Teori Film

Kamis, 22 Desember 2011

Perlunya Pendekatan Kuantitatif dalam analisa (style) Film


Tidak adanya metode yang baku dan tetap dalam analisis film menjadikan disiplin ini menjadi domain penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistic-kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Proses dan makna yang dihasilkannya akan cenderung bersifat deskriptif dan interpretatif karena menggunakan analisis dengan pendekatan induktif yang bersifat subjektif. 

Oleh karena itu, hasil penelitian maupun kajian film tidak dapat diterapkan secara keseluruhan untuk satu kasus yang sama. Sebab interpretasi terhadap suatu objek dalam hal ini film akan sangat bergantung pada pengalaman, pengetahuan/pendidikan, ekspektasi, latar budaya dan sosial ekonomi peneliti, sebuah konsekuensi menempatkan peneliti sebagai tolak ukur penelitian.
Sebagai contoh sederhana, interpretasi seorang lulusan kajian politik berideologi marxis akan berbeda dengan interpretasi seorang ekonom berideologi liberal dalam menilai sebuah film. Setiap peneliti akan menggunakan argumentasi sesuai pengetahuan dan kecenderungan ideologi yang mereka anut, argumentasi yang cenderung spekulatif sesuai intuisi masing-masing peneliti. Sesuatu yang jarang menjadi pertanyaan publik, apa motif dan ekspektasi dibalik sebuah penelitian/kajian film?

Sebelum masuk dalam pembahasan lebih jauh, ada baiknya penulis memaparkan beberapa kelemahan penelitian kualitatif berbasis interpretasi/argumentatif[1] yang banyak digunakan dalam kajian film. Hal ini dimaksudkan agar kita lebih memahami mengapa kita perlu pendekatan lain yang lebih pasti dan jelas dalam kajian film.

  1. Tidak Memiliki Metode/Rumusan Yang Pasti
 Sebagai bagian dari ilmu humaniora/sosial, kajian film merupakan studi fenomenologi yang lebih menekankan pada pengalaman sensorial dan pengetahuan perwujudan (knowledge). Dimana objek penelitian ilmu sosial pada dasarnya berhubungan degan interpretasi terhadap realitas. Menurut Edmund Husserl bahwa penemuan makna dan hakikat realitas ditemukan melalui pengalaman karenanya setiap orang memiliki interpretasi sendiri tentang realitas.
Tidak terkecuali dalam ranah kajian film, peneliti di’halal’kan menggunakan pendekatan masing-masing bentuk kesadaran dan pengalaman-pengalaman langsung; religius, moral, estetis, konseptual, serta indrawi. Sehingga pendekatan ini tidak memiliki metode atau rumusan yang  pasti dan tetap.

