Teori Film

Jumat, 18 Desember 2009

bantuin praktika...(konsepsinematografi)

PRAKTIKA LIA
KONSEP SINEMATOGRAFI


KONSEP SINEMATOGRAFI
I. Analisa Skenario.
Dalam skenario ini secara konkrit menghadirkan latar kejadian yang real, bahwa gempa di Sumatera melandasi plot penceritaan. Sehingga dari persepsi ini, secara tidak langsung penonton akan diarahkan untuk berada dalam situasi tersebut dengan mengasimilasikan kejadian tersebut (gempa) didalam pembentukan style film. Dan tugas filmaker-lah untuk mengarahkan cerita dan bagaimana cara menceritakan cerita dari skenario atau cerita tersebut.


Dan sebagai Penata Fotografi dalam film ini dihadapkan pada bagaimana menciptakan asimilasi look dan mood yang sesuai dengan kejadian tersebut kedalam nuansa penceritaan didalam film. Dan pandangan Penata Fotografi dalam skenario ini adalah:

- Dari analisa karakter tokoh Ayah dan Anak menjabarkan sebuah perbedaan sikap. Perbedaan ini muncul akibat situasi gempa, dimana masa lalu ayah dan sikap anak menjadi satu didalam ruang dan waktu yang sama. Dan oleh karena kedua karakter yang berbeda sikap ini membutuhkan persamaan, maka mood yang ingin diangkat dalam film ini lebih kepada bagaimana menciptakan persamaan dalam perbedaan sikap dari kedua karakter tersebut, maka perlu adanya ‘pendekatan’ seperti dalam penceritaan bagaimana ayah yang berusaha mendekati anaknya. Dengan kata lain, kami ingin menciptakan mood ‘kedekatan’ atau keharmonisan yang dinamis sehingga secara tidak langsung mampu menghilang suasan mencekam, ketakuan pada situasi gempa.

- Situasi setting dari cerita ini memberikan gambaran yang sangat jelas, bahwa gempa adalah situasi yang diliputi rasa ketakutan, berantakan, hancur, gelap, dsb. Dalam hal ini Penata Fotografi akan mencoba mengkreasikan suasana reel seperti ini kedalam look penceritaan. Dengan menjadikan suasana gempa sebagai latar penceritaan, maka look dalam film ini mengacu pada realistis suasana gempa, yang kami bentuk kedalam dua bagian waktu (malam dan siang), dengan dominasi gradasi moon-bluish pada ruang penceritaan dimalam hari.

II. Konsep Visual.
Di film ini penulis ingin membuat suatu keseimbangan antara gambar dan cerita. Dalam pembentukan karakter gambar yang akan dihasilkan pada dasarnya pendekatan konsep Sinematografi yang ingin diangkat dalam film ini tertuju bagaimana mengkonstruksi realitas, dengan kata lain pendekatan realis menjadi konsep acuan dari penataan sinematografi. Realism, secara defenisi merupakan gaya yang memandang/ menuturkan dunia ini tanpa adanya sebuah ilusi, apa adanya tanpa mengurangi sedikit pun nilai objek.

Dengan pendekatan realis, rangkaian visual nantinya akan kami konstruksi kedalam pembentukan aspek aspek sinematografi yang akan menunjang look dan mood dari penceritaan, seperti yang sebelumnya diuraikan bahwa pencapaian yang akan dihadirkan melalui mood dalam film ini adalah ‘kedekatan’ atau keharmonisan yang dinamis. Mengapa ‘kedekatan’ atau keharmonisan yang kami angkat sebagai mood dalam film ini? karena kami meniali aspek inilah dalam realita sosial manusia yang bisa mengaburkan nilai dari perbedaan. Sedangkan untuk look dari film ini akan kami bentuk melalui realistis ruang dan waktu, dan didalam ruang waktu penceritaan diuraikan bahwa kronologis kejadian bermula pada bencana gempa yang terjadi, dengan demikian bahwa situasi seperti ini yang akan kami ingin capai. Lebih jauh, kemasan look yang akan dihadirkan adalah corak yang bernuansa low-key didominasi unsur hitam-shadow serta dominasi warna moon-bluish, yang merupakan penggambaran realistis cahaya bulan dimalam hari.

