Teori Film

Kamis, 03 Maret 2011

‘3 Hari Untuk Selamanya’= Idealitas Semu Kaum Muda.

Salam Bulan Film Nasional
(insert: Karl MArx)




Film sebagai cermin suatu budaya, telah dipercaya sebagai agen dalam menyebarkan gagasan-gagasan penciptanya/author (Stuart Hall).

Berbicara mengenai gagasan-ide maka mau tak mau kita akan berada dalam ranah ‘Ideology’. Dalam wilayah film, ideologi yang dikemas akan diinterpretasikan penonton secara aktif, terlepas ia memahami atau tidak, ideologi yang dikemas dalam tema film akan tetap mengalir. Proses interpretatif penonton inilah yang menyababkan hilangnya peran sang author sebagai pemilik gagasan (author is death).


Dalam pandangan Barthes Ideologi adalah suatu bentukan manusia yang dipatenkan sebagai sebuah kebenaran, kebenaran yang dimaksud tidak lain adalah myth atau mitos – sesuatu yang kita pahami sebagai kebenaran yang terbentuk secara alami – dan itu adalah ideologis.


Searah dengan ideologi yang dipahami Althusser, bahwa ideologi tercermin dalam kehidupan sehari-hari dan tidak bersifat abstrak. Perilaku manusia selalu didasari atas mitos-mitos yang disadari – mitos jangan diartikan ‘dongeng’ dalam hal ini. – contoh ketika kita mencuci, kita membutuhkan rinso – merk sabun cuci – padahal kita bisa saja mencuci tidak menggunakan sabun. Atau ketika kita ke warung untuk membeli sabun cuci, cukup mengatakan ‘rinso’ pada penjual maka ia akan memberi kita sabun cuci meski merknya bukan rinso.

Dalam hal ini, barthes mengatakan bahwa ‘rinso’ telah menjadi mitos dikepala kita dengan arti lain kalau kita mencuci tidak menggunakan rinso maka cucian kita tidak bersih. Inilah yang kita pahami sebagai sebuah kebenaran maka dalam pandangan althusse ‘rinso’ disini telah menjadi ideologi.


Sang author 3 hari untuk selamanya ingin menjadikan ‘kebebasan’ sebagai ideologi yang perlahan-lahan mengintervensi dan mendominasi teks film, melalui acting dari karakter tokoh. Pemahaman yang menitik beratkan kebebasan individu yang lebih dikenal sebagai paham liberalisme pada film tersebut sangat kental ditunjukkan oleh dua karakter utama Ambar dan Yusuf.

Dalam ketidak setujuan mereka terhadap nilai-nilai tradisi yang diberlakukan orang tua, keduanya kerap mencari jalan mewujudkan keinginan mereka melalui komunitas (cluber dan band) yang mereka temui. Mereka juga menemukan kebebasan tersebut dalam narkoba dan minuman keras yang jelas terlihat di sepanjang perjalanan yang ditempuh keduanya menuju jogja via bandung, tidak henti-hentinya mengisap ganja. Sayapun berpendapat, kebebasan yang ditunjukkan dalam film tersebut sangat klasik, ciri khas film remaja indonesia dimana dugem, mabuk, free sex digambarkan sebagai jalan keluar dari kungkungan keluarga yang ‘kolot’ meski terkesan memaksa agar disebut modern.
Liberalisme sendiri merupakan pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama. Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Ini digambarkan pada dialog antara ambar dan yusuf ketika membahas tentang adin yang dipaksa menikah.

Ambar : Kalau saya jadi mbak Adin, gak mau nikah suf.
Yusuf: Emang kenapa?
Ambar: Hamil enggak, ada pekerjaan, penghasilan lumayan. Masa seumuran dia (mbak Adin) dipaksa nikah hanya karena ketahuan ML…
Dimana hak pilih kita???
Yusuf: Mana ada hak pilih, namanya juga ke gep (kepergok).
Lagian emang mbak Adin dipaksa?

