Teori Film

Rabu, 18 November 2009

Embodying virtue a Buddhist perspective

Resume ‘Embodying virtue a Buddhist perspective’. Lecturer : Bang Matius Ali.


Jika ada agama yang akan memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan modern, itu adalah ajaran Buddha.” (Albert Einstein, 1939).

Kecenderungan dunia seni cenderung bertolak belakang dengan pemikiran ‘agama, ketuhanan’ pada umumnya, karena adanya dogma dogma dalam agama yang mengabsolutkan, menabukan bahwa (sesuatu yang relative tidak akan mungkin melebihi sesuatu yang absolute) ‘dunia tuhan’ tak akan pernah mampu dipecahkan oleh pemikiran manusia, sedangkan dalam seni, cenderung berfikir untuk menjadikan seorang pencipta karena adanya dunia ide-pikiran dalam jiwa manusia yang dinilai sebagai konsep ide yang absolut dan sangat diistimewakan para seniman, untuk bagaimana mengembangkan ide dan pemikiran dari realitas menjadi sebuah bentuk yang rasional. Lebih jauh pemikiran essensialism-modernlah yang terkesan membaurkan nilai absolute dan relative kedalam konteks yang sama, menerapkan konsep agama dalam konteks rasionalitas, sehingga ajaran ataupun agama yang tidak memiliki konsep ketuhanan dianggap salah.
Hal diatas ini bukan merupakan ketentuan benar atau salah, tetapi bagaimana kita menempatkan teks-ide (relative dan absolute) sesuai dengan konteksnya.


Dunia Barat menilai bahwa ajaran Buddha dimasukkan sebagai agama yang Agnostik dan tidak mengenal tuhan pencipta. Dan menurut para Atheis, dikatakan bahwa Buddhisme tidak bisa disebut sebagai agama karena tidak adanya tuhan dan segala macamnya, namun lebih cenderung ke filosofi pemikiran atau ajaran Buddha bukan agama. Sedangkan menurut historisnya, dikatakan bahwa di Indonesia, Walubi terpaksa menggunakan sebutan Sanghyang Adi Buddha sebagai tuhan dalam agama Buddha karena tekanan dari pemerintah yang mengharuskan adanya konsep ketuhanan dalam pancasila. Agama Buddha boleh-boleh saja dikatakan atheis karena jika melihatnya hanya dari sudut pandang personal, agama Buddha memang tidak ber-�tuhan�. Karena jelas-jelas agama Buddha memegang teguh konsep anatta

Anatta; metode penyangkalan.
Non self atau Anatta dalam Buddha berarti bahwa segala sesuatu didunia ini tidak mempunyai inti, karena cepat atau lambat akan berhenti bereksistensi. Sehingga bentuk konkrit sekalipun dalam konsep Buddhist adalah illusi karena sifatnya tidak kekal dan adanya saling ketergantungan materi. Seperti pohon, bahkan jiwa adalah illusi tak kekal karena adanya saling ketergantungan materi sesuatu tergantung pada yang sebelumnya, yang tidak mandiri. Illusi bukan berarti dunia ini tidak nyata. Jiwa manusiapun tidak otentik original karena adanya material yang akan berakhir. Karena salah satu konsep Buddhist : Pratiya samutpada (sansekerta) memberikan pengertian semua fenomena tergantung pada yang lain, tidak muncul sendiri. seperti meja yang tidak muncul begitu saja ada korelasi dengan bentuk yang lain, ada pembuat, ada bahan, ada konsep, dsb, sehingga Jiwa manusiapun bukan sesuatu yang otentik (ada pemilikNya) atau tergantung pada yang lain (non-self ).

Konsep dalam hal ini Buddhist menerapkan ‘metefisika negatif’ yang berarti selalu ‘menyangkal’ material sebagai esensi yang kekal, bahwa tidak ada kebenaran (dunia sehari-hari) yang absolut dan tidak bisa dikaitkan dengan konteks relative (konsep yang diciptakan oleh manusia, seperti konsep ketuhanan adalah ciptaan manusia, anggapan Tuhan merupakan materi).

