Teori Film

Minggu, 13 Desember 2009

Mengkaji Film Film Rako Prijanto draft#3.


Ceremony
Julukan ‘Auteur’ dikenal di era 1950an diberikan kepada sutradara yang memiliki konsistensi tema pada style dan tema pada karyanya. Kritikus ‘Auteur’ menilai bahwa pakar perfilman bekerja secara kolektivitas team, namun tanggung jawab sepenuhnya tetap berada pada kekuatan sutradara dari pra hingga pasca produksi. Oleh karenanya seorang ‘Auteur’ dianggap mampu mempertahankan idealismenya dan menjalankan konsistensi pada style dan temanya, walaupun bekerja dalam aturan studio/rumah produksi yang terkadang bersifat membatasi.


Review
Oleh karena tulisan sebelumnya (Mengkaji film film Rako draft# 1 dan 2,) dianggap kurang kuat dalam studi Auteur, dimana kelemahan tulisan sebelumnya kurang berpola dan terlalu berkutat pada stylstik maka pada tulisan kali ini saya merubah pintu masuk saya dalam mengkaji kesembilan film Rako, jika pada tulisan sebelumnya saya menyebutkan konteks film Rako adalah Aesthetic of Sordied (jorok adalah estetika yang manusiawi) maka saya akan mereview kembali kelemahan dari konteks analisa ini.

Kelemahan dari tulisan (Mengkaji film film Rako draft# 1 dan 2,) adalah terbentur pada aspek genre, mengapa genre? Sewaktu saya mempresentasikan tulisan tersebut, tulisan saya dianggap hanya membahas film Rako yang didefenisikan bergenre komedi, sementara beberapa film film Rako ada yang bergenre drama serius, dan bukankah studi Auteur berbicara konsistensi pada semua film dari sutradara yang bersangkutan.? Jadi, Aesthetic of Sordied yang saya kemukakan berbenturan dengan film ‘Ungu Violet’ ataupun ‘Merah itu cinta,’ dan saya pribadi belum bisa menemukan analisis yang saya ungkapkan pada kedua film tersebut. Singkatnya, saya harus bisa membuktikan bahwa Ungu violet dan Merah itu Cinta adalah komedi, where is the point your analysis? That’s sordied ? waduhhh!!! kata guru-nya sih bisa dicari. Buseeettt… dah. Ampuuuuuun…. Dan kata guru saya lagi, tulisan kamu memang benar, hanya kamu terjebak dalam masalah genre (saja), karena kita berbicara studi Auteur (konsistensi Sutradara Film) bukan genre. Karena genre itu konstruksi penonton bukan Auteur.

Hal ini beralasan, mengutip teori studi Auteur yang diungkapkan Andrei Tarkovsky, bahwa “seorang Auteur tidak membuat genre” penontonlah yang mengkonstruksi-menamai genre dalam film. Artinya bahwa konsistensi pada seorang Auteur adalah konsistensi tema dan style, bukan pada aspek lain seperti genre, dan tulisan saya sebelumnya telah terjebak pada aspek ini… Sehingga saya, dalam tulisan ini akan merubah pintu masuk sebagai konteks awal dalam mengkaji film film Rako. Dimana saya tidak akan lagi membahas Aesthetic of Sordied sebagai konteks besarnya, pintu masuk saya dalam analisa ini adalah demographic make-up of multiculturalism, sehingga dari point ini serta analisa ke-9 film dan bigrafi Rako, maka akan muncul satu konsistensi tematik (sepenggal kalimat ‘Tentang … Yang…’)

