Teori Film

Jumat, 25 November 2011

STATISTIK; PENDEKATAN BARU DALAM ANALISA FILM STYLE




 Kritik Analalisis Film Kontemporer
Sejak tahun1960an, antusiasme penelitian tentang film mulai berkembang. Sejak itu teori-teori film baru mulai bermunculan. Prancis, saat itu menjadi kiblat dalam analisis/kajian film dunia. Beberapa teori film yang berkembang di sana seperti Auteur, Linguistik, semiotika, marxism, dan psikoanalisa merupakan teori-teori umum yang digunakan dalam analisis film hingga kini.
Namun dalam perjalannya, teori-teori tersebut dianggap tidak lagi relevan digunakan. Hal ini menurut Barry Salt dikarenakan banyak terdapat kesalahan-kesalahan dalam teori tersebut baik dilihat dari segi filosofis maupun metodelogisnya. Menurutnya, teori-teori yang berkembang beberapa dekade ini tidak objektif, tidak sistematis, tidak konsisten dan cenderung manipulatif[1].
Salt mencontohkan teori Auteur yang dipopulerkan oleh Andrew Sarris[2], menurutnya rumusan ini bertujuan untuk memberi  penghargaan pada film-film hasil karya sutradara tertentu, yang dianggap sebagai aktor intelektual (the Controlling Creative Forces).
Prinsip dasar teori Auteur Sarris menggunakan tolak ukur dari seberapa besar peran/ pengaruh sutradara dipandang dari sudut style, kreatifitas maupun psikologis dalam menyumbangkan nilai estetik kedalam karya filmnya. Apabila peran/ pengaruh sutradara tersebut sangat menonjol, maka ia layak disebut  sebagai seorang Auteur. Dan menurut Sarris, gelar Auteur yang disandang sutradara tersebut akan cenderung melekat terus meskipun beberapa filmnya tidak menampilkan kriteria tersebut. Teori ini akan menjadikan sebuah film  Auteur lebih berharga  dibanding dengan karya film Non-Auteur.
Sarris memberikan contoh bahwa aspek sentimental dan nilai-nilai positif kehidupan seperti yang terekam dalam karya film Auteur Billy Wilder & John Ford dianggap lebih komersil  ketimbang dengan nilai Sinisme (paranoia, pesimisme, egoisme dan pandangan negative tentang kehidupan).
Hal ini menurut Salt membuat Sarris memandang sebelah mata aliran Avant-Garde yang bersifat lebih modern dan experimental. Lebih lanjut Sarris menganggap model Avnt-Garde ini tidak memberikan konstribusi apapun bagi perkembangan komersialisasi Cinema. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Teori Auteur Sarris ini  cenderung lebih berorientasi/ mengacu pada aspek bisnis dibanding aspek aspek lain yang ada dalam sebuah film.
Setidaknya ada 3 hal yang menjadi kelemahan teori Auteur menurut Barry Salt yaitu;  (1) ketidak-konsisten-an Sarris dalam memberikan penilaian layak tidaknya seorang sutradara dikatakan sebagai Auteur, (2) Tidak adanya rumusan/ kriteria yang pasti, (3) Subjektif / kriteria tergantung dari intepretasi sang kritikus.
Sayangnya hal serupa juga dialami teori-teori film lainnya terutama yang termasuk dalam New French Film Theory. Berbeda dengan Auteur yang berkembang di Amerika yang memiliki keganjilan dalam metodeloginya, kesalahan-kesalahan New French Film Theory yang mendobrak pakem teori film klasik ini sudah tercermin dari landasan filosofisnya.
Barry menelusuri tradisi keilmuan yang dianut prancis dan menemukan bahwa studi filsafat di Prancis berkiblat pada Hegel yang mengklaim dirinya telah menciptakan sistem filosofi  yang sempurna dan dapat menampung  segala konsep dasar dari  berbagai macam disiplin ilmu.
Pada kenyataannya model filosofi Hegel (1770-1831)  ditolak  di dunia Barat karena terbukti gagal  dalam mengakomodasi  kebutuhan sains modern. Hal ini menurut Carl Friedrich Gauss[3] disebabkan kerena Hegel tidak menguasai bidang mate-matika dan sains. Kesalahan fatal yang sama akhirnya juga mempengaruhi pemikir-pemikir pengikut Hegel yang teorinya banyak diserap kedalam kajian film seperti teori Vitalisme Henry Bergson yang merupakan Pencetus New french Film Theory. Phenomenology Jean Piaget dan Marxisme Louis Althusser yang masing-masing mengklaim teori filsafat mereka sebagai panduan utama dalam mengkaji sains.
Pergulatan para teoretikus film Prancis tercatat menjadi ruang pertumbuhan pemikiran strukturalisme dan post-strukturalisme, dan menjadi ruang tumbuh semiotika, kemudian menumbuhkan perspektif kajian film dalam lingkup feminisme, dekonstruksi, hingga psikoanalisis. Hal ini tampak jelas terlihat pemikiran Barthes dan Levi-Strauss hingga pikiran-pikiran Metz (1971-1972).
Bagi Barry, memasukkan teori dari disiplin ilmu lain kedalam kajian film seperti yang dilakukan dalam New French Film Theory  tidak menjadi masalah selama teori tersebut dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah pada disiplin ilmu dasarnya. Memasukkan teori-teori yang terbukti gagal di disiplin ilmunya kedalam kajian film merupakan hal yang sia-sia baginya.