Untuk mencapai look dan mood tersebut maka sebagai penata fotografi akan memberikan penjabaran aspek aspek style dalam sinematografi yang akan merangkum look dan mood tersebut kedalam alur penceritaan, yang tentunya berpatokan pada pendekatan realis yang kami telah sepakati bersama. Perlu kiranya penulis (Penata Fotografi) disini menekankan bahwa pencapaian mood akan lebih difokuskan pada elemen komposisi; type of shot, angle, depth gerak kamera dan warna. Sementara pencapaian look akan dimaksimalkan melalui; tata cahaya, pemilihan bahan baku (karakter visual), dan warna.

III. Konsep Teknis Sinematografi.
III.1. Karakter Visual.
Karakter visual yang akan dijabarkan disini lebih mengacu pada aspek yang terlihat untuk menciptakan look visual, penulis menjabarkan karakter visual ini kedalam beberapa aspek, sehingga nantinya penggambaran visual ini akan menjadi patokan atau acauan pada saat pengambilan gambar, dan aspek yang dimaksud antara lain:

A) Warna.
Warna yang digunakan dalam film ini didominasi oleh warna dingin untuk pengadeganan malam hari, disini kami ingin mencapa efek moon-bluish dimana secara psikologi warna ini tidak mengisyaratkan kehangatan, memberikan efek gelisah dan kesendirian, hal ini bisa mewakili karakter anak. Selain hal tersebut, warna ini bisa dikategorikan warna yang real dan natural pada malam hari, dengan bias cahaya bulan sebagai sumber cahaya pada ruang dan waktu penceritaan.
Untuk mencapai hal tersebut penulis akan menggunakan bahan baku dengan jenis tungsten 3200° Kelvin yang dikombinasikan dengan pencahayaan dengan intensitas suhu warna diatas 5000° Kelvin, sehingga akan menghasilkan nuansa bluish.

B) Gaya Pencahayaan.
Secara umum gaya pencahayaan yang ingin dicapai ini menganut gaya chiaroscuro , gaya pencahayaan ini bila didefinisikan tidak terlalu berbeda bila dikaitkan dengan konsep low-key dengan kata lain dalam satu frame, shadow lebih dominan dibandingkan dengan bidang yang terang, namun yang menjadi ciri khas gaya chiaroscuro adalah pengaplikasian cahaya pada objek yang memberikan kesan trimatra (kedalaman) diakibatkan dari highlight dan bayangan, artinya highlight membentuk kedalaman ruang bukan pada gradasi warna terang ke gelap, selain itu garis bayangan pada gaya chiaroscuro sangat tegas, dan sumber cahaya didalam frame/objek tidak diperlihatkan. Aplikasi ini merupakan penggambaran suasana gempa (ruang yang terbentuk karena konstruksi gempa) untuk menampilkan karakter yang terhimpit dalam reruntuhan.
Untuk mencapai gaya pencahayaan tersebut maka lighting ratio yang dipergunakan dalam film ini adalah, untuk adegan malam hari menggunakan rasio 1:6, dan disiang hari menggunakan 1:4. dengan pencahayaan artificial.

C) Bahan Baku
Dalam pemilihan bahan baku, penulis membutuhkan bahan baku yang dengan suhu warna rendah (3200°K) yang bila diasimilasikan dengan cahaya putih atau cahaya dengan suhu warna 5600°K akan menghasilkan nuansa bluish yang solid, selain itu penulis membutuhkan kepekaan ASA-ISO yang tinggi, sehingga mampu menangkap detail cahaya lebih baik dibanding dengan ASA yang rendah. Oleh karena itu, dengan kriteria diatas penulis menggunakan bahan baku dengan jenis Kodak Vision 3, 500T.