Bila sutradara legend semacam Alfred Hitchcock dianggap Auteur (oleh Cahiers du Cinema-New Wave) karena konsistensinya mengenai suspense yang disimulasikan dengan perempuan/ibu, atau Howard Hawks sutradara kacangan asal Hollywood yang dianggap Auteur oleh karena konsistensinya sebagai seorang professional dalam industri yang ketat yang harus menahan ego, dengan memandang perempun mandiri dalam dunia ‘western.’ Bahkan Spielberg melalui rentetan karyanya yang sangat konsistensi berbicara tentang imajinasi anak kecil tentang harapan dan masa depan, maka dengan tulisan ini saya sedikit ingin berbicara sebagai bagian dalam kapasitas perfilman Indonesia bahwa konsistensi tematik film film Rako berbicara tentang Kaum muda marginal yang dihadapkan pada gaya hidup metropolitan, etnis dan kritik mitos. Kalimat tersebut berdasarkan analisa studi Auteur yang saya aplikasikan kedalam film film Rako, selanjutnya saya akan mengemukakan mengapa saya memilih kalimat tersebut, melalui pembahasan dibawah ini.

Dan dengan bangga saya tampilkan tulisan ini didunia maya. Sebuah tulisan yang saya namakan:
Mengkaji Film Film Rako Prijanto draft#3. 


Metode Analisis
Metode ini memberikan penggambaran analisa tulisan ini yang dimulai dari aspek paling luas (kontekstual), hingga pada analisis minimal unit (stylistik mise en scene.)
A. Auteur dan Kontekstual.
Analisa konsistensi konteks yang terdapat dalam ke-9 film Rako.

B. Auteur dan Biografi.
Analisa masakecil Rako, yang secara sadar ataupun tidak sadar terdapat satu konteks besar pada semua film film Rako. Bahwa analisa biografi ini mempengaruhi kontekstual dan tematik.

C. Auteur dan Tematik
Menganalisa ke-9 tema film Rako, dan dari ke-9 tema tersebut terdapat satu tematik yang merangkum semua film film Rako, sebagai sebuah konsistensi. Analisa ini meliputi: analisa karakter, latar dan aksi.

D. Auteur dan Naratif.
Menganalisa struktur penceritaan ke-9 film Rako serta mencari konsistensi metode-cara Rako menyampaikan naratif-story dalam film filmnya.

E. Auteur dan Stylistik.
Menganalisa konsistensi yang khas secara style-mise en scene dalam film film Rako

PEMBAHASAN
A. Auteur dan Kontekstual.
Saya menilai keistimewaan film film yang dibesut oleh Rako Prijanto merupakan implisitas penjabaran multikulturalisme sebagai salah satu payung besarnya kedalam kompleksifitas ruang film. Ia mengusung- demographic make-up, sebuah polesan status sosial tertentu yang dianggap bertolak belakang, atau melihat kembali budaya yang berusaha disingkirkan sebagai salah satu bentuk yang bisa menempati ruang didalam film. Melalui film, ia berbicara sebagai generasi muda dalam melihat keragaman kultur dan status yang dimiliki Indonesia, dengan berlatar bahwa Indonesia adalah negara multi etnis, ras, yang notabene terkadang menjadi konflik perpecahan, cara pandang dan bersikap.
Indonesia merupakan sebuah negara besar yang diakui dunia memiliki kekayaan kebudayaan.

Buktinya ada lebih 500 bahasa yang digunakan di Indonesia. Islam menjadi mayoritas namun kepercayaan agama lain berkembang disini bahkan animisme. Dengan semboyan ‘Bhineka Tunggal Ika’, menempatkan Indonesia negara Hukum. Namun yang terjadi sebelum era reformasi adalah diskriminasi kelompok kelompok tertentu, tentu hal ini sangat bertolak dengan semboyan negara ini, sebagi contoh: warga keturunan Cina-Indonesia yang sangat terkekang oleh rezim sebelumnya, banyak generasi muda dari etnis ini yang tidak bisa berbahasa Mandarin karena larangan dekade sebelumnya. Hingga di awal 2000 Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid menghapuskan beberapa undang-undang diskriminatif dalam usaha untuk memperbaiki hubungan ras. Dan film melalui eranya secara tidak langsung mengapresiasikan ini dengan penuh kebebasan berestetika dan berkreasi.

