Teori Film

Rabu, 13 Oktober 2010

tidak ada wacana baru dalam '3 hari untuk selamanya'


I. PENDAHULUAN


I.a. Latar Belakang.
Film sebagai produk kebudayaan merupakan cermin realitas dari sosiokultur yang merupakan bagian dari gagasan yang dimiliki oleh pembuat film (author). Karenanya secara politis film tidak selalu dikaitkan sebagai sarana hiburan komersil belaka tetapi lebih sering dipandang sebagai agen dalam menyebarkan gagasan pembuatnya/film maker. Ia menjadi penting dikarenakan mampu menghadirkan subjektivitas individu bahkan menjadi identitas sebuah negara dan bangsa. Dalam kajiannya, film memiliki makna tunggal. Makna yang telah ditentukan oleh pembuatnya, dengan kata lain penonton digiring hanya pada satu gagasan yang ingin disampaikan oleh sutradara melalui element-element yang terdapat pada film tersebut seperti narasi, tokoh., Plot, dll.



Dalam perspektif cultural studies, film dianggap sebagai sebuah industri kebudayaan dimana pemaknaan film tidak lagi ditentukan oleh produsen ataupun film maker seperti pada kajian film. Penonton berperan aktif memaknai sebuah film, dalam hal ini penonton secara sadar menentukan relasi cerita secara subjektif sesuai socio-historis yang mereka miliki masing-masing.
Subjektivitas penonton dalam merespon kode pesan dalam film menjadikan makna yang hadir begitu plural sebab pemaknaan tersebut hadir dari kontruksi sosial yang berbeda-beda. Karenanya, begitu sebuah film diluncurkan ke pasaran, maka sang author telah dianggap mati (author is death) sebab kode pesan dalam film telah menjadi teks buat penontonnya, bukan pembuatnya.

Pemaknaan yang hadir secara subjektif bukan berarti tidak memiliki nilai diluar dirinya. Manusia sebagai makhluk individual tidak pernah terlepas dari kepentingan-kepentingan yang berkaitan dengan sesuatu diluar dirinya. Karenanya sudut pandang yang dimiliki selalu berhubungan dengan kepentingan yang secara politis pasti bermuatan ideologi. Ideologi yang dimaksud di sini tidak lain merupakan cara pandang seseorang yang dipengaruhi oleh wacana dominan yang dia ketahui.

Relasi makna/meaning, wacana dan ideologi sebuah film ketika tiba di kepala penonton menjadi menarik sebab pada momen tersebut terjadi pergulatan antara apa yang ingin disampaikan sang author dan apa yang ditangkap oleh penonton. Disinilah terjadi tarik menarik wacana antara yang ada di kepala penonton dan apa yang disajikan pada film. Sederhananya dapat dicontohkan seperti ketika seorang yang liberal menonton sebuah film sosialis, maka dalam menarik pemaknaan orang tersebut akan melakukan perbandingan wacana disinilah kekuatan sebuah film tengah diuji. Mampukah power yang dimiliki film/author mendominasi paling tidak menjadi wacana tanding ataukah pada akhirnya film tersebut hanya menjadi sebuah tontonan yang tidak meninggalkan jejak di kepala penontonnya.

Kali ini saya tertarik ingin membahas tentang meaning/makna, wacana dan ideologi yang disajikan sebuah film, dalam hal ini saya mengangkat film 3hari untuk selama sebagai bahan yang coba saya bongkar untuk menemukan meaning, wacana dan ideologi apa yang ada pada film tersebut. Perspektif cultural studies yang akan digunakan dapat memudahkan kita menyingkirkan peran author dalam pembentukan makna dalam sebuah film sebab di sini penontonlah yang memiliki kekuasaan. Selain itu tiga hal tersebut merupakan titik sentra kajian dalam disiplin cultural studies. Dalam membahas film 3hari untuk selamanya saya juga akan meminimalisir penggunaan teori naratif sehingga wacana dalam film tersebut dapat dikembangkan lebih jauh tanpa harus melibatkan ‘author’.


I.b. Pemilihan film ‘3 hari untuk selamanya (2007)’ sebagai studi kasus.
Film 3 hari untuk selamanya memperlihatkan benturan ideologi yang dilatar belakangi pada aspek socio-historis, yakni melalui latar masing masing karakter. Ambar dan Yusuf, memiliki kekerabatan sebagai sepupu dari keluarga besar yang memegang teguh tradisi sebagai orang jogja dan muslim. Sebagai anak muda yang modern mereka memiliki kehidupan lain di luar rumah (clubing, drugs, dan sex). Orang tua dalam film ini (ayah dan ibu ambar, ayah yusuf dan tante-tante mereka) diposisikan sebagai pemegang dan penjaga tradisi. Meski memiliki banyak persamaan bukan berarti Ambar dan Yusuf tidak berkonflik sama sekali. Perbedaan pengetahuan dan prinsip dalam menjalani hidup membuat perjalanan keduanya dipenuhi perdebatan dan adu argumentasi khas anak muda metropolis. Dan dari kedua karakter tersebut, sutradara membuat benang merah dengan menghadirkan ‘kebebasan’ sebagai ideologi yang perlahan lahan mengintervensi dan mendominasi teks film, melalui act dari karakter tokoh.

Disini penonton membaca teks bahwa, tokoh Ambar dan Yusuf sesungguhnya ingin keluar dari tradisi keluarga yang dianggap terlalu kaku dan penuh basa basi antara yang tua dan yang muda. Namun jalan yang dipilih keduanya berbeda. Dalam film ini penonton akan kesulitan mengindentifikasi peran antagonist dan protagonist, sebab selain adegan didominasi oleh kedua tokoh ambar dan yusuf film ini juga tidak menyajikan adegan konflik yang tajam dan berlebihan. Penonton yang menyukai sinetron dan drama percintaan mungkin akan kecewa menonton film ini, kecuali beberapa adegan yang cukup ‘panas’ yang pantas disensor, serta tubuh seksi adinia wirasti (ambar) dan wajah tampan nicholas saputra (yusuf) yang cukup menjual ditengah indistri film kita yang oportunis.

