Teori Film

Selasa, 18 Mei 2010

FILM ‘ROMAN PICISAN’ DALAM ARENA CULTURAL STUDIES#1



A. Culture sebagai tools, Film sebagai media.
Dalam beberapa uraian analisis, sering diungkapkan ‘film adalah budaya’ dalam bentuk lain diuraikan ‘film merupakan bagian dari budaya’, dalam penilaian saya pemahaman tersebut sering dilontarkan dengan hanya menyajikan satu sisi/ sisi luarnya saja, yaitu aspek historical yang meliputi nilai historis suatu masarakat, komunitas ataupun negara, sehingga pemahaman yang akan menanggapinya akan selalu berpatokan bahwa budaya/culture merupakan hasil dari nilai historis tersebut. Selian itu aspek bahasa sering dijadikan sebagai makna tunggal dalam pemahaman culture/ budaya. Di Indonesia makna harfiah culture diartikan sebagai budaya, yang berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, dari asallkata buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Penilaian diatas seutuhnya memang benar, dan hal inilah yang menjadikan berbagai pemahaman tersebut memiliki muatan yang bersifat selektif, dan mau tak mau bersifat selektif, mengapa?
Kebudayaan atau konsep kebudayaan/culture merupakan bidang yang sangat majemuk, setiap kita bisa mengartikan makna dari kebudayaan tersebut, oleh karena kebudayaan tidak menunggu dideskripsikan oleh para teoritikus atau siapapun, sehingga kajian tentang budaya dianggap sebagai bidang multidisipliner, dan hal ini yang terkadang menyulut perdebatan, beda argumentasi, bahkan konflik. Tony Bennets menguraikan bahwa konsep Culture/ budaya dari pemahaman seperti ini hampir tidak berguna, oleh karena berbagai peleburan makna dan intervensi sehingga terkesan menyesatkan/ mengaburkan bagi para analitis ataupun pakarnya. (1)

Dalam hal ini, anggaplah sebuah perumpamaan pandangan yang mengungkapkan seperti ‘kita jangan terpengaruh sama budaya Barat, budaya Barat merusak masa depan bangsa’ sementara disisi lain justru orang Barat yang memberi kita ilmu dan berfikir untuk masa depan. Ataupun sebaliknya ‘Budaya Timur itu tak bisa lepas dari budaya Bar-Bar’, sementara disisi lain Blok Barat-lah yang mengintervensi Timur. Dari perumpamaan tersebut sehingga terkesan adanya binerism, dan hal ini tentunya tak akan bisa diterima pada salah satu pihak.

Dan untuk itu Menurut Raymond Williams, seorang pakar Cultural Studies melalui (keywords. London. 1983) menguraikan bahwa konsep tersebut harusnya dikonstruksi menjadi tools (2) atau sebuah alat yang memiliki nilai dan seharusnya berguna bagi kita, hal ini berarti pakem bahasa dan historis bisa saja penggunaan dan maknanya akan bergeser seiring konteks perubahan jaman dan isu sosial, sehingga bagi kita adalah: apa yang kita harapkan bisa ‘dilakukan’ dari para pemikir konsep tersebut, dan seyogyanya, yang kita pertanyakan bukanlah ‘apa’ itu kebudayaan? Melainkan bagaimana dan untuk apa bahasa kebudayaan tersebut digunakan. Pemikiran inilah yang coba dikembangkan dalam mengartikan ‘kebudayaan’ dalam spektrum Cultural Studies, oleh karena begitu majemuknya konsep ini yang bisa bertautan dengan pemahaman ataupun konsep yang lain seperti: kebudayaan dalam antropologi, sosiologi, sastra hingga seni.

Dengan pemahaman tersebut tulisan ini merujuk culture sebagai tools untuk membongkar dan memahami teks ataupun praktik yang berkaitan dengan konstruksi sosial/ masarakat sebagai media / bahan analisisinya. Untuk itu penulis memilih Film sebagai media dari sebuah kontruksi sosial, representasi realita, dsb.

Untuk draft# 2.
Landasan theory.
Konsep Culture: merupakan situs perjuangan ideologi, tempat kelompok ‘terbahwahkan’ melawan beban makna kelompok ‘dominan’. Disini kontekslah yang menentukan maknanya (culture) bukan standard estetika dan intelektualitas. (Stuart Hall).

MENGAPA FILM?
• Melalui media film semua text dapat diartikan.
• Ada ideolgi yang diolah oleh pembuatnya, untuk di maknai. (plural of meaning)
• Film selalu membenturkan ideologi melalui karakternya untuk menciptakan konflik. Sehingga selalu ada struggle dari kelompok/karakter yang merasa ‘terbawahkan’.
• Meaning/ makna yang dialirkan kepenenton belum tentu sama dengan apa yang diinginkan pembuatnya. (Author is death).
• Hampir semua film menggambarkan konstruksi masarakat.

‘Mengapa film Roman Picisan’
• Berbicara tentang Indonesia yang dikenal dengan keragaman budayanya, melalui teks seperti (Bali dan Solo) (Keraton dan Kafe). Disini culture dibenturkan melalui aspek historis dengan konsumi popular.
• ‘Roman Picisan’ bisa diartikan sebagai cerita cinta yang selalu terjadi, bisa dibilang sangat klasikal, seperti kisah cinta seorang wanita yang selalu mendapat otoriter dari sang Ayah ataupun lingkungannya.
• Ada representasi perempuan dalam menerjemahkan ‘kebebasan;. Disini akan diaplikasikan kritik Feminst theory terhadap Cultural Studies diera 60-an, bahwa gender, telah menjadikan laki laki sebagai signifying dari otoritas.
• Terlihat dengan jelas konsep ‘high art’ dan ‘low art’ dalam defenisi cultural studies.
• Penyelesaian konflik dalam film ini, dengan jelas menyiratkan sebuah kritik atas pakem atau budaya yang telah ada. Meskipun disisi lain bisa menggambarkan intervensi sistem produksi.

Mudah2an. ACC…….


1) Tony Bennett. ‘Popular Culture: a teaching object’ in Screen Education 34, 1980, p. 18.

0 komentar:

Poskan Komentar