Teori Film

Minggu, 24 Januari 2010

Naratif dan stylistik film-film RAko (draft#4)

D. Auteur dan Naratif.
Secara keseluruhan, pola dari struktur naratif ke-9 film Rako menggunakan ‘struktur Hollywood klasik’, dan merupakan bentuk naratif yang paling umum digunakan dalam menuturkan sebuah cerita. Perpaduan antara hubungan sebab akibat yang logis menjadi sebuah kunci utama disamping kejelasan ruang waktu. Tokoh-tokoh dalam cerita dibuat sedemikian rupa lengkap dengan goal, need, desire yang ingin dicapai. Sehingga akan terlihat dengan jelas mana tokoh yang berkarakter protagonis dan mana tokoh yang berkarakter antagonis. Hingga nanti pada akhir dari cerita akan diperoleh sebuah ending sebagai penutup cerita dimana tokoh telah mendapatkan sebuah keadaan, apakah segala goal, need, desire yang diinginkan tersebut tercapai atau tidak.


Dalam menganalisis konstruksi naratif dalam film Rako jelas terlihat elemen elemen dibawah ini yang merupakan bentuk dari penuturan Struktuk Hollywood Klasik:

1. Cerita adalah narasi, atau sebab-akibat sebagai pemicu dari rangkaian peristiwa.
2. Struktur 3 babak, ketiga bagian ini bertujuan antara lain agar karakter bisa diidentifikasi, penggambaran situasi-set yang merupakan agen kausal dengan keinginan atau tujuan tertentu.
3. Unsur style sangat menentukan bagaimana film disusun secara berkesinambungan dengan unsur-unsur cerita, set, adegan, gambar, suara, dsb.
4. Sebuah plot adalah urutan tindakan dalam urutan kronologis. Dan bila plot berkembang (sub-plot) tetap akan merujuk pada kesinambungan cerita utama (goal, need, desire).
5. Karakter/tokoh memiliki sifat tertentu dan bereaksi terhadap situasi tertentu sebagai agen tindakan dan keputusan.
6. Protagonis adalah tokoh sentral, aktif, orientasinya mempunyai tujuan dengan motivasi positif. Sementara antagonis adalah bertentangan dengan karakter sentral upaya untuk memecahkan masalah.
7. Kontinuitas/prinsip kesinambungan adalah elemen yang sangat memanjakan naratif, bertujuan untuk menceritakan alur yang konsisten, realisasi ruang dan waktu. Aplikasi keteknisnya antara lain: eye line match, linear 180 derajat, reverse shot, cut to countuinity, etc. Fungsinya untuk mengkonstruksi bawah sadar agar kesan realita dalam film narative tidak terganggu, artinya aspek sinematik kamera dan perekaman suara tidak boleh menarik ‘perhatian’ diluar naratif.

‘Cinema Hollywood klasik’
‘Cinema Hollywood klasik’ adalah suatu istilah yang telah diciptakan oleh David Bordwell, Janet Staiger dan Kristin Thompson dalam studi mereka. Sinema Hollywood klasik digunakan dalam sejarah film yang merujuk pada visual dan suara untuk membuat rangkaian gambar bergerak dan cara distribusi-produksi yang digunakan dalam industri film Amerika antara tahun 1910-an dan 1960-an. Dalam studi ini para penulis menganalisa secara acak dari 100 film Hollywood 1917-1960, dengan kesimpulan bahwa selama periode ini gaya sinematik yang ‘khas’ dikembangkan dan mereka sebut gaya Hollywood klasik, dan menyatakan bahwa gaya ini telah menjadi paradigmatis karena dominasi global sinema Hollywood. Klaim yang paling kontroversial dari mereka adalah bahwa para pembuat film pada dasarnya di mana pun menghadapi dua pilihan Entah mereka jatuh ke dalam gaya Hollywood klasik dan mengikuti contoh nya, atau mereka memberontak, melawan dan mencoba untuk secara sadar menumbangkan norma-norma gaya tersebut/ diluar bentuk struktur Hollywood classik, semisal Art cinema Narration.

