Teori Film

Rabu, 30 Maret 2011

Analisa Film dengan Statistik Metode Kuantitatif

Analisis Style Film Religius Pasca Orde Baru”
Sebuah Pendekatan Statistik Terhadap Film-Film Chairul Umam


BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
Film religi merupakan sub genre dari film drama yang mengangkat agama sebagai tema centre-nya. Pada dunia perfilman Indonesia, film religi juga sering disamakan dengan film dakwah sebab dalam penyelesaian persoalan selalu disesuaikan dengan nilai-nilai agama tertentu dan tentu saja hanya ada satu agama yang akhirnya tegak/benar.



Sehingga tidak mengherankan film-film religi yang marak diputar saat ini kental dengan adegan-adegan yang berbau fiqih seperti tokoh utama perempuan pasti menggunakan kerudung. Meski belum ada definisi yang baku mengenai film religi maupun film dakwah secara garis besar dapat diambil kesimpulan sementara bahwa film religi merupakan film yang menampilkan nilai-nilai dan simbol-simbol tertentu dalam satu agama sebagai latar cerita.

Tema agama yang diangkat dalam film kembali diperkenalkan tahun 2003 melalui film ‘Kiamat Sudah Dekat’ yang disutradarai oleh Dedy Mizwar setelah sebelumnya perfilman Indonesia dikuasai oleh film-film bertema horor dan percintaan remaja. Meski kurang sukses di pasaran, film ini menjadi tonggak awal film-film religi bermunculan. Paska film ayat-ayat cinta menembus ‘box ofice’ Indonesia dan di tonton sekitar 3juta penonton di tahun 2008 menjadikan film religi memiliki pangsa pasarnya sendiri dengan nilai komersil yang menggiurkan. Sejak saat itu banyak film bertema serupa diproduksi dengan harapan dapat mengikuti kesuksesan ‘Ayat-Ayat Cinta’.


Tumbuh suburnya film-film bertemakan agama atau film religi tersebut tidak terlapas dari lengsernya Soeharto sebagai pemimpin tertinggi pemerintahan orde baru. Pada masa orde baru, dimana stabilitas negara menjadi basis ideologinya menerapkan pengawasan yang sangat ketat terhadap isu-isu yang dapat menggoyang stabilitas –pemerintah- yang ada. Agama menjadi salah satu isu yang sangat sensitif pada masa itu, selain persoalan suku, ras, dan antar golongan yang lebih dikenal dengan SARA.

Isu-isu yang menyangkut persoalan SARA mendapat pengawasan yang ketat dari pihak pemerintah melalui menteri penerangan sampai dengan badan intelejen negara termasuk film. Tidak mengherankan banyak film dalam masa itu mendapat potongan sensor berkali-kali dari Badan Sensor Film (BSF) tidak jarang pula LSF mewajibkan mengganti judul-judul film yang dianggap tidak sesuai dengan ideologi negara ataupun norma susila masyarakat.

Tidak sedikit pula film yang dianggap berbahaya mendapat cekal dari pemerintah baik film dari dalam negri maupun luar negri. Beberapa film seperti Bandot Tua (1978) berubah judul menjadi Cinta Biru karena dianggap berkonotasi negatif, Kanan Kiri OK (1989) berubah judul menjadi kiri kanan OK karena kata kiri lekat dengan komunis, bahkan film Yang Muda Yang Bercinta (1977) tidak pernah tayang karena dianggap mengakomodasi teori revolusi dan kontradiksi dari paham komunis.


Dengan ketatnya pengawasan yang diberikan pemerintah orde baru tidak mengherankan film-film bernuansa agama sangat minim diproduksi apalagi sampai mendapat izin tayang dari departemen penerangan. Bahkan diera tersebut istilah film religi sangat asing, terang saja sebab film horor dan drama ‘bupati’ singkatan buka paha tinggi-tinggi istilah yang diberikan untuk film yang kental berbau seks merajai bioskop-bioskop. Kalaupun simbol-simbol agama dilibatkan pada cerita selalu terinterpretasi dalam bentuk mistis, seperti di akhir film selalu muncul tokoh kyai bersorban putih dengan memutar-mutar tasbihnya dan hantu dalam filmpun menghilang.


Membahas tentang film religi tidak bisa lepas dari nama Chaerul Umam. Jauh sebelum para pekerja film menyadari pangsa pasar film bernafaskan Islam, melihat secara administrasi mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, ia telah menggarap beberapa film bernafaskan Islam sejak tahun 1970-an -1980an. Bahkan film garapannya ‘Al Kautsar’ (1977) mencatatkan sukses pertama film religi dipanggung perfilman Indonesia dengan meraih Film Al Kautsar meraih The Best Sound Recording dan The Best Social Cultural Film pada Festival Film Asia, Bangkok (1977). Bahkan belakangan film yang dibintangi alm.WS Rendara ini dikatakan sebagai film yang menggambarkan dakwah Islam secara utuh bersama dengan film religi lainnya yang berjudul Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982) yang memenangkan kategori skenario dan sutradara terbaik Festival Film Indonesia ke-XIV tahun 1983.