Namun disisi lain, kita perlu memahami dan menganalisa beberapa faktor, bahwa teks dalam film mampu memberikan meaning yang berbeda dalam hal bagaimana kita memahami teks teks tertentu dalam film. Selain aspek socio-historis tersebut, dikatakan pula bahwa faktor politik dan wacana/discourse mampu mengkonstruksi sebuah meaning termasuk didalam film. Apa yang diuraikan diatas merupakan satu bagian dari socio-historis yang membentuk meaning. Lalu bagaimana aspek politik dan wacana membentuk meaning dalam film 3 hari untuk selamanya?

Faktor historical saya anggap sebagai sebuah pemahaman yang banyak dikonsumsi masarakat, ia menjadi bentuk popular karena hampir semua tatanan sosial selalu menggunakan nilai historical. Seperti halnya jogja tidak bisa terlepas dari budaya Keraton yang mempengaruhi tatanan masarakatnya, begitupun ibukota dengan intervensi berbagai budaya yang mempengaruhi tatanan masarakatnya. Dari aspek aspek popular inilah sutradara-pembuat film ini mengadopsi bentuk tersebut kedalam cerita ini.


I.c. Metode Penulisan.
Dalam tulisan ini saya mencoba menawarkan film dalam persfektif Cultural Studies sebagai landasan dasarnya, dengan meminimalisir teori Naratif. Sehingga wacana didalam sebuah teks film bisa dikembangkan tanpa keterlibatan ‘author’. Ada begitu banyak tulisan mengenai film yang selalu mengetengahkan narasi sebagai tolsl-nya, tentang si A yang berseteru dengan si B, lalu bagaimanakah langkah si A untuk mengalahkan siB?

Dalam penilaian saya, perumpamaan diatas adalah konstruksi yang dibangun oleh pembuat film- author, karena ia akan selalu memberikan keistimewaan terhadap karakter yang mewakili visinya didalam film, sehingga mau tidak mau wacana didalam film menjadi monoton karena keterlibatan author tersebut. Dan untuk itu peran author harus ditiadakan, oleh karena ketika film telah dipertontonkan kepada penontonnya maka secara otomatis peran author sudah tidak bisa difungsikan lagi (author is death), sebab penontonlah yang memegang kendali atas tontonannya.

Dengan demikian kita bisa membuat konstruksi baru semacam: mengapa si B berseteru dengan si A, mengapa si B menghalangi si A, dsb, tergantung atas wacana apa yang menjadi porsi penting yang ingin kita angkat.

Alasan penulis memilih cultural studies sebagai pondasi awal dalam menelaah film ‘3 hari untuk selamanya’ oleh karena salah satu ciri cultural studies adalah menempatkan teori kritis sebagai basis analisa. Pengertian teori kritis di sini mencakup metode metadisiplin (beberapa disiplin ilmu yang dipertemukan, seperti semiotika, linguistik, dan sebagainya). Tidak seperti disiplin akademis- ilmu klasikal, cultural studies tidak mempunyai ranah intelektual atau disiplin yang terdefenisi dengan jelas. Ia tumbuh berkembang pada batas batas dan peremuan berbagai macam wacana yang sudah dilembagakan, seperti dalam sastra, sosiologi, sejarah hingga seni. Setelah era 1960-an, saat ini cultural studies memasuki perkembangan teoritis yang intensif dengan bertujuan untuk mengetahui bagaimana kebudayaan (produksi sosial dan makna) dapat dijelaskan dalam dirinya sendiri dalam hubungannya dengan ekonomi (produksi) dan politik (relasi sosial).


I.d. Tujuan Penulisan.
Sebagaimana lumrahnya sebuah tujuan penelitian ilmu, ia tidak diharapkan hanya mengisi ulang (re-installed) alasan-alasan yang telah ada, tetapi bagaimana memunculkan dan mematikan alasan-alasan tertentu bila dianggap tidak berbasis pada wacana yang dituju.

Dengan berbasis Cultural Studies kita akan dihadapkan kepada pemahaman bahwa setiap era, lokalitas, dan konteks masyarakat memiliki libido sosial yang tidak seragam. Pencapaian pemahaman dapat terjadi jika kita dengan lunak mencerdasi setiap fenomena sosial melalui sebuah format ingin tahu, meneliti, dan berbicara sebagai subyek pelaku, bukan malah berprasangka, menuduh, membangun stigma dan stereotipe. Dengan kata lain, cultural studies lebih bersifat emansipatoris dalam menelaah konstruksi proses suatu makna.
Cultural studies merupakan gerakan emansipatoris yang menyeimbangkan wacana dengan melihat tiap konteksnya (contoh: orang kaya membeli barang lebih melihat merk dibanding fungsinya, bagi sebagian orang hal ini adalah bodoh, tetapi cultural studies memberikan konteks yang berbeda bahwa identitas memang mahal).

Dalam film 3 hari untuk selamanya tokoh Ambar bisa saja ditafsirkan sebagai karakter yang manja dan hedonis, karena memang seperti itulah narasi didalam film tersebut bekerja, dan itulah tugas filmaker untuk memaksimalkan naratif. Tetapi melalui cultural studies semua hal bisa dibalik, semua hal bisa memiliki makna yang berbeda, tergantung bagaimana kita mengkonstruksi wacana tersebut, oleh karena ia bersifat sangat konstruktivis dan emansipatoris. Dengan demikian seharusnya penonton harus bisa mempunyai tafsiran tersendiri dengan kejeliannya untuk bisa melihat berbagai macam wacana yang dihadirkan dalam sebuah tontonan, terlepas ia setuju atau tidak dengan tafsiran dari author, namun paling tidak ia mengetahui bagaimana dan apa yang mengkonstruksi hal tersebut agar tidak melahirkan tafsiran yang monoton.

