Teori Film

Minggu, 01 November 2009

Mengkaji Film Film Rako Prijanto, draft#2.


Mengkaji Film Film Rako Prijanto, draft#2.
RALAT draft#1: film ‘Merah itu Cinta’ meraih 7 nominasi dalam ajang penghargaan Piala Citra Festival Film Indonesia 2007.

Mencari Konsep Estetik yang mendominasi film film Rako Prijanto
Karena ‘auteur’/ seniman dalam sebuah karya film adalah sutradara dan bukan pada penulis skenario, produser, dkk. (kata: Formalism Rusia dan New Wave Prancis)

Menurut salah seorang penggagas kritik sinema, Foucault, aktifitas Authorship (sutradara) dalam menjalankan proses kreatif serta visinya seringkali bersebrangan dengan asas tematik dan estetik yang telah tertanam pada bentuk komersialism, kebudayaan, sehingga penggunaan rasionalitas yang evaluative sebaiknya dapat dikembangkan untuk dapat mencapai keseimbangan antara kebebasan artistic dan ‘kewajiban kapitalisme’ (pemegang modal-PH). Situasi ini secara tidak langsung melahirkan wacana wacana baru, bahwa sikap realistis dalam rasionalitas memang hal yang dibutuhkan, termasuk profesi sutradara.



Dan inilah wacana baru itu…
Film adalah hiburan ditengah kondisi yang kurang menghibur, melalui view dan visi sutradara kondisi sosial yang pelik bisa menciptakan hiburan tersendiri. Misi? Saya kira misi dari setiap sutradara dimana saja pasti sama, tanyakan saja pada mereka, karena yang membedakan tiap masing masingnya adalah bagaimana mendirikan visi melalui view-kacamata mereka. (Menyimpulkan tulisan dibawah ini).

Tulisan ini bersifat sangat subjectif, dan menurut pendapat saya, Rako adalah seorang sutradara yang sangat berfikir dengan kerangka realistis, wajar sih memang bahwa setiap orang berfikir seperti itu, namun bila melihat sebagian besar film Rako, Ia mengeksekusinya secara ‘tidak lazim’ (untuk ukuran industri film Indonesia) kedalam film filmnya, saya menyebutnya ‘tidak lazim’ oleh karena eksplorasi hiperbolic khususnya pada karakter tokoh menjadi senjata komedi Rako.

Konteks awalnya bukan pada film tetapi membidik kepenonton, artinya bahwa sebagai seorang sutradara, estetika pertanggung jawaban sebuah panggung film ada pada penonton, (buat penonton tertawa lebih baik dari pada membuat penonton bersedih). Artinya! bahwa sikap realistis memanjakan atau menghibur secara hiperbolik adalah suatu yang sangat penting, bukan mengkamuflasekan arti ‘menghibur’ keberbagai bentuk lain. Eksekusinya! Dalam melihat film film komedi Rako, kata kunci ‘menghibur’ adalah tertawa, dan itu dieksplorasi oleh Rako sangat hiperbolik, (Lihat Adegan yang diperankan Ari Untung, dan Vincent, pada scene toilet film ‘Benci Disko’, 2008 dan ‘Preman in Love’ 2009 atau tokohPolisi Hutan dan Gorilla di hutan pada film ‘Maling Kutang’ 2009). Tanpa mengabaikan perasaan publik film, seharusnya kita berempati respect dengan cara penggambaran seperti ini.

Dan bila dikaitkan kepada perkembangan perfilman Indonesia saat ini (awal tahun 2000), kiblat genre film indonesia mengacu pada drama dan horor, mungkin akibat dari kesuksesan film AADC (Rudi Sudjarwo) ataupun Jelangkung (Rizal Mantovani), belum lagi ketidak konsistenan film komedi Indonesia paska era Trio Warkop DKI, film komedi seakan baru memulai perjalanannya kembali ditengah situasi negeri yang berkesan generasi mudanya hanya mengenal ‘cinta… dan cinta’ saja dalam hidup ini, boro boro melirik keaspek sosial, arti kata ini memang membuat kita dibawa kedalam situasi yang serius, point sila ke-5 pancasila ini bisa dibilang sebagai titik episentrum dari ‘reformasi’ yang belum kita-saya tahu sebaik apa dan seburuk apa dampaknya. Tanyakan saja pada penduduk didesa, anak sekolah, ibu rumah tangga, sopir angkutan, paling mereka bilang reformasi adalah demonstrasi (menjadi figuran diberbagai demo), 1998 dan 1999 bahkan ganyang China karena saya pribumi. Emosi dari tiap kita memang cukup tinggi, sedikit saja dipicu, maka hancurlah ini dan itu.