Ditengah ketatnya pengawasan pemerintah orde baru melalui Badan Sensor Film (BSF) Chaerul sukses menelurkan beberapa film bertema agama, filmnya yang berhudul Titian Serambut Dibelah Tujuh sempat menuai kritik sebab secara tersirat telah mengangkat kehidupan homoseksual kedalam filmnya. Pria kelahiran Tegal, 4 April 1943 ini juga termasuk sutradara yang mampu survive ditengah gempuran sinema elektronik (sinetron) yang menyebabkan mati surinya perfilman kita. Tahun 1990-an produksi film Indonesia sangat minim bahkan dapat dihitung jari, disaat yang sama Festival Film Indonesia (FFI) otomatis mengalami mati suri. Ditahun-tahun jayanya televisi swasta, Dirut PT Prasidi Teta Film ini juga sempat mengerjakan beberapa judul sinetron diantaranya Jalan Lain ke Sana, Jalan Takwa, Astagfirullah, dan Maha Kasih.

Ditahun 2009, ia kembali menggarap film bertema religi yang diangkat dari novel karya Habiburrahman El Shirazy. Film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) ini menandai hadirnya kembali Chaerul Umam diblantika film Indonesia. Setahun kemudian KCB 2 yang juga ia tangani kembali mengikuti sukses film sebelumnya. Kedua film garapannya dikokohkan sebagai film terlaris taun 2009 dengan catatan penonto 3juta pada KCB 1 dan 1,5juta pada KCB 2.

Perbedaan atmosfir kebebasan dua masa (orde baru dan reformasi) tentu saja menghasilkan karya-karya perfilman yang berbeda. Chaerul Umam sanggup bertahan dengan konsisten terhadapa karya-karya bertema religius baik film maupun sinetron mengukuhkan dia sebagai sutradara spesialis film religi.

Karena itu, film-film religi karya Chaerul Umam dapat dikatakan mewakili dua masa dan bisa dijadikan standar untuk masa-masa yang telah ia lewati. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk menjadikan film-film religi Chaerul Umam sebagai bahan penelitian dengan judul;

“Analisis Style Film Religius Pasca Orde Baru”
Sebuah Pendekatan Statistik Terhadap Film-Film Chairul Umam




1.2. Rumusan Masalah
Maraknya film-film bertema Islam berseleweran di bioskop-bioskop tanah air bisa jadi merupakan fenomena latah yang sering terjadi di Indonesia tapi tentu saja kita tidak bisa menafikkan bahwa kemunculan film-film sejenis membuka ruang yang sangat lebar untuk berekspresi termasuk melakukan dakwah lewat media film.

Seiring itupula banyak kritikan yang dijatuhkan pada film-film religi yang belakangan bermunculan, mulai dari yang mempertanyakan definisi dari terminolog film-religi, hingga banyak yang meragukan Islam sebagai satu-satunya ideologi yang ingin ditebar melalui film-film religi, bahkan banyak yang mengatakan bahwa film-film religi saat ini (paska orde baru) tidak menampilkan dakwah Islam yang utuh, hanya menjual simbol Islam dan artis-aktor cantik yang tengah naik daun. Banyak yang merindukan film-film lawas yang mengangkat Islam sebagai latar ceritanya.

Sayangnya, banyaknya kritikan tersebut hanya didasari oleh hipotesa-hipotesa subjektif tidak banyak kritikus film yang rela meluangkan waktunya untuk melakukan penelitian ilmiah terhadap hipotesa tersebut.

Dari hal-hal diatas penulis melalui penelitian ini ingin membuktikan hipotesa-hipotesa tentang film religius yang kini berkembang. Dengan mengadaptasi teori Motion Picture Style yang diperkenalkan oleh Barry Salt, penulis ingin membuktikan masalah-masalah berikut :

1. Bagaimanakah karakteristik film religius masa orde baru dan paska orde baru yang terwakili melalui karya-karya Chaerul Umam?

2. Bagaimana Islam direpresentasikan melalui film-film religius pada masa orde baru dan paska orde baru?


1.3. Signifikansi Penelitian
Selama ini kita diperkenalkan pada penelitian film dengan menggunakan pendekatan kualitatif seperti teori naratif, semiotika, psichoanalysis dll. Penelitian kualitatif dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistic-kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci.