Dan saya menilai Rako melalui filmnya ingin memperlihatkan atribut atribut yang didiskriminasikan-yang dihilangkan, sehingga bisa diposisikan film filmnya merupakan pendukung multikultural dengan asumsi bahwa perpaduan sosial terlalu sering dimaknai telah dicapai dengan baik, padahal ada diskriminasi eksplisit terhadap kelompok minoritas budaya tertentu.
Lebih tepatnya saya melihat Rako sebagai sutradara demographic make-up dalam konteks multikulturalisme, dengan menjadikan media film sebagai sistem yang adil yang memungkinkan orang untuk benar-benar mengekspresikan siapa mereka di dalam suatu masyarakat, yang lebih toleran dan yang lebih baik untuk menyesuaikan isu-isu sosial, bahwa dalam masyarakat di mana setiap kelompok memiliki status yang relatif sama.

Kata kunci: Multikulturalisme.
Pembahasan: Mengapa penulis menyebutkan bahwa konteks demographic make-up multiculturalism menjadi sebuah konsistensi pada ke-9 film Rako.
Metode analisis: Studi psikoanalisa tentang biografi-masa kecil seorang seniman adalah pemicu awal yang telah ada dialam bawah sadar jauh sebelum seorang seniman mentreat- mentrigernya kedalam sebuah karya. Studi kasus: studi atas biografi Lenardo da Vinci tentang representasi kecantikan perempuan. (cari sendiri ya bukunya)

Dan untuk itu perlu saya uraikan biografi Rako sebagai bukti analisis terhadap asumsi saya dalam menjajaki studi film Auteur, yang pada tulisan ini saya mengangkat Rako Prijanto dan ke-9 filmnya. Karena steatment tematik saya selanjutnya adalah “berawal dari konteks multikulturalism akan membentuk konsistensi tematik dalam keseluruhan film, terlepas dari genre dan penuturan setiap film,” dan konsistensi tematik dalam film film Rako adalah Kaum muda marginal yang dihadapkan pada gaya hidup metropolitan, etnis dan kritik mitos. Tapi sebelum kita menuju pada konsistensi tematik, ada baiknya saya uraikan alasan mengapa saya menyebut konteks awal film rako adalah demographic make-up multiculturalism, melalui analisa biografi.

B. Auteur dan Biografi.
Mengenal Rako…
Rako Prijanto lahir di Magelang, Jawa Tengah, 4 Mei 1973. Seorang sutradara film Indonesia. Ia mengawali karir dengan menjadi asisten sutradara Rudy Soedjarwo dan Riri Riza.

(Berikut ini beberapa kutipan tanya jawab saya dengan Rako)
Masa kecilnya dihabiskan di Balikpapan dan Magelang, tinggal dengan bibinya, oleh karena ayahnya seorang perwira polisi yang sering berpindah tugas, (bokap gw mesti Polisi tapi liberal banget!dan selalu on mode, baik film, lagu dan fashion). Sempat bersekolah di SD Tarakanita, yang kebanyakan teman temannya dari etnis China.. Kebanyakan waktu kecilnynya dihabiskan bermain dilaut disawah dan sungai. Menurutnya ada hal lucu yg sering ia lakuin ketika kecil, yakni; bila ada tamu berkunjung kerumahnya, pasti dengan tiba tiba Rako kecil telah berdiri di depan mereka (tamu) dan langsung bernyanyi, selain sering mengikuti dandanan grup band kiss, tokoh Superman, hingga karakter The Deer Hunter. Semenjak kecil ia telah kenal dengan film, dan hampir setiap hari slalu tidur malam hanya untuk menonton film serial favoritnya Bonanza, Six Million Dolar Man, dll.

