Teori Film

Rabu, 22 Juni 2011

Charel Umam dalam Statistik (cerita 1)

“Analisis Style Film-Film Chaerul Umam”
(Sebuah Pendekatan Statistik)



BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang


Berbicara tentang sejarah film sulit untuk tidak terlepas dari pembahasan perkembangan teknologi dan gaya/style film dari masa ke masa. Sejak berhasil membuat film bisu pertama di tahun 1926 dengan judul ‘Loetoeng Kasaroeng’ bisa dikatakan Indonesia mulai melek bisnis cinema meski ditahun-tahun awal kondisi film tidak sekomersil saat ini. Peralatan yang digunakanpun hasil rakitan dua orang peranakan Belanda yang tinggal dan membuka bisnis di Bandung, L. Heuveldirp dan G. Krungers.





Tahun 1929, Indonesia untuk pertama kalinya diperkenalkan dengan film bersuara, meski kebanyakan film-film yang diputar di bioskop-bioskop adalah film import yang sebagian besar berasal dari Amerika. Dua tahun kemudian dengan peralatan seadanya, Indonesia berhasil membuat film bersuara pertama di negara Asia. Meski dengan hasl yang masih jauh dari harapan, tapi film ‘Nyai Dasima’ (Jakarta, 1931) dan ‘Zuszter Theresia’ (Bandung, 1932) cukup menarik perhatian masyarakat lokal. Dengan masuknya suara kedalam film memberikan dampak yang cukup besar kepada para penonton serta produser film. Hal itu disebabkan belum adanya penerjemah kata asing dalam film dengan bantuan teks, hingga film Indonesia lebih bisa diterima penonton kita. Penonton jadi lebih tertarik pada film buatan dalam negeri, meski suaranya sedikit berisik. Walau film produk dalam negeri banyak diminati penonton, akan tetapi belum memberi keuntungan yang memadai. Kalaupun ada untung, itupun pendapatannya baru sebatas untuk menutup biaya produksi.



Sejak saat itu bisnis perfilman banyak dilirik terutama oleh para pengusaha Tionghoa (China), bisa dikatakan merekalah yang memperkenalkan budaya nonton bioskop kepada pribumi dengan banyak mengimpor film-film asal China dan Amerika. Dengan motivasi komersil orang-orang cina ini kemudian memproduksi sendiri film-film yang ceritanya banyak diangkat dari sejarah dan budaya leluhur mereka, salah satunya adalah “Lily of Java” yang nyaris semua pemerannya adalah keturunan Tionghoa. Mereka juga yang pertama menampilkan teks berbahasa Melayu dalam filmnya. Tan & Wong Bros Co. merupakan perusahaan film pertama yang mengerjakan film bersuara ditahun 1930-an secara komersil. Keberhasilannya kemudian diikuti oleh perusahaan-perusahaan lain.
Film pertama yang menggunakan bahasa Melayu sepanjang ceritanya diperkenalkan oleh Mannus Franken, seorang dengan kebangsaan Belanda yang memproduksi film ‘Pareh’
(1935)




yang cukup banyak menyedot perhatian orang-orang Belanda saat itu karena bercerita tentang kehidupan sehari-hari rakyat pribumi. Kemudian bermunculanlah film-film yang mengangkat tema seputar pribumi dan tentu saja film-film impor asal Amerika yang juga banyak diminati memberi pengaruh dalam cerita. Banyak film yang diproduksi pada masa itu yang mengadaptasi cerita-cerita film-film Hollywood seperti ‘Alang-Alang dan Putri Rimba’ yang merupakan ciplakan dari film “Tarzan and The Jungle Princess’ dimainkan oleh Dorothy Lamour.


Kesuksesan film ‘Terang Boelan’ (1937) telah merubah target para produser cina dalam memproduksi filmnya yang awalnya ditujukan untuk para turunan Tionghoa dan orang-orang Belanda kini menyasar kelompok-kelompok pribumi.