Ia mencontohkan teori psikoanalisa yang banyak diadaptasi dalam teori film yang secara nyata minim tingkat kesuksesannya dalam penyembuhan pasien gangguan mental[4]. Sehingga tidak ada alasan bagi Barry untuk mempercayai teori tersebut. Meski dengan tegas ia nyatakan bahwa ia meyakini tentang keberadaan the Unconscious Mind (alam bawah sadar manusia) yang dicetuskan oleh Sir Francis Galton, ilmuan pendahulu Sigmun Freud, hanya saja Barry merasa teori Freud tidak memuaskan dan bukanlah medium yang tepat mengkaji interpretasi film.
Meski harus diakui ketentuan dasar kajian interpretasi film maupun media seni lain yang ’legal’ merupakan polemik yang tidak berkesudahan disebabkan oleh  cara pandang  para individu dalam mengartikan  makna atau simbol dalam tampilan sebuah visual film atau karya seni lainnya. Masing-masing kritikus film, sineas dan para pelaku film memiliki motif agenda, ekspektasi, maupun latar belakang  sosio ekonomi serta budaya sendiri dalam mengambil sikap  yang berkenaan dengan proses interpretasi sinema.
Secara umum dapat digambarkan dua kutub yang saling berlawanan dalam pengaplikasian interpretasi film.
·         Yang pertama adalah, pandangan ekstrim  yang menolak sama sekali  keberadaan kajian interpretasi film yang sah (Barry Salt menganggap pandangan ini sebagai lelucon belaka, karena dibalik  penolakan mereka atas keabsahan sebuah kajian  interpretasi mereka tetap memberikan  analisa/ kritik pada film)
·         Kedua, merupakan pandangan konservatif  yang jauh lebih toleran terhadap beraneka ragam variasi dalam  kajian film, dimana unsur-unsur sinema seperti, konteks, narasi, visi dsb menjadi faktor pertimbangan.
    Dengan berpatokan pada konsep konservatif ini, maka muatan religi yang terkandung dalam sebuah film religius bila dikaji dari persfektif keagamaan oleh sosok sutradara yang ‘tidak beragama’ akan dianggap tidak sah.
Ketika seorang kritikus film menggunakan intuisi pribadinya kedalam proses interpretasi, maka yang trerjadi adalah  kita sebagai penikmat film akan kian tersudut  pada pengembangan wawasan dan terjebak sistem analisa yang sangat subjektif.
Pada akhirnya Barry Salt menyerukan pentingnya seorang reviewer/ kritikus film untuk lebih mempertimbangkan aspek teknis, yang antara lain  melibatkan depth of field, editing, shot selection, dsb kedalam rumusan interpretasi filmnya. Hal ini yang menurut Salt menjadi kekurangan yang menonjol dikalangan kritik akademis saat ini.
Berpegangan pada aspek konstruktif dalam memformulasikan rumusan teori filmnya, Barry salt kemudian menggunakan metode analisis dan evaluatif yang seobjektif mungkin dalam menelaah lebih dalam tentang berbagai unsur dalam cinema. Metode analisis dipandang perlu demi menguji seberapa  tinggi tingkat akurasi rumusan teori yang digunakan, demikian juga halnya dengan metode evaluatifnya.
Menurutnya kajian sinema yang ideal harusnya meneladani aspek-aspek positif yang ada  pada sains yang lebih stabil dan mapan seperti biologi dan fisika, yang mana terdapat kesamaan baik dalam esensi maupun metode pengajaran  baik di Inggris, Rusia, Amerika serta China. Bukannya malah terbuai dengan retorika spekulatif.
Meski menurutnya kajian film tidak memilki kapasitas untuk dapat tumbuh dan kemudian berkembang menjadi sains murni dikarenakan sifat dasar  dari kajian itu sendiri yang cenderung bersifat eksperimental, inovatif, serta kental dengan aroma kompleksifitas. Singkat kata, tidak ada aturan baku yang mengatur nilai nilai estetika yang terkandung didalam medium sinema, sehingga bisa dikatakan estetika dalam sinema seakan akan bersifat sebagai alat kosmetik belaka.
Analisa film versi Barry Salt terbagi atas tiga unsur, yaitu :
1)      Berdasarkan Konstruksi teknisnya (jenis kamera yang digunakan, ukuran lensa, angle, editing, art direction dan tata ruang)
2)      Style (executive and artistic decision) sang sutradara. Dimana menurut Salt faktor kedua ini lebih banyak diabaikan dalam perumusan teori film dewasa ini.
3)      Dan yang terahir dan relatif kurang signifikan dari dua faktor diatas adalah film dapat dianalisa dengan mengukur seberapa besar tingkat respon dari penonton.
Sedang dalam kriteria evaluasi film, Barry mengklasifikasikan 3 aspek utama yaitu; Originalitas, Pengaruh film tersebut dengan film lainnya dan seberapa besar visi dan pengaruh kreatif sang filmaker terpenuhi dalam film garapannya.
Sama seperti mereka yang membawa strukturalisme, formalisme, psikoanalisa maupun semiotik ke dalam analisa film, Barry memperkenalkan kepada kita suatu metodelogi yang cukup asing dalam dunia kajian sinema, statistik. Sama seperti metode semiotik strukturalism, pendekatan yang digunakan Barry mengabaikan pertanyaan mengenai estetika dan efektivitas phenomenologi untuk mengeksplorasi produksi makna teks sebagai Aset strategi diskursif. Ia bahkan memperlakukan teks secara ‘kasar’ dengan merobeknya manjadi averege shot lenghts, camera movements, shot types, dll)[5].
II.II. Statistik ; Pendekatan Baru  Dalam Analisis Style
Obsesi Barry Salt untuk menggunakan metode penelitian film yang lebih sistematis, terukur dan lebih objektif ia temukan dalam penelitian kuantitatif. Analisis style kuantitatif di sini melibatkan statistik baik secara deskriptif dan inferensial[6]. Tujuan utamanya adalah mengumpulkan jumlah dan frekuensi data parameter formal sutradara  kemudian diwakilkan ke dalam grafik, persentase, dan rata-rata panjang tiap shot (ASL).
Pendekatan statistik dalam penelitian film  memberikan hasil secara visual angka-angka yang lebih jelas dan sistematis, dalam hal ini Barry Salt dengan berani menyebut metode penelitian film dengan pendekatan statistik merupakan  Scientific realism[7]. Statistical style analysis sendiri secara spesifik memiliki 3 tujuan standar, yaitu:
1.      Menawarkan analisis style dengan menggunakan pendekatan kuantitatif.
2.      Menghindari sengketa teks yang berkaitan dengan atribut kepenulisan
3.      Untuk mengidentifikasi kronologis film ketika adegan atau urutan komposisi tidak jelas atau tidak runut.[8]