Setelah penjabaran aspek aspek apa saja yang terdapat pada gaya naratif ‘Struktur Hollywood Klasik’ maka pada point selanjutnya penulis akan menelusuri ke-9 film Rako dalam konteks naratif (apa yang diceritakan?) serta stylistik (bagaimana cara menceritakannya), dengan berpegang pada aspek aspek naratif Hollywood klasik yang telah diuraikan diatas, (Kausalitas, struktur 3 babak, ruang dan waktu, karakter dan plot serta kontinuitas.)

IV.a. Pembahasan Film.
IV.a.1. Kausalitas
Dalam film ‘Ungu Violet’ terlihat hubungan sebab-akibat yang jelas, seperti
1) Konflik terjadi karena penyakit Lando yang memvonis hidupnya tidak akan lama lagi, sementara Kalin terlanjur mencintainya.
2) Cinta yang terjalin antara Lando dan Kalin akibat keduanya sering bertemu di halte bus, yang kemudian berlanjut pada hubungan yang serius.
3) Lando dipecat dari pekerjaannya akibat kedisiplinan waktunya.
4) Akibat serpihan kaca dalam sebuah kecelakaan menyebabkan Kalin buta.
5) Kalin mendapatkan penglihatannya setelah seseorang mendonorkan matanya.
6) Karena penyakitnya Lando ingin menjauhi Kalin, dsb.

Dalam film lain juga diuraikan aspek kausalitas ini seperti pada film:
1. (d’bijis) Konflik terjadi karena keinginan Asti untuk kembali menghadirkan
the Bandits, band fenomenal dimasa kakaknya (Bonnie sang vokalis) masih hidup.
2. (d’bijis) Bonnie sang vokalis meninggal karena drugs dan penyakitnya
3. (Tri Mas Getir) Konflik muncul akibat Ciang Fek dan perguruannya terlilit utang.
4. (Tri Mas Getir) Sugeng bercerai dengan istrinya karena faktor biologis.
5. (Merah itu Cinta) Kematian Rama menghancurkan masadepan Raisha.
6. (Merah itu Cinta) Emosi Raisha memicunya untuk bunuh diri.
7. (Merah itu Cinta) Raisha menjadi tegar karena pengalamannya dengan Arya
8. (OH My God) Konflik muncul ketika Ipin yang digambarkan minoritas-margin berusaha melawan yang mayoritas-borguis.
9. (OH My God) Ipin jatuh cinta pada Tiara karena ia cantik, kaya dan pintar.
10. (Benci Disco) Setiawan dan Harim membenci disko karena kehidupannya melarat karena sang Ayah yang notabene maniak disko.
11. (Benci Disco) Harim menjuarai kompetisi disko karena ia mampu menguasai jurus disko dalam kitab keramat milik ayahnya
12. (Preman in Love) Konflik terjadi ketika Sahroni sang preman jatuh hati pada gadis yang menjadi incaran Raden Mas Pono.
13. (Preman in Love) Sahroni dicap preman karena ia tidak memiliki pekerjaan dan sering menyusahkan penduduk.
14. (Maling Kutang) Konflik terjadi karena Sugeni menghilangkan kutang kesayangan nenek yang merupakan hadiah dari kakeknya.
15. (Maling Kutang) Sugeng dan istrinya adalah karakter yang selalu menghalangi Sugeni untuk mendapatkan kutang tersebut.

Dalam semua film Rako, aspek kausalitas dipaparkan sangat jelas, meskipun ada beberapa bagian yang dikemas secara hiperbolik (seperti scene toilet dalam film ‘Preman in Love’, scene Sugeni mengejar kutang dalam ‘Maling Kutang’, scene Suhu meninggal karena makan rendang dalam ‘Tri Mas Getir’, dll) namun secara keseluruhan cerita dalam film Rako mengacu pada kausalitas yang jelas. Untuk beberapa bagian cerita yang saya sebut dikemas secara hiperbolik lebih mengacu kepada kepentingan genre (komedi), stylistic sutradara untuk memperkuat karakter tertentu, hingga kepada spontanitas sutradara untuk memberi warna tersendiri pada setiap filmnya.

