Teori Film

Selasa, 25 Mei 2010

FILM ‘ROMAN PICISAN’ DALAM ARENA CULTURAL STUDIES. #2


Ralat draft#1: dalam draft#1 saya mencoba untuk menghilangkan-mengaburkan nilai historical dalam menganalisa film ‘Roman Picisan’, karena anggapan saya adalah penafsiran dari nilai historis paling tidak telah dipahami-didentifikasi penonton, dengan kata lain pembahasan yang ingin saya ungkapkan dari sisi lain seperti discourse dalam film ini, politik (dalam artri ‘kepentingan;). Namun hal tersebut mendapat tanggapan dari dosen saya (Seno G A), oleh karena film Roman Picisan tersebut sangat kental akan nilai historis yang dilekatkan pada tiap karakternya, sehingga peran nilai historical tersebut perlu dijadikan sebagai latar, dengan bahasa lain bahwa tidak mungkin-akan sulit jika menafsir sebuah film tanpa mengulas konstruksi popular (elemen historis) yang ada dalam pengertian penonton.

Lebih jauh, tulisan ini akan lebih membahas karakter dan point of view Ayah Canting yang telah diidentifikasi penonton sebagai karakter antagonist (hambatan), oleh karena bagi saya karakter ayah tersebut adalah karakter protagonist dalam teori naratif film. Terlepas apa yang coba diterapkan sutradara dan apa yang diterima oleh penonton maka tulisan ini hendak menganalisa karakter dan act dari Ayah melalui sudut pandang Cultural Studies, bahwa karakter ayah dalam film ini adalah konstruksi berbagai elemen, dan bagaiman konstruksi tersebut bekerja semacam ideologi, kepentingan (politik), wacana-discourse yang memberikan meaning-pemahaman tersendiri tergantung datri konteks mana kita melihatnya

Landasan teori
Teks dan fraksis budaya tidak mengandung makna yang tetap, absolut, seperti maksud ketika diproduksi, melainkan makna selalu merupakan hasil dari tindak artikulai. Proses ini disebut artikulasi karena makna harus diekspressikan, tetapi bentuk ekspresi tersebut haruslah dalam konteks, momen historis dan wacana yang spesifik. Jadi ekspresi ini selalu berhubungan dengan konteks. (John Storey “THEORIES AND METHODS CULTURAL STUDIES & THE STUDY OF POPULAR CULTURE” p.123-127. Edinburgh University 1996.)

Stuart Hall mendefinisikan salah satu dari berbagai istilah ‘culture;/ Kebudayaan adalah situs perjuangan ideologi, tempat kelompok terbawahkan akan selalu melawan wacana dari kelompok dominan, sementara itu kelompok dominan terus bernegoisasi dengan wacana kelompok terbawahkan sehingga tercipta hegemoni. Hegemoni dalam arti sebuah kondisi yang terus berproses (keseimbangan kompromis), bahwa tidak ada unsurpaksaan dalam teori hegemoni..

Menganalisa film melalui aspek Cultural Studies terdapat faktor faktor determinan yang membentuk sebuah pemahaman, faktor faktor yang menetukan dengan pasti (mengapa sebuah pemahaman/meaning terbentuk seperti itu). Dengan menggaris bawahi bahwa, tidak ada yang universal dan abadi dalam analisa Cultural Studies, sehingga bisa dibilang bahwa: tidak ada pemahaman yang tunggal dalam meaning, oleh karena ia akan terus bernegoisasi dengan aspek aspek yang mengkonstruksinya. Hal inilah yang membedakan Cultural Studies dengan ilmu-analisa klasikal sebelumnya (psikoanalisa, strukturalist, feminis, dsb) karena segala sesuatu dalam Cultural Studies adalah sebuah konstruksi termasuk konstruksi historical, dan aspek tersebut (aspek socio-historical) merupakan salah satu yang menentukan makna. Jika ilmu –analisa klasikal bersifat esensialis maka Cultural Studies bersifat konstruktif, seperti contoh bahwa feminist selalu mempermasalahkan gender dalam setiap essensi kritiknya, ataupun psikoanalisa yang menghadirkan pleasure dalam setiap esensi analisisnya, maka Cultural Studies menawarkan apa yang mengkonstruksi hal tersebut.