Dalam Buddhist kebenaran Absolut dan relatif merupakan perbedaan ontology seperti dua sisi mata uang. ( absolute as above, relative so below) artinya sesuatu yang relatife tidak mampu menembus sesuatu yang absolute, karena relatife masih terkait dengan hal hal material, dan dalam Buddhist untuk mencapai tingkat yang absolute segala sesuatu yang relative harus ditinggalkan, seperti Pangeran Sidartha Gautama meninggalkan semua kemewahannya untuk mencari kebenaran yang absolute hingga beliau mencapai pencerahannya. Maka dalam Buddhist jika mau mengerti kebenaran yang absolute maka kita harus menggerti kebenaran sehari-hari (memahami jiwa individual terlebih dulu untuk dapat mengerti jiwa yang ‘absolut’), dalam dunia ide, memahami sesuatu sesuai dengan porsi dan tempatnya. Segala sesuatu tergantung yang lain, dan tidak ada claim kebenaran yang bersifat absolute dan bersifat relative (konteks), bukan berarti bahwa tidak ada kebenaran (kebenaran ada dalam konteks absolute).

Pembebasan diri dari Essensialism.
Substansi yang permanent dalam Buddhistm adalah sesuatu yang disangkal seperti jiwa, subjek benda sebagai sesuatu yang nyata, tetapi lebih pada konsep illusi yang seolah olah memandang remeh usaha manusia dalam konteks budaya pembelajaran, namun Buddhism melihat illusi sebagai pembebasan diri dari keterkaitan atas sifat esensialism; pemikiran tentang rasio - inti, sebagai esensi yang kekal, dimana esensialsm adalah konsep dari manusia. Intinya metode Buddhism memandangnya sebagai ‘negativism- penyangkalan’ bukan berarti menghilangkan esensi realita, justru untuk memurnikan konsep manusia tentang arti absolute, jika konsep Socrates yang mempertanyakan tentang esensi realitas, Buddhism memandangnya sebagai penyangkalan dengan tujuan memurnikan (pembebasan diri) dan pencerahan. Dengan kata lain, Buddhism adalah pembebasan dari esensialism (sebuah konsep yang mengatakan ada inti) , dengan kata lain sesungguhnya tidak ada diri-jiwa yang statis, (diri kita terus berkembang), jiwa, subjek,individu bukan sebagai data yang mati-statis, tetapi sebagai tempat pengembangan dari potensi ide yang tidak terbatas.

Anggapan ini menyangkal Rasionalisme sebagai konsep absolute diatas segalanya yang berakibat potensi ide kita akan terbatasi karena keterbatasan yang ada dalam kolom rasionalisme modern. Karena segala sesuatu akan berkembang dengan relative, terbukti dengan adanya meditasi salah satu proses untuk mengendalikan kekuatan pikiran dan Meditation may be thought of as one of the earliest techniques for the creation of virtual reality.

Meditasi.
Meditasi dalam Buddha: adalah penghayatan untuk mengembangkan tindakan moral dan mengerti secara pengalaman moral personal, salah satu ajaran Buddha dalam 8 jalan kebajikan . Buddhisme tidak mengajarkan konsep2 metafisika, tetapi penghayatan langsung (8 jalan kebajikan), dengan meditasi pada tubuh dan pikiran maka si meditator tersebut dapat melihat – merasakan, bahwa subjek – jiwa itu merupakan sebuah pengalaman flux (perubahan ‘aliran-kekuatan’ yang bergerak terus menerus dalam meditasi)
Meditasi mampu membuat pikiran kita terus bergerak yang dianggap sebagai dunia ego, ide yang terus bergerak, datang dan pergi silih berganti (dalam Buddha harus ‘bisa dikendalikan’ dan meditasi sebagai salah satu sugesti untuk meraihnya) dan hal itu terbukti, karena perasaan tidak bisa terikat pada titik yang permanent, meskipun kita berusaha untuk tidak berfikir tetapi flux tetap ada. Inilah kekuatan meditasi.