Pemilihan bahan baku ini dipilih karena karakter dari produk ini sangat baik merekam detail darkest dan brightest area. Exposed latitude yang tinggi dan detail warna yang pekat sangat menjaga skin tone tetap natural tanpa saturation contaminations.
-it offers increased exposed latitude and color detail, more color resolution with noticceably reduced grain, especially in the darkest shadow.
-there was a rich range of color and the negative has plenty of under eksposure latitude (has much latitude in low key)
- The grain structure is less visible in the night footage and dynamic range is great in all areas (www.kodak.com/go/vision3)

Selain itu jenis Vision 3 ini dihadirkan oleh karena perkembangan proses digital-telecine, sebab film yang akan kami proses akan menuju pada proses data telecine, sehingga jenis ini dianggap mampu menghadirkan kualitasnya meskipun melewati proses digital, artinya dengan Vision 3 kemungkinan grainy pada film ASA tinggi mampu direduksi atau dinetralisirpada saat telecine, dan hal inilah yang kurang dimiliki pada jenis Vision 2, sehingga memunculkan Vision 3.

III.2. Komposisi
Fungsi komposisi dalam film adalah bagaimana menempatkan setiap elemen dari mise en scene sesuai dengan porsi atau kebutuhan elemen tersebut dalam area frame, yang pastinya akan berhubungan dengan alur penceritaan. Oleh karena wujudnya termasuk unapear maka komposisi dalam hal ini akan sangat menunjang pembentukan mood didalam film. Berikut beberapa penjabaran penulis dalam menata komposisi didalam film ini;

A)Komposisi Kamera.
Komposisi kamera akan selalu menjaga keseimbangan freme agar selalu terlihat sesuai dengan elemen elemen lain yang ada dalam freme. Komposisi akan menempatkan subyek pada interaksinya terhadap ruang gerak, memperlihatkan ruang, waktu dan peristiwa. Position on center akan mendominasi setiap shot,x serta menghindari penempatan rule of third. Hal ini menggambarkan kedua karakter pada film ini sama pentingnya

B) Aspek ratio
Film ini menggunakan format 1 : 1.33 (academy standard) oleh karena release akhir dari film ini akan diproyeksikan ke video-TV, dimana format video adalah 4 : 3, sehingga aspek rasio yang digunakan adalah 1: 1.33, yang juga merupakan kalibrasi terdekat dengan format video-TV. Sehingga dengan format 1: 1.33 ketika diproyeksikan dengan video 4:3 tidak terjadi strcehing atau penggepengan gambar.

C) Type of Shot
Tipe shot yang dipakai disini berperan sebagai penjalin sebuah adegan sertauntuk menciptakan dinamisasi. Penggunaan close-up akan mendominasi dibanding tipe shot yang lain, oleh karena dengan close-up penonton akan diarahkan langsung pada inti dari permasalahan setiap karakter. Close up disini juga berperan sebagai keterbatasan ruang dari kedua tokoh sehingga secara tidak langsung penonton ikut merasakan claustrophobic dan overcaslook.

D) Angle
Pengambilan eye level lebih banyak dipergunakan untuk lebih menampilkan kesan kesamaan tidak ada yang lebih mendominasi, selain penggunaan high angle lebih untuk menyampaikan ketertekanan tokoh .

E) Gerak Kamera
Kamera akan selalu dalam posisi still-diam, hal ini untuk menggambarkan persamaan kedua karakter dalam ruang dan waktu yang sama, sedangkan untuk penggunaan gerak kamera pada scene terakhir (track out) mengaplikasikan bahwa kedua karakter membutuhkan keterbukaan satu sama lain, selain sebagai jalan keluar bagi konflik penceritaan.

0 komentar:

Poskan Komentar