IV.a.2. Aspek Ruang dan Waktu
1) Ungu Violet : Menggambarkan metropolitan Jakarta (kehidupan pemukiman padat, bus-way, dunia modelling, dsb), yang dikemas dengan look yang dingin jauh dari kesan Jakarta sehari hari, kesemua bentuk ini dikemas dengan nuansa realis.
Waktu (film time) dalam penceritaan berjalan linear atau berjalan kedepan, sehingga terjadi kesinambungan dalam aspek ruang dan waktu yang realistis.
2) D’BIJIS: Menggambarkan metropolitan Jakarta (life style, dunia musik rock, dsb)
Waktu penceritaan berjalan linear, hal ini terlihat dari karakter Asti saat kecil di era 80an, hingga Asti dewasa.
3) Merah Itu Cinta: Berlatar pemukiman dipinggiran kota Jakarta (pemukiman disekitar rel kereta, lokalisasi), yang dikomparasikan dengan keindahan pantai, supermarket, museum, dan ruang balet, tak jauh berbeda dengan ‘ungu violet’, look pada film ini jauh pada kesan logika Jakarta, dengan nuansa yang sepi dan kelam.
Waktu penceritaan berjalan linear, hal ini terlihat dari karakter Rama sebelum meninggal, kehadiran Aria hingga Raisha yang tegar menghadapi kenyataanya.
4) Tri Mas Getir: Berlatar keragaman etnis di Jakarta (Padang, China, Ambon, Jawa) yang berkontradiksi dengan dunia entertaint, mafia dan hukum.
Waktu penceritaan berjalan linear yang mengacu pada plot utama (karakter Ciang Fek) .
5) OH My God: Berlatar kehidupan siswa disekolah dan dilingkungan Jakarta yang dihadpkan pada status sosial.
Waktu penceritaan berjalan linear dengan sudut pandang Ipin sebagai karakter utamanya.
6) Krazy Crazy Krezy: Berlatar kehidupan metropolitan dan kaum urban (kehidupan kost diJakarta)
Waktu penceritaan berjalan linear, berangkat dari tiga sudut pandnag tokoh sebagai latar yang kemudian menjadi satu dalam sebuah konflik
7) Benci Disco: Berlatar kehidupan malam diera 80an (discotik), yang menghadirkan latar sosial dan etnis (China, Arab-Betawi)
Waktu penceritaan berjalan linear yang diawali oleh sudut pandang Hamdan di tahun 80an yang kemudian seiring waktu menghadirkan karakter Setiawan dan Harim (anak Hamdan) sebagai dampak sosial diera 2000.
8) Preman in Love: Berlatar kehidupan pedesaan yang mengadopsi kehidupan metropolitan (Rini sebagai gadis yang berpendidikan kota)
Waktu penceritaan berjalan linear melalui sudut pandang Sahroni sebagai karakter utama
9) Maling Kutang: Berlatar kehidupan kaum Urban: pemukiman padat penduduk dengan berbagai etnis dan budaya dimasa sekarang.
Waktu penceritaan berjalan linear melalui dua sudut pandang (kehidupan Sugeni dan pasangan Sugeng beserta istrinya.

IV.a.3. Struktur tiga babak
Struktur tiga babak dalam Hollywood klasik memiliki muatan:
1) Opening story: Memberikan informasi tentang karakter, sifat dan aksi tokoh yang akan diidentifikasi oleh penonton. Opening bisa juga berfungsi sebagai latar permasalahan, informasi waktu ataupun era dan keadaan sebuah situasi.

2) Middle/development story: Konflik muncul karena keinginan-desire dari karakter (protagonis) yang tidak sejalan dengan keinginan karakter lain (antagonis) ataupun situasi dalam ruang cerita. Dengan konflik tersebut plot semakin berkembang karena karakter utama akan menempuh berbagai cara-aksi agar maksud dan tujuannya tercapai.

