Teori Film

Kamis, 13 Mei 2010

WHAT IS POPULAR CULTURE?



An introduction to CULTURAL THEORY AND POPULAR CULTURE
(second edition) John Storey.1.

WHAT IS POPULAR CULTURE?
Dalam uraian ini Culture didefinisikan bermuatan estetika yang kemudian perkembangannya akan bermuatan politik Kebudayaan dalam Cultural Studies didefenisikan sebagai politically melebihi estetika. Object dari study dalam Cultural Studies bukan berarti Culture dalam pengertian awam.2

Tony Bennets menguraikan bahwa konsep dari Popular Culture/ budaya popular hampir tidak berguna, oleh karena berbagai peleburan makna dan intervensi sehingga terkesan menyesatkan/ mengaburkan bagi para analitis ataupun pakarnya.3. Bagian dari kesulitan ini tersirat dari perbedaan yang selalu ada dan hadir ketika kita menggunakan istilah popular culture. Popular culture selalu didefinisikan baik secara implisit atau eksplisit dan ia berbeda dengan kategori konseptual lain semisal: folk culture, mass culture, dominant culture, working class culture, dsb. Defenisi-defenisi tersebut selalu mengambil deskripsi pengertian dari anggapan-anggapan atau catatan dari tiap definisi yang dimaksud. Hal ini yang menjadi sedikit berbeda dengan bagaimana cara memahami konsep Popular, oleh karena kita perlu melihat dimana kategori konseptual tersebut digunakan baik secara langsung atau tidak langsung dan hal ini akan selalu berpengaruh kuat dalam istilah Popular culture.

Oleh karena itu, hal utama dalam penelitian budaya popular adalah kesulitan mengahadapi yang ditimbulkan oleh istilah itu sendiri, artinya, tergantung bagaimana ia digunakan, serta hal hal lain semacam socio-geografi cukup menentukan penggunaan dan pengembangan dari bentuk defenisi teoritis dan fokus analitis yang dikembangkan dalam Popular culture.4. Dan untuk mendefenisikan Popular culture hal yang pertama kita lakukan adalah menetapkan arti dari culture. Raymond Williams menyebutkan bahwa kata culture merupakan satu dari beberapa kata dalam literatur Inggris yang paling sulit untuk di artikan.5. Disini Williams membuat tiga defenisi luas tentang arti culture:
1. Culture dapat digunakan untuk merujuk pada proses umum yang bersifat intelektual, pengembangan spiritual, dan pengembangan estetika.6. Contoh: pengembangan dan perkembangan budaya Eropa hanya akan merujuk pada nilai intelek, filsuf ternama, seniman/ penyair besar, artinya diluar hal tersebut proses umum tersebut tidak layak untuk dikatakan culture. Setiap kita berfikir intelektual, beragama dan berkesenian maka itupun kita telah berkebudayaan.

2. Culture dalam defenisi kedua berarti sebagai cara hidup ‘a particular way of life whether of a people, a period or a group.7. Defenisi ini digunakan jika kita berbicara tentang perkembangan budaya Eropa. Bahwa ia akan ada dalam setiap pikiran, bukan hanya pada faktor intelektual dan estetika, tetapi juga merambah dalam pengembangan literatur, hiburan hingga upacara keagamaan.

3. Pada point ini Williams menunjukkan bahwa culture dapat digunakan untuk merujuk suatu karya dan praktik intelektual khususnya aktifitas artistik. ‘word culture might be suggest ‘a particular way of life whether of a people, a period or a group’.8.
Dengan kata lain bahwa teks dan praktik berfungsi utama sebagai signify, untuk menghasilkan produksi makna. culture dalam defenisi ini identik dengan praktik Strukturalis dan Post-strukturalis yang disebut sebagai Signifying practices.
Sebagai satu fraksis penandaan, ex: jika kita ingin dibilang bermutu, kita tidak bisa mengatakan bahwa kita bermutu, maka kita harus melakukan hal-hal yang dianggap bermutu.
Dengan defenisi seperti ini maka kita bisa menyebut puisi, novel, balet, opera, senirupa, dsb, sebagai contoh produknya.

Untuk berbicara Popular Culture maka defenisi ke-2 dan ke-3 yang diutarakan Raymond Williams biasa digunakan sebagai sarana untuk memobilisasi makna dari culture. Dimana makna kedua tersebut mengartikan culture sebagai cara hidup tertentu yang memungkinkan kita berbicara tentang praktik hidup/ a particular way of life, seperti contoh liburan dipantai, perayaan Natal, dunia remaja, sebagai bagian dari culture, hal hal seperti inilah yang merujuk kehidupan budaya kita atau biasa disebut Cultural practices.