Menggunakan perasaan mungkin dengan mudah dapat mengidentifikasi perbedaan style beberapa sutradara seperti ’Fritz Lang cenderung menggunakan long shot seperti film Renoir’ dengan asumsi bahwa sang sutradara lebih menyukai long shot., Namun bila diamati secara detail idea tersebut sangat meragukan, dengan melakukan pengamatan dan membandingkan secara statistik menunjukkan bahwa hal itu tidak semudah menonton satu atau dua film yang dianggap bagus[9].
Statistical style analysis  sendiri merupakan kritik terhadap teori mise-en-scene, di mana keduanya sama-sama menggunakan material film sebagai bahan atau objek analisisnya.
Dengan memasukkan statistik sebagai alat analisa, Statistical style analysis berhasil menghindari hubungannya antara style dan tema sebuah film, sesuatu yang menjadi fokus pada teori mise-en-scene yang ’mati-matian’ membantah asumsi bahwa tampilan scene dalam sebuah film (gerakan kamera, tata cahaya, dll) hanya keperluan estetika semata[10]. Analisis style dalam pendekatan statistik menunjuk satu set pola terukur yang secara signifikan menyimpang dari norma kontekstual film.
Tujuannya adalah mengindetifikasi style individu sutradara dengan mengumpulkan data parameter formal secara sistematis terutama yang berada dalam kendali langsung sutradara seperti :
Duration of the shot (termasuk  panjang rata-rata per-shot, atau  Average shot length/ASL)
Shot scale
Camera movement.[11]
Penghitungan dapat dilakukan dengan mengukur panjang pita film atau durasi pada film yang menggunakan cakram digital (CD) selang satu menit atau 100-ft pada film 35mm. pada kenyataannya Barry hanya mengumpulkan shot yang muncul dalam 30menit film yang dianalisanya. Menurutnya shot-shot yang muncul 30menit awal film merupakan repsentasi sampel film tersebut. Namun belakangan, keputusan menghitung shot seluruh film dilakukan agar skala shot lebih akurat. 

