Teori Film

Rabu, 20 Desember 2017

Coretan Balik Layar Film Ekspedisi Baruna Jaya Pulau Sumba : (Perlukah Film Dokumenter Menggunakan 'Artist Publik Figur'?)

-->
 Agustus tahun 2016 film dokumenter Baruna Jaya dibuat, sebuah ekspedisi dari teluk Jakarta menuju perairan Sumba, perjalanan ini merupakan pertama kali saya bisa mengikuti kapal riset kebanggaan LIPI ini. banyak cerita dan kendala di film ini mulai dari mesin kapal hingga post produksi, hingga penyelesaian filmnya sendiri hingga memakan waktu  2 tahun. 

Saya ingat ketika kapal Baruna Jaya berlabuh di Sumba, kami bertemu dengan beberapa kru film 'Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak', film ini sendiri sudah tayang dan sukses dipenghujung tahun 2017.

Saat ini film Baruna Jaya Sumba telah masuk tahap proses mixing audio, semoga saja awal tahun 2018 sudah bisa selesai. Sedikit bocoran aja, pengisi suara (narator) di film ini diisi oleh Adipati Dolken dan Darius Sinathrya yang sudi meluangkan waktunya untuk membantu mensyiarkan ilmu pengetahuan dengan cara mereka, kami mengundang  mereka berdua mengingat film dokumenter sulit untuk mendapatkan tempat di penonton, usaha ini paling tidak menumbuhkan gairah film dokumenter khususnya bertema ilmiah.


ini saya share skrip Baruna Jaya, serta beberapa foto selama perjalan.
link video teaser: LIPI Channel

 https://www.youtube.com/watch?v=gkOLjEbB7y0&t=48s



EKSPEDISI BARUNA JAYA SUMBA (FINAL SKRIP)

    Kita semua, hidup di dalam planet biru dimana 70% permukaannya deselimuti oleh lautan.
    We all live on a blue planet, where 70% of its surface is covered by oceans

    Laut, merupakan suatu sistem yang menunjang kehidupan di bumi.
    The oceans are the very foundation of any kind of life on this planet.

    Laut, adalah tempat dimana perangkat sistem penunjang kehidupan dibumi ini bekerja, mulai dari oksigen yang kita hirup, hingga setiap tetes air yang kita minum, merupakan bagian dari siklus yang diperankan oleh lautan.

    The oceans are our planet’s life-supporting system. With oxygen in every breath we take, every drop of water we drink, we are part of the cycle governed by the oceans, no matter where on Earth we live.
    Sylvia Earle mengemukakan, no water no life, No Blue No Green.
    Sylvia Earle once said, no water no life, no blue no green,

    Sebuah  ungkapan betapa vitalnya fungsi lautan bagi kehidupan didarat.
    suggesting how crucial are the oceans to life.


    Air dari laut membentuk awan yang terkirim ke darat  sebagai  hujan, dan menjadi rumah bagi kehidupan di daratan.
    Water in the oceans evaporates forming cloud in the atmosphere, then it returns back to the Earth as rainfall, sustaining all kind of life on land.


    Sebagian besar oksigen di atmosfir bumi, diproduksi di lautan.
    More than half of oxygen in Earth’s atmosphere is coming from the oceans


    Sebagian besar dari karbon organic di planet ini, diserap dan disimpan dilautan melalui mikroba
    Most of organic carbon in our planet are absorbed and stored in the oceans


    Laut menentukan iklim dan cuaca, menstabilkan suhu udara, dan membentuk proses kimia bumi
    Our oceans also determine climate and weather, stabilize air temperature and contribute in many chemical processes on Earth.

 
    Pada kurun 50 tahun terakhir, emisi karbondioksida yang berlebihan, memicu pemanasan global dan pengasaman air laut.
     In the last 50 years, human activity emits carbon dioxide too much in the atmosphere, triggering global warming and ocean acidification

    Pada saat yang sama, jutaan ton plastik mengancam ekosistem dan kehidupan di laut.
    Meanwhile, millions of tons of plastic trash litter our oceans, threatening all kind of life and ecosystems in the oceans


    Meningkatnya kadar keasaman laut merupakan tanda bahaya bagi plankton penghasil oksigen, ataupun hewan bercangkang kapur seperti kerang dan karang.
    Oceans’ water becomes more acidic and it is really bad news for many marine life, such as shellfish  and corals
    Ketidaktahuan, ketidakpedulian manusia, mengancam kondisi lautan dan membuat bumi sekarat.
    Lack of awareness, our ignorance, has caused our earth and oceans dying.