Sedangkan definisi ketiga culture dipahami sebagai praktik yang menghasilkan tanda/ signifying, sehingga hal ini akan sangat memungkinkan bagi kita untuk berbicara mengenai; musik pop, komik, opera sabun sebagai contoh dari culture, yang biasa disebut sebagai cultural texts. Point kedua dan ketiga ini yang menjadi pintu masuk para analitis untuk berfikir tentang Popular Culture, dan sangat sedikit para analitis menggunakan pemaham point pertama.

Selain itu John Storey berpendapat bahwa culture dalam Cultural Studies didefenisikan sebagai politically melebihi estetika. Object dari study dalam Cultural Studies bukan berarti Culture dalam pengertian awam.9.

Culture hanya akan ada ketika kita membicarakannya, tanpa kita membicarakannya atau memaknainya maka kebudayaan tidak akan ada, (metaculture)

Ideology

Ideology- ideologi, merupakan istilah yang menjadi konsep penting atau kata kunci dalam penelitian Popular Culture. Ideologi menjadi penting karena berisikan pikiran pikiran theori dan praktik dalam membedah segala sesuatu terkait Cultural Studies. James Carey bahkan pernah menyarankan bahwa ‘British culture studies bisa digambarkan dengan mudah dan mungkin lebih tepat sebagai studi ideologis’.10.
Sama halnya seperti culture ideologipun memilki pengertian dan pemahaman. Pemahaman tentang konsep ini seringkali menjadi rumit oleh karena fakta bahwa dalam berbagai analitis tentang budaya seringkali digunakan konsep yang berbeda, tertukar, dengan konsep culture yang akan dianalisa, meskipun ideologi pada tempat dan situasi yang benar seperti halnya culture dan popular culture namun istilah tersebut belum bisa menggambarkan hal hal yang sesuai dari synonim ideologi yang dimaksudkan. As Stuart Hall suggest, ‘something is left over when one says “ideology” and something is not present when one says “culture”. 11.

Ruang konseptual yang dimaksud Hall tentu saja mengacu pada politic, dengan fakta bahwa ideologi telah digunakan untuk merujuk pada medan konseptual, hal ini sama seperti culture dan polular culture yang membuat istilah penting dalam pemahaman tentang sifat dasar dari polular culture. Berikut ini adalah 5 pemahaman istilah konesp ideologi dari sekian banyak pemahaman, dan telah dipertimbangkan memiliki makna dan sandaran teori pada studi Popular culture.

1. Ideologi mengacu kepada gagasan gagasan sistematis yang diartikulasikan oleh sejumlah kelompok, contoh ideologi partai, dsb.

2. Ideologi untuk mengindikasikan teks teks dan fraksis budaya yang merupakan atas gambaran yang dibesar besarkan (fals consiesnes), ex: Kapitalis, dimana kelas dominan tidak pernah melihat dirinya sebagai penindas dan kelas bawah tidak pernah merasa tertindas. Contoh; Raja dan Abdi dalam. Defenisi ini lebih menggambarkan adanya penyamaran ataupun distorsi. Ideologi digunakan disini untuk mmenunjukkan bagian teks dan praktik dengan menampilkan citra realitas yang telah terdistorsi. Pemahaman inilah yang melahirkan apa yang disebut ‘False consciousness’.12.
Distorsi semacam itu telah diperdebatkan, bahwa ideologi bekerja dalam kepentingan kuat terhadap kepentingan tak berdaya. Menggunakan istilah ini, kita mungkin sedang berbicara tentang ideologi Kapitalis.
Ini adalah salah satu asumsi dasar Marxisme klasik, berikut ini formulasi karl Marx.

In the social production of their existence men enter into definition, necessary relations, which are independent of their will, namely, realtions of production corresponding to a determinate stage of development of their material forces of production. The totality of these relations of production constitutes the economic structure of society, the real foundation on which there correspond definite forms of social consciousness. The mode of production of material life conditions the social, political and intellectual life process in general. It is not the consciousness of men that determines their being, but on the contrary it is their social being that determines their consciousness. 13.

