam buku namanya adalah Maria. Namun, begitu hubungan Soe Hok Gie dengan Maria semakin intim, orangtua si gadis mulai membuat-buat dalih untuk menghalang-halangi putrinya dan Soe Hok Gie untuk saling bertemu. Menurut orangtuanya, adalah terlalu riskan bila sang putri menikahi seorang pria yang keuangannya sulit dan sering menjadi target intimidasi dan macam-macam ancaman.

Yang membingungkan adalah ketika Ira mendapat kabar kematian Soe Hok Gie berupa surat. Ketika membaca Ira menangis dan isi surat itu adalah puisi tentang cinta yang sepertinya ditujukan terhadapnya. Adegan ini tidak ada dalam buku.

Tokoh-tokoh tambahan lainnya antara lain Denny (salah seorang sahabat Hok Gie yang periang, lucu, dan ramai), Jaka (tokoh persatuan mahasiswa Katolik yang ternyata hanya memperalat politik untuk kepentingan diri sendiri).
Daftar Pustaka,
Bordwell, D, and Kristin Thompson. Film Art: An Introduction, New York: Mc Graww Hill, 1993
Gie, Soe Hok. Catatan Seorang Demonstran. Jakarta; LP3ES.  2005.
Sasono, Eric. “Gie dan Problem Adaptasi” di Kompas, 6 Agustus 2005.

0 komentar:

Poskan Komentar