Selanjutnya kita dapat melihat, kebebasan yang dipahami Ambar dan Yusuf ternyata berbeda. Jika ambar menempatkan kebebasan sebagai tindakan yang sesuai apa yang kita inginkan tanpa terikat aturan dan nilai-nilai yang lebih dulu ada. Sedangkan Yusuf memahami kebebasan sebagai suatu yang diberikan lingkungan sosial kepada individu untuk dapat dijalankan dengan tanggung jawab sesuai dengan nilai nilai yang ada dimasyarakat, sehingga pelanggaran akan nilai-nilai tersebut selalu memiliki konsekuensi sendiri yang telah di sepakati dalam lingkup sosialnya. Seperti kedapatan melakukan sex pranikah konsekuensinya harus menikah atau dikucilkan secara sosial. Namun keduanya sepakat tentang kebebasan berfikir yang mereka ungkap dengan istilah “untuk apa percaya pada pikiran orang kalau kita punya pikiran sendiri”

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, film ini menekankan kesenangan -pleasure sebagai identitas pemuda metropolitan. Gaya hidup hedon yang ditampilkan begitu gamblang dalm film tersebut menunjukkan pemahaman akan kebebasan yang dangkal. Hedonisme erat kaitannya dengan gaya hidup material dan konsumtif menjadi ciri karakter pemuda metropolitan tampaknya telah menjadi identitas perfilman kita, dimana eksistensi mereka sebagai individu hanya dapat diperoleh dari kesenangan serta trend gaya terbaru. Tentu saja kapitalis selalu berada dibalik paham Hedon tersebut.

Tidak heran sebab ideologi Liberal yang menghadirkan paham kapitalis dalam bidang ekonomi dan demokrasi dalam bidang politik. Sebab hanya dalam suasana iklim kebebasan, kapitalis dapat tumbuh subur, dan tentu saja gaya hidup hedon menjadi pupuk yang menyuburkan bagi praktek-praktek kapitalis tersebut. Kritik kaum Marxis terhadap ‘kesadaran palsu’ yang ditanamkan kaum kapitalis tampaknya tidak lagi berlaku hanya pada kelas pekerja. Kesadaran palsu tersebut tampaknya teleh merasuk lintas kelas dan golongan dan anak muda menjadi sasaran empuk, dengan menjanjikan eksistensi mereka melalui produk-produk trend dan gaya.

Meski penolakan mereka terhadap pengajaran dogmatis orang tua merupakan ciri khas dari pandangan liberal. Kunjungan mereka ke Sendangsono (pemakaman dan tempat ziarah umat katolik) juga merupakan adegan yang saya rasa cukup penting. Pada adengan tersebut, Ambar berdoa meski lebih terlihat curhat pada patung Bunda Maria. Adegan ini cukup memperlihat penghargaan mereka terhadap pluralitas yang ada. Ini juga menggambarkan bahwa, kedua tokoh tersebut tidak ingin dibatasi oleh sekat agama untuk menunjukkan eksistensi mereka. Di sinilah terjadi titik balik kesadaran mereka akan arti kehidupan sekaligus antiklimaks dari konflik dalam film tersebut.

Pemaknaan yang hadir dari kondisi sosio-culture yang disajikan dalam film diinterpretasi oleh penonton sesuai dengan standarisasi konstruksi budaya yang mereka miliki sehingga menghadirkan makna yang plural.

Film ini, meski dikategorikan sebagai film festival dan sempat mendapat kehormatan tampil di acara premiere di Hong Kong dan Singapore International Film Festival serta mendapat sambutan antusias dari pemerhati film internasional tetap tidak dapat lepas dari mainstream film cerita remaja ala Indonesia, bahwa anak muda selalu dipresentasikan dalam kehidupan liar dan glamour, broken home/kondisi keluarga yang tidak harmonis dan kolot selalu menjadi latar belakangnya. Namun satu hal yang patut diapresiasi bahwa film ini telah memotret fenomena-fenomena yang nyata ada dalam budaya kita dengan jujur.

Secara visual film menampilkan kejadian-kejadian yang sering terlihat dalam masyarakat kita, khususnya di daerah-daerah sepanjang jalur Pantai Utara. Salah satunya adalah erotisme penari jaipong jalanan sebagai salah satu budaya kita. Lalu masihkah kita mengatasnamakan budaya Timur sebagai alasan untuk tidak membahas sex? Sebab menurut saya setiap kebudayaan pasti memiliki sisi erotisme yang melambangkan seksualitas manusia, tidak terkecuali budaya Timur yang selalu kita anggap suci dan bersusila…

0 komentar:

Poskan Komentar