Melalui 3 hari untuk selamanya, saya ingin memperlihatkan nilai-nilai budaya berbenturan dengan realitas membawa kita pada pengalaman-pengalaman yang mempengaruhi setiap keputusan dalam hidup kita. Bahkan secara tidak sadar pengalaman tersebut merupakan jalan keluar dari tradisi kuno maupun ‘modern’ yang sama-sama bersifat monoton dan menciptakan kegamangan hingga krisis identitas. Pengalaman yang mampu merekontruksi nilai-nilai kemapanan dan menghadirkan nilai-nilai baru tentang idealitas hidup yang seharusnya kita jalani.

I.e. Landasan Teori.
Stuart Hall mendefinisikan salah satu dari berbagai istilah ‘culture/ Kebudayaan adalah situs perjuangan ideologi, tempat kelompok terbawahkan akan selalu melawan wacana dari kelompok dominan, sementara itu kelompok dominan terus bernegoisasi dengan wacana kelompok terbawahkan sehingga tercipta hegemoni. Hegemoni dalam arti sebuah kondisi yang terus berproses (keseimbangan kompromis), bahwa tidak ada unsur paksaan dalam teori hegemoni.

Teks dan fraksis budaya tidak mengandung makna yang tetap, absolut, seperti maksud ketika diproduksi, melainkan makna selalu merupakan hasil dari tindak artikulasi. Proses ini disebut artikulasi karena makna harus diekspresikan, tetapi bentuk ekspresi tersebut haruslah dalam konteks, momen historis dan wacana yang spesifik. Jadi ekspresi ini selalu berhubungan dengan konteks. (John Storey “THEORIES AND METHODS CULTURAL STUDIES & THE STUDY OF POPULAR CULTURE” p.123-127. Edinburgh University 1996.)

Menganalisa film melalui aspek Cultural Studies terdapat faktor faktor determinan yang membentuk sebuah pemahaman, faktor faktor yang menetukan dengan pasti (mengapa sebuah pemahaman/meaning terbentuk seperti itu). Dengan menggaris bawahi bahwa, tidak ada yang universal dan abadi dalam analisa Cultural Studies, sehingga bisa dibilang bahwa: tidak ada pemahaman yang tunggal dalam meaning, oleh karena ia akan terus bernegoisasi dengan aspek aspek yang mengkonstruksinya.



II. PEMBAHASAN

II.a. Tentang 3 Hari Untuk Selamanya

3 hari untuk selamanya merupakan film produksi miles films yang disutradarai oleh Riri Riza (2007). Film yang mengangkat tema post-adolescent ini mengisakan tentang kehidupan anak muda kota jakarta yang berjiwa bebas dalam bentuk road movie. Berawal dari keluarga besar Ambar (adinia wirasti) yang harus berangkat ke jogja untuk melangsungkan pernikahan kakanya. Namun pada hari dimana seluruh keluarga berangkat Ambar tertinggal dikarenakan malam sebelumnya dia dan sepupunya Yusuf (nicholas saputra) pergi bersenang-senang disebuah pub. Akhirnya dia memutuskan berangkat naik mobil bersama Yusuf yang memang ditugaskan menempuh jalan darat untuk membawa perangkat makan porselen warisan keluarganya yang secara tradisi selalu digunakan untuk acara midodareni.

Perjalanan jogja-jakarta yang seharusnya dapat ditempuh dalam setengah hari akhirnya molor menjadi 3 hari dikarenakan jiwa bebas mereka tidak dapat dibendung untuk mencoba hal-hal baru juga mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah mereka datangi sebelumnya. Dalam perjalanan 3 hari inilah banyak hal yang mereka temui, perbincangan santai khas anak muda tentang sekolah, cinta, pernikahan, keluarga dan keputusan-keputusan penting di dalam hidup mereka mengalir sepanjang film berdurasi 98 menit ini.
Film yang konon lulus sensor dengan 8 potongan oleh Badan Sensor Film ini cukup banyak memotret kejujuran sisi erotis dan seksualitas kita sebagai manusia, tidak heran mengapa film ini dikhususkan untuk penonton berusia 18 tahun ke atas. Beberapa dialog bahkan mempertanyakan esensi pernikahan, sex, dan kelurga secara gamblang. Sebagai dua orang yang berasal dari keluarga besar yang memegang teguh tradisi sebagai orang jawa-jogja dan muslim, hal-hal tersebut mustahil dibicarakan secara terbuka.

Karakter Ambar yang diperankan oleh adinia wirasti adalah sosok gadis produk "broken home" yang temperamental dan manja yang selalu mencari kasih sayang tanpa sekalipun pernah benar-benar mencintai. Ia digambarkan sebagai gadis sexy dengan tubuh dan kulit coklat khas perempuan tropis yang eksotis. Sedang Yusuf yang diperankan Nicholas Saputra adalah sosok pemuda yang pendiam, tenang, pandai. Ia juga merupakan mahasiswa jurusan teknik arsitektur di sebuah Universitas di dalam negeri.
Dalam film ini penonton akan kesulitan mengindentifikasi peran antagonist dan protagonist – sebagai mana film konvesnional –, sebab selain adegan didominasi oleh kedua tokoh Ambar dan Yusuf film ini juga tidak menyajikan adegan konflik yang tajam dan berlebihan. Penonton yang menyukai sinetron dan drama percintaan mungkin akan kecewa menonton film ini, kecuali beberapa adegan yang cukup ‘panas’ yang pantas disensor, serta tubuh seksi adinia wirasti dan wajah tampan nicholas saputra yang cukup menjual ditengah indistri film kita yang oportunis.


Akhir cerita, film 3 hari untuk selama memperlihatkan nilai-nilai budaya berbenturan dengan realitas membawa kedua tokoh tersebut pada pengalaman-pengalaman yang mempengaruhi setiap keputusan dalam hidup mereka. Bahkan secara tidak sadar pengalaman tersebut merupakan jalan keluar dari tradisi kuno maupun ‘modern’ yang sama-sama bersifat monoton dan menciptakan kegamangan hingga krisis identitas. Pengalaman yang mampu merekontruksi nilai-nilai kemapanan dan menghadirkan nilai-nilai baru tentang idealitas hidup yang seharusnya kita jalani.