II.III. Metode Analisis
A. Average shot length/ASL
Konsep ASL merupakan panjang dari film dibagi dengan jumlah shot di dalam film, yang dapat dinyatakan sebagai panjang fisik yang sebenarnya dari film atau lebih dikenal sebagai durasi.  Sebelumya untuk film yang menggunakan celluloid/film bisu dimana kecepatan proyektor mempengaruhi durasi  Barry menggunakan satuan feet yang diambil dari panjang pita. Namun hal ini menimbulkan persoalan ketika perbandingan dilakukan dengan film-film yang dibuat pada masa yang berbeda. Untuk itu Barry mengganti satuan ASL menjadi detik, mengingat akurasi persentase kecepatan proyektor pada film bisu hanya memiliki perbedaan yang sangat kecil.
Dalam penghitungan statistiknya, Barry merekomendasikan beberapa cara untuk memilih interval waktu yang digunakan dalam menghitung ASL, yaitu :
1.      Gunakan interval waktu per satu menit atau 60 detik pada film dalam cakram digital (CD) atau 100-ft pada film 35mm.
2.      Lakukan perhitungan jumlah tipe shot dalam angka (misalnya 50 tipe shot) kemudian hitunglah jumlah shot dari keseluruhan tipe shot yang ada.
3.      ASL atau panjang rata-rata shot didapat dari perhitungan interval waktu keseluruhan scene dalam film. Kemudian hitunglah jumlah shot seluruhnya.  Jika scene berlangsung 2 menit (120 detik) dan jumlah shot setiap scene adalah 12 maka ASLnya adalah 10detik (ASL = durasi scene : jumlah shot)

