Teori Film

Selasa, 28 Juni 2011

MISE EN SCENE ??? Stylometry (alat untuk mengukur mise enscene)


Sepintas literatur mengenai kritik mise en scene berarti sebuah pandangan luas tentang ‘ apa itu mise en scene’, generalnya, hal ini dimaknai sebagai sebuah study atas relasi antara subjet matter dan style ( the relation between what and how). Contoh, kritik mise en scene fokus pada relasi antara penggunaan ‘cut’ terhadap kesinambungan sebuah shot dengan aksi dan dialog. Labih spesifik lagi, kritik mise en scene mempelajari sebuah relasi antara aktor dan set atau background dan foreground.
Jacque Joly mempertanyakan mise en scene jika kita tidak lagi berbicara tentang karakter dan set? (Joly, quoted in Hillier 1986:22). 


Pada level yang lebih abstract, kritik mise en scene mungkin fokus pada bodi dan gestur dalam ruang (abstraksi ruang) dan pergerakan aktor dan object dalam sebuah gerakan atau posisi diam.
Michel Mourlet memahami mise en scene dengan cara lebih abstract, sebagai interaksi yang saling mempengaruhi antara cahaya dan bayangan, permukaan dan garis dalam posisi gerak atau diam. Hal ini bisa dikatakan sebagai energi misterius yang menopang elemen elemen didalamnya (cahaya, bayangan, suara, dsb) disebut mise en scene. Mise en scene bekerja dengan mengatur perhatian kita, seakan tiada layar didepan kita, tiada lain itulah mise en scene. Dia juga menambahkan bahwa mise en scene consists of ‘an incantation of gesture, looks, tiny movements of the face and the body, vocal invlections, in the bosom of a universe of sparkling objects’, (Mourlet, quoted in Hillier 1986: 117).
Kontrasnya konsensus ini memunculkan ketidaksepakatan. Dalam teater mise en scene merujuk pada ‘apa yang muncul didepan kamera’ terhadap kejadian filmic, bukan kepada produsen yang merefleksikan peristiwa kedalam film, tetapi kebanyakan kritikus menilai mise en scene mengacu pada kedua pemahaman tersebut, ‘apa yang di filmkan dan bagaimana ia difilmkan’ what is filmed and to how its filmed.

Untuk menghindari cara pandang tentang 'apa dan bagaimana', Eisenstein menciptakan istilah "mise en shot': untuk menunjukankekhasan’ yang berkaitan dengan mise en scene dalam sinematografi.

Eisenstein: Saya ingin memperkenalkan istilah khusus yang tidak ada dalam film praktek hingga sekarang, jika mise en scene diartikan berkaitan pementasan di panggung, penataan panggung, maka pementasan/ penataan shot bisa disebut sebagai mise en shot (enistein, dikutip di Nizhny 1962: 139).

Namun para akademisi film belum menyesuaikan istilah baru Eisenstein tersebut, dengan pengecualian Vlada Petric (lihat Petric 1982). Dalam bab ini kita akan menggunakan istilah mise en scene dalam definisi yang lebih luas, untuk merujuk antara subject matter dan film style –atau yang lebih penting keterkaitan keduanya.
Kritik mise en scene adalah pendekatan pertama dalam bab ini. Kita seharusnya menandai kunci strategies dimana kritik mise en scene bekerja dalam analisis film dan menerapkan strategi ini (pada keseluruhan frame yang sama) studi kasus ‘The English Patient’ Anthony Minghella.

Metode kedua yang akan dipresentasikan adalah Statistical Style Anlysis yang juga dikenal dengan Stylometry. Fungsi statististik adalah untuk menjumlah atau mengukur data, kemudian representasi dari data tersebut merupakan dasar aturan yang tetap. Dalam analisa literatur teks film statitistik digunakan dalam untuk menganalisa atau lebih tepatnya mengukur-style. Sumbangsih statitistik dinilai tak lebih proses dehumanisasi, dinilai kurang mampu menghadirkan unsur unsur humanis karena mengurangi ‘pengalaman film’ atau menjadikan hal tersebut kedalam urutan angka angka, grafik atau tabel. Film style tidaklah segampang dianalisis hanya dengan analisa statistik, dengan mencari data yang tepat untuk diukur, tepat dan releven, hal ini bisa menjadi kendala yang tepat mendeskreditkan film style.

Merujuk komentar Eisenstein dalam mise en shot, hal ini menjadi lebih jelas kalau style dapat diidentifikasi dan diukur melalui parameter shot, terutama yang berada dibahwah kendali sutradara. Tidak banyak dari akademisi film yang melakukan hal ini. Adalah Barry Salt (1974; 1992) telah mengulas style film dengan menggunakan software komputer dan menunujukkan hasilnya secara visual dan angka dengan hasil yang lebih jelas, sistematis dan penelitian analisis style akan melampaui kritik mise en scene, dengan maksud lebih selektif dan subjektif.. sebagian pembaca mungkin menemukan analisis statistik terlalu kecil dan abstrak atau terlalu abstrak dari pengamatan atau pengalaman menonton film, tapi seperti sebuah analisa film yang menghasilkan informasi yang tidak terduga yang tidak diperoleh secara sederhana dengan menonton film. Selanjutnya, seperti yang dibahas sebelumnya bahwa dari sekian banyak teori yang bisa diterapkan kedalam film. Seperti teori yang lainnya, stylometry memiliki metode tersendiri yang menghasilkan informasi tersendiri dalam menganalisa film. (bersambung)

Resume;
Stylometry dianggap tidak ‘humanis’ sebab mereduksi pengalaman pengalaman manusiawi kedalam variable angka, grafik dan tabel semata, tetapi untuk mengkaji style sebuah film tidaklah sesederhana hanya dengan menonton film tersebut.

sumber:
Mise en scene criticism and statical style analysis. (The english Patient) BAB #3

0 komentar:

Poskan Komentar