Meski produksi film Indonesia atau lebih tepat disebut film yang diproduksi di Indonesia pada mulanya dikuasai oleh orang-orang Belanda dan China , film ‘Terang Bulan’ mungkin adalah film pertama yang dibuat oleh anak bangsa sendiri walaupun ANIF, perusahaan yang membuatnya menggunakan modal dari pemerintah Hindia Belanda. Film yang disutradarai Saerun-seorang jurnalis terkemuka dan aktornya diperankan oleh Raden Mochtar Oekiah, ET. Effendi, Tjitjih, Muhin dan Kartolo ini bercerita tentang percintaan Kasim dan Rohaya yang tidak direstui orang tua Rohaya yang seorang pendeta. Rohaya kemudian dijodohkan dengan Kasim, seorang penyelundup candu. Film inilah yang mungkin memiliki taste dan style ala Indonesia. Terang Boelan juga merupakan film laris pertama yang dijual ke RKO Singapura dan berhasil meraup penghasilan S$.200.000dalam dua bulan peredarannya . Sejak saat itu bermunculanlah film-film yang mengangkat nuansa lokal Indonesia seperti Fatimah (1938), Oh Iboe (1938), Tjiandjoer (1938), Impian di Bali (1939), dan Siti Akbari (1939). Sepanjang tahun 1940 sampai dengan 1941 mulailah muncul “action” dalam film Indonesia seperti Kedok Ketauan (1940), Kris Mataram (1940), Matjan Berbisik (1940), Pak Wongso Pendekar Boediman (1940), Rentjong Atjeh (1940), Boejoekan Iblis (1941), Elang Darat (1941), Garoeda Mas (1941), Lintah Darat (1941), Matula (1941), Pak Wongso Tersangka (1941), Poesaka Terpendam (1941), Singa Laoet (1941), Srigala Item (1941), Tengkorak Hidoep (1941), ditutup dengan munculnya film Tjioeng Wanara (1941).


Beberapa waktu sebelum pecahnya perang Pasifik, sebuah film berjudul “Kartinah” (1940) diproduksi. Film ini berbeda dari film sebelumnya karena telah memperlihatkan adegan serangan udara dan penggunaan lain dari peralatan perang terbaru. Pada masa itu, Indonesia yang masih bernama Hindia Belanda memang tengah bersiaga dalam menghadapi serangan Jepang . Sang sutradara film “Kartinah” Andjar Asmara, berusaha mencuri perhatian publik dengan memunculkan situasi mencekam yang dialami kota-kota di Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda.


Masa pendudukan Jepang hingga era kemerdekaan, film indonesia diwarnai dengan cerita-cerita kolosal yang bertemakan perjuangan. Produksi film-film tersebut juga tidak lepas dari kontrol penguasa Jepang seperti Tjioeng Wanara (1941), Berjoeang (1943), Di Desa (1943), Di Muara (1943), Djatoeh Berkait (1944), Gelombang (1944), Hoejan (1944), serta Koeli dan Romoesa (1944). Semua film itu diproduksi dalam rangka propaganda Dai Nippon di Asia.


Pasca perang pasifik tahun 1945 yang memukul mundur pasukan Jepang dari tanah air, wajah perfilman Indonesiapun ikut berubah. Pada era kemerdekaan ini banyak bermunculan film-film mengangkat romantisme sebagai tema sentralnya. Sebut saja Anggrek Bulan (1948), Bengawan Solo (1949), Gadis Desa (1949), Harta Karun (1949), Menanti Kasih (1949), Saputangan (1949), Sehidup Semati (1949), dan Tjitra (1949). Film-film dengan judul-judul indah dan cerita yang mengangkat percintaan menjadi primadona di era kemerdekaan hingga tahun 1950-an. Bisa dikatakan pada era tersebutlah perfilman Indonesia mencapai puncak kejayaannya ditandai dengan shooting hari pertama film ‘Long Marc’ pada 30 Maret 1950 oleh Usmar Ismail yang selanjutnya ditetapkan sebagai hari film nasional oleh Dewan Film Nasional.







Ada sekitar 250 judul film yang diproduksi dasawarsa tersebut. Puncak produksi film indonesia terdapat pada periode tahun 1960-1970an, dalam periode ini sekitar 630 film diproduksi itu berarti dalam 10 tahun tersebut paling tidak ada 52 judul yang diproduksi setiap tahunnya dengan judul dan cerita yang lebih beragam dibanding tahun-tahun sebelumnya.


