Teori Film

Jumat, 11 November 2011

The Interpretation of film (page 16)







Interpretasi Film. (by Barry Salt)
Ketentuan dasar perihal terbentuknya kajian interpretasi yang diakui sah secara resmi/ legal, baik yang diperuntukkan bagi media  film/ bidang seni lainnya, merupakan polemik yang tak berkesudahan. Hal ini  antara lain disebabkan oleh  cara pandang  para individu dalam mengartikan  makna atau simbol dalm tampilan sebuah visual film atau karya seni lainnya. 


Masing masing kritikus film, sineas dan para pelaku film memiliki motif agenda, ekspektasi, pengharapan maupun latar belakang  sosio ekonomik serta budaya sendiri dalam mengambil sikap  yang berkenaan dengan proses interpretasi sinema.

Berlainan dengan disiplin ilmu linguistik yang lebih terukur penelaahannya dan terjabar secara detil dalam Fonologi, Morfosyntax, dan Semantik, kajian film  tidak memiliki  rumusan yang baku dalam mengatur secara eksplisit (tegas) dan spesifik terkait proses interpretasi film.
Secara umum dapat digambarkan dua kutub yang saling berlawanan dalam pengaplikasian interpretasi film.
Yang pertama adalah, pandangan ekstrim  yang menolak samasekali  keberadaan kajian interpretasi film yang sah (Barry Salt menganggap pandangan ini sebagai lelucon beleka, karena dibalik  penolakan mereka atas keabsahan sebuah kajian  interpretasi, namun sesekali mereka tetap memberikan  analisa/ kritik pada film)

Kedua, merupakan pandangan konservatif  yang jauh lebih toleran terhadap beraneka ragam variasi dalam  kajian film, dimana unsur unsur sinema seperti, konteks, narasi, visi dsb menjadi faktor pertimbangan.

    Dengan berpatokan pada konsep konservatif ini, maka sebagai contoh: muatan religi yang terkandung dalam sebuiah film bertemakan drama religius bila dikaji dari persfektif keagamaan oleh sosok sutradara yang ‘tidak beragama’ akan dianggap tidak sah.


Ketika seorang kritikus film menggunakan intuisi pribadinya kedalam proses interpretasi, maka yang trerjadi adalah  kita sebagai penikmat film akan kian tersudut  pada pengembangan wawasan dan terjebak sistem analisa yang sangat subjektif. Konsep interpretasi film yang mengedepankan asas subjektifisme ini diperagakan secara utuh oleh Jonathan Rosenbaum dan Bruce Kawin.


Contoh kasus: dalama artikel Cahiers du Cinema yang mengupas tentang film ‘Young Mr. Linclon, karya John  Ford, disebutkan bahwa sorot tajam tatapan mata Linclon diartikan sebagai ‘Castrating’ (pengebirian) sementara bila di[andang dari sudut  psikoanalisa  seperti yang dikutip oleh Peter Wollen dalam artikel lainnya, sorot mata tajam tersebut  dimakanai sebagai ‘phallus’ (penis) yang identik dengan power (kekuasaan)  dan dominasi pria, serta mewakili simbol pemerkosaan. 



Disini terlihat jelas kontras perbedaan interpretasi dimana satu sisi visualisasi tatapan mata Linclon diartikan sebagai bentuk  ketidakberdayaan (kelemahan karakter sang protagonis yang dikebiri) sedangkan sisi lain tatapan mata  tajam tersebut dimaknai sebagai keangkuhan  maskulinisme Linclon sebagai sosok pria dewasa dan tangguh.

Situasi disini, dimana kajian interpretasi  jauh berbeda  antara satu dengan yang lain cukup sering terjadi  dan hal ini dianggap wajar  oleh pengikut paham Psikoanalisa.

Namun seperti yang telah diketahui sebelumnya, Barry Salt selalu menaruh curiga dan keraguan terhadap setiap pendekatan ilmiah yang dilakukan berdasarkan rumusan teori psikoanalisa. Maka, ketidakkonsistenan dari interpretrasi film ini justru  dikhawatirkan akan menimbulkan miskonsepsi yang bisa berdampak serius bagi pesan moral dan visi filmaker, serta tentunya akan menmpengaruhi  setiap elemen  teknis dan estetika produksi film yang bersangkutan.

Dalam satu kesempatan Barry Salt mempertanyakan kebenaran metode serta kajian teknis yang diperagakan Raymond Bellour dalam film North by Northwest karya alfred Hitchcock, khususnya yang berkait dengan adegan pengejaran pesawat terbang. Dalam essaynya ini (diterbitkan dengan judul Le Blocage symbolique pada majalah Communications Vol. 23, 1975), Bellour menampilkan diagram konfiguratif yang sepintas terlihat terstruktur rapi dan ilmiah dalam mencermati koreografi, berikut timing dan editing pada adegan tersebut.

Namun setelah melakukan uji coba dengan metode yang berbeda pada  materi adegan yang sama, Salt menyimpulkan bahwa, sistem yang digunakan Bellour hanyalah bersifat kosmetik (lebih berpegang unsur estetika) tanpa menelaah lebih dalam aspek sinematik, contoh; pergerakan plot (linear dan non-linear), over lapping editing berapa jumlah shot yang digunakan dalam membuat beberapa sudut pandang.  
Pada akhirnya Barry Salt menyerukan pentingnya seorang reviewer/ kritikus film untuk lebih mempertimbangkan aspek teknis, yang antara lain  melibatkan depth of field, editing, shot selection, dsb kedalam rumusan interpretasi filmnya. Hal ini yang menurut Salt menjadi kekurangan yang menonjol dikalangan kritik akademis saat ini.