3) Ending/Closure story: Sebab dari tindakan-aksi ini akan menimbulkan akibat atau kondisi tertentu yang akan menuju penyelasaian masalah, penyelesaian ini bisa sejalan dengan keinginan penonton ataupun sebaliknya.

Metode inilah yang menjadi patokan untuk menganalisa struktur cerita pada film film Rako Prijanto. Analisa struktur tiga babak dalam film film Rako:
Ungu Violet: Bercerita tentang pengorbanan Lando (Rizki Hanggono), seorang fotografer yang menjadikan Kalin (Dian Sastro) menjadi super model. Sebuah insiden mengakibatkan Kalin kehilangan penglihatan, hingga pengorbanan seorang etnis Cina membuat Kalin kembali mendapatkan penglihatannya.

Opening
• Lando seorang fotografer yang setiap saat memotret dimana saja.
• Lando digambarkan tidak takut pada kematian (scene ketika Lando menghadapi pencopet bus), karena penyakit ajalnya telah divonis melalui diagnosa Dokter.
• Kalin seorang gadis biasa dan mandiri, bekerja sebagai karyawati bus-way.
• Lando menjalin hubungan dengan Kalin.

Middle/ development
• Karena usaha Lando, Kalin menjadi model superstar.
• Lando dipecat dari pekerjaannya, penyakitnya kian memburuk
• Karena aktifitas Kalin, keduanya jarang bertemu.
• Penyakit Lando mengisyaratkan Ia tak patut bersama Kalin.
• Karena Lando, Kalin mendapat kecelakaan hingga ia buta.

Closure
• Kalin sembuh dari kebutaan. Penyakit Lando semakin buruk.
• Kalin dan Lando diceritakan tetap bersama.

D’BIJIS: Bercerita tentang sekelompok anak Band ‘the Bandits’ yang terpecah oleh kematian sang vokalis yang mengkomsumsi drugs, hingga muncul sosok Asti (Rianti Cartwright) sebagai bidadari penyelamat.
Opening
• Band the Bandits tampil didepan penggemarnya, Damon sang gitaris tidak suka dengan kelakuan (mabuk sebelum tampil) Bonnie sang vokalis.
• Penonton rusuh, Damon menyelamatkan Asti kecil dari kerusuhan dipanggung.
• The Bandits bubar, Asti beranjak dewasa.
Middle/ development
• Asti mencari Damon untuk kembali membentuk formasi the Bandits.
• Asti dan Damon mencari Gendro (drumer), Bule (bassis).
• Sulit untuk meyakinkan Soljah (keyboardist) yang telah depresi.
• Tidak ada sosok vokalis, Damon dianggap terlalu idealis, konflik internal muncul.
• Gendro meyakinkan Soljah, Damon mengakui kesalahannya.
Closure:
• Asti meyakinkan trauma the Bandits 20 tahun yang lalu. Asti menjadi vokalis.
• The Bandits meraih mimpinya. Dan semua happy.
Merah Itu Cinta: Bercerita tentang emosional Raisha (Marsha Timothy) sejak kematian Rama, tunangannya. Emosional tersebut semakin berlarut ketika muncul Aria (Garry Iskak) merupakan pasangan gay dari Rama datang dengan perasaan yang sama.
Opening
• Raisha menjalin Cinta dengan Rama
• Rama meninggal dalam kecelakaan.
Middle/ development
• Aria muncul dalam kehidupan Raisha
• Raisha menyadari akan masalalu kekasihnya Rama dengan Aria.
Closure
• Aria dan Raisha memilih sikap masing masing
• Raisha lebih tegar tanpa kehadiran Rama dan Aria.