Selanjutnya kondisi perfilman kita sedikit demi sedikit mengalami kemunduran. Ini terkait kondisi sosial politik saat itu. Kejatuhan Soekarno yang menjadi titik awal tegaknya rezim orde baru membuat pengawasan terhadap film-film yang beredar semakin ketat. Sebelumnya selain kisah-kisah romantis, cerita tentang perjuangan kemerdekaan juga menjadi idola di layar perak. Tahun 70-80an merupakan masa di mana pengawasan terhadap kreativitas cenderung diperketat, namun secara tematik menghadirkan lebih banyak warna. Selain kisah percintaan, masa ini juga mulai bermunculan tema-tema yang menyerempet horor/mistis dan seks seperti Lantai Berdarah (1971), Dendam Si Anak Haram (1972), Pemburu Mayat (1972), Simanis Jembatan Antjol (1973), Kuntilanak (1974), menariknya pada masa yang sama juga hadir tema-tema yang mengangkat kehidupan spiritual/agamis meski tercatat hanya tiga film yang dua diantaranya disutradarai oleh Chaerul Umam yaitu Al Kautsar (1977) dan Titian Serambut Dibelah Tujuah (1982), sedang Panggilan Ka’bah (1977) merupakan film dokumenter dengan judul asli Menuju Tanah Suci.







Menariknya, meski berada di tengah tema-tema yang monoton film-film religi karya Chaerul sempat menyabet beberapa penghargaan yang cukup bergengsi di dunia perfilman, antaranya Film Al Kautsar meraih The Best Sound Recording dan The Best Social Cultural Film pada Festival Film Asia, Bangkok (1977) dan memenangkan kategori skenario dan sutradara terbaik Festival Film Indonesia ke-XIV tahun 1983.
Periode selanjutnya 1990-2000 industri perfilman kita mengalami kemunduran. Diakui saat itu Departemen Penerangan bahwa industri perfilman mengalami kelesuan. Beberapa disebabkan oleh krisis ekonomi yang melanda indonesia dipertengahan tahun 1990-an, tapi yang paling berpengaruh adalah hadirnya televisi swasta dan hadirnya jaringan bioskop raksasa yang lebih dikenal dengan jaringan ‘21’ ini akhirnya membunuh bioskop-bioskop lokal yang berada di daerah-daerah kabupaten. Periode ini dikenal sebagai masa dimana perfilman dalam negeri mengalami mati suri. Meski dikatakan sedang mati suri, dari penelusuran katalog film indonesia 1926-2005 menemukan setidaknya ada 88 film yang lolos sensor dalam periode 1995-1997 namun tidak pernah diputar di bioskop. Selanjutnya peran-peran biosko digantikan oleh televisi yang hadir di hampir setiap rumah dan VCD-DVD film impor bajakan. Ditahun 1997-2004 beberapa sutradara senior yang kariernya sempat berkibar tahun 80-an mencoba membangkitkan kembali perfilman bangsa seperti Slamet Rahardjo dengan filmnya ‘Telegram’ (1997) dan ‘Marsinah’ (2000) juga Bobby Sandy dengan film ‘Anne van Jogja’ (2004), tapi sayang karya-karya mereka kurang diminati atau dengan kata lain bahasa film yang mereka berikan tidak nyambung lagi dengan penonton yang sudah terlanjur tebiasa dengan film-film impor asal Amerika atau Hongkong.
Tapi tidak bisa juga dikatakan bahwa sutradara tahun 70-80an merupakan generasi yang ‘ketinggalan’. Terbukti Chaerul Umam meraup 3 juta penonton pada Ketika Cinta Bertasbih I (2009) dan 1,5juta pada Ketika Cinta Bertasbis II (2010). Padahal sebelumnya, di saat perfilaman nasional mengalami kelesuan Chaerul sempat mengerjakan beberapa proyek sinetron di televisi swasta seperti diantaranya ‘Jalan Lain ke Sana’, ‘Jalan Takwa’, ‘Astagfirullah’, dan ‘Maha Kasih’. Perbedaan atmosfer dua zaman yang berbeda berhasil dilewati Chaerul sepertinya dengan jalan yang mulus-mulus saja. Sutradara yang dikenal konsisten pada film-film bertema religi ini sepanjang pengamatan penulis merupakan satu-satunya sutradara dua zaman yang berhasil menggaeat pasar untuk karya-karyanya.



