Teori Film

Jumat, 25 November 2011

Teori Film Praktis, dan kritik atas Bordwell

cukup sulit untuk menempatakan analisa film kedalam bentuk ilmiah, meski demikian tetap harus ada usaha menganalisa film dari sudut pandang ilmiah, ia telah menjadi seni oleh karena kompleksifitasnya, kreativitas hanyalah make-up (sebisa bisanya kita menempatkan itu)_yp

Teori Film Praktis  
Berpegangan pada aspek konstruktif dalam memformulasikan rumusan teori filmnya, Barry salt kemudian menggunakan metode analisis dan evaluatif yang seobjektif mungkin dalam menelaah lebih dalam tentang berbagai unsur dalam cinema.

 

Metode analisis dipandang perlu demi menguji seberapa  tinggi tingkat akurasi rumusan teori yang digunakan, demikian juga halnya dengan metode evaluatif, mengingat pada akhirnya  hanya beberapa film saja yang dapat dipriorotaskan untuklebih lanjut dikaji secara serius.

Penilaian objektif secara penuh dalam perumusan teori film mutlak diperlukan karena hal ini akan mendorong tumbuhnya penerapan ilmu komunikasi yang lebih maksimal, dimana seperti yang kita ketahui sebelumnnya , bahwa Salt meyakini interaksi komunikasi  yang terselenggara dalam medium sinema terbukti  efektif untuk mengkaji interpretasi narasi film. (lihat kembali Metz dan sinema semiotik)

Idealnya kajian sinema yang serius seyogyanya meneladani aspek aspek positif yang ada  pada sains yang lebih establish dan mapan seperti biologi dan fisika, yang mana terdapat kesamaan baik dalam esensi maupun metode pengajaran  baik di Inggris, Rusia, Amerika serta China

Menurut Salt, kajian film tidak memilki kapasitas untuk dapat tumbuh dan kemudian berkembang menjadi sains yang seutuhnya dikarenakan sifat dasar  dari kajian itu sendiri yang cenderung bersifat eksperimental, inovatif, idiosynchratik 9unik-memiliki karakter khusus) serta kental dengan aroma kompleksifitas (terdapatnya perbedaan persfektif dalam menginterpretasi adegan film). Singkat kata, tidak ada aturan baku yang mengatur nilai nilai estetika yang terkandung didalam medium sinema, sehingga bisa dikatakan estetika dalam sinema seakan akan bersifat sebagai alat kosmetik belaka.

Analisa Film versi Barry Salt.
Perihal analisa film, Salt membagi tiga atas bagian yaitu
1)      Berdasarkan Konstruksi teknisnya (jenis kamera yang digunakan, ukuran lensa, angle, editing, art direction dan tata ruang)
2)      Style (executive and artistic decision) sang sutradara
Dimana menurut Salt faktor kedua inilabih banyak diabaikan dalam perumusan teori film dewasa ini.
3)      Dan yang terahir dan relatif krang signifikan ari dua faktor diatas adalah film dapat dianalisa dengan mengukur seberapa besar tingkat respon dari penonton.

Menelisik lebih dalam tentang peran konstruksi teknis dalam menganalisa film, lebih lanjut Salt menjelaskan bahwa evolusi kemajuan  teknologi industri perfilman yang dibarengi dengan pergeseran nilai nilai budaya sosial dimasarakat, elah memberikan dampak yang sangat besar terhadap perkembangan sinema dimasa kini berikut dinamisme perumusan teori dan kajian baru dalam film.

Sedangkan perihal style sutradara, Salt mencermati keterkaitan antara visi dan kepribadian sang sutradara  dengan pengfaruh dan kreatif decision dalam film yang ia besut, dimana seringkali  terbentuk kompromi kompromi politik serta artistik antara sang filmaker dengan pihak penyandang dana atau produser, contohnya seperti yang terjadi dimasa lampau  pada sistem old Hollywood yang konservatif dengan film film garapan John Ford, Cecil B, Bill Wilder, Michael Curtiz, dan praktek ini terus berlangsung  hingga sekarang.