Karena menempatkan penulis/peneliti sebagai instrumen utama, maka penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna yang bersifat subjektif lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Sayangnya hasil penelitian kualitatif tidak dapat diterapkan secara holistik (menyeluruh) atau tidak dapat digeneralisir untuk kepentingan penelitian yang lainnya sebab metode ini tidak bertitik tolak dari sampel.

(lebih lanjut baca metode penelitian Statistik)



Sebagai sebuah disiplin ilmu, analisis film sebenarnya dapat menerapkan kedua metodelogi diatas. Namun sayang ranah metodelogi kuantitaf kurang disentuh dan diminati sebagai salah satu instrumen penelitian dalam cinema .

Karenanya penulis memiliki ketertarikan melakukan penelitian film dengan menggunakan metodelogi kuantitatif. Dimana sampel yang digunakan merupakan film-film yang telah disepakati sebelumnya. Hal ini juga diharapkan dapat memberikan alternatif lain dalam penelitian film yang selama ini didominasi oleh metodelogi kualitatif baik yang bersifat naratif, psichoanalysis ataupun semiotika


1.4. Tujuan Penelitian
Dari uraian sebelumnya, maka penulis ingin menyajikan style/karakteristik film religi di Indonesia. Karakteristik ini didapatkan dari pengambilan dan penghitungan shot-shot tertentu dalam film sampel yang tentu saja masuk dalam kategori religi, selanjutnya hasil-hasil tersebut akan dipersentasekan untuk lebih lanjut dilakukan pen-generalisar-an style film-film dalam kategori religi.

1.5. Definisi Operasional
Dalam penelitian kali ini akan terdapat beberapa istilah-istilah yang akan digunakan untuk memudahkan penelitan. Istilah-istilah tersebut antara lain :




1.Film
karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan/atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau ditayangkan dengan sistem Proyeksi mekanik, eletronik, dan/atau lainnya (UU 8/1992)



2.Religi (agama)
Sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, melalui ajaran, ritual dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.


3.Shot
Pengambilan gambar yang berisi adegan-adegan dalam sebuah film.

4.Adegan
Kejadian-kejadian dalam film atau bagian babak dalam lakon sebuah film

5.Simbol
Suatu tanda atau gambaran yang mengingatkan kita kepada penyerupaan benda yang kompleks yang diartikan sebagai sesuatu yang dipelajari dalam konteks budaya ( Charles Sanders Peirce)


6.Islam
Agama yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW yang juga merupakan agama mayoritas di Indonesia.




1.7. Metodelogi Penelitian
A. Rancangan penelitian
Untuk mengetahui ciri-ciri film religi, penulis melakukan penelitian dengan cara mencari literatur film-film chairul umam yang disebut-sebut ‘beraliran’ religius dari tahun 1977-2009. Setelah itu penulispun mengumpulkan artikel-artikel yang membahas tentang film religi pada umumnya dan film karya Chaerul Umam pada khususnya sebagai hipotesa yang hendak penulis buktikan pada penelitian kali ini.

Selanjutnya data-data tersebut tersebut penulis pisahkan dan mengambil dua judul masing-masing film yang diproduksi pada masa orde baru dan paska orde baru sebagai bahan/sampel yang akan penulis bongkar dan sesuaikan dengan hipotesa yang telah terkumpul.

B. Subjek Penelitian (Populasi dan Sampel)
Populasi merupakan keseluruh elemen, atau unit elementer, atau unit penelitian, atau unit analisis yang memiliki karakteristik tertentu yang dijadikan sebagai objek penelitian.

Pengertian populasi tidak hanya berkenaan dengan ”siapa” tetapi juga berkenaan dengan apa. Istilah elemen, unit elementer, unit penelitian, atau unit analisis yang terdapat pada batasan populasi di atas merujuk pada ”siapa” yang akan diteliti atau unit di mana pengukuran dan inferensi akan dilakukan (individu, kelompok, atau organisasi), sedang penggunaan kata karakteristik merujuk pada ”apa” yang akan diteliti. ”Apa” yang diteliti tidak hanya merujuk pada isi, yaitu ”data apa” tetapi juga merujuk pada cakupan (scope) dan juga waktu.

Berdasarkan penelusuran telah dilakukan, penulis menemukan13 film karya chaerul umam yang dibuat pada masa orde baru (1977-1997). Empat diantaranya secara ekplisit berlatar belakang religi – Islam –. Penulis juga menemukan 2 film yang diproduksi paska orde baru (2008-2009) jadi total film yang telah diproduksi adalah 15 film.