II.b. Menangkap Meaning Dalam 3 Hari Untuk Selamanya
Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa cultural studies bukanlah ilmu atau sekumpulan teori dan metode yang monolitik melainkan seperangkat formasi yang tidak stabil. Seperti yang diungkap stuart hall (1992) bahwa cultural studies mengandung wacana yang berlipat ganda. Wacana yang senantiasa merespon kondisi politik dan historis yang berubah dan selalu ditandai dengan perdebatan, ketidak setujuan dan intervensi.

Cultural studies juga menempatkan teori kritis sebagai basis analisanya. Pengertian teori kritis di sini mencakup metode metadisiplin (beberapa disiplin ilmu yang dipertemukan, seperti semiotika, linguistik, dan sebagainya). Tidak seperti disiplin akademis- ilmu klasikal, cultural studies tidak mempunyai ranah intelektual atau disiplin yang terdefenisi dengan jelas. Ia tumbuh berkembang pada batas batas dan peremuan berbagai macam wacana yang sudah dilembagakan, seperti dalam sastra, sosiologi, sejarah hingga seni. Kini cultural studies tengah memasuki perkembangan teoritis yang intensif dengan bertujuan untuk mengetahui bagaimana kebudayaan (produksi sosial dan makna) dapat dijelaskan dalam dirinya sendiri dalam hubungannya dengan ekonomi (produksi) dan politik (relasi sosial).

Menganalisa film melalui aspek Cultural Studies terdapat faktor faktor determinan yang membentuk sebuah pemahaman, faktor faktor yang menetukan dengan pasti (mengapa sebuah pemahaman/meaning terbentuk seperti itu). Dengan menggaris bawahi bahwa, tidak ada yang universal dan abadi dalam analisa Cultural Studies, sehingga bisa dibilang bahwa: tidak ada pemahaman yang tunggal dalam meaning, oleh karena ia akan terus bernegoisasi dengan aspek aspek yang mengkonstruksinya.

Hal inilah yang membedakan Cultural Studies dengan ilmu-analisa klasikal sebelumnya (psikoanalisa, strukturalist, feminis, dsb) karena segala sesuatu dalam Cultural Studies adalah sebuah konstruksi termasuk konstruksi historical, dan aspek tersebut (aspek socio-historical) merupakan salah satu yang menentukan makna. Jika ilmu –analisa klasikal bersifat esensialis maka Cultural Studies bersifat konstruktif, seperti contoh bahwa feminist selalu mempermasalahkan gender dalam setiap essensi kritiknya, ataupun psikoanalisa yang menghadirkan pleasure dalam setiap esensi analisisnya, maka Cultural Studies menawarkan apa yang mengkonstruksi hal tersebut.
Dalam Cultural Studies, teori makna-meaning, mengungkapkan bahwa arti sebuah teks, akan berbeda dalam konteksnya tergantung pada momen socio-historis, politik dan wacana/discourse. Dengan kata lain teks akan berbeda meaning-nya tergantung pada ketiga aspek tersebut. Demikian pula dengan film, teks tidak dipahami hanya sebagai dialog ansich melainkan sebuah hasil konstruksi dari socio-historis cerita seutuhnya.

Pada film 3 hari untuk selamanya, seperti yang telah diungkapkan sebelumnya aspek socio-historis cerita keseluruhan akan berfokus pada dua tokoh Ambar dan Yusuf, dimana keduanya terikat kekerabatan sebagai sepupu dari keluarga besar yang memegang teguh tradisi leluhurnya yang dalam sudut pandang mereka sebagai anak muda yang lebih sering bersentuhan dengan modernitas ibu kota, semua yang dipercaya dan dilakukan orang tua mereka (ayah, ibu, paman dan tante) adalah sesuatu yang membosankan, penuh basa-basi dan kemunafikan.

Dalam film ini budaya jawa – khususnya Jogjakarta – merupakan latar cerita keseluruhan. Diawali ketika yusuf ditugaskan oleh tantenya yang tidak lain adalah ibu ambar untuk membawa seperangkat alat makan porselen yang akan digunakan pada malam Midoddareni. Alat makan tersebut sangat penting karena menurut kepercayaan tradisi jawa, malam Midodareni merupakan malam terakhir seorang ibu memberi makan putrinya sebelum menikah. Dengan arti lain pelepasan seorang perempuan sebelum diserahkan kepada suaminya. Karena itulah untuk menjamin keselamatan perangkat makan tersebut harus dibawa lewat jalan darat selain itu, Yusuf juga banyak mendapat nasehat mengenai alat makan tersebut dari tante dan ayahnya. Meski akhirnya kita menarik kesimpulan bahwa eksistensi midodareni ternyata bergantung pada perangkat makan tersebut.

Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa tradisi dalam keluarg Ambar tidak dapat ditawar, sebagaimana tidak relanya ibu menggunakan pesawat untuk membawa peralatan makan tersebut. Perkawinan dalam tradisi jawa dianggap sesuatu yang suci dan sakral, oleh karenanya sebelum memasuki acara perkawinan, beberapa ritual harus dijalani. Ritual-ritual ini kadang kala menutupi alasan mengapa perkawinan harus dilaksanakan. Orang memandang kelengkapan ritual sebelum perkawinan sebagai petanda apakah perkawinan tersebut dilaksanakan secara normal dalam hal ini didasari oleh cinta atau karena alasan lain yang biasanya merupakan perbuatan yang melanggar asusila seperti seks pranikah. Karenanya dalam realitas yang ada, ritual ini sering digunakan untuk menutup ‘belang’ mempelai agar tidak mencoreng nama baik keluarga.
Seperti yang terjadi pada kakak ambar, ia dinikahkan karena kedapatan melakukan hubungan sex dengan sorang pria oleh orang tuanya. Dan sebagai bentuk pertanggung jawaban mereka, keduanya harus menikah. Dalam berbagai kebudayaan – termasuk budaya jawa – sex merupakan sesuatu yang tabu/tersembunyi dan perkawinan merupakan ritual untuk memasuki ‘gerbang’ tersebut. Sehingga sex pranikah dalam kacamata tradisi merupakan sesuatu yang tidak diperbolehkan bahkan sering kali dianggap tidak wajar. Kebiasaan melakukan sex pranikah dibeberapa kalangan dianggap telah menghianati nilai-nilai yang diwariskan para leluhur dan hal ini kerap dianggap sebagai anomali sosial. Bentuk pertanggung jawabanpun berupa pernikahan antara pasangan yang kedapatan melakukan sex pranikah, namun hal ini pun menimbulkan kegamangan sebab pernikahan sesungguhnya merupakan institusi sosial yang mengikat pria dan wanita dalam hubungan rumah tangga seumur hidup, sedang sex pranikah dan pasca nikah memiliki nilai yang berbeda. Sex pada pranikah hanya didasari suka sama suka dan hanya bertujuan untuk kesenangan, sementara sex pasca menika merupakan kewajiban, ibadah, meskipun ada kesenangan didalamnya bila dilakukan atas dasar cinta. Maka menikah sebagai bentuk pertanggung jawaban sosial karena dianggap telah melanggar nilai-nilai budaya dan agama merupakan bentuk hukuman yang dijatuhkan untuk kedua pasangan tersebut. Merenggut kebebasan keduanya, dan tidak jarang dianggap sebagai jalan untuk mengeluarkan keduanya dari tanggungan keluarga.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang berhak menjadi hakim moral dalam hal ini?. Pada film 3 hari untuk selamanya, kakah Ambar dipaksa menikah oleh sang ayah dengan berbagai ancaman dan sebagai konsekuensi jika menolak adalah cap ‘lonte’ (pelacur) akan melekat pada dirinya. Lalu muncullah pertanyaan lanjutan dari ambar, otoritas apa yang dimiliki sang ayah ketika menjatuhi hukuman tiu pada kakanya sedang masa lalu sang ayahpun tidak sepenuhnya bersih. Sejak Ambar kecil, ayah dan ibunya telah pisah ranjang disebabkan ‘fair’ ayahnya dengan seorang perempuan lain. Anehnya kedua orang tuanya tidak pernah memutuskan untuk berpisah atau bercerai.

Esensi pernikahan dan rumah tangga merupakan momok bagi ambar, sedangkan yusuf men ganggap hal itu sesuatu yang normal dan akan dihadapi oleh siapa saja termasuk dirinya. Meski memiliki kekerabatan, keduanya berasa dari latar kelurga yang berbeda, ambar berasal dari keluarga dengan status ekonomi yang mapan dan kelas sosial tinngi namun kurang harmonis. Sedangkan yusuf anak tunggal yang dibesarkan oleh ayahnya (adi kurdi) setelah ibunya meninggal diusia 35 tahun. Maka wajar bila pandangan keduanya tentang rumah tangga jauh berbeda.

Ini dipertegas pada adegan ketika Ambar dan Yusuf mampir diwarung pinggir jalan (warteg) dimana suami istri pemilik warung tersebut saling mengejek pasangannya masing-masing dan membandingkannya dengan pasangan sebelumnya. Juga ketika keduanya harus menginap dirumah Haji Satimo – diperankan oleh Tarsan – yang secara visual digambarkan sangat relligius, memiliki dua istri dan tinggal satu atap dengan keduanya. Namun memiliki kehidupan sex yang diluar kebiasaan, diceritakan H. Satimo lebih suka melakukan hubungan sex dengan kedua istrinya sekaligus (threesome). Meski pada adegan tersebut terlihat tendensius terhadap poligami, namun jelas tersirat bahwa keluarga yang tampak religiuspun (pemilik warung dan H.Satimo) tidak menjamin keharmonisan dan anomali sosial.

Seperti pada keluarga transisi-modern, relasi antar anggotanya merupakan hal yang sekunder-rasional. Dimana relasi tersebut (orang tua kepada anak, suami kepada istri dan sebaliknya) didasari oleh tendensi-tendensi pribadi. Saya mengambil istilah transisi-modern dan bukannya modern karena perkembangan pemikiran dan konstruksi sosial di indonesia belum memasuki era modern sepernuhnya. Meskipun infrastruktur (bangunan, sistem politik dll) sudah mengikuti negara-negara maju yang masuk kategori modern namun pola pikir dan mentalitas masyarakat indonesia masih didominasi feodalisme. Dimana sangat jelas relasi antar masyarakat masih tersekat oleh kelas-kelas bangsawan-abdi, priyai-santri, majikan-pembantu, pemerintah-rakyat dll. Contoh paling sederhana orang tua yang sering menyuruh-nyuruh anaknya tidak beda dengan majikan menyuruh pembantunya.

Seperti yang diungkap ambar bahwa investasi orang tua kepada anaknya itu untuk jangka panjang. Dari teks tersebut kita dapat menarik kesimpulan, bahwa pada keluarga transisi-modern (seperti keluarga ambar) apa yang diberikan orang tua kepada anaknya (baik materi maupun non materi) tidak lagi dimaknai sebagai kewajiban orang tua untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Tendensi orang tua hadir dalam bentuk balas budi anak kepada orang tuanya/keluarga dengan menjaga nama baik keluarga, mendapatkan pekerjaan layak, berprestasi dipendidikan dan sebagainya. Sedangkan anak yang menyadari tendensi orang tuanya menganggapnya sebagai beban kalaupun tindakan yang paling rasional memanfaatkan fasilitas yang diberikan orangtuanya dengan menjanjikan bahwa masa depannya akan lebih baik hingga dapat dibanggakan.