B.Scale Shot
Pada mulanya Barry mendapatkan skala shot kebanyakan dari data-data untuk ASL (scene dan jumlah shot) dan hasil persentase terbalik dari potongan angle yang diambil dari 30 menit panjang film atau setidaknya 200 shot. Namun kriteria tersebut tidak memuaskan dengan range error mencapai lebih 10%. Karenanya distribusi skala shot sekarang diambil dari keseluruhan panjang film. Adapun tipe shot yang dihitung adalah :
1.      BCU
2.      Close Up (CU)
3.      Medium Close Up (MCU)
4.      Medium Shot (MS)
5.      Medium Long Shot (MLS)
6.      Long Shot (LS)
7.      Very Long Shot (VLS)

C. Camera Movement
Tren menggunakan gerak kamera yang luas muncul pada akhir abad ke-12 dan masih berlangsung hingga memasuki periode film bersuara. Hal ini memunculkan perbedaan antara jumlah shot dengan gerak kamera (Camera Movement). Perdebatanpun muncul tentang apakah gerak kamera merupakan salah satu bagian dari style sutradara dimana gerak kamera tidak menampakkan kerja-kerja sutradara didalamnya melain kerja cameraman.
Namun menyadari bahwa gerak kamera berada dalam kewenangan sutradara dalam hal ini kamera bergerak sesuai keinginan sutradara dan lebih jauh melihat kedekatan kerja antara sutradara dan cameraman yang lebih dibanding kru lainnya, dalam hal ini jika sutradaramemutuskan untuk tracking shot maka eksekusi berada pada operator kamera dibanding lighting cameraman.
Alasan tersebutlah yang membuat Barry menyimpulkan bahwa camera movement merupakan bagian dari style sutradara. Adapun penghitungan skala camera movement mencakup :
1.      Pan
2.      Tilt
3.      Pan With Tilt
4.      Track
5.      Track With Pan
6.      Crane


DAFTAR PUSTAKA

Salt, Barry, Film Style and Technology : History and Analysis, London: Starword Publishing, 2003
Salt, Barry, Moving Into Pictures. London : Starword Publishing, 2006
Thomas Elsaesser & Warren Buckland, Studying Contemporary American Film, London : rnoldpublishers, 2002
Kristanto, JB, Katalog Film Indonesia 1926-2005, Jakarta : Penerbit Nalar, 2005
David Bordwell & Kristin thompson, Film Art : An Introduction. Mc Graw-Hill: 1993 Fourth edition.
Salim, Agus, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, Yogyakarta : Tiara Wacana, 2006
Gibbs, John. Mise-en-scène. United Kingdom: Wallflower Press, 2002.
Arikunto, Suharsimi,  Manajemen Penelitian, Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2009
Bungin, Burhan, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Jakarta : Kencana,2010
Surakhmad, Winarno, Dasar dan Teknik Research; Pengantar Metodologi Ilmiah,  Bandung : Tarsito, 1978
Jurnal ‘Jejak Film Bihari’, Bandung : PPDP-FFI 2008
Biran, H. Misbach Yusa, Apa-Siapa Orang Film Indonesia, Jakarta : Depertemen Penerangan Republik Indonesia & Sinematek, 1979
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ke Tiga, Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional & Balai Pustaka, 2005


[1] Film Style and Technology : History and Analysis, Barry Salt, London : 2003

[2] Andrew Sarrismerupakan kritikus film yang  mempopulerkan teori Auteur di USA melalui bukunya The American Cinema: Directors and Directions 1929-1968 (1968).
[3] Carl Friedrich Gauss (1777-1855) Ahli matematika, astronomi dan fisika Jerman. Membantah filosofi hegel sebab ia tidak menguasai ilmu sains dan matematika, sehingga filsafatnya tidak sejalan dengan pemikiran sains & teknologi.

[4] The Effects  of Psychotherapy, S. Rachmann, Pergamon Press : 1971
[5] ????
[6] ibid????
[7] Scientific realism merujuk pada pengertian Stanley Kubric; sesuatu yang di dalamnya benar-benar terdapat sesuatu yang bisa diteliti/diukur.
[8] Thomas Elsaesser & Warren B, Studying Contamporary American Film; A Guide To Movie Analysis Oxford University Press, 2002
[9] Dolozel and Bailey, Statistics and Style, Elsevier, 1969
[10] ibid 21
[11] ibid21

0 komentar:

Poskan Komentar