TRI MAS GETIR: Bercerita tentang tiga orang figuran film dengan latar yang berbeda. Ketiganya adalah murid dari perguruan kungfu yang berencana menculik Katrina (Titi Kamal) seorang aktris idola, untuk mempertahankan perguruan mereka dari hutang
Opening
• Ciang Fek, Sugeng dan Ujang memiliki problem kehidupan masing masing.
• Ciang Fek bermimpi jadi artis terkenal, Ujang jatuh cinta dengan Artis terkenal.
Middle/ development
• Perguruan Ciang Fek terlilit utang.
• Ciang fek, Sugeng dan Ujang sepakat menculik Katrina
Closure
• Aksi mereka meyebabkan terbongkarnya sebuah sindikat-konspirasi.
• Ujang gagal mendapatkan Katrina, Ciang Fek terlepas dari utang, dan Sugeng kembali akur dengan istrinya.

Oh, My God: Bercerita tentang Ipin (Desta) seorang siswa yang terdiskriminasi dari pergaulan dan menjadi bahan cacian teman teman sekolahnya yang berstatus boerju.
Opening
• Ipin seorang siswa yang kerap menjadi bahan ejekan disekolahnya. Mendiang ayahnya menjadikan ia terobsesi menjadi penyanyi.
• Tiara seorang siswi cantik, pintar dan kaya memiliki tanggal kelahiran yang sama dengan Ipin.
Middle/ development
• Karena ulahnya, Ipin bisa mengenal Tiara, namun perkenalannya merupakan sebuah permusuhan.
• Ipin tidak merasa sengang dengan kelakuan Tiara dan pacarnya (Marko) yang sering mengintimidasi teman temannya.
Closure
• Ipin dan teman temannya mengadakan perlawanan terhadap Tiara dalam ajang pemilihan ketua Osis
• Tiara menyadari kekeliruannya, keduanya menjadi lebih akrab.

Benci Disko: Bercerita tentang kehidupan Hamdan seorang clubbing-disco, ia menjelma menjadi poligami hingga lahirlah karakter Harim dan Setiawan yang memang tak pernah akur, hingga keduanya dihadapkan pada wasiat sang ayah.
Opening
• Hamdan merefleksikan pesona kehidupan malam kedalam kehidupan berumahtangganya. Akibatnya ia memiliki anak dari tiap wanita yang berbeda.
• Harim dan Setiawan merupakan anak Hamdan, keduanya membenci sikap ayanya yaitu disko.
Middle/ development
• Sepeninggal sang Ayah, Harim dan Setiawan mendapatkan wasiat agar mencarikan pemuda yang jago disko untuk adik perempuannya.
• Harim dan Setiawan terpaksa mempelajari gerakan disko untuk melanggengkan keinginan sang adik untuk bisa mendapatkan jodoh.
Closure
• Ditengah pertikaian mereka, wasiat sang ayah yang pada intinya menginginkan meraka akur melalui sebuah buku wasit disko, menjadikan persepsi negatif atas ayah mereka menjadi kabur. Mereka membuktikan dengan memenangkan turnamen tersebut.

Preman in Love: Bercerita tentang kehidupan Sahroni yang hanya meresahkan masarakat kampung, perasaan cinta menghampirinya ketika seorang gadis yang berprofesi sebagai mahasiswi (Rini) datang kedesanya untuk mengajar.
Opening
• Sahroni adalah pembuat onar dikampungnya, hal ini menjadikan ia lebih dekat dengan anak anak dibanding dengan pemuda dikampungnya.
• Raden Mas Pono adalah seorang juragan ningrat yang selalu memproklamirkan harta benda untuk mendapatkan keinginannya termasuk perempuan.
Middle/ development
• Aksi preman sahroni menyebabkan ia bisa mengenal Rini, ia merasa jatuh cinta
• Namun kedekatannya dengan gadis pujaan mendapatkan hambatan dari R. Pono.
• Hal ini menjadikan ayah Rani membuat sayembara (Pilkades), yang mempertemukan Sahroni dan R. Pono.
Closure
• Dengan bantuan teman teman ciliknya, Sahroni mendapatkan antusias masarakat.
• Sahroni memenangkan Sayembara dan berhak menyanding gadis idamannya.
Maling Kutang: Bercerita tentang Sugeni, seorang pemuda yang harus mendapatkan kembali kutang kesayangan nenek yang merupakan peninggalan sang kakek dari tangan Syamsul untuk kelanggengan usaha.
Opening
• Sugeni seorang pemuda gagal dalam berusaha, sedangkan syamsul adalah pasangan muda yang memulai untuk berusaha (toko kelontong).
• Tanpa kesengajaan, Sugeni menghilangkan kutang kesayangan milik neneknya.
Middle/ development
• Syamsul dan istrinya meyakini bahwa kutang tersebut adalah kutang keramat yang mampu menjadikan toko mereka laris, namun hal yang dinginkan jauh dari perkiraan.
• Sugeni yang terus mengincar kutang neneknya dari tangan keluarga Syamsul selalu gagal.
Closure
• Kematian nenek Sugeni menjadikan dirinya merasa bersalah, namun hal inilah yang menjadikan dirinya lebih bersikap.
• Sementara Syamsul dan istrinya dengan pengalaman kutang yang dianggapnya keramat justru merugikan mereka.