Dalam kaidah style filmaker, Salt menjelaskan adanya spektrum dua kutub, yaitu; ekstrim naturalisme dan ekstrim ekspresifisme. Sebagai contoh dimana mayoritaas mainstream sutradara sutradara Hollywood  berorientasi pada  aliran naturalisme  yang mengedepankan unsur optimisme dalam tampilan visual  berwarna terang dan cerah. Disis laian Ingmar Bergman lebih condong kearah ekstrim ekspressif dengan style Chiaroscuro, lain pula denagan Jean Luc Godard yang kerap kali mengubah-ubah style  dalam setiap film garapannya (eksperimental)

Lanskap  demografik yang fluktuatif (perubahan tatanan sosial masarakat pada masa tertentu), tingkat intelektualitas serta background ekonomi sosiopolitik dapat dijadikan acuan  dalam mengukur  barometer respon penonton film. Sebagai contoh, salt menyebutkan bahwa reaksi penonton masa kini terhadap film bisu (Chaplin, Buster Keaton) akan berbeda dengan respon  yang dialami oleh penonton di era 1920an.
Secara kronologis, metode respon penonton untuk menganalisa film ini diawali dengan  investigasi atas efek sosiologi sinema, kemudian berlanjut  pada persepsi psikologi (lihat teori Neo-Formalis, Bordwell-Thompson pada teori film Amerika), dan  akhirnya bermuara pada konsep pemikiran yang menyangkut keterlibatan proses mental psikologi masing masing individu dalam mengurai  dan memahami bahasa audiovisual film.

Kriteria Salt dalm evaluasi film
Untuk mengevaluasi nilai nilai estetika dalam sinema, Salt mengklasifikasikan 3 aspek utama yaitu; Originalitas, Pengaruh film tersebut dengan film lainnya dan seberapa besar visi dan pengaruh kreatif sang filmaker terpenuhi dalam film garapannya.
Dalam konteks originalitas dan pengaruh kreatif serta visi sutradara diatas, Salt mengakui adanya kesamaan konsep dengan teori Auteur Andrew  Sarris. Namun demikian ketidak konsistenan kriteria ‘craftmanship’ (kinerja kreatif sutradara) Sarris menorehkan cacat pada formulasi teorinya.

Barry Salt mempertanyakan metode dan kriteria yang digunakan oleh beberapa kritikus film, baik akademik maupun komersil dalam mengevaluasi nilai nilai artistik  dan esteteik dalam sinema dan mencurigai adanya intuisi pribadi ketimbang analisa ilmiah  yang dilengkapi data riset teknis dalam mengekspreikan kajian sinema mereka.

Salt berprinsip bahwa seburukburuknya film yang dibuat seorang filmakermasih ada pelajaran yang bisa dipetik  dan ditelaah oleh para perumus teori, kritikus ataupun khalayak  pemerhati film. Akan tetapi bila hal tersebut  menimpa pada kajian teori cinema, maka bukan hanya nol  besar manfaat yang diterima namun juga menyesatkan dan berdampak serius bagi perkembangan  pola pikir  dan intelektual  para calon perumus kajian film serta masakat luas pada umumnya.

Dengan tujuan untuk menguak tabir penyesatan serta kesalatafsiran teori teori sinema terdahulu dan mencerahkan pemikiran ilmiah yang analitikal, Salt berharap teori film praktis yang dia tawarkan disini dapat mengakomodasi, naik secara kualitas maupun kuantitas dari evaluasi analisis sinema mulai dari film film klasik masa lalu hingga kini dan pengaplikasian teorinya dapat dijadikan sebagai parameter untuk kajian kajian teori film selanjutnya.

Teori Film Amerika
Tahun 1970an  merupakan awal kebangkitan peminatan kajian film dikalangan perguruan tinggi di Amerika, yang disertai oleh penganugerahan penghargaan pada insan iperfilma, lokakarya/ seminar tahunan  serta penerbitan tulisan tulisan tentang film dan buletin/ jurnal dibeberapa kampus yang tersebar di Amerika.

Dalam beberapa tulisan/ jurnal akademis tentang film, diketemukan  metode/ style yang terlalu rumit  dan berlebihan, namun tidak memberikan dampak positif apapun bagi bagi perkembangan teori film itu sendiri.
Para penulis akademisi ini merasa bangga dengan hasil karya mereka dan menganggap tulisan film mereka  cukup bagus, hanya karena tulisannya lebih panjang dan banyak catatan kaki.