Dalam relasi keluarga, gender merupakan dikotomi tugas yang jelas antar perempuan dan pria. Dalam tradisi jawa – yang kerap dianggap sebagai budaya adiluhung – sarat akan sistem patriarkhi di dalamnya. Pada film 3 hari Untuk Selamanya, dimana keluarga Ambar memiliki strata sosial yang tinggi juga menempatkan sosok ayah/pria sebagai pemimpin dan pemegang keputusan. Hal ini tampak dari pernyataan Ambar ketika Adin, kakaknya menolak untuk menikah. Reaksi yang ditunjukkan sang ayah malah mengatai anak perempuannya sebagai ‘lonte’. Adin terpaksa menikah sebagai konsekuensi dari perbuatannya meski menurut kacamata dia dan adiknya melakukan hubungan sex pra nikaha adalah sesuatu yang sepele.

Dalam adegan persiapan pernikahan yang ditampilkan pada awal film juga sangat tampak pembagian tugas antara pria dan wanita dalam keluarga tersebut. Ditampilkan para wanita (ibu dan tante) sibuk menyiapkan kelengkapan pernikahan sedang para bapak sibuk mengobrol yang tidak penting. Seperti kebanyakan budaya patriakhi, perempuan diposisikan sebagai penjaga tradisi. Dimana secara tidak sadar mereka merupakan orang yang bertanggung jawab atas berlangsungnya budaya patriarkhi selama ini. Sebagai penjaga tradisi, permpuan – ibu – digambarkan sebagai orang yang berpegang teguh terhadap nilai-nilai budaya yang diturunkan kepadanya. Termasuk diam dan tetap mempertahankan perkawinan meski hubungan dia dan suaminya sudah tidak harmonis. Ini juga dipertegas dari pernyataan adin dalam diaolognya kepada ambar, “ mau merapi meletus puluhan kali juga, kalau sudah urusan tradisi mana bisa ibu didebat”.
Konflikpun terasa ketika sang ibu memiliki dua orang putri yang ternyata ingin lari dari tradisi dan tidak memiliki keinginan sama sekali untuk melanjutkan ‘karier’ sebagai penjaga tradisi yang sudah ada.

II.c. Ambivalensi Pemuda Dalam Perfilman Indonesia
Dalam menangkap makna/meaning, suatu objek/teks tidak bisa lepas dari faktor wacana. Dalam hal ini wacana dipahami sebagai cara tertentu dalam mengonsep dan bertindak terhadap objek-objek sosial, yang menimbulkan implikasi-implikasi pada subjek. Menurut Chris Weedon (1987) wacana merupakan cara penyusunan pengetahuan, praktik sosial, bentuk subjektivitas, dan relasi kekuasaan yang melekat di dalam pengetahuan tersebut serta hubungan di antara semuanya. Sebagai satu bentuk praktik kebudayaan, wacana berkaitan juga dengan zaman, estetika, waktu, dan tempat tertentu.
Berdasarkan pengertian diatas, mengkaji wacana dalam film 3 hari untuk selamanya (juga berlaku pada film lainnya) kita harus membongkar terlebih dahulu konstruksi sosial yang ada dalam film untuk menemukan relasi penyusun kekuasaan/power. Sebagaimana Foucault menyebutkan bahwa wacana merupakan identifikasi dari kondisi historis dan aturan yang determinan terhadap suatu objek. Hal ini bukan hanya berkaitan tentang apa yang bisa diucapkan namun siapa yang boleh mengucapkan, kapan dan dimana. Untuk itu, maka film harus dipandang sebagai representasi budaya dimana film digunakan sebagai cerminan untuk mengaca atau untuk melihat bagaimana budaya bekerja atau hidup di dalam suatu masyarakat. Selain itu untuk menemukan wacana dalam film 3 hari untuk selamanya kita juga harus memahami budaya remaja yang terjadi pada waktu dan tempat ambar dan yusuf berada atau hidup.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, visualisai dalam film 3 hari untuk selamanya didominasi oleh budaya jawa kelas elit/ high art. Meskipun dalam perjalanan jakarta-jogja yang ditempuh ambar dan yusuf banyak melewati daerah-daerah dengan masyarakat kelas marjinal (warung pinggir jalan, H. Satimo, peminta sumbangan mesjid dll) namun tampilan keduanya jelas menampakkan identitas mereka sebagai anak dari kelurga yang mapan (mobil mewah,dandanan modis dan seksi). Sebagai anak muda yang ingin lepas dari tradisi kolot keluarganya, mereka belum dapat melepaskan kemapanan yang diberikan orang tua mereka. Karenanya, lingkungan pergaulan merekapun berasal dari kalangan elit ibu kota. Pergaulan khas kota metropolitan dari kalangan elit menjadi gambaran klasik film-film yang bercerita serupa, clubing, drugs, free sex merupakan hal bukan sesuatu yang baru. Dan tampaknya film 3 hari untuk selamanya ingin menunjukkan traveling culture kahs anak muda yang marak dilakukan pada medio 1990-an dimana perjalanan dikonsepsikan sebagai serangkaian pengalaman yang menjadi dasar perkembangan diri mereka sebagai anak muda yang berada pada ambiguitas didalam lingkungannya karena dianggap mengusung harapan orang dewasa/ortu untuk masa depan sekaligus menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran

Ambiguitas ini tampak dari kedua tokoh tesbut dalam kehidupan yang mereka jalani. Seakan memiliki dua kehidupan yang berbeda, keluarga dengan budaya hight art-nya yang memproduksi sikap patuh, feodal, dan kaku. Dan kehidupan yang lain sebagai anak muda dengan budaya populer yang memperoduksi sikap bebas dan liar. Dua hal yang bertolak belakang yang harus digeluti setiap hari membuat mereka merasakan kegamangan tentang identitas mereka sebagai individu seutuhnya. Pada akhirnya kesenangan dan hasrat secara negatif – dalam perspektif ortu mereka – menjadi satu-satunya ekspresi kebebasan yang mereka miliki. Ini ditunjukkan pada adegan ketika mereka bertemu dengan komunitasnya sesama anak muda di pub dan studio band di bandung. Di sana, pengambilan gambar lebih banyak difokuskan pada bagian pinggang ke bawa yang menunjukkan plesure akan libido kebebasan digambarkan berada pada wilayah tersebut.