Menarik untuk diamati bahwa film-film yang diproduksi pada zaman yang berbeda pastilah memiliki karakteristik/ style yang berbeda pula. Sebab film merupakan cerminan kehidupan sosial yang nyata diluar sana. Kualitas dan penampilan sebuah film juga dipengaruhi oleh teknologi-teknologi pembuatan film yang semakin lama semakin berkembang. Selain itu setiap sutradara pun berperan memberikan taste sesuai dengan stylenya masing-masing. Lalu bagaimana dengan style film-film yang disutradarai satu orang namun berbeda zaman? Adakah perbedaan didalamnya, tentu saja dengan menyingkirkan peran teknologi canggih yang membuat kualitas tampilan film lebih baik.



Pertanyaan-pertanyaan diatas membuat penulis merasa tertantang untuk meneliti style film-film dari dua zaman yang berbeda namun dengan sutradara yang sama. Film-film Chaerul Umam, menurut hemat penulis sangat cocok untuk menjadi objek dalam penelitian penulis kali ini mengingat setiap periode yang dilewatinya sejak tahun 1970-2000an bisa dikatakan berhasil menelurkan film-film dengan kualitas yang mumpuni baik dari segi komersil maupun ideologis. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk menjadikan film-film Chaerul Umam sebagai bahan penelitian dengan judul;
“Analisis Style Film-Film Chaerul Umam”
(sebuah pendekatan statistik)



1.2. Ruang Lingkup Penelitian
Agar penelitian ini lebih fokus maka penulis akan membatasi materi yang akan diteliti. Pada penelitian kali ini akan fokus pada style film Cherul Umam dengan menggunakan analysis style yang diperkenalkan oleh Barry Salt. Dalam hal ini teori yang digunakan untuk membongkar apa yang dimiliki sebuah film dengan kata lain film merupakan objek yang dapat teliti isi/contennya secara empiris.
Berakar dari paradigma kritis, teori ini digunakan untuk menilai objek atau realitas yang tidak dapat dilihat secara benar oleh pengamatan manusia. Mengutip apa yang dikatakan Victor Perkins dalam bukunya:
'My standard for good criticism is not that I agree with it but that it tells me something I haven't noticed about a film, even if I've seen it a number of times.'
Secara umum teori Barry menggunakan unsur Mise-en-scene dalam hubungannya antara style dan tema sebuah film. Teori ini juga membantah asumsi bahwa tampilan scene dalam sebuah film (gerakan kamera, tata cahaya, dll) hanya keperluan estetika semata. Simbolisme dalam sebuah adegan menjadi penting, disadari atau tidak oleh penonton simbolisme ini menjadi pengikat tiap-tiap scene dan menghubungkannya menjadi suatu cerita yang utuh.
Seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa analisis style Barry Salt menggunakan pendekatan penelitian kuantitaif dimana unsur-unsur Mise-en-scene dalam film dihitung menggunakan skala statistik, sehingga teori-teori diluar itu seperti teori author, teori gendre, psikoanalisis, naratif, dll akan penulis gunakan sebagai data sekunder untuk mendukung hasil-hasil penelitian.
Dalam penelitian kali ini akan terdapat beberapa istilah-istilah yang akan digunakan untuk memudahkan penelitan. Istilah-istilah tersebut antara lain :
No Istilah Definisi

1.









2.
3.

4.
5.
Film









Shot Length
Scene

Scale of Shot
Camera Movement
karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan/atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau ditayangkan dengan sistem Proyeksi mekanik, eletronik, dan/atau lainnya (UU 8/1992)
Waktu yang dibutuhkan dalam satu shot/adegan
Adegan dalam film atau bagian babak dalam lakon sebuah film
Skala/ tipe shot dalam pengambilan setiap shot/adegan.
Aplikasi kamera dalam pengambilan adegan