Kembali ketopik. Bila menelusuri 3 film awal Rako dalam konteks pasar, (Ungu Violet, d bijis, Merah itu Cinta), jelas penonton lebih memilih film yang kedua (d bjis), buktinya, sukses secara penjualan. Ungu Violet bisa dibilang gagal yang dianggap sebagai copy-an dari film Korea In the Mood for Love, Merah itu Cinta memang meraih 7 nominasi dalam ajang piala citra 2007, namun gagal dipasar komersil. Kedua film ini bergenre drama, sementara d bijis sukses meraup pasar, tidak ada yang terlalu menonjol dari film ini selain kekuatan komedi yang cukup membuat penonton tertawa, namun banyak juga yang beranggapan bahwa film ini terlalu jorok, menjijikkan, dsb, (2 kali sinonim kata ini saya dengar di bioskop saat menonton d bjis dan Preman in Love).

Kata ‘jorok’ disini jangan diasumsikan porno, seperti berjayanya film panas di era 1980-an, tapi ‘jorok’ disini saya anggap konsep estetika dari sang sutradara dan bukankah disitu salah satu kekuatan film ataupun sutradara, bahwa membuat penonton tertawa bukan hanya dari eksplorasi berlebihan dari fisik dan wanita, dan saya menilai itulah point estetik dari film film Rako selanjutnya.

Kata ‘Jorok’, ‘menjijikkan’, (itu yang saya dapat) dalam melihat sebagian besar film film Rako. ‘Jorok’ adalah estetika yang dieksplore secara hiperbolic oleh Rako dalam mentreat pengadeganannya. Mungkin secara filosofis diisyaratkan ‘jorok adalah keindahan’, ‘jorok itu manusiawi’, ‘jorok itu adalah hukuman, dan ‘jorok itu senyuman’, sehingga dari persfektif lain, arti ini mengingatkan pribadi penonton akan ‘keindahannya’, ‘kodrat kemanusiaanya’,’keelokannya’,dsb. Dalam posisi biner tanpa artikualsi kata ‘jorok’, ‘kotor’, tidak akan ada makna ‘keindahan’ tersebut.

Dan satu lagi buat industri film Indonesia, buat apa mengeksplorasi ‘keindahan’, ‘ideologi’ dsb, bila harus berhadapan dengan gunting LSF, kita bisa melihat realitas dari produksi industri perfilman saat ini. Kata kuncinya adalah penonton, bahwa film adalah untuk penonton, ini alasan subjectif saya bahwa beranggapan Rako adalah seorang sutradara yang berfikir dengan kerangka realistis, dan masalah eksplorasi kreativitas (visi) adalah tanggung jawab filmakernya dalam mentriger (view) persfektifnya.

Dan saya merasa menemukan konsep estetika dalam film film Rako, bahwa ‘jorok’ memang sesuatu yang sangat real dihadapan dan pada diri kita, bahkan kita menyembunyikan dan menghilangkan kejorokan tersebut, namun dalam persfektif Rako ‘kejorokan’ tersebut bisa menghadirkan sesuatu yang baru, bahwa kita memang membutuhkan keindahan, kenyamanan, dsb, dan kita-penonton memiliki keindahan itu untuk menghilangkan ‘kejorokan’ tersebut. Dan ini menjadi alasan saya pula bahwa konteks awalnya bukan pada film tetapi membidik kepenonton, karena saya yakin, bagi mereka yang telah menonton film film komedi Rako, yang hinggap dan paling berkesan dibenak penonton adalah adegan adegan yang telah saya ungkapkan diatas, toh mereka juga manusia sama seperti saya. Gak percaya? Tonton dan cermati…

* Rako Prijanto (lahir di Magelang, Jawa Tengah, 4 Mei 1973; umur 36 tahun) adalah sutradara muda Indonesia. Ia mengawali karir dengan menjadi asisten sutradara Rudy Soedjarwo dan Riri Riza.
Filmografi versi Bioskop
1) Ungu Violet (2005) 7) Benci Disko (2008)
2) D'Bijis (2007) 8) Krazy Crazy Krezy (2009)
3) Merah Itu Cinta (2007) 9) Preman In Love (2009
4) Tri Mas Getir (2007) 10) Maling Kutang (2009)
5) Oh My God (2008)
6) Takut: Faces of Fear (2008) - Segmen Show Unit

Bersambung…*******************

0 komentar:

Poskan Komentar