Tidak ada wacana baru yang ditawarkan oleh film 3 hari untuk selamanya ini, wacana umum yang berkutat pada anak muda umumnya antara lain pertentangan idealitas mereka terhadap tradisi orang tua mereka, hasrat kebebasan yang utopis. Mengutip apa yang dikatakan Hebdige, bahwa anak muda dikontruksi di dalam dn melintasi wacana-wacana masalah dan kesenangan. Disini anak muda selalu diasosiasikan dengan kriminalitas, kenakalan dan kekerasan. Mereka juga direpresentasikan sebagai konsumen gaya, fashion , suka bermain-main dan pesta.

Sangat disayangkan film besutan sutradara handal Riri Reza dan Mira Lesmana sebagai produsernya yang konon telah menghidupkan kembali perfileman nasional tidak dapat lepas dari wacana dominan cerita remaja perfilman kita. Tidak ada wacana tandingan yang bisa diberikan film tersebut ditengah gempuran film serupa di pasaran yaitu setiap anak dari kelurga yang kaya/mapan pasti mengalami broken home dan terjebak pada kehidupan yang negatif. Padahal pada realitasnya banyak anak muda dari kelurga serupa mampu bersikap dewasa dan banyak pula anak dari kelurga broken home dapat sukses dibidang yang mereka geluti. Bahkan dalam beberapa artikel yang membahas film ini disebutkan mengadaptasi dari film bergendre serupa dari luar negri seperti Y Tu Mama Tambien.


II.d. Idealitas Semu Kaum Muda.
Pada pembahasan sebelumnya yang kita telah membahas mengenai wacana dominan pada film 3 hari untuk selamanya. Pada pembahasan kali ini saya akan mencoba membongkar muatan ideologi dalam film tersebut. Bebrbeda dengan wacana yang senantiasa mengalami perdebatan serta selalu terjadi kompromistis antara wacana dominan dan wacana perlawanan, ideologi besifat final dan tertutup untuk diperdebatkan. Seperti yang diungkap Barthes bahwa ideologi adalah suatu bentukan manusia yang dipatenkan sebagai sebuah kebenaran. Dalam pandangan Barthes, kebenaran macam itu tidak lain adalah mitos – sesuatu yang kita pahami sebagai kebenaran yang terbentuk secara alami – dan itu adalah ideologis. Searah dengan ideologi yang dipahami Althusser, bahwa ideologi tercermin dalam kehidupan sehari-hari dan tidak bersifat abstrak. Perilaku manusia selalu didasari atas mitos-mitos yang disadari – mitos tidak sama dengan dongeng – sebagai contoh ketika kita mencuci, kita membutuhkan rinso – merk sabun cuci – padahal kita bisa saja mencuci tidak menggunakan sabun. Atau ketika kita ke warung untuk membeli sabun cuci, cukup mengatakan ‘rinso’ pada penjual maka ia akan memberi kita sabun cuci meski merknya bukan rinso. Dalam hal ini, barthes mengatakan bahwa ‘rinso’ telah menjadi mitos dikepala kita dengan arti lain kalau kita mencuci tidak menggunakan rinso maka cucian kita tidak bersih. Inilah yang kita pahami sebagai sebuah kebenaran maka dalam pandangan althusse ‘rinso’ disini telah menjadi ideologi.

Dalam cultural studies, ideologi merupakan konsep penting dalam penelitiannya. Bahkan james carey menyatakan bahwa cultural studies lebih tepat dikatakan sebagai studi ideologis. Sehingga ketika kita membahas suatu objek – termasuk film – dalam perpektif cultural studies, tidak lain sesungguhnya kita tengah membongkar ideologi yang terselubung dibalik objek tersebut. Berdasar pada pemikiran barthes dan althusse, untuk menemukan ideologi dalam sebuah film kita dapat menganilisa keseharian karakter serta relasi sosial antar para toko-tokoh yang terdapat pada film tersebut dalam membanguun satu cerita yang utuh.

Sang author 3 hari untuk selamanya ingin menjadikan ‘kebebasan’ sebagai ideologi yang perlahan-lahan mengintervensi dan mendominasi teks film, melalui acting dari karakter tokoh. Pemahaman yang menitik beratkan kebebasan individu yang lebih dikenal sebagai paham liberalisme pada film tersebut sangat kental ditunjukkan oleh dua karakter utama Ambar dan Yusuf. Dalam ketidak setujuan mereka terhadap nilai-nilai tradisi yang diberlakukan orang tua, keduanya kerap mencari jalan mewujudkan keinginan mereka melalui komunitas (cluber dan band) yang mereka temui. Mereka juga menemukan kebebasan tersebut dalam drugs dan minuman keras yang jelas terlihat di sepanjang perjalanan yang ditempuh keduanya menuju jogja via bandung, tidak henti-hentinya mengisap ganja meski adegan tersebut saya rasa terlalu berlebihan. Sayapun berpendapat, kebebasan yang ditunjukkan dalam film tersebut sangat kalsik, ciri khas film-film remaja indonesia dimana dugem, mabuk, free sex digambarkan sebagai jalan keluar dari kungkungan keluarga yang ‘kolot’ meski terkesan memaksa agar disebut modern.
Liberalisme sendiri merupakan pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama. Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Ini digambarkan pada dialog antara ambar dan yusuf ketika membahas tentang adin yang dipaksa menikah.

Ambar : Kalau saya jadi mbak Adin, gak mau nikah suf.
Yusuf: Emang kenapa?
Ambar: Hamil enggak, ada pekerjaan, penghasilan lumayan. Masa seumuran dia (mbak Adin) dipaksa nikah hanya karena ketahuan ML…
Dimana hak pilih kita???
Yusuf: Mana ada hak pilih, namanya juga ke gep (kepergok).
Lagian emang mbak Adin dipaksa?