1.3. Signifikansi Penelitian
Selama ini kita diperkenalkan pada penelitian film dengan menggunakan pendekatan kualitatif seperti teori naratif, semiotika, psichoanalysis dll. Penelitian kualitatif dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistic-kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci.
Karena menempatkan penulis/peneliti sebagai instrumen utama, maka penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna yang bersifat subjektif lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Sayangnya hasil penelitian kualitatif tidak dapat diterapkan secara holistik (menyeluruh) atau tidak dapat digeneralisir untuk kepentingan penelitian yang lainnya sebab metode ini tidak bertitik tolak dari sampel.
Sebagai sebuah disiplin ilmu, analisis film sebenarnya dapat menerapkan kedua metodelogi diatas. Namun sayang ranah metodelogi kuantitatif kurang disentuh dan diminati sebagai salah satu instrumen penelitian dalam cinema .
Karenanya penulis memiliki ketertarikan melakukan penelitian film dengan menggunakan metodelogi kuantitatif. Dimana sampel yang digunakan merupakan film-film yang telah disepakati sebelumnya. Hal ini juga diharapkan dapat memberikan alternatif lain dalam penelitian film yang selama ini didominasi oleh metodelogi kualitatif baik yang bersifat naratif, psikoanalisa ataupun semiotika.



1.4. Tujuan Penelitian
Dari uraian sebelumnya, maka penulis ingin menyajikan style/karakteristik film Chaerul Umam pada setiap masa kariernya sebabgai sutradara terhitung sejak tahun 1997-2010. Karakteristik ini akan didapatkan dari pengambilan dan penghitungan elemen elemen style dalam film sampel yang diambil oleh penulis yang dapat dikatakan mewakili zaman dimana film tersebut diproduksi.
Selanjutnya hasil-hasil tersebut akan dipersentasekan untuk lebih lanjut digeneralisir sebagai style atau karakter film Chaerul Umam. Kalaupun terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara film-film pada masa yang berbeda, maka tugas penulis selanjutnya akan meneliti penyebab peredaan tersebut lahir dari catatan sejarah baik kondisi sosial, politik, dan ekonomi stiap film-film yang diteliti.




1.5. Metodelogi Penelitian
A. Rancangan penelitian
Untuk mengetahui style Chaerul Umam dalam film-filmnya, penulis melakukan penelitian dengan cara mencari literatur film-film Chairul Umam pada periode masa tahun 1977-2009. Setelah itu penulis mengumpulkan artikel-artikel yang membahas tentang film karya Chaerul Umam pada khususnya sebagai hipotesa yang hendak penulis buktikan pada penelitian kali ini.
Selanjutnya data-data tersebut tersebut penulis pisahkan dan mengambil dua judul masing-masing film yang diproduksi pada masa yang berbeda yaitu tahun 1970-1980 dan tahun 1990-2000an sebagai bahan/sampel yang akan penulis bongkar dan sesuaikan dengan hipotesa yang telah terkumpul.
B. Subjek Penelitian (Populasi dan Sampel)
Populasi merupakan keseluruh elemen, atau unit elementer, atau unit penelitian, atau unit analisis yang memiliki karakteristik tertentu yang dijadikan sebagai objek penelitian. Pengertian populasi tidak hanya berkenaan dengan ”siapa” tetapi juga berkenaan dengan apa. Istilah elemen, unit elementer, unit penelitian, atau unit analisis yang terdapat pada batasan populasi di atas merujuk pada ”siapa” yang akan diteliti atau unit di mana pengukuran dan inferensi akan dilakukan (individu, kelompok, atau organisasi), sedang penggunaan kata karakteristik merujuk pada ”apa” yang akan diteliti. ”Apa” yang diteliti tidak hanya merujuk pada isi, yaitu ”data apa” tetapi juga merujuk pada cakupan (scope) dan juga waktu.
Berdasarkan penelusuran telah dilakukan, dalam Katalog Film indonesia 1926-2005 penulis menemukan 13 film karya chaerul umam yang dibuat pada periode 1970-1980an. Penulis juga menemukan 2 film yang diproduksi periode tahun 1990-2000an jadi total film Caherul yang telah diproduksi adalah 15 film. Maka 15 film ini selanjutnya akan disebut sebagai populasi dalam penelitian ini. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah :
1. Tiga Sekawan (1975)
2. Al Kautsar (1977)
3. Cinta Putih {1977)
4. Sepasang Merpati (1979)
5. Fatahillah (1997)
6. Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982)
7. Hati yang Perawan (1984)
8. Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986)
9. Bintang Kejora (1986)
10. Joe Turun ke Desa (1989)
11. Nada dan Dakwah (1992)
12. Ramadhan dan Ramona (1992)
13. Keluarga Markum
14. Ketika Cinta Bertasbih I (2009)
15. Ketika Cinta Bertasbih II (2010)
Selanjutnya, dari ke-15 populasi yang telah ditemukan selanjutnya penulis menentukan sampel yang akan digunakan sebagai objek penelitian. Untuk itu penulis menggunakan metode penarikan sampel acak setelah sebelumnya memisahkan film-film sesuai tahun produksinya. Penarikan sampel dapat ditunjukkan pada gambar berikut :