Maka 15 film ini selanjutnya akan disebut sebagai populasi dalam penelitian ini.
Adapun populasi dalam penelitian ini adalah :

Masa Orde Baru
1. Fatahillah (1997)
2. Al Kautsar (1977)
3. Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982)
4. Nada dan Dakwah (1992)
5. Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986)
6. Ramadhan dan Ramona (1992)
7. Bintang Kejora (1986)
8. Hati yang Perawan (1984)
9. Keluarga Markum
10. Joe Turun ke Desa (1989)
11. Tiga Sekawan (1975)
12. Cinta Putih {1977)
13. Sepasang Merpati (1979)
Paska Orde Baru
14. Ketika Cinta Bertasbih 2 (2009)
15. Ketika Cinta Bertasbih (2008)

Selanjutnya, dari ke-15 populasi yang telah ditemukan selanjutnya penulis menentukan sampel yang akan digunakan sebagai objek penelitian. Untuk itu penulis menggunakan metode penarikan sampel acak setelah sebelumnya memisahkan film-film yang masuk kategori religi. Penarikan sampel dapat ditunjukkan pada gambar berikut :



yang masuk kategori religi. Penarikan sampel dapat ditunjukkan pada gambar berikut :


dari sini, selanjutnya penulis memilih masing-masing dua film pada masa orde baru dan paska orde baru untuk dapat di bandingkan karakteristiknya. Dua film tersebut ditarik sesuai asumsi penulis bahwa keduanya meneguk sukses di masanya masing-masing. Adapun film-film yang menjadi bahan penelitian ini adalah

Masa Orde Baru
Al Kautsar (1977)
Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982)

Paska Orde Baru
Ketika Cinta Bertasbih (2008)
Ketika Cinta Bertasbih 2 (2009)

C. Pengumpulan Data
Penelitian ini akan memakan waktu sekitar enam bulan untuk merampungkan data serta menganalisis data-data yang telah dikumpulkan.

D. Analisis Data
Adapun analisis data yang digunakan akan mengadaptasi Motion Picture Style yang diperkenalkan oleh Barry salt. Ide dasar dibalik metode ini adalah analisis gaya statistik, bahwa setiap bentuk film terasa berbeda dari satu ke yang lain, metode semacam ini memberikan berbagai dinamika variable yang berfungsi untuk mendeteksi atau membuktikan apakah konsep yang ada dalam pembuat film benar benar dituangkan kedalam filmnya. Artinya semua bentuk didalam film adalah design.
Selain hal tersebut metode ini bertujuan sebagai komparasi terhadap satu film dengan film lainnya. Menurutnya, film tidak hanya terpaku pada persoalan naratif, karena ada bagian bagian yang jelas lebih konkrit yang bisa dijadikan ‘barang bukti’ untuk menginterpretasikan sebuah pemahaman akan makna film. Perbedaannya hanyalah pada analisis Barry digunakan untuk menganalisis karakter sutradara film maka pada penelitian kali ini penulis akan meneliti karakter filmnya.

1.8. Sistematika Penulisan
Skripsi ini akan ditulis dengan sistematika sebagai berikut:
- Judul Skripsi
- Lembar Pengesahan
- Prakata
- Daftar Isi
BAB I. PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang persoalan, rumusan masalah, signifikansi, tujuan dan sistematika penelitian. Dalam bab ini pula dibahas tentang informasi-informasi dasar tentang film religi di Indonesia serta tulisan tentang fokus penelitian yang diambil dalam skripsi ini.

BAB II. KERANGKA TEORI
Bab ini membahas tentang teori dan pisau analisis yang akan digunakan lebih lanjut untuk penelitian yang diinginkan. Terutama teori-teori yang berkaitan dengan motion picture style dan latar belakang hadirnya teori tersebut dalam penelitian film.

BAB III. ANALIS STYLE FILM RELIGI INDONESIA
Bab ini akan berkonsentrasi pada analisis style film-film religi Indonesia. Untuk mempermudah analisis bab ini juga akan membahas tentang klasifikasi film religi di Indonesia untuk selanjutnya penulis akan melakukan analisis terhadap shot-shot dalam film yang telah dipilih.

BAB IV. KARAKTERISTI FILM RELIGI INDONESIA
Bab ini akan membahas lebih lanjut hasil-hasil analisis bab sebelumnya serta melakukan interpretasi terhadap data-data yang telah dihasilkan dari penelitian sebelumnya.

BAB V. KESIMPULAN
Kesimpulan akan berisi hal-hal yang dianggap penting yang telah menjadi hasil dari penelitian ini. Selain itu, bab ini juga akan mencakuppertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab melalui penelitian yang dilakukan yang akan menjadi sarana dan sarana bagi penelitian-penelitian baru dimasa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

0 komentar:

Poskan Komentar