Berikut ini beberapa kutipan yang diutarakan oleh Rako Prijanto semenjak pertama kali mengenal film:
Gw (Rako) suka ngayal menanam kitab silat buatan sendiri di kebun orang dan gw berpura-pura nemuin kitab kung-fu tersebut beberapa hari kemudian. Di era tersebut serial silat hongkong juga hampir semuanya gw tonton. Film yg gw tonton pertama kali adalah Spartacus... Kelas satu SMP, bokap beliin gw hadiah ultah video 8 dan gw selalu eksperimen bikin film sama teman teman gw. Film yg paling gw suka adalah Bonanza suka karena ada satu karakter gw lupa namanya (pokoknya adik mereka yang paling kecil dan yang paling gw suka dia pakai pistol dua kanan dan kiri).. keren, gayanya cool banget!

Film di saat gw remaja sangat booming dan sangat menonjolin tekhnik, sepertiya mereka berlomba-lomba dengan tekhnik. Gw cuma nonton film film Hollywood dan Hong kong, Prince Lea (star wars) dengan bikini gold-nya, sangat berkesan hahahaha...kalo film Indonesia jarang banget, paling G 30 SPKI, lupus, dan Cabo, (mungkin ‘Catatan si Boy’).
Saat ini, Film apa aja gw suka dan tonton hahahaha... tapi kalau maksud lu berpengaruh nggak dengan film film gw sekarang yang komedi mungkin itu dari masa kacil gw yg selalu dikelilingi orang orang dewasa yang suka ngeguyon-ngelawak, seperti sepupu gw, kakak gw dan gw selalu nonton Srimulat di Taman Ria Remaja setiap malam Jumat hehehe... oh ya juga wayang orang Bharata di Senin (pasar) kalo gw lagi libur ke Jakarta bareng Bokap...

Perjalanan karier Rako di dunia Film
. Tahun 1995, gw lulus kuliah STEKPI, terus nganggur karena terobsesi banget jadi anak band (rekaman maksudnya) tahun 1997 pertama kali ketemu Rudi Soedjarwo, dan jadi pemain di film pertamanya judulnya "6", berangkat dari hal tersebut gw mulai belajar dari buku buku Rudi secara otodidak, praktek dengan kamera Rudi dan belajar editing. Tahun 1999 bikin “Bintang Jatuh”, gw dikerjain Rudi dengan jd skrip writer, astrada, co director (krn Rudi pegang kamera), music score dll, yg paling lucu adalah kita shooting tidak dengan breakdown jadwal, semuanya ada di kepala gw hahahaha... Tahun 2000 bikin ‘Tragedy’ masih dikerjain lagi hahaha. Tahun 2001 sebagai 2nd ad di film ‘AADC’, (mulai kenal MILES dan mulai tahu cara bikin film yang bener) mulai belajar skrip dengan mas Jujur Pranoto, mbak Mira Lesmana dan Riri Riza... Mulai belajar scoring dengan Anto Hoed dan Melly , belajar teknis kamera sama bang Oy (Roy Lolang) dan belajar jadi astrada bener sama Sofyan hehehe... Tahun 2001 jg gw bikin film pendek "PASAR" yg lumayan lah... Tahun 2002 sebagai 1st ad ‘Rumah ke Tujuh’, ‘Elliana Elliana’ (2003), Biola Tak Berdawai (2004), ‘GIE’ (tp mengundurkan diri karena sakit), hingga di tahun 2005 untuk pertama kali menyutradarai film Layar Lebar ‘Ungu Violet’.