dari sini, selanjutnya penulis memilih masing-masing dua film pada masa yang berbeda untuk dapat di bandingkan karakteristiknya. Dua film tersebut ditarik sesuai asumsi penulis bahwa keduanya memiliki gendre yang sama yaitu religi serta sama-sama meneguk sukses pada masanya masing-masing. Adapun film-film yang menjadi bahan penelitian ini adalah
Al Kautsar (1977)
Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982) Ketika Cinta Bertasbih (2009)
Ketika Cinta Bertasbih 2 (2010)

C. Pengumpulan Data
Penelitian ini akan memakan waktu sekitar enam bulan untuk merampungkan data serta menganalisis data-data yang telah dikumpulkan.

D. Analisis Data
Adapun analisis data yang digunakan akan mengadaptasi Statistical Style Analysis of Motion Picture Style yang diperkenalkan oleh Barry salt. Ide dasar dibalik metode ini adalah analisis gaya statistik, bahwa setiap bentuk film terasa berbeda dari satu ke yang lain, metode semacam ini memberikan berbagai dinamika variable yang berfungsi untuk mendeteksi atau membuktikan apakah konsep yang ada dalam pembuat film benar benar dituangkan kedalam filmnya. Artinya semua bentuk didalam film adalah design.
Selain hal tersebut metode ini bertujuan sebagai komparasi terhadap satu film dengan film lainnya. Menurutnya, film tidak hanya terpaku pada persoalan naratif, karena ada bagian bagian yang jelas lebih konkrit yang bisa dijadikan ‘barang bukti’ untuk menginterpretasikan sebuah pemahaman akan makna film. Perbedaannya hanyalah pada analisis Barry digunakan untuk menganalisis karakter sutradara film maka pada penelitian kali ini penulis akan meneliti karakter filmnya.

1.8. Sistematika Penulisan
Skripsi ini akan ditulis dengan sistematika sebagai berikut:
- Judul Skripsi
- Lembar Pengesahan
- Prakata
- Daftar Isi

BAB I. PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang persoalan, rumusan masalah, signifikansi, tujuan dan sistematika penelitian. Dalam bab ini pula dibahas tentang informasi-informasi dasar tentang film-film Chaerul Umam serta tulisan tentang fokus penelitian yang diambil dalam skripsi ini.

BAB II. KERANGKA TEORI
Bab ini membahas tentang teori dan pisau analisis yang akan digunakan lebih lanjut untuk penelitian yang diinginkan. Terutama teori-teori yang berkaitan dengan analysis style dan latar belakang hadirnya teori tersebut dalam penelitian film.

BAB III. ANALIS STYLE FILM CHAERUL UMAM
Bab ini akan berkonsentrasi pada analisis style film-film Chaerul Umam melalui unsur-unsur Mise-en-scene antara lain Shot Length, Komposisi, Camera Movement, dan Durasi masing-masing film sampel.
BAB IV. KARAKTERISTI FILM CHAERUL UMAM
Bab ini akan membahas lebih lanjut hasil-hasil analisis bab sebelumnya serta melakukan interpretasi terhadap data-data yang telah dihasilkan dari penelitian sebelumnya.

BAB V. KESIMPULAN
Kesimpulan akan berisi hal-hal yang dianggap penting yang telah menjadi hasil dari penelitian ini. Selain itu, bab ini juga akan mencakup pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab melalui penelitian yang dilakukan dan yang akan menjadi sarana bagi penelitian-penelitian baru dimasa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

0 komentar:

Poskan Komentar