Resume Naratif:
Struktur naratif menggunakan pola Struktur Hollywood Klasik, hal ini terlihat dari ke-9 film rako menggunakan elemen elemen dari pola ini, dengan menyimpulkan bahwa:
• Cerita berlangsung karena adanya narasi kausalitas sebagai pemicu dari rangkaian peristiwa.
• Identifikasi tokoh dengan jelas. (babak 1/opening)
• Menghadirkan konflik, tokoh utama dilanda krisis. (babak 2/ development)
• Cerita mengalirkan suspense. (babak 2/ development)
• Cerita menuju klimaks dan anti klimaks. (babak/3 closure)
• Plot selalu berkembang (babak 2/ development) dan merupakan kronologis dari plot utama (goal, need, desire).
• Protagonis adalah tokoh sentral, aktif, namun terkadang orientasi dan motivasinya tidak positif, sehingga muncul tokoh ke-2 yang menjadikan tujuan protagonis menjadi positif.


E. Auteur dan Stylistik
Analisa ini akan mencari sebuah konsistensi style-gaya yang khas seorang sutradara dalam menuturkan naratif, dan untuk mengelaborate unsur naratif menjadi bentuk visual maka peran style film (film style-Stylistic system) yang berperan kuat untuk menunjang konsep naratif yang dihadirkan. Stylistik sistem merupakan elemen-elemen yang dapat diterima oleh indera-indera manusia, ex: setting, sinematografi, editing, dan suara, elemen ini yang menjadikan film menjadi bentuk yang kita lihat di layar, yang membedakan film dengan karya-karya seni lainnya. Stylistic system adalah sebuah sistem yang mempunyai makna tertentu yang ingin disampaikan filmmaker dari sebuah naratif film. Tanpa elemen-elemen dari stylistic system ini, film telah menempatkan dirinya di tempat yang khusus keluar dari tulisan sastra atau pementasan teater. Dengan kata lain, film-film itu disusun sedemikian rupa sehingga penonton tidak sadar ada konstruksi. Praktek ini menonjolkan konstruksi sebuah film benar-benar bergantung pada sistem yang kompleks akan kode visual.

Berbicara stylistik didalam film, berarti kita berbicara tentang “apa yang terlihat dan bagaimana cara memperlihatkan sebuah naratif,” tujuan adalah telling a story. Sehingga dengan demikian, pokok penting untuk menganalisa hal ini mengacu pada konsep mise en scene. Mise en scene, merupakan konsep teater yang diadopsi kedalam film, yang dinilai sebagai sebuah analisis dramaturgi klasik yang berusaha memberi tanda pada teks (naskah) drama dan menghadirkannya di atas panggung pertunjukan diubah menjadi praktik pemaknaan teatrikal yang memberi ruang bagi teks drama menjadi teks pertunjukan atau cara bereksperimen di atas panggung, dengan kata lain mise en scene didalam film berfungsi sebagai sistem penandaan yang hadir secara bersamaan atau berlawanan dalam ruang dan waktu tertentu di hadapan penonton.