Sebagai contoh adalah teori Auteur yang diperkenalkan oleh Andrew Sarris. Teori Auteur bertujuan untuk memberi  penghargaan pada film film hasil karya sutradara tertentu, yang mereka anggap sebagai aktor intelektual (the Controlling Creative Forces) dibelakang proses kreatif pembuatan film, selain itu juga untuk mengabaikan  karya film film lain  yang tiddak memenuhi kriteria rumusan atau ketetapan  Auteur ini.
Dalam rumusannya Sarris menggunakan tolak ukur dari seberapa besar peran/ pengaruh sutradara dipandang dari sudut style, kreatifitas maupun psikologis dalam menyumbangkan nilai estetik kedalam karya filmnya. Apabila peran/ pengaruh sutradara tersebut sangat menonjol, maka ia layak disebut  sebagai seorang Auteur.
Namun disisi lain, Sarris juga menilai bahwa sentimentil  dalam kehidupan, yang antara lain berkaitan  dengan romantisme serta aspek-aspek positif pada kehidupan dianggap lebih komersil dibanding dengan nilai sinisme. Sesuatu yang berbeda dari rumusan awalnya mengenai Auteur. Namun Ia tetap berpendapat bahwa film Auteur lebih berharga dibanding dengan film non Auteur
Rumusan Sarris tersebut menganggap bahwa sekali seorang sutradara mendapat predikat Auteur maka predikat tersebut akan cenderung terus melakat dengan tidak memedulikan film-film karyanya yang bukan Auteur. Suatu hal yang terlalu dipaksakan.
  1. Ketidak Konsistenan Interpretasi
Kelemahan ini banyak terjadi pada teori film modern sepanjang tahun 1970-1980-an. Hal tersebut dapat dilihat dari tujuan estetis tradisi teori film modern  yang bertujuan membongkar makna tersembunyi dari sebuah film. Pemaknaan yang sekali lagi mengandalkan intuisi dan pengalaman peneliti membuat kita terjebak pada pandangan subjektif yang labil.
Film dianggap sebagai produk ideologis merupakan pengaruh besar dari cultural studies yang populer pada masa itu. Juga sebagai bagian dari tradisi kritis marxisme yang selalu mencurigai film dan produk kultural lainnya pasti digunakan oleh satu atau beberapa pihak dalam masyarakat untuk meraih atau mempertahankan kepentingan politis-ekonomis tertentu[2].
Wacana film sebagai produk kultural-ideologis merupakan identifikasi unsur politik representasi dalam film yang dipengaruhi oleh ilmu semiotika – salah satu varian dari ilmu linguistik – yang muncul pada tahun 1970-an. Peneliti film saat itu menyandarkan penelitiannya pada ajaran-ajaran linguistik Ferdinand de Saussure dan konsepsi semiotika Charles Sanders Pierce.
Dalam hal ini film dianggap sebagai penanda (signifier) ideologi yang sedang berkuasa. Maka argumentasi yang digunakan akan tendensius mengarah pada salah satu kelas sosial. Pemaknaan akan penanda dalam film menggunakan deskripsi interpretatif, yang memeiliki batas pada bahasa verbal semata. Kata/bahasa verbal tentu terbatas pada ruang dan waktu serta konteks film tersebut dan memiliki kecenderungan manipulatif.
Sebagai contoh ketidak konsistenan interpretasi semiotika antara lain, dalam film sering kita jumpai penggunaan dissolve  (suatu adegan dimana gambar pada film  secara lambat laun  memudar dan berganti dengan gambar yang lain) yang mana biasa dilihat  sebagai kode atau simbol bergesernya waktu. Namun hal tersebut tidak sepenuhnya berlaku mutlak untuk arti atau meaning dari sebuah penggunaan dissolve. Sepanjang pengamatannya dalam sejarah perkembangan film, sering kali ambigu (tidak jelasnya makna- tergantung dari sudut pandang/ interpretasi masing masing individu) dan tidak selalu berfungsi sebagai kode/ simbol transisi peralihan dimensi atau waktu.

  1. Subjektif  Dan Tidak Terukur
Penelitian kualitatif cenderung menggunakan data teks yang bersifat subyektif. Realitas yang dipelajari dikonstruksikan sesuai dengan nilai sosial yang ada, oleh karenanya pemaknaan realitas sesuai dengan pemahaman peneliti. Penelitian kualitatif memiliki jalinan variabel yang kompleks dan sulit untuk diukur..
Hal ini pula yang menyebabkan sulitnya menghitung tingkat validitas hasil penelitian kualitatif, sebab hasil penelitian tersebut tergantung kuat atau lemahnya  argumentasi yang digunakan peneliti. 

@bersambung...zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzhhhzz.........




[1] Dalam penelitian kualitatif dikenal 3 konsep validitas atau basis kebenaran hasil penelitian, yaitu (1) validitas komulatif dimana terdapat kesamaan/keserupaan temuan antara satu studi dengan studi yang lain dengan objek/topik yang sama. (2) validitas komunikatif merujuk pada derajat konfirmasi temuan dan analisis temuan pada subjek penelitian. (3) validitas argumentatif merujuk pada kekuatan dan kesesuaian logika dan rasionalitas yang dibangun peneliti. Lihat DR. Agus Salim, 2005, Teori & Paradigma Penelitian Sosial, Hal 20)
[2] Richard Dryer, “Introduction to Fim Studies,” dalam The Oxford Guide to Film Studies  hal 6

0 komentar:

Poskan Komentar