Saya penasaran dengan film ‘Pasar’ bisa cerita tidak cerita dibalik layar pasar?
Suatu hari Rudi Soedjarwo nantangin gw, menurutnya gw nggak akan bisa bikin film hahahaha... karena kesel gw ajak temen temen (Indra birowo, gerry iskak, daniel dll) buat liburan ke Magelang. Setiba di Magelang, mereka gw paksa untuk bikin film pendek ‘Pasar’ hahaha... dari mulai skrip, kamera, editing, scoring, dan sutradara gw kerjain sendiri hahaha... Gw membuat pasar menjadi seperti sebuah tempat independent (seperti Tomb Stone), gw mencoba bereksperimen dengan colour grading, dengan available light gw coba mengaplikasikan dept of field, mencoba framing dalam frame, hand held karena suasana atmosfir lingkungan, tempo rithym yang terkadang lepas dari ketukan untuk surprises, penceritaan dari point of view orang ke-3 degan narasi dan selalu spontan...
Diantara semua karya filmnya mana yang paling berkesan menurut mas Rako?
Ungu Violet (karna film pertama gw dan proses bikinnya sangat bener), Merah itu cinta (gw mencoba mengartikan eksperimental di film ini) dan Tri Mas Getir (film yang nggak penting tapi skripnya unik) hehehehe... ok Yunus Patawari… semoga berguna...
Dari kejadian masa kecil inilah tertanam pemicu yang mentriger karya karya Rako hingga saat ini, yang menjadikan film film nya sebagai medium untuk merepresentasikan perpaduan sosial issue. Salah satu contoh ia memasukkan warga negara indonesia keturunan – semisal diskriminasi etnis Cina. Mungkin tak ingin kesulitan lagi seperti dimasa kecilnya untuk mendapatkan nuansa Mandarin dalam medium film sehingga ia mengaplikasikan bentuk ini kedalam film, menariknya adalah Rako mengaplikasikan nuansa etnis ini secara konsisten pada semua filmnya.

Filmograph
1) Ungu Violet (2005)
2) D'Bijis (2007)
3) Merah Itu Cinta (2007)
4) Tri Mas Getir (2007)
5) Oh My God (2008)
6) Krazy Crazy Krezy
7) Benci Disko (2009)
8) Preman In Love (2009)
9) Maling Kutang (2009)


PEMBAHASAN
Pointers 1:
- Masa kecil berpindah pindah tempat.
- Waktu di SD teman bermainnya dari etnis China.
- Obsesi-meniru, rock star, film star, dan kitab silat.
Disini saya beranggapan bahwa Rako tanpa sepengetahuannya mulai mengenal konsep Kulturalisme, dan mungkin ada banyak pertanyan pertanyaan dari dirinya yang belum sepenuhnya terjawab dan akan mengalir kedalam bawah sadar Rako kecil. Dan bukankah dengan berpindah pindah tempat, seseorang akan mengetahui banyak hal, kebudayaan, kelas sosial, ras. Teman berbeda etnis, meniru sesuatu yang tidak ada pada dirinya adalah point saya mengartikan multikultur.


Pointers 2:
- Kelas satu SMP dapat hadiah kamera video 8.
- Film Hollywood dan Hongkong
- Srimulat dan Wayang Bharata.
Disini saya beranggapan Rako mulai mengenal media visual dan kekuatan dibalik media visual. Pemicu dalam bawah sadar mulai diasah (di-create) menjadi sebuah medium sendiri dengan referensi medium-media lain.

Pointers 3:
Karakter idola:
- Band kiss, tokoh Superman, The Deer Hunter, Six Million Dolar Man. Prince Lea (star wars) dengan bikini gold-nya
- Film yang pertama kali ditonton: Spartacus, Film favorit: Bonanza.

Disini terlihat ketertarikan masalah kostum-make up dan aksi. Sangat lumrah jika masa kecil segala sesuatu yang asing atau yang tidak ada pada diri kita itu menarik, point ini lebih mengacu pada stylistik di film. Meskipun aspek style dalam film merupakan sebuah kolaborasi team, namun pengambil keputusan adalah sutradara. Tidak ada seniman selain sutradara dalam Auteur theory.
Untuk lebih mudahnya bagaimana Rako mengaplikasikan point ini kedalam film, saya hanya bisa menganjurkan untuk bisa melihat stylistik (make-up kostum) dalam film Rako, seperti scene dalam film:

• Ungu Violet: Adegan pemotretan Kalin didaerah gunung kapur, perhatikan ekstras dan kostumnya.
• Tri Mas Getir: Adegan penculikan pada press conference
• Kostum gorilla film Maling Kutang
• Hingga poster film dbijis.