Dalam konsep modern ‘meditasi’ ini dicari dan dibentuk dengan reference lain dengan mengaitkan objek dari benda yang kita pikirkan (sensasi), dalam hal ini tidak semua dari diri kita yang mengalaminya, lewat meditasi kita membuat verivikasi dan mendekonstruksikan self tersebut (postulated in doctrine ).Orang modern mendefinisikan ‘Diri ini sudah dianggap sesuatu yang absolute’ sebagai doktrin absolut yang benar tetapi Buddhism membuktikan bisa mendekonstruksi hal itu, membuktikan melalui meditasi bahwa sebenarnya bukan diri itu yang mengalami hal (pikiran tetap saja pikiran), mengapa? Karena pikiran masuk dari luar bukan berasal dari dalam diri. Ada pikiran dari dalam diri yang keluar ada yang masuk kedalam diri dan tidak ada pikiran yang berasal dari dalam diri. Bahwa pada dasarnya diri ini adalah kosong dan bersifat relative tidak absolute.

Pemahaman ini memberikan pandangan bahwa ada metode pemahaman yang lebih dari sebatas rasional tentang pemahaman absolute. Sehingga Buddha dikatakan tidak pernah menghabiskan waktu untuk perkara-perkara spekulatif tentang alam semesta karena hal ini kecil nilainya bagi pengembangan spiritual untuk menuju Kebahagiaan Sejati, Nirvana.

Embodying virtue a Buddhist perspective
Virtual reality adalah sebuah produk teknologi akhir abad 20 adalah perkawinan silang antara unsure manusia sebagai individu dengan external world . Konsep virtual realty diartikan ‘kenyataan semu’ karena menerjemahkan realita itu sendiri, kedekatan konsekwensinya dipandang dari sudut estetika Buddhism yang merepresentasikan hubungan diri dengan alam-external world. Dikatakan konsep ajaran Buddha memiliki peranan penting dalam meniupkan ‘roh-ekspressi diri’ pada kenyataan semu itu sendiri, yang berpotensi untuk selaku berkembang, (segala sesuatu akan berkembang-tidak mati, untuk kemudian menjadi penemuan jati diri yang seutuhnya yang terdapat dalam masing masing individu), dan akan kembali ke manusianya bagaimana mereka mengembangkan-menterjemahkan konsep ‘illusi’ yang secara relative berada pada diri yang melalui prosesnya akan mencapai tingkat teringgi-pencerahan. Disinilah terlihat proses peleburan paham paham duniawi yang bersifat sementara dengan ajaran Buddha yang menitik beratkan pada keseimbangan spiritual dan emosional individu. (Buddhism: ajaran menekan ego). dengan tujuan akhir adalah Nirvana (tak ada lagi kesusahan dan pencerahan hidup). Gaya hidup Buddha senantiasa mengedepankan penekanan ego sebagai kesederhanaan serta kendali diri, untuk disesuaikan dengan konsekwensi social budaya yang timbul dari ‘virtual reality’ sebagai teknologi maju abad 20.

Menurut paham Buddha yang mengajarkan ‘pengekspressian diri’ secara meditasi, hal ini dikarenakan berkecimpungnya dimensi teknis dan nilai moral (perasaan-emosional diri) pada sendi sendi kemanusiaan yang hakiki. Nilai kemanusiaan ini tidak memiliki kaitan langsung dengan kehidupan social atau metafisika.
Kondisi social budaya di Timur kurang lebih sama dengan kondisi social di Barat sebelum masa pencerahan. Sistem kepercayaan di Timur seperti Hindu, Konfucianisme dan juga Toisme saling mengilhami bagi terbentuknya paham paham metafisika dan norma norma etika budaya. Dalam Buddha, metafisika sebuah hal yang ditentang, karena cermin filosofis Buddha ada pada sifat dasar dari kondisi manusia yang terkandung dalam konsep empat kebenaran hakiki :
1) Life is shot through with pain and suffering.
2) The cause of this suffering is selfish desire.
3) There can be an end to suffering and.
4) The way to put an end to suffering is to live in convormity with the principles set out in the Eightfold Path.