Buah tulisan Christian Metz  dan Raymond Bellour diterima dengan baik dikalangan  akademis di Amerika, namun model/ konsep  yang mereka usung membawa ‘pengaruh buruk’ pada kajian ilmu perfilman Amerika.
Barry Salt mengamati  munculnya  usaha baru dalam kajian ilmu perfilman Amerika pada awal 1980-an, yang dipunggawai oleh David Bordwell dan Kristin Thompson yang mengusung bendera Neo-Formalis. Sesuai dengan namanya, teori Bordwell dan Thompson ini terinspirasi dari rumusan formalis Russia tahun 1920an yang dipelopori antara lain oleh Boris Eikhenbaum, Victor Shklovsky, dan Yuri Tynjanov.

Perumusan Neo-Formalis oleh Bordwell dan Thompson ini  didapatkan melalui riset  dan observasi mereka  terhadap berbagai macam artikel  film serta terjemahan Inggris perihal  Formalis Russia yang dipublikasikan  pada era  1970-an. Yang mana beberapa artikel analisis  film berorientasi Formalis Russia karya Salt dari tahun 1947 – 1977 yang diterbitkan oleh majalah Sight & Sound dan Film Quarterly, dapt dipastikan menjadi bahan refernsi mereka dan sedikit banyak memberikan pengaruh dalam perumusan teori Bordwell-Thompson.

Sebenarnya kolaborasi antara Bordwell dan Thompson dalam merumuskan kajian sinema sudah cukup representataif  dan agak lebih baik dibandingkan dengan karya absurd (tidak jelas esensinya)  milki Christian Metz, Stephen Heath serta Raymond Bellour dan lainnya, namun demikian Salt mencatat beberapa kelemahan  yang berdampak langsung pada ketidak konsistenan teori Neo Formalis yang mereka usung seperti  kebanyakan elite akademis Amerika lainnya.
Kelmahan utama Bordwell –Thompson berpusat pada lemahnya sumber referensi (data riset pendukung teori) yang berdampak pada kerapuhan argumen argumen mereka sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya salah tafsir bagi para penggiat/ pemerhati kajian sinema, khususnya di Amerika.

Salt mengklaim  bahwa sejumlah metode dasar berikut observasi teknik sinematik Bordwell-Thompson sedikit banyak merupakan tiruan perumusan teorinya. Namun Salt menegaskan bahwa metode analisisnya tidak pernah  berspekulasi atau berimajinasi bebas dalam menginterpretasikan kajian sinema, hal ini bertolak belakang dengan Bordwell-Thompson yang justru mentoleransi hal tersebut.Bordwell- Thompson bersikeras bahwa teori Neo-Formalis mereka tidak hanya berguna sebagai sebagai bahan perbandingan interaktif antar ‘the perceiver’ (sineas, kritikus, penonton) dengan medium film sebagai karya seni, tapi juga berperan penting sebagai pisau analisis sejarah film.

 Yang lebih konyolnya lagi, dalam bab terahir bukunya ‘Making Meaning’ (Harvard, 1989), David Bordwell telah mengadopsi pilar pilar pondasi rumusan teori film Salt untuk kemudian diadaptasi  kedalam teori Neo-Formalisnya, dan diganti dengan  nama baru yaitu ‘Historical Poetics’.
Yang membedakan teori Neo-Formalis Bordwell-Thompson dengan kajian sinematik kontemporer lainnya adalah pendekatan psikologis mereka.yang berkenaan dengan aspek persepsi  (baik sudut pandang filmaker, kritikus film, elite akademis ataupun penonton) dalam ranah perfilman. Namun Salt mengungkapkan bahwa bila dicermati dengan seksama  makaakan terlihat unsur spekulatif  yang mewarnai metode psikologi  mereka dalam  usahanya menembus lapisan demi lapisan persepsi sinema. Ditambah lagi dengan  bahan referensi yang mereka gunakan  bersumber dari teori teori film terdahulu  yang diragukan kebenaran esensinya, karena tidak disertai bukti bukti yang konkret dan lengkap.

Barry Salt berpendirian bahwa ruang lingkup psikologi yang kompleks berikut mekanisme mental forensik ddalam menelaah analisa persepsi sinematik terlalu rumit untuk diformulasikan oleh seorang perumus teori akademik biasa seperti Bordwell-Thompson. Lebih lanjut, Salt menambahkan bahwa untuk dapat mengeksplorasi dan membedah wilayah psikologi seperti diatas dibutuhkan keahlian khusus seorang ilmuan dengan background ‘neuroscience’  yang dipersenjatai dengan  data riset dan observasi-eksperimen  yang memenuhi standard sains.


 sumber: Salt, Barry, Film Style and Technology : History and Analysis, page 16. London: Starword Publishing, 2003










0 komentar:

Poskan Komentar