Teori Film

Minggu, 01 November 2009

‘1306 kata’ tentang Film Cindolo na Tape ‘CINTA’

(bukan maksud pitikana kanai)


Kutipan wawancara Francois Truffaut, byCharles Thomas Samuels
"EncounteringDirectors" Paris, 1-3 September, 1970
Samuels: Apakah ada kritik yang anda kagumi, dan bila diposisi sebagai sutradara apakah itu berguna?:
Truffaut: Tidak ada filmaker suka kritik, tidak peduli betapa baiknya (kritik) mereka kepada filmker. Faktornya berbagai macam, filmaker selalu merasa bahwa kritikus tidak mengatakan cukup tentang filmaker, atau para kritikus tidak mengatakan hal-hal yang baik terhadap sesuatu yang menarik bagi filmaker, atau mereka berkata terlalu sering membicarakan hal-hal yang baik dan menarik tentang filmaker lain. Karena aku adalah seorang kritikus, saya mungkin kurang bergairah sebagai kritikus dibanding sebagai sutradara. Meskipun demikian, saya tidak pernah mempertimbangkan kritikus secara berlebih dalam menanggapi film saya. Tetapi sikap masyarakat, bahan publisitas, promosi-iklan: semua hal-hal ini sama pentingnya dengan kritikus.

Film Cindolo na Tape ‘CINTA’
Film anak anak Makassar yang disutradarai oleh Rusmin Nuryadin ini membuat saya pribadi bertanya, sudah berapa banyak film pendek yang telah dirampungkannya sebelum menyelesaikan film terbarunya ‘CINTA’ Cindolo na Tape, entah sudah berapa film, tapi yang jelas pertama kali menonton film ini, kaum Nasionalis akan bilang ‘betapa kayanya ragam dan budaya bangsa ini’ hanya melalui bahasa, kekaguman itu muncul, yah hanya melalui bahasa yang menjadi salah satu kekuatan medium film, film as language.
Terlepas dari genre, alur, plot, style, dsb, penggunaan bahasa sebagai identitas sangat kuat dalam film yang berdurasi sekitar 29 menit ini, seakan mewakili filmakernya ingin berkata ‘woi ini filmku, film kita, indie-nya anak anak makassar ces’. Dan jika mewakili kaum pria normal mereka pasti ingin bilang ‘ini lah momen yang tak mungkin dilupakan, sangat manis untuk dikenang’, oleh karena perasaan kita terwakilkan/diidentifikasi dengan sangat baik oleh karakter Timi yang diperankan oleh A. Thesar Rezandy. Kemampuan beraktingnya sangat natural entah artificial atau memang karakter difilmnya tidak berbeda dengan karakter aslinya, yang jelas ada seniman dibalik Thezar dkk, untuk mengasah kemampuan seni aktingnya.
Bagaimana dengan kaum perempuan? Hahaaha… nakke berkhayal pasti mereka-para perempuan sangat mengerti mengapa kebanyakan anak laki laki masuk penjara, atau keburu sdeath, yang jelas mereka pasti akan semakin sayang sama pacarnya, ciyeee…..

Secara garis besar, film ‘CINTA’ ini mengadaptasi sudut pandang laki laki dan permasalahannya, bisa jadi ini film curhatan sang crector, Plato mengatakan, bahwa seni adalah upaya representasi mimesis (tiruan) dari realitas-realitas/alam yang mendahului sebuah karya seni. Sedangkan realitas-realitas/alam yang disebutkan tersebut muncul sebagai representasi mimesis (tiruan) dari Ide atau forma. Dan menurut saya pribadi, sutradara yang juga penulis film ini mereprentasikan realita individunya melalui plot.

Plot penceritaan tokoh Timi, seorang siswa SMP dengan kehidupan kelaki-lakiannya mendadak berubah ketika sosok cinta berkedok wanita memasuki kehidupannnya. Apa yang terjadi? Seperti beberapa dialognya cinta memang membuat kita merasakan hidup, menangis, tertawa, berbagi. Dengan kesimpulan makna (memaknai hidup) sebagai salah satu hidangan sutradara kepada penonton dalam bingkain film ini.

Istilah Cindolo na Tape telah lama menjadi istilah di kota Makassar, entah siapa yang memulainya, jelasnya istilah ini sering didengungkan oleh ABG yang sedang dilanda cinta monyet, bahasa kerennya ‘cinta pada pandangan pertama’, dan juga bisa menjadi semacam ledekan bagi yang mengalami hal ini. Secara harfiah Cindolo na Tape berarti ‘cendol dan tape’, hal ini bukan sekedar permainan kata ataupun singkatan kata (CinTa), tetapi dalam mengikuti alur penceritaan film ini, istilah Cindolo na Tape menjadi kekuatan identitas dan filosofis film ini. Seperti sepenggal dialog ‘Cinta = Cindolo na Tape, kalau kelamaan jadi Poteng’ (Poteng: tape singkong), disini saya mengasumsikan bahwa ‘apa yang kamu lakukan jika cinta itu mengecewakanmu’ apakah kamu akan larut dalam kekalahan seperti ‘Bir’ yang disimbolkan dalam film, ataukah pada kehidupan yang lebih bernuansa, seperti simbol gitar yang memiliki sejuta melodi yang melahirkan seniman seniman besar. Terlepas analisa subjektif ini, toh semuanya kembali kepada penonton yang menilai penuturan didalam film ini.