 
    Bayangkan bagaimana bumi tanpa lautan? Seperti apa kehidupan  berlangsung?
    Just imagine, what would happen if earth had no oceans? What life could sustain in such condition?




    Nusantara… dikenal sebagai bangsa maritim, negara kepulauan terbesar didunia dengan luas lautan mencapai 2/3 dari total luas wilayahnya, dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas turun ke Rote.

    Nusantara…. known as a maritime nation, the world’s largest archipelagic country, with two third of its territory are oceans, spanning from Sabang to Merauke, from Miangas down to Rote

    Pemahaman kita tentang laut mungkin masih berkisar pada cerita diatas permukaan.
    Our knowledge of oceans might be still limited around stories revolving in the surface of the oceans.


    Cerita mengenai jalur perdagangan internasional, kisah penaklukan heroik serta semboyan jatidiri -nenek moyangku seorang pelaut.
    Great stories of Nusantara’s seas, about international sea-trade routes, stories of heroic conquest, and the motto of our identity – my ancestors are seafarer


    Kita patut berbangga dengan cerita mengenai laut Nusantara, namun seberapa kenal kita tentang isi laut Nusantara?
    We should be proud of such stories about Nusantara’s seas, yet how much do we know about the seas?







    Tahun 2016, kapal riset Baruna Jaya 8 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, kembali melakukan penelitian terkait pentingnya informasi ilmiah tentang lautan Nusantara.
    In 2016, the research vessel Baruna Java 8 of the Indonesian Institute of Sciences, set sail for a research cruise exploring the seas of Nusantara.


    Kegiatan riset, yang bersifat eksploratif ini dikenal sebagai Ekspedisi Widya Nusantara (E-WIN), yang  dilaksanakan disetiap tahunnya sejak 2007 lalu.
    This cruise, named as Ekspedisi Widya Nusantara (or EWIN), is a scientific expedition that has been held annually since 2007 by the Research Centre for Oceanography, Indonesia.


    Ekspedisi Widya Nusantara, disiapkan untuk riset, pengumpulan data, informasi dan pengetahuan mengenai sumber daya alam hayati dan non hayati.  Ekspedisi kali ini dilakukan di perairan Sumba, sebagai fokus riset  perairan  di pulau terdepan Indonesia.
    Ekspedisi Widya Nusantara, is organized for scientific enquiry, data collection, and gathering knowledge about marine resources, both biological and non-biological resources. This expedition was focused on the sea around Sumba Island, one of Indonesian frontier islands.


    Kedeputian ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI memberangkatkan Baruna Jaya 8 bersama 49 tim peneliti dan kru kapal dengan fokus penelitian  antara lain, Bidang Geologi, Oseanografi Fisika, Biogeokimia, Pencemaran laut serta Keanekaragaman hayati.
    The Deputy for Earth Sciences, LIPI, dispatched the research vessel Baruna Jaya 8 teamed with 49 research personnel, including the vessel’s crew. Research topics in this cruise include geology, physical oceanography, biogeochemistry, marine pollution, and marine biodiversity.







CHAPTER GEOLOGI

    Ada beberapa teori yang berkembang mengenai pulau Sumba dan sejarah geologinya.
    There are some theories explaining Sumba Island and its geological history.

    Dataran Sumba dahulunya berada dibawah permukaan laut, kemudian sempat menjadi bagian dari daratan Sulawesi bagian barat serta Kalimantan Selatan sebelum Sumba terpisah  menjadi Pulau sendiri
    One theory says that Sumba land was previously submerged in the sea, then it was once a part of what is now known as the western part of Sulawesi and South Kalimantan, before it then was separated to become todays Sumba Island.
    Teori lain menyebutkan, Sumba merupakan pulau Oseanik, yang tidak pernah bergabung dengan pulau lainnya.
    Another theory mentions that Sumba is actually an oceanic island, that is never become a part of other islands.






CHAPTER OSEANOGRAFI

    Tercatat 5 samudera membentang diplanet ini, samudera Antartika, samudera Arktik, samudera  Atlantik, samudera  Pasifik dan samudera Hindia, dua diantara nya mengapit Nusantara, yaitu Samudera Pasifik di Utara dan Samudera Hindia di Selatan
    There are 5 oceans on our planet: the Southern Ocean, the Arctic Ocean, the Atlantic Ocean, the Pacific Ocean, and the Indian Ocean. Two of them flank Nusantara, those are the Pacific in the north and the Indian Ocean in the south.
    Dalam persfektif Oseanografi, hal ini menjadi menarik, karena perairan Indonesia merupakan satu-satunya negara kepulauan yang menghubungkan   Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.
    With regard to oceanography, Nusantara’s geographical location tells interesting stories.