Selanjutnya kita dapat melihat, kebebasan yang dipahami ambar dan yusuf ternyata berbeda. Jika ambar menempatkan kebebasan sebagai tindakan yang sesuai apa yang kita inginkan tanpa terikat aturan dan nilai-nilai yang lebih dulu ada. Sedangkan yusuf memahami kebeasan sebagai seuatu yang diberikan lingkungan sosial kepada individu untuk dapat dijalankan dengan tanggung jawab sesuai dengan nila-nilai yang ada di masyarakat, sehingga pelanggaran akan nilai-nilai tersebut selalu memiliki konsekuensi sendiri yang telah di sepakati dalam lingkup sosialnya. Seperti kedapatan melakukan sex pranikah konsekuensinya harus menikah atau dikucilkan secara sosial. Namun keduanya sepakat tentang kebebasan berfikir yang mereka ungkap dengan istilah “untuk apa percaya pada pikiran orang kalau kita punya pikiran sendiri”
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, film 3 hari untuk selamanya menekankan kesenangan (plesure) sebagai identitas pemuda metropolitan. Gaya hidup hedon yang ditampilkan begitu gamblang dalm film tersebut menunjukkan pemahaman akan kebebasan yang dangkal. Hedonisme erat kaitannya dengan gaya hidup material dan konsumtif menjadi ciri karakter pemuda metropolitan tampaknya telah menjadi identitas perfilman kita, dimana eksistensi mereka sebagai individu hanya dapat diperoleh dari kesenangan-kesenangan serta trend gaya terbaru. Tentu saja kapitalis selalu berada dibalik paham hedon tersebut. Tidak heran sebab ideologi liberal-lah yang menghadirkan paham kapitalis dalam bidang ekonomi dan demokrasi dalam bidang politik. Sebab hanya dalam suasan iklim kebebasan, kapitalis dapat tumbuh subur, dan tentu saja gaya hidup hedon menjadi pupuk yang semakin menyuburkan praktek-praktek kapitas tersebut. Kritik kaum marxis terhadap kesadaran palsu yang ditanamkan kaum kapitalis tampaknya tidak lagi berlaku hanya pada kelas pekerja. Kesadaran palsu tersebut tampaknya teleh merasuk lintas kelas dan golongan dan anak muda menjadi sasaran yang empuk, dengan menjanjikan eksistensi mereka melalui produk-produk trend dan gaya.

Meski penolakan mereka terhadap pengajaran dogmatis orang tua merupakan ciri khas dari pandangan liberal. Kunjungan mereka ke Sendangsono (pemakaman dan tempat ziarah umat katolik) juga merupakan adegan yang saya rasa cukup penting. Pada adengan tersebut, tampak ambar berdoa meski lebih tampak seperti curhat pada patung bunda maria. Menurut saya adengan ini cukup memperlihat penghargaan mereka terhadap pluralitas yang ada. Ini juga menggambarkan bahwa, kedua tokoh tersebut tidak ingin dibatasi oleh sekat agama untuk menunjukkan eksistensi mereka.Di sinilah terjadi titik balik kesadaran mereka akan arti kehidupan sekaligus antiklimaks dari konflik dalam film tersebut.



III. PENUTUP.

III.a. Kesimpulan
Film sebagai cermin suatu budaya, telah dipercaya sebagai agen dalam menyebarkan gagasan-gagasan penciptanya/author. Dalam kajian budaya atau cultural studies film seperti juga media komunikasi lainnya setiap gagasan selalu bermuatan politis. Meaning, wacana dan ideologi merupakan tiga kata kunci dalam cultural studies, dalam kaitannya dengan film tiga hal tersebut diperoleh dari interpretasi penonton secara aktif. Subjektifitas yang dihasilkan dari proses interpretatif penonton menyababkan hilangnya peran sang author sebagai pemilik gagasan awal (author is death). Karena itulah cultural studies dikatakan bersifat emansipatories, ia dapat berafiliasi dengan berbagai kajian ilmu dan wacana yang telah dibakukan secara akademis selain itu ia juga bersifat plural sebab objektifitas wacana selalu berdialektika dengan wacana yang lainnya.

Film seharusnya dipahami sebagai representasi kebudayaan, yang menurut Barker representasi dimaknai sebagai bagaimana dunia dikonstruksikan secara sosial dan disajikan kepada kita dan oleh kita di dalam pemaknaan tertentu. Pemaknaan yang hadir dari kondisi sosio-culture yang disajikan dalam film diinterpretasi oleh penonton sesuai dengan konstruksi budaya yang mereka miliki sehingga menghadirkan makna yang plural.

Film 3 hari untuk selamanya, meski dikategorikan sebagai film festival dan sempat mendapat kehormatan tampil di acara premiere Hong Kong International Film Festival dan Singapore International Film Festival dan mendapat sambutan yang antusias dari penonton dan pemerhati film internasional tetap tidak dapat lepas dari mainstream film cerita remaja ala Indonesia. Dimana remaja/anak muda selalu dipresentasikan dalam kehidupan liar dan glamour lagi-lagi broken home/kondisi keluarga yang tidak harmonis dan kolot selalu menjadi latar belakangnya. Namun satu hal yang patut diapresiasi bahwa film ini telah memotret fenomena-fenomena yang nyata ada dalam budaya kita dengan cukup jujur. Secara visual film ini juga menampilkan kejadian-kejadian yang sering terlihat di dalam masyarakat kita, khususnya di daerah-daerah sepanjang jalur pantai utara. Salah satunya adalah erotisme penari jaipong jalanan sebagai salah satu budaya kita. Lalu masihkah kita mengatasnamakan budaya timur sebagai alasan untuk tidak membahas sex? Sebab menurut saya setiap kebudayaan pasti memiliki sisi erotisme yang melambangkan seksualitas manusia, tidak terkecuali budaya timur yang selalu kita anggap suci dan bersusila.

IV. DAFTAR PUSTAKA
John Storey, An introduction To, Cultural Theory and Popular Culture, second edition, Maylands Avenue 1997
John Storey, Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop, penerjemah: Layli Rahmawati. JALASUTRA, Jogja, 2006.
Susan Hayward, Cinema Studies: The Key Concepts, third edition.New York, 2006.
Chris Barker, The SAGE Dictionary of Cultural Studies, London 2004
(LAGALIGOMOTHER)

0 komentar:

Poskan Komentar