Dalam Cultural Studies, teori makna-meaning, mengungkapkan bahwa arti suatu kata, akan berbeda dalam konteks: (momen socio-historis, politik dan wacana/discourse yang berbeda pula). Dengan kata lain artikata akan berbeda meaning-nya menyangkut ketiga aspek tersebut.

1. Momen socio-historis.
2. Politik (dalam spektrum Cultural Studies), dan
3. Wacana/discourse.

Dalam film Roman Picisan jelas terliat benturan dua ideologi yang dilatar belakangi pada aspek socio-historis, yakni melalui latar masing masing karakter (tokoh Canting dalam lingkungan keraton Solo, dengan intervensi ‘high art’ sang Ayah) dan (tokoh Raga dalam lingkup gaya hidup modern Bali, yang terbentuk oleh masalalunya). Dan dari kedua karakter tersebut, sutradara membuat benangmerah dengan menghadirkan ideologi ‘kebebasan’ yang perlahan lahan mengintervensi dan mendominasi teks film, melalui act dari karakter tokoh. Disini penonton membaca teks bahwa, Canting, ingin lepas dari intervensi sang Ayah, sementara Raga ingin keluar dari bayang masa lalunya. Dan sepertinya penonton akan merasa senang akan identifikasi protagonist mereka terhadap karakter Raga dan Canting, terlebih lagi diantara keduanya dibalut nuansa percintaan. Disini, tema cinta merupakan kebutuhan popular yang berujung kepentingan industri, dan sangat jelas kebutuhan popular tersebut bersifat sangat menghibur.

Namun disisi lain, kita perlu memahami dan menganalisa beberapa faktor, bahwa teks dalam film mampu memberikan meaning yang berbeda dalam hal bagaimana kita memahami teks teks tertentu dalam film tersebut. Selain aspek socio-historis tersebut, dikatakan pula bahwa faktor politik dan wacana/ discourse mampu mengkonstruksi sebuah meaning termasuk didalam film. Apa yang diuraikan diatas merupakan satu bagian dari socio-historis yang membentuk meaning. Lalu bagaimana aspek politik dan wacana membentuk meaning dalam film Roman Picisan? Faktor historical saya anggap sebagai sebuah pemahaman yang banyak dikonsumsi masarakat, ia menjadi bentuk popular karena hampir semua tatanan sosial selalu menggunakan nilai historical. Seperti halnya Solo tidak bisa terlepas dari budaya Keraton yang mempengaruhi tatanan masarakatnya, begitupun Bali dengan intervensi berbagai budaya yang mempengaruhi tatanan masarakatnya. Dari aspek aspek popular inilah sutradara-pembuat film ini mengadopsi bentuk tersebut kedalam cerita ini.

Melalui tulisan ini, saya mencoba untuk melihat spektrum lain dari film Roman Picisan, kita-saya mencoba untuk keluar dari konstruksi popular yang mempengaruhi meaning dari film ini, artinya kita tidak melihat tokoh Canting dan Raga sebagai identifikasi protagionist dari penonton, karena dari identifikasi ini jelas penonton terpengaruh atas (teori naratif) pengadeganan, sehingga mau tidak mau penonton mempunyai atau mengidentifikasi karakter protagonist sebagai hambatan dari protagonist (karakter Ayah Canting). Dengan meminjam istilah Authour is death maka saya akan mencoba membalik meaning yang dikonstruksi penonton dengan menganalisa dan menjadikan karakter (ayah) sebagai sosok protagonist dalam teori naratif, sementara karakter Canting dan Raga adalah protagonist atau konflik bagi act dari karakter Ayah, dengan menganalisa karakter tersebut dari faktor faktor yang membentuk meaning (socio historis, politik dan wacana).
Bersambung ... (mudah2an acc)

0 komentar:

Poskan Komentar