    Permukaan laut pasifik yang lebih tinggi dibanding permukaan laut hindia, menjadikan massa air di Pasifik bergerak menuju Hindia.
    Generally, the mean steric sea level of the Pacific Ocean is higher that the Indian Ocean, and the water flows from the Pacific to the Indian Ocean, through the Indonesian Archipelago.
    Sistem sirkulasi  massa air ini melewati Indonesia, yang kemudian dikenal dengan Indonesian Through Flow atau arus lintas Indonesia, disingkat ARLINDO.
    This flowing water mass is known as the Indonesian Through Flow (ITF) or Arus Lintas Indonesia (ARLINDO)


CHAPTER BIOGEOKIMIA
    Arnold Gordon mengatakan bahwa, Massa air Pasifik masuk ke perairan Indonesia melalui dua jalur utama, yaitu:
   Di jalur Barat, massa air masuk melalui laut Sulawesi dan
   di jalur Jalur timur, massa air masuk melalui laut  Maluku

Arnold Gordon, the scientist that has been investigating the ITF since decades ago, explained that the water mass from the Pacific enter Indonesian waters via two main entry passages, those are:
·      The West passage, this is where the water mass flows into the Celebes Sea
·      Whereas in the East passage, the water mass enters Indonesia via the Molucca Sea


    Perairan Sumba, merupakan salah satu pintu terakhir, sebelum massa air tersebut keluar menuju samudera Hindia.
    Regardless the entry passages, Sumba waters is one of the main exit passages before the water enters the Indian Ocean.


    





CHAPTER PENCEMARAN LAUT
    Bagaimanapun, perilaku manusia terhadap alam, akan bermuara dan terekam di samudera.
    Human activities, no matter where on Earth it happen, would be imprinted in the world oceans
   
    Samudera tidak pernah memilah apa yang akan terbawa oleh arusnya.
    The oceans would not filter what comes into them

    Tidak semua material yang terbawa arus merupakan nutrient yang bermanfaat dan diperlukan ekosistem laut, beberapa bahkan sebaliknya.
    Not all materials coming into the oceans are beneficial and useful to the marine ecosystem, and they could be harmful instead


CHAPTER BIODIVERSITY
    Samudera adalah symbol kemurnian, apapun yang terjadi padanya, ia tetap menyediakan kehidupan bagi setiap mahluk.
Oceans are a symbol of purity. Whatever happen in them, they remain to support the greatest abundance of life on our planet.




CLOSING

    Laut, adalah wadah dimana sumber daya hayati dan non hayati, membentuk ekosistem.
Our oceans are the great container of both biological and non-biological resources which interact to each other forming many kinds of ecosystems.

    ekosistem inilah yang mampu menceritakan kejadian di masa lampau, dan akan mempengaruhi kehidupan manusia dimasa yang akan datang.
    These ecosystems have gone through all the time, bearing deep imprints of any event in the past. They will also contribute to shape human life in the future.

    Manusia telah menginjakkan kakinya dibulan, namun, belum mampu menyentuh dasar lautan terdalam.
Human have set foot on the moon, but much of our deep oceans are still unexplored.

    Sebagai manusia, seharusnya kita peduli. 
Dengan rasa peduli maka ada harapan, dan langkah awal untuk menghadirkan rasa peduli, adalah melalui ilmu pengetahuan,

Human, the greatest and most intelligent of species on Earth, should be aware of the oceans in any respect. With awareness and care, then there would be hope. The very first step to raise awareness by increasing science and knowledge.

    Perjalanan Baruna Jaya di Pulau Sumba, hanyalah kepingan puzzle tentang cerita ilmiah lautan nusantara
The cruise of Baruna Jaya to Sumba might be just one pieces of the knowledge puzzle about Nusantara’s ocean.

    Dan atas nama  ilmu pengetahuan,  Baruna Jaya akan terus mengarungi lautan nusantara.
    In the name of science, Baruna Jaya sets its sail wading through the oceans


    Karna menghargai pengetahuan sekecil apapun, adalah bentuk lain dari rasa syukur.
    Because respecting science, however small it may be, is another way of being grateful.










0 komentar:

Posting Komentar