Analisa Naratif
(Menelusuri ‘bentuk’ atau Formal Sytem’ Film Cindolo na Tape).
Film sebagai formal system mengajak kita pada keteraturan dari sebuah keutuhan peristiwa dari enam elemen yang telah ada; plot, karakter, diction, thought, spectacle dan melody. Walau terjadi perkembangan yang disebabkan oleh ketidakteraturan yang menyebabkan ketidakutuhan dari peristiwa tersebut, sehingga Formal Sytem menjadi dua subkategori, yaitu Narative dan Non-Narative.
Jika kita mengkaji Film Cindolo na Tape yang diproduksi oleh ‘rumahmedia’ ini, maka jelas terasa bahwa film ini beralur naratif.


Narative
Film Narative bisa dibilang merupakan suatu peristiwa yang disusun, memiliki kausalitas atau sebab-akibat dalam ruang dan waktu yang jelas, sehingga plot dapat dianggap sebagai satu aksi. Plot sendiri dibangun dari satu kesatuan aksi dari set-up, development dan klimaks yang kemudian berujung pada sebuah penyelesaian (Closure) yang dapat berakhir dengan happy ending atau sad ending. Selain itu karakter atau individu yang dibangun memiliki tujuan, kebutuhan dan hasrat yang dapat menghasilkan motif untuk aksi para tokoh yang dihasilkan dari situasi tertentu. Sehingga hasil dari mimesis sebuah peristiwa dapat di apresiasi oleh penonton secara utuh dengan menghasilkan ‘kesenangan’ untuk para penonton.

Dalam film ini, tokoh Timi merasa terganggu oleh perasaannya yang disebabkan oleh kehadiran tokoh Tenri. Ruang penceritaan sudah sangat jelas pada salah satu sudut kota Makassar, semua karakter dalam film mengarah pada plot utama, pada awal cerita kita-penonton mengidentifikasi tiap karakter dan perannya, dipertengahan cerita, sutradara membangun aksi karakter utama untuk menuju pada penyelesaian.
Penggunaan bentuk naratif ini memang sangat populer digunakan pada film berdurasi panjang, namun untuk film pendek membutuhkan reset dan penguasaan materi yang bisa memperkuat penceritaan, sehingga film yang bertema cinta termasuk mudah dieksplorasi oleh karena hampir setiap orang merasakannya, dan sutradara yang sangat memanjakan penontonnya biasanya menggunakan metode ini, meskipun ada beberapa bagian kecil dibuat non-linear, termasuk didalam film ini, seperti penggunaan flashback dan cut-away yang merupakan bagian style-stylistic dalam film.


Stylistic System
Pada style film Cindolo na Tape kesemua unsur style (sinematografi, Mise En Scene, suara dan editing) dalam film jelas menunjang konsep naratif, sehingga film ini menjadi sebuah total system. Dan oleh karena stylistic sistem inilah seorang sutradara memiliki ciri khas atau gaya bertutur dalam filmnya. Elemen style yang paling menonjol dalam film ini adalah suara, hampir semua informasi plot ataupun sub-plot diuraikan melalui suara. Kalo bisa ngritik film ini terlalu talkies-calleda’.

Saya pribadi lebih suka elemen sinematografi dan editingnya, secara garis besar dibentuk sangat dinamis baik penggunaan tipe shot dan editing linear (cut to cut), hal ini menggambarkan dinamika kaum remaja yang aktif, lincah dan bernuansa.

Sedangkan mise en scene dalam film ini sangat diperkuat oleh set pool taxi dan setting hujan, impresi dramatik dari cerita sungguh menggugah emosi penonton. Dari beberapa poin ini jelas sutradara sangat memanjakan penontonnya.

Namun ada sedikit catatan mengenai film ini, bahwa premis shot (opening) yang memperlihatkan judul film, tiang listrik, lampu berwarna hijau dan langit biru dengan komposisi seperti itu mengingatkan saya pada premis shot film Elephant yang disutradarai Gus Vant Sant. Dan shot inilah yang membuat otak kanan saya mentriger mata saya untuk menonton dan menyemangati jari saya untuk menulis dan mencermati film ini.
Dengan menyimpulkan asumsi saya diluar konteks genre, cerita dan target film ini: Film ini sangat ‘talkies’, sutradara sangat memanjakan penonton, sangat menghibur tanpa perlu berfikir keras, kekuatan karakter hanya terlihat pada tokoh Timi, mungkin begitu banyak sub- story yang dimasukkan sutradara, pengemasannya sangat rapi-terstruktur, beberapa angle dan komposisi terlalu persuasif berkesan menyadarkan penonton bahwa ada pemikiran-ideologi dibalik kamera…dan sepertinya, lumayan mahal ongkos produksinya… hhahahahah

Banyak banyakmi saya nonton film teman teman dari Makassar, kaya’ LFM UNHAS, STIKOM, tapi ini film keren ces, ide yang sederhana dengan penggerapan tehnis sangat profesional. All of all, tenkyu atas copyan filmnya, saya sebut ini indie film, karena dapatnya sangat indie, dari teman keteman, dari sodara ke sodara, thnkyu saribattang. Sekali lagi MANTAP (Makan Tape)…

Oleh karena keterbatasan-lah film menjadi seni. (Bazin). Oleh karena pembuatnya film menjadi seni (French New Wave). Film adalah seni yang paling sempurna dan Film harus memiliki Seniman (Eisenstein)

Saya tau buat film, saya suka nonton film, tetapi jiwa saya menghargai apa yang saya buat menjadi tulisan dan apa yang saya tonton menjadi tulisan, bukan untuk siapa siapa, tetapi untuk siapa yang akan datang. (cinephilia).

wassalam

0 komentar:

Poskan Komentar