Cahiers du Cinema dan Young Mr. Linclon.

Dalam terbitan majalah Cahiers du Cinema edisi nomor 223 (1970) yang kemudian diterjemahkan ke majalah Screen vol13 no 3, disebutkan bahwa model Psikoanalisa Lacan telah menyuguhkan alternatif baru  dalam kajian  interpretasi narasi film. Barry Salt menyanggah stetmen ini dengan alasan bahwa upaya Lacan   ini hanyalah menemukan atau dengan kata lain ‘menciptakan’  dengan memunculkan ‘kesenjangan/ gap atau kekurangan dalam sebuah produksi film, untuk selanjutnya diperiksa secara ‘medis’ gejala gejala yang timbul seperti halnya terapi penyembuhan  pasien jiwa dengan metode psikoanalisa.

serta merta metode baru kajian interpretasi film ini menarik perhatian kalangan penggiat/ pemerhati  sinema sehingga mereka terlena  dan mengabaikan keabsahan  sumber teori yang menjadi   dasar metode  tersebut. Menurut Salt, boleh saja mengadopsi  sebuah model teori  dari sebuah disiplin ilmu kedalam ilmu yang lain, namun hal ini menjadi masalah  apabila model teori yang digunakan terbukti gagal dalam penerapan ilmunya sendiri, contohnya psikoanalisa.

Tanpa menyebut nama, kali ini Barry Salt menggugat beberapa tulisan dari kritikius majalah film Cahiers du Cinema, terutama tentang analisa mereka  perihal film ‘Young Mr Linclon’ hasil besuta sutradara peraih empat piala Oscar, John Ford.

Berpedoman pada pemahaman Psikoanalisa Freud dan Marxisme, para kritikus  ini menyimpulkan bahwa film tersebut merupakan  reformulasi tokoh bersejarah Abraham Lincoln dipandang dari sudut mitos saja, tanpa menghiraukan  faktor lain yang dapat  berpotensi menimbulkan konflik cerita, contohnya sex dan politik. Namun Salt berpendapat bahwa, kajian film  dengan hanya mengandalkan satu sudut pandang berarti seperti  ini justru akan cenderung men-disharmonisasikan/ merusak keseimbangan  antara narasi film dan realitas sejarah, karena seringkali terjadi kompromi antara fakta dan fiksi dalam Autoboigrafikal, dan dengan hanya  menyertakan satu sudut pandang saja, kritikus tersebut  secara efektif  telah mempersempit ruang  gerak  interpretasi  dan  dan persepsi penonton film tersebut.



Terjemahan Inggris teori film Prancis

Berawal sejak 1971, ‘Sreen’ merupakan jurnal berbasis Marxist yang disubsidi oleh oleh The British film Institute dan menjadi alur utama masuknya teori film Prancis untuk selanjutnya diperkenalkan secara luas pada khayalak Inggris dan Amerika.

Melalui terjemahan bahasa Inggrisnya, majalah Screen ini mempublikasikan buah pemikiran sederet pakar perfilman Prancis, yang mengklaim bahwa kajian teori sinematik mereka telah menyuguhkan standard baru perfilman yang jauh lebih konkret, lengkap dan seksama dibanding rumusan teori film lainnya.

Namun Barry  Salt berkilah, bahwa standarisasi baru dan peningkatan mutu kajian sinema yang disesumbarkan oleh ‘pakar’ ini akan jauh lebih berguna dan bermanfaat apabila usaha telaah film mereka disertai dengan kemampuan melahirkan pengetahuan baru yang bersifat konstruktif, bukan hanya sekedar retorika kosong belaka.

Sepintas lalu memang ada beberapa artikel film dalam jurnal ‘Screen’ yang berusaha menterjemahkan sekaligus mengaplikasikan konsep teori film Prancis  kedalam kajian sinema, ini  terlihat sangat mengagumkan karena seperti layaknya disertasi/ skripsi karya ilmiah, artikel artikel ini diperkaya oleh oleh banyaknya footnotes, referensi, serta tabel diagram analisi yang sangat detil. Namun bila diteliti secara seksama,  barulah diketahui bahwa tulisan artikel tersebut mengambil sumber dari argumen argumen dengan bahan dasr teori yang lemah  dan cenderung spekulatif.

Selama ini majalah Screen berulang kali mengklaim bahwa semua artikel artikel publikasinya telah memenuhi standard mutu kajian film.
Sebagai contoh kegagalan Screen dalam kaitannya dengan kajian teori film, Barry Salt menilai usaha Stephen Heath,  salah seorang penulis tersebut  dalam menjabarkan soal reproduksi fotografi yang dalan artikelnya bertajuk Narrative Space (Screen, vol 17, No. 3,  1976) lebih mengandalkan pada hipotesa pribadi hasil  dari pemahamannya yang kurang utuh tentang teori Film Prancis, sehingga semakin memperdalam  kesalahpahaman umum  tentang aplikasi teknis sinema itu sendiri.


 sumber: Salt, Barry, Film Style and Technology : History and Analysis, page 16. London: Starword Publishing, 2003






0 komentar:

Poskan Komentar