Contoh ini hanya sebagai perumpamaan saja, dan mungkin ada yang lebih specifik lagi bila dikaitkan dengan point yang diuraikan diatas. Singkatnya saya belum sempat nonton Spartacus, Bonanza. Untuk penguraian lebih lanjut akan saya bahas pada topik ‘Auteur dan stylistik-mise en scene.’

Pointers 4:
- Anak muda Jobless karena terobsesi jadi anak Band, dan bisa dibilang gagal.

Point ini adalah salah satu alasan tematik saya yang menyebutkan ‘Anak Muda Margin,’ dalam ke-9 filmnya, secara tidak langsung Rako berbicara tentang dirinya sendiri melalui karakter dalam filmnya. Hal ini beralasan dengan melihat pembahasan berikut:
A) Konsistensi karakter utama dalam film Rako: Anak muda yang memiliki jiwa seni, (Fotografer, Musisi, Dancer, Beladiri, Entertainer, dan tatto.) Kategori ‘anak muda’ disini saya artikan ‘belum menikah.’
1) Ungu Violet: Lando (anak muda) dengan skill fotografi (seni), karakter ini menjadi margin oleh karena status sosial-latarnya tidak diugkapkan/tidak penting, belum lagi penyakit yang dialaminya menjadikan dirinya sebagai sosok yang tidak berguna.
2) D’bijis: Damon sang gitaris, karakter ini menjadi margin karena status sosial-latarnya tidak diugkapkan/tidak penting, dan tatto yang sering mendapat respon negatif dari masarakat.
3) Merah itu Cinta: Arya dengan latar fotografer, dengan statusnya sebagai gay.
4) Tri Mas Getir: Ciang Fek pemain wushu sekaligus figuran film, dengan status etnis China
5) Oh My God: Ipin dengan skillnya bernyanyi dengan latar sosial kurang mampu.
6) Krazy Crazy Krezy: Tino urban dari Jogja, sengaja datang ke Jakarta untuk menebus kegagalan Ayahnya dalam sebuah Industri Musik.
7) Benci Disko: Setiawan berlatar dancer-disco berstatus banci.
8) Preman in Love: Sahroni sang preman dengan tatto disekujur tubuh.
9) Maling Kutang: Sugeni berlatar ‘badut keliling’ yang gagal dalam segala hal.

Sehingga dari pemaparan tersebut dengan jelas terlihat Rako berbicara tentang anak muda yang belum menikah dengan kata kunci: Marginal: (merujuk ke kelompok bawahan, kelompok sosial minoritas.) Dan jika lebih lanjut kita cermati secara psikologis merupakan karakter yang rapuh dengan status sosial: Urban, kelas bawah, minoritas.

Kesimpulan bab Auteur dan biografi:
Dari beberapa pointers biografi ini, maka alasan kontekstual (demographic make-up multiculturalism ) yang saya sebutkan sebelumnya paling tidak memberikan sedikit gambaran bahwa alam bawah sadar diwaktu kecil adalah pemicu kreativitas seorang seniman, sementara hal hal yang bersifat refrensi (film, buku,) dimana seseorang telah sadar melakukan hal tersebut (biasanya kita bilang seniman mencari ilham-referensi) lebih bersifat mentriger saja (pengalaman masa kecil dalam bawah sadar tersebut dikemas atau diangkat kepermukaan) bukan sebagai pemicu awal, dengan pointers sebagai berikut:

- Bukankah masa kecil adalah masa dimana keinginan harus terpenuhi, masa ingin mengetahui segala hal tanpa kita tahu dari mana, kepada siapa, fungsinya apa, bagaimana sejarahnya, baik atau buruk, dsb. Karena tanpa kita tahu akan menjadikan masa kecil adalah masa mulai berfikir, menelaah sesuatu dan akan terpendam dalam memori bawahsadar (dan akan menjadi pemicu) yang setiap saat akan keluar ke alamsadar setelah kita mengetahui apa yang kita tidak tahu (masa dewasa)… bersambung