Ekspresi figur
Dengan melihat ke-9 film Rako, penulis memiliki anggapan bahwa konsep mise en scene yang mendominasi dalam film Rako memiliki muatan sikap kritis terhadap teori-teater klasik, bila teater klasik memandang audiensnya sebagai mob, yang harus disentuh dan hanya dapat disentuh melalui emosi mereka, maka penilaian saya adalah konsep pengadeganan Rako meyakini bahwa penonton merupakan kumpulan individu individu yang mampu berfikir dan berargument serta membuat penilaian terhadap apa yang berlangsung didalam sebuah adegan. Sekilas pandangan ini mengadopsi konsep Brechtian (Bertolt Brecht) yang menilai gaya dramatis klasik hanya mendukung cara pandang fetistik dalam kehidupan sehari hari. Dalam hal ini, Brecht memberikan dua catatan kritis:

1) Teater klasik berupaya memberi kesan bahwa apa yang terjadi diatas pentas merupakan kejadian dari hidup nyata. Brecht meyakini bahwa kesan natural (pengadeganan) yang ditampilkan diatas panggung hanya akan mengukuhkan sikap tidak kritis dari penonton terhadap horizon problem sosial.

Penilaian saya jika dikaitkan dengan film Rako, dalam aspek ini ada nilai nilai yang diterjemahkan (point 1) kedalam pengadegan film Rako. Bila menilai karakter karakter yang ada di film Rako, ex: Syahroni, Sugeni, Sonny, Harim, dsb. Maka kita-penonton disajikan sebuah pemahaman karakter yang over-confidance dan jauh dari kesan natural, hal ini sangat beralasan jika kita mengkaitkan fungsi dari ‘kesan natural’ seperti yang dikemukakan Brecht. Dengan kata lain, eksplorasi karakter yang berlebihan-over-confidance, justru untuk menciptakan sikap kritis dari penonton bukan untuk melarutkan penonton dalam situasi kejadian nyata

2) Brecht mengkritik secara keras cara tanggap empatetik yang dibuat oleh teater klasik yang ditanamkan dalam penontonnnya. Ia beranggapan bahwa fokus perhatian pada perasaan perasaan yang ada dalam penonton memainkan peranan ideologi yang berpihak pada kelas yang berkuasa. Hanya teater yang bersikap kritislah yang mampu memerangi secrecy yang secara diam diam digunakan oleh para status quo untuk mempertahankan kekuasaannya. Maka, teater Brecht mengklaim perlunya kesesuaian dengan kepentingan kelas proletar atas dasar pendekatan rasional.
Disini saya beranggapan bahwa pendapat Brecht tersebut yang bila dikaitkan kedalam dunia cinema, maka kita akan dihadapkan pada pemilik modal-penguasa (status quo) yang menjadikan film sebagai sebuah kepentingan kelas, jika yang dimaksud Brecht adalah propaganda atau film propaganda, maka ke-9 film Rako tidak berbicara dan tidak memiliki muatan ini. Esensi pengadeganan yang terdapat dalam film Rako menurut pandangan saya bila dikaitkan dengan kritik Brecht terhadapat teater klasik hanya sebatas pada penciptaan kesan, bukan pada aspek socio-politik, seperti halnya Brecht menterjemahkan Marxism dalam mengecam kapitalis. Namun pada aspek lain diluar konsep pengadeganan yang dikembangkan Rako, bisa saja terdapat unsur yang dikemukakan Brecht dalam ranah teks-ideologi.

Setting, make-up costum..
Penggunan setting make-up costum, dalam film Rako secara pasti berkorespondensi dengan realita, dengan kata lain penggunaan elemen ini mengacu pada ‘realisme konvensional’ seperti yang dikemukakan Konstantin Sergeyevich Stanislavsky, (1865-1938) akan fungsi atribut yang mendukung realisme . Elemen kostum menjadi daya tarik sendiri dalam film film Rako, hal ini menjadi keterkaitan tersendiri akan kehidupan kecil Rako, bahwa kekaguman mampu diinterpretasikan melalui kostum, peranan kostum dalam film Rako tidak hanya sekedar mencerminkan atribut status sosial.