Dalam kehidupan sosial terdapat eksistensi pria yang masuk kedalam tiap pendefinisian, relasi yang diperlukan dan tergantung pada kemauan mereka, yaitu; relasi yang sesuai untuk menentukan tahap pengembangan kekuatan produksi material mereka. Totalitas dari hubungan-hubungan produksi ini merupakan struktur ekonomi masarakat-dasar yang nyata dan ada sesuai bentuk-bentuk kesadaran sosial. Cara produksi kehidupan material merupakan kondisi sosial, politik, dan kehidupan intelektual, dan inilah proses kehidupan secara umum. Artinya, bukan kesadaran yang menentukan keberadaan mereka, melainkan sebaliknya bahwa kehidupan sosial mereka yang menentukan kesadaran mereka.

Apa yang Marx isaratkan merupakan cara masarakat mengatur alat alat produksi ekonomi mereka, yang memiliki efek dengan menentukan pada jenis budaya apa yang dihasilkan oleh masarakat. Atau masarakat yang membuat hal tersebut menjadi mungkin. Produk budaya ini disebut Base/ superstructure, dimana hubungan tersebut secara eksplisit atau implisit mendukung kelompok dominan yang secara sosial, politik, ekonomi dan budaya menguntungkan dari the economic organization of society. However, having said this, it is nevertheless ‘the case that acceptance of the contention that the flow of casual traffic within society is unequally structured, such that the economy, in a priviliged way, influences political and ideological relationships in ways that are not true in reverse, has usually been held to constitute a ‘limit position’ for Marxism ceases to be Marxism. 14.

Kita juga dapat menggunakan konsep ideologi dalam pengertian untuk menyebut hubungan kekuasaaan diluar kelas mereka, misalnya: Feminis berbicara kekuatan ideologis patriarki, bagaimana ia beroperasi untuk menyamarkan dan mendistorsi gender relations dalam masarakat. Hal ini ideologis bukan karena ada kebohongan tentang tentang gender relations tetapi karena adanya hal ini menghadirkan kebenaran parsial-memihak sebagai bagian dari kebenaran seutuhnya. Hal ini sangat bergantung pada daya kemampuan kita untuk memberikan perbedaan keduanya.

3. Ideologi dalam point ini masih berkait dengan point 2, bahwa teks seperti yang terdapat pada cerita novel, tv, lagu, film dll, menunjukkan suatu gambaran tentang dunia yang memperlihatkan masarakat sebagai sesuatu yang bertentangan-konfliktual. Dalam pertentangan tersebut, teks akan berpihak, karena kebudayaan adalah situs pembermaknaan politik, tempat pemahaman sosial kolektif diciptakan.

Defenisi ini tergantung pada sebuah anggapan bahwa masarakat berperan sebagai konflik daripada sebuah konsensual (bersifat umum), dalam konflik ini peran teks akan memihak baik secara sadar atau tidak sadar.
The German playwright Bertolt Brecht summarize the point: ‘Good or bad, a play always includes an image of the world….. There is no play and no theatrical performance which does not in some way affect the dispositions and conceptions of the audience. ‘Art is never without consequences.’ 15.

Baik dan buruk adalah sebuah permainan yang selalu menyertakan image dunia. Didalamnya tidak ada permainan dan aksi teatrikal, dimana tidak ada cara cara tertentu yang mempengaruhi disposisi dan konsepsi penonton. ‘Seni tidak pernah ada tanpa konsekwensi’.
Penuturan Brecht dapat digeneralisasi berlaku untuk semua teks budaya, dengan kata lain bahwa semua teks pada akhirnya berujung politik. Mereka menawarkan kompetisi akan makna ideologi dan signifikasi dari kata tersebut. Dengan demikian sebagaimana klaim Stuart Hall Popular culture merupakan situs dimana pemahaman sosial kolektif diciptakan. Hal ini melibatkan ‘politik makna’ dengan upaya untuk memenangkan pembaca (teks akan berpihak) untuk cara cara tertentu melihat dunia.
Popular culture is thus, as Hall claims, a site where ‘collective social understandings are created’. It is engaged in ‘the politics of signification’, the attempt to win readers to particular ways of seeing the world. 16.

4) Melihat ideologi bukan sebagai sosok gagasan, melainkan sebagai fraksis material. Karena ideologi terdapat dalam praktisi kehidupan sehari hari, dan bukan sekedar (cara fikir) gagasan mengenai sehari hari, Althusser: ideologi itu bukan tentang berfikir sehari hari, ideologi itu yang sehari hari. contoh kaos oblong itu sudah ideologis tanpa harus dipikir lagi karena hal tersebut mereproduksi kondisi dan hubungan sosial yang berhubungan kondis ekonomi (kapitalisme dalam hal ini).
5) Berhubungan dengan Barth, ideologi beroperasi dalam level konotasi (secondary), meskipun itu secar tak sadar terbentuk, tetapi itulah yang dibawa oleh fraksis ataupun teks, jadi membuat sebuah konotasi tetap adalah membuat konotasi baru.