Untuk pembahasan selanjutnya adalah:

C) Auteur dan Tematik:
Jika pada topik “Auteur dan Kontekstual” saya analogikan sebagai pintu masuk dalam mengkaji film Rako, yang lebih bersifat macro, maka pada topik “Auteur dan Tematik” saya analogikan sebagai kacamata-persfektif yang saya gunakan setelah memasuki pintu tersebut, dan lebih bersifat micro. Artinya bahwa dalam konteks macro saya berbicara Multikultur, maka konteks micronya setelah menganalisa tematik saya berbicara Metropolitan, Etnis dan Mitos. Hal ini sangat beralasan karena konsep Multikultur memiliki cakupan yang sangat luas, sehingga saya menilai dengan menggunakan persfektif yang lebih micro akan ada kesinambungan yang jelas antara konsep teori yang digunakan dengan media film yang akan dicermati.
Dengan demikian siapapun yang membaca tulisan ini akan mengetahui digedung mana dia berada, diruangan mana ia duduk.

Kesimpulan sementara:
- Auteur dan kontekstual: demographic make-up multiculturalism.
- Auteur dan Biografi: Studi analisa biografi ini lebih memperinci faktor faktor apa saja dari konsep Multikultur yang menjadi benang merah bila dikaitkan dengan studi kasus atas ke-9 film Rako. Analisa biografi ini sangat terkait dengan analisa tekstual dan mempengaruhi analisa tematik.
- Auteur dan Tematik: setelah analisa biografi dan tematik maka akan muncul kata kunci yang ada pada setiap film film Rako: seperti: analisa karakter melahirkan kata ‘Anak Muda,’ analisa latar melahirkan kata: ‘Marginal’. Analisa setting melahirkan kata: metropolitan, dan analisa plot melahirkan kata: etnis dan mitos.
- Auteur dan Naratif: Analisa ini melahirkan bentuk naratif yang digunakan, yaitu: struktur Hollywood klasik.
- Auteur dan Stylistik-mise en scene:
Analisa ini akan mencari konsistensi gaya yang khas seorang sutradara. Seperti Metonimi shot. Jump cut for introduction, dsb.

C. Auteur dan Tematik.
Saya menilai, keistimewaan film film yang dibesut oleh Rako Prijanto merupakan implisitas penjabaran multikulturalisme sebagai salah satu payung besarnya kedalam kompleksivitas ruang film. Ia mengusung polesan status sosial tertentu yang dianggap bertolak belakang, atau melihat kembali budaya yang berusaha disingkirkan. sebagai salah satu bentuk yang bisa menempati ruang didalam film. Melalui film, ia berbicara sebagai generasi muda dalam melihat keragaman kultur dan status yang dimiliki Indonesia, dengan berlatar bahwa Indonesia adalah negara multi etnis, ras, dll, yang notabene sering menjadi konflik perpecahan, cara pandang dan bersikap.

Dari point ini saya mengasumsikan ada nilai implisit dalam film filmnya, Rako secara tidak langsung berbicara bahwa film sebagai kritik sosial ditengah perkembangan kehidupan urban dalam metropolitan, dan Ia berbicara dengan kapasitasnya sebagai generasi muda ditengah tuntutan film harus mendedikasikan sesuatu pada masarakat dan tuntutan menghindari pemborosan dalam konteks produksi, artinya dedikasi terhadap masarakat bukanlah sesuatu yang mahal mengingat film adalah ‘barang mahal’. Pemaparan inilah yang menjadi pemicu saya dalam mengkaji konsistensi ke-9 film Rako sebagai ‘auteur’ , yang akan saya uraikan nantinya kedalam beberapa aspek (konsistensi tematik, naratif, stylistik), termasuk biografi sutradara yang secara tidak langsung bisa menjadi pemicu bawah sadarnya dalam mentreat setiap karyanya.

D. Auteur dan Naratif
....
E. Auteur dan Stylistik (mise en scene)
....

0 komentar:

Poskan Komentar