Secara garis besar, penggunaan stylistik dalam film film Rako lebih menterjemahkan pemaparan Struktur Hollywood Klasik, meskipun ada beberapa bagian dari materi film yang keluar dari aturan baku Hollywood Klasik, namun bagi penulis hal tersebut bukan menjadi sesuatu yang premier dan mendominas dalam membentuk konsistensi style dan tematik dalam film Rako. Artinya, seorang filmmaker dapat memanipulasi format ini untuk menciptakan sebuah atmosfer yang ingin disampaikan sesuai garis besar konteks naratifnya. Studi ini tidak bertujuan untuk menciptakan suatu aturan baku akan suatu bahasa film, atau memberikan makna yang pasti. Tapi ingin mengutarakan bahwa tiap style dalam film adalah ekspresi dari seorang filmmaker sebagai seorang manusia dimana ia dapat menceritakan sebuah naratif dalam film dengan stylistik masing-masing sebagai suatu kesatuan yang utuh.

Resume stylistik
• Episentrum untuk dramatisir adegan dan suspense melibatkan gerak kamera.
• Penyajian gagasan lebih bersifat untuk menyimpulkan, bukan menampilkan suatu bagian dari kehidupan real atas cara pandang yang umum kedalam frame.
• Kecenderungan menggunakan fast cutting (fast cutting to introduce a character)
• Akting yang over-confidance, spontan yang mengandalkan improvisasi. gaya bicara deklamatoris untuk menciptakan sikap kritis
• Penceritaan dari point of view orang ke 3.
• Penciptaan depth of field
• Bahasa sangat menonjol sehingga terkesan verbal untuk menghindari narasi.
• Penggunaan musik untuk sesaat menghentikan atau mengalihkan aksi.
• Editing klasik, No shots stands alone.

III. Kesimpulan
Tulisan ini mengkampanyekan film film Rako Prijanto dengan melihat auteur theory sebuah konstruksi konsistensi melalui beberapa analisis:
- Dalam wacana kontekstual Rako berbicara dengan kapasitas Author as social subject, berbicara pada factor subjektifitas social yang berarti bahwa seperangkat konsep, gagasan, struktur maupun formasi ideologis merupakan refleksi kegelisahan seorang author atau sutradara atas gejala social politik ditempat dia berada yang terkadang mengakibatkan polemic tertentu yang berujung pada terbentuknya pada peleburan visi.

- Dalam analisis biografi, saya beranggapan bahwa Rako tanpa sepengetahuannya mulai mengenal konsep Kulturalisme-multikultur, Rako mulai mengenal media visual dan kekuatan dibalik media visual. Pemicu dalam bawah sadar mulai diasah (di-create) menjadi sebuah medium sendiri dengan referensi medium-media lain, terlihat ketertarikan masalah kostum-make up dan aksi, yang memunculkan aksi over-confidance, dan melaui filmnya ia berbicara tentang dirinya sendiri melalui karakter dalam film.

- Dalam analisis tematik, film filmnya berbicara tentang kaum muda marginal yang dihadapkan pada gaya hidup metropolitan, kekuatan etnis (keunggulan etnis lain) dan kritik mitos

- Dalam analisis struktur naratif, ke-9 filmnya menggunakan struktur Hollywood klasik. Kausalitas ruang dan waktu, identifikasi, konflik sangat menjadi penting dalam penuturan naratif didalam filmnya.

- Dalam analisis mise en scene, ia berfungsi sebagai bentuk fiksi yang jelas terlihat dan diciptakan dalam film dan sebagai wadah dalam menciptakan dunia baru untuk meyakinkan penonton bahwa dunia yang diciptakan dalam film itu banar-benar ada terlepas dari nuansa personifikasi dari seorang kreator.

0 komentar:

Poskan Komentar