Teori Film

Rabu, 28 Desember 2011

Konsep Sinematografi 'Suara Ilalang'


I)       Sinematografer Steatment;
Film menjadi seni yang terakhir (seni ketujuh) dalam peradaban manusia oleh karena ia mampu menampilkan dan menyatukan  kompleksifitas ide  dari berbagai kreator kedalam medium film. Oleh karena kompleksifitas inilah film bisa berbicara dalam lingkup sosial atau film adalah media sosial,  singkatnya, ketika ketika menyampaikan sesuatu kepada pihak yang lain  maka terjadilah interaksi sosial.
Film mampu memberikan pengaruh kepada penontonnya bahkan peradaban manusia sekalipun sama seperti seni murni yang lain. Steatment ini memang sudah bukan kosakata baru dalam dunia sinema, namun hal inilah yang mengacu saya sebagai Sinematografer untuk tertarik dan terlibat dalam pembuatan film TKA yang berjudul ‘Suara Ilalang’.  Dan  pertanyaan yang kemudian muncul dalam benak saya adalah, seberapa jauh kerangka Sinematografer membentuk ‘pengaruh’ didalam film ini? Hal inilah yang sekiranya perlu untuk didiskusikan bersama dengan Sutradara, Penulis, Art Director, Editor, yang nantinya penulis akan melampirkannya pada bab Sinematografer Treatment.
Mengutip perkataan sutradaraa film ini “Story dalam film ini menjadi alat saya untuk menyampaikan tujuan yang saya miliki.  Tujuan saya adalah menemukan apa yang tersembunyi di balik pilihan seorang muslimah mengenakan pakaian berjilbab”. Disini Sinematografer mengharfiahkan bahwa secara garis besar teks film ‘Suara Ilalang’ memberikan gambaran begitu banyak perbedaan bahkan dengan  pemahaman yang sama sekalipun akan kerap muncul perbedaan.  Perbedaan memang terkadang menghasilkan ketidaksamaan tujuan, namun disini  saya  akan mencoba melirik sebuah  persfektif  (persefektif karakter dalam cerita)  bahwa  didalam cerita film ini terdiri dari tiga karakter tokoh yang berbeda yang meskipun  berlatar pada  berbagai kesamaan, seperti;  status gender yang sama, status lingkungan dan akidah yang sama.
Dalam penguraian  teks diatas, saya mengemukakan kata kunci, yaitu perbedaan yang didasari atas karakter masing masing tokoh (Rasa, Siti dan Cut). Dan  dari ketiga perbedaan teks karakter tersebut,  akan saya jadikan acuan untuk membentuk sebuah konsep dan treatment, khususnya dalam area kerja seorang Sinematografer
Berbicara tentang area kerja seorang Sinematografer, maka kita berada dalam area Syle sebuah film. Style disini bisa diartikan sebagai teknik filmaker dalam memberi makna dalam filmnya. Disinilah peran mise en scene dalam sebuah teks  film untuk dikreate sehingga mampu memberi makna bagi penonton film ataupun bagi naratif film.

II)  Analisa Skenario
Dalam skenario ini secara konkrit menghadirkan latar kejadian yang real,  disebuah  pemukiman dimana ketiga tokoh, Siti, Rasa dan Cut berinteraksi  secara sosial dengan konflik masing masing yang melandasi plot penceritaan.  Dari persfektif  sinematografi, penonton film  akan diarahkan untuk berada dalam tiap tiap situasi masing masing karakter tokoh. Telah disebutkan pada bab sinematografer steatment, bahwa kata kunci ‘teks perbedaan karakter tokoh’  dan interaksinya menjadi benang merah sinemtografer untuk dikonversi kedalam pembentukan style film.
Dan sebagai Penata Fotografi dalam film ini dihadapkan pada bagaimana menciptakan asimilasi look dan mood yang sesuai dengan kejadian tersebut kedalam nuansa penceritaan didalam film. Dan pandangan Penata Fotografi dalam skenario ini adalah:

-          Dari analisa karakter tokoh Rasa  menjabarkan sosok yang ambivert yang ingin mengetahui banyak hal, karakter yang bimbang dengan logika pemikiran yang kuat. Phase look warna pada karakter Rasa akan dikemas pada suhu warna yang sedang (3500-4500 K) yang berarti berkesan hijau yang tidak pekat.

-          Dari analisa karakter Siti,  menjabarkan sosok yang melankolis, introvert,  dari penjabaran ini look yang ingin ditampilkan agar sesuai dengan karakter tokoh  adalah  warna warna dengan suhu rendah, oleh karena secara psikologis suhu warna tersebut mampu menghantarkan mood seperti pada karakter Siti.

-          Tokoh Cut dari film ini adalah karakter yang rigid (kaku) trauma akan masa lalu, corak yang akan kami berikan pada karakter ini adalah warna warna dingin, sehingga efek yang diberikan melalui look semacam ini bisa sesuai dengan mood yang ingin dicapai

Dari penjabaran analisa karakter diatas, elemen sinematografi  telah memberikan berbagai corak dari ketiga karakter didalam film ini. Begitupun dengan elemen elemen yang lain dalam sinematografi, seperti; komposisi, angle, tata cahaya, dsb, akan tetap mengaplikasikan karakter tokoh sebagai pemicu dalam menata mise en scene di film ini.  Dan untuk lebih detilnya akan kami paparkan pada BAB 4 ‘Treatment Visual’.

III.  Konsep Visual Mise en scene
Sederhananya  Sinematografer ingin membuat formula dimana  visual atau gambar mengikuti konstruksi cerita, bahwa   style mise en scene akan menunjang atau mengikuti   bentuk teks naratif, agar tidak saling tindih dan  berdiri sendiri.
Dari teks cerita film ‘Suara Ilalang’  berbicara tentang keseharian Tiga orang tokohnya ditahun 2009, dari bentuk ini,  maka secara garis besar konsep style akan kami bagi tiga elemen secara garis besar (sesuai dengan karakter tiga tokoh), ketiga bentuk inilah yang nantinya akan dibuat

0 komentar:

Poskan Komentar