Popular Culture
Dalam buku ini diuraikan ada enam definis dari popular culture, dengan berciri kuantitatif, bahwa makna makna dan praktik hasil produksi masarakat popular merupakan momen konsumsi dan kajian atas budaya terpusat bagaimana ia digunakan.

1. Defenisi sederhananya popular culture merupakan hal hal yang disukai banyak orang, namun meskipun disukai banyak orang namun belum tentu itu bisa dibilang popular.

2. Popular culture bisa mengacu pada ‘yang tersisa’ dari kebudayaan tinggi atau high art, semua yang bukan kebudayaan tinggi, itu adalah popular. High art selalu didefinisikan sulit, perbedaan kelas, tidak semua orang tahu. Ex, elite selalu identik dengan music klasik, sementara rakyat identik dengan musik dangdut. Begitupun sebaliknya film noir dulunya adalah film popular, kini menjadi film art.

3. Popular culture dipandang sebagai kebudayaan komersial, atau diproduksi secara komersil dan tampaknya tidak ada alasan untuk mengatakan hal ini akan berubah pada masa masa yang akan datang. Namun hal ini dianggap bahwa konsumsi kebudayaan dianggap sebagai kebudayaan yang seolah olah tidak memerlukan pemikiran yang berlebih, oleh karena massa akan bersifat pasif (ex: media iklan, TV memberikan info kebudayaan secara instant. Hal ini mendapat tanggapan bahwa ‘apa iya kalau konsumsi kebudayaan membuat orang pasif’? oleh karena tidak ada yang otentik dalam hal ini.
Disini bermula Strukturalisme menguraikan bahwa popular culture adalah sikap kritis, bahwa popular culture sebagai mesin ideologi yang memproduksi kembali ideologi.

4. ‘Contends that popular culture is culture which originates from ‘the people’, popular culture adalah budaya yang dibentuk diresap oleh masarakat-working class, namun masarakat ini bertindak sebagai konsumen karena semuanya telah tersedia, dan masarakatlah yang memilih-menggunakannya.

5. Popular culture: lahir dari pemikiran Neo-Gramscian adalah yang mendominasi dalam lingkup masarakat, dengan melihat popular culture sebagai situs perjuangan antara kekuatan perlawanan dalam kelompok terbawah masarakat. Jadi budaya popular bukanlah dipaksaan dari atas dan bukan pula dari bawah, melainkan tempat pertukaran antara keduanya, dimana suatu wilayah yang ditandai oleh perlawanan dan pengggabungan, teks dan budaya yang bergerak disebut keseimbangan kompromis. Proses ini bersifat historical, kadang kadang disebut budaya pop, kadang budaya saja, dan juga bersifat syncronik- menyesuaikan. Jadi, siapapun akan melihat popular culture sebagai wilayah perjuangan ideologi dominan dengan yang terbawahkan.

6. Popular culture menjadikan peleburan- meniadakan antara high art dan low art. Bahwa budaya pop itu muncul dari industrialisasi dan urbanisasi yang dipengaruhi kapitalist market ekonomi. Hubungan antara high dan low dihancurkan, dengan menggambarkan ulang peta kebudayaan menjadi pada tiga faktor, pertama: industrialisasi mengubah hubungan antara buruh dan elite. Kedua, urbanisasi memproduksi pemisahan kelas (eks kompleks perumahan). Ketiga, karena revolusi Prancis ingin mencegah kapitalisme. Hal hal inilah yang menciptakan ruang kebudayaan, maka masuklah budaya pop.

POPULAR CULTURE & CULTURAL STUDIES.
Sebelum ada foto, mesin cetak dan mechanical production, hirarki budaya tinggi sangat kontrast. Disini muncul semacam penolakan ‘kultural kritik’, karena ada jenjang setelah dilihat nilai politisnya. Kultur kritik disini sebagai upaya untuk mempertahankan status. Hal ini menyangkut kepentingan kelas, sehingga tercipta power relations seperti: akademisi, kritikus, dsb selalu menentukan hal tersebut (kepentingan kelas), Foucault menyebutnya ‘politik kekuasaan’, ia mengambil perumpamaan homoseksual, bahwa homoseksual itu normal bagi dia, namun homo bukanlah wacana dominan sehingga ia dianggap tidak normal. Jadi normal, tidak normal merupakan wacana politik, siapa yang menguasai wacana disitulah mayoritas ditentukan. Hal ini juga terjadi pada budaya tinggi, namun Cultural studies mencoba memberikan wadah dan pemahaman bahwa setiap konteks mempunyai wacana masing masing, sehingga berlaku sikap pandang emansipatories untuk memberi perlawanan akakn beban makna kelompok dominan dnegan (tidak lagi direndahkan, terbawahkan). Para analitis Cultual Studies merasa ada ketimpangan, dengan konsep Culture: merupakan situs perjuangan ideologi, tempat kelompok terbahwahkan melawan beban makna kelompok dominan, bahwa kontekslah yang menentukan maknanya bukan standard estetika, (seperti konsep klasik sebagai standard dunia musik. Hal ini ditentang dengan kemunculan musik pop