Kebenaran hakiki yang pertama mengacu pada penderitaan mental maupun fisik semua orang dari waktu kewaktu, dan merupakan hal yang tak bisa di elakkan sebagai bagian dari kondisi manusia.
Berhubung ajaran Buddha percaya atas adanya reinkarnasi maka kanvas dari problematic ini menjadi semakin lebar . Hal ini juga menyangkut teori pembuktian diri melalui proses meditasi yang dianggap dapat mempercepat lahirnya ideology ideology baru yang semakin mempertegas keberadan roh dalam peranannya menjembatani dunia metafisika dengan alam manusia.

Sudut contras yang muncul telah menjadi sebuah tatanan filosofi baru yang berfungsi bukan hanya sebagai pemicu gelombang kreatif pemikiran manusia, namun dapat juga mencegah timbulnya penyepelean paham paham inovatif yang secara tidak langsung dapat membentuk embrio filosofi Buddha yang adaptif dan tidak konvensional.

Kesimpulan.
Buddha merupakan gelar kepada individu yang menyadari potensi penuh mereka untuk memajukan diri dan berkembang dengan kesadarannya.merujuk pada pemikiran Siddhartha Gautama, guru dan pendiri Agama Buddha.

Proses pelengkungan nilai nilai ini dirasa lebih solid dalam tolak ukur penerimaan ilmu pengatahuan oleh manusia dalam pengertian berusaha untuk memanifest nilai nilai yang tergambarkan dalam dogma kemuliaan yang dianut Buddha untuk menterjemahkan arti sebenarnya dari kesadaran reality.

Namun hubungan antara pengetahuan dan kesadaran reality masih menjadi perdebatan karena kesadaran hadir memerlukan pengalaman inderawi tentang sesuatu yang material dan nyata, sementara kesadaran reality dinilai sebagai sesuatu yang absolute adanya, dan hal inilah yang menjadikan banyaknya pendapat dan discussi tentang konsep pemikiran Buddha dalam ‘dunia virtual’.

Virtual Reality tampaknya menjadi sesuatu yang lebih menarik ketimbang dunia nyata, dimana tidak adanya batasan ruang dan waktu serta materi real, dimana simulasi dari tekhnologi ini mampu menghadirkannya, melalui pengembangan ilusi ataupun pikiran. Kekuatan dari pemikiran Buddhistm adalah bagaimana kekuatan mengembangkan pemikiran dan pengendalian pemikiran memberikan dampak bagi ‘individu-dalam diri’ tanpa adanya sekat pembatasan sesuatu yang berwujud (material), adanya essensialisme akan menghambat jiwa dan pemikiran. Ini merupakan refleksi perbedaan terhadap signifikasi moral dalam menanggapi perbedaan antara reality dan virtual reality (kenyataan sesungguhnya). Virtual Reality merupakan suatu teknolgi spiritual tentang kekuatan diri yang sesungguhnya dan kesempurnaan pengalaman yang bersifat duniawi, yang memperkenankan pengendalian atas berbagai kekuatan internal untuk bisa direpresentasikan (; auditory, Visual, kinaesthetic, olfactory, and gustatory) dan meditasi adalah salah satu proses untuk mengendalikan kekuatan pikiran dan Meditation may be thought of as one of the earliest techniques for the creation of virtual reality.

Tak berlebihan jika ilmuan menilai ‘pemikiran Buddha’ melampaui Tuhan sebagai pribadi serta menghindari dogma dan teologi yang mencakup nilai alamiah maupun spiritual, Budhhism; agama seharusnya didasarkan pada rasa keagamaan yang timbul dari pengalaman akan segala sesuatu yang alamiah dan spiritual, berupa kesatuan yang penuh arti.


Reference.
Damien Keown, Embodying virtue A Buddhist perspective, chapter 5.
Matius Ali, Estetika, Sanggar Luxor, 2004.

0 komentar:

Poskan Komentar