Cultural Studies, gerakan emasipatories yang menyeimbangkan wacana dengan melihat tiap konteksnya (orang kaya membeli merk bukan fungsinya, bagi orang awam ini adalah hal bodoh, tetapi Cultural Studies memberi konteks karena identitas memang mahal), konteks dan wacana muncul karena adanya pleasure, meaning, political identity, sehingga popular culture identik dengan situasi ekonomi dan industri, (saya menonton film itu sampai berkali kali, disini terletak pleasure, meaning, political identity) konsumsi produk polpular memang diperlukan oleh konsumennya, konsumenlah yang membentuk situasi popular tersebut.
Cultural Studies menjadikan dominan tidak selalu berpihak pada elite, ia bisa berpihak pada industri- konsumsi pop. Ia menyetarakan makna, bahwa makna itu plural.

Jika dalam Ilmi ilmi klasikal selalu membuat standard tertentu dan ada kepercayaan substansi dan esensialis artistik (bahwa ada standard estetika, seperti musik klasik adalah high art), namun dalam Cultural Studies hal tersebut tidak ada dengan merujuk bahwa segala sesuatu yang dianggap indah adalah konstruksi sosial, bukan pada standarisasi baik dari akademisi, analitis, aristrokrat, dsb. Sehingga dalam Cultural Studies keindahan tidak menetap, melainkan konstruksi sosial dengan melihat konteksnya terlebih dahulu. Keindahan itu konstruksi.

Ilmu ilmu klasik bersifat esensialis maka Cultural Studies bersifat konstruktivitis karena kita selalu ingin melihat unsur unsur yang mengkonstruksinya. Contoh film2 Eropa selalu berpatokan ada standard dan estetika gaya masing2, ekspresionos, impresionos, dsb, namun dalam Cultural Studies faktor faktor yang membentuk hal tersebut.
Popular Culture melalui Cultural Studies Menghancurkan perbedaan high culture dan low culture

***

1.John Storey An introduction to Cultural Theory and Popular Culture, (second edition). Harvester Wheatsheaf, 1993, p. 1-6.
2. John Storey “Theories and Methods CULTURAL STUDIES & THE STUDY OF POPULAR CULTURE” . Edinburgh University 1996 p.1-3.
3.Tony Bennett. ‘Popular Culture: a teaching object’ in Screen Education 34, 1980, p. 18.
4. Ibid, p. 20.
5. Raymond Williams, Keywords, London, Fontana, 1983, p. 87.
6. Ibid, p. 90.
7. Ibid. .
8. Ibid.
9. John Storey ‘Theories and Methods Cultural Studies & The Study of Popular Culture Edinburgh University 1996, p.1-3.
10. James W Carey, ‘overcoming resistance to cultural studies’ in What is Cultural Studies: A reader, edited by Jhon Storey, London: Edwrd Arnold, 1996, p. 65
11. Stuart Hall, ‘Some paradigms in cultural studies’ in Analli 3 , 1978, p.23.
12. See Karl Marx and Frederick Engels, The German Ideology (student edition) edited and introduced by C.J. Arthur, London: Lawrence & Wishart, 1974.
13. Karl Marx, Preface and Introduction to A Contribution to the Critique of Political Economy, Peking : Foreign Language Press, 1976, p3.
14. Tony Bennett. ‘Popular culture: defining our terms’ in Popular Culture: Theme and issues 1, Milton Keynes: Open University Press 1982, p. 81.
15. Bertolt Brecht, On Theatre, transleted by Jhon Willet, London: Methuen, 1978, pp. 150-151.
16. Stuart Hall, ‘The rediscovery of ideology: the return of the repressed in media studies’ in subjectivity and social relations, edited by Veronica Beechey and James Donald, Milton Keynes: Open University Press, 1985, p. 36.
17. Materi diskusi Seno Gumira Adjidarma.

0 komentar:

Poskan Komentar