Teori Film

Selasa, 16 November 2010

Sebuah Analisis Berbasis Subjektif : Apa Yang Menarik dari ‘Penganten Sunat’?

Yang Mendominasilah Yang membuat Sketsa.

Kalau berbicara tentang hiburan, jelas film ini sangat menghibur, Aksi aming dan Duo The Virgin cukup mewakili subjek2 yang terdominasi ‘mungkin’ dari karakter skenario yang dikembangkan. Tidak gampang memerankan karakter Srimpi dalam ‘Penganten Sunat’ oleh sosok setenar Dara, yang bisa dibilang punya image tersendiri didunia musik.

Karakter ini begitu menggoda, sexy, semacam ada kesan yang agak negatif (pleasure) bila kita melihat beberapa aksi dari tokoh ini, namun sebaiknya anda melihat dulu latar dari keseluruhan cerita, mengapa tokoh ini menjadi menarik dan berhak menjadi protagonist didalam cerita. Salah satu pisau bedah pertamanya adalah melalui Setting_Latar cerita.
Cerita ini berlatar sebuah kampung-rumah susun padat, dimana banyak hal yang bertolak belakang dari kehidupan pada umumnya, Perempuan sangat mendominasi laki-laki, bahkan bisa dibilang radikal emansipatories, main judi, sabung ayam, dsb digambarkan sebagai kegiatan para perempuan dikampung ini, dan para lelakinya: mengurus anak, mencuci baju dan piring. Intinya, tabiat para perempuan dalam kampung ini sangat buruk, yang juga berdampak pada kelakuan Suami2 meraka, hingga muncul sosok Srimpi dengan segala sifat keperempuanannya, yang sangat bertolak belakang dengan sikap para perempuan tsb (ex; Karakter yang diperankan, Ayu Dewi, Mpok Indun, Debby Ayu). Seiring jalannya Cerita, Srimpi menjadi tokoh yang hendak disingkirkan, jelas alasan pertama karena Srimpi adalah hambatan bagi para ibu2 yang mendominasi dikampung tersebut, meskipun benang merah konfliknya adalah hubungan suami istri, namun melalui karakter Srimpi kita bisa melihat seperti apa seharusnya perempuan itu bersikap (ex: adegan Japra, Bini dan Srimpi makan malam, dan ada beberapa ) kalaupun ada adegan yang bertolak belakang dari karakter perempuan ‘yang baik’ mungkin itu adalah sebuah perlawanan sosial (adegan Srimpi buka lapak) ataupun sebuah kepentingan hiburan-komedi. Bisa ditafsir bahwa, apa jadinya jika pada kenyataannya Perempuan2 semacam (Lela cs) mendominasi, mungkin laki2 yang akan buka-lapak. Disinilah terlihat pola yang menarik bahwa banyak hal yang dibalik didalam penceritaan film ini, dengan polesa genre komedi yang hiperbolik.



Mungkin, perempuan ‘yang baik’ bukanlah dilihat dari cara dia berpakaian ataupun bersikap, saya lebih setuju jika dilihat dari cara mereka berfikir-pola pikir. Karena masalah berpakaian dan bersikap akan berbeda pada setiap tatanan, namun polapikir ataupun cara berpikir kita selalu dianjurkan pada kebaikan dan itu berlaku pada semua tatanan sosila agama dan individu.

Bila kita melihat dan ingin menilaia karakater yang dimainkan Duo The Virgin ini, maka tergambar bahwa karakter Bini yang dimainkan oleh Mita bisa dibilang sangat memukau oleh karena karakter yang ia perankan mampu membuat perempuan merasa punya hak untuk dicintai, dan yang membuat ini menarik adalah ungkapan ini dikemas begitu gentle untuk seorang perempuan (gak sinetron bagetlah), bisa dibilang bahwa setelah penonton keluar dari bioskop, maka adegan yang paling mereka ingat yang pertamakali dan berkesan adalah adegan Bini mengunkapkan kecemburuannya. (mungkin kalau difilm AADC, ‘emang salah gw, salah temen2 gw? Kalau NagaBonar: Apa kata Dunia?) nah, kalau saya pribadi dalam Penganten Sunat ada pada adegan tersebut: ‘Gw juga Perempuan yang bisa…


Kalau disuruh memilih siapa yang lebih baik berakting diantara duo The Virgin saya memilih Dara sebagai Srimpi, karena begitu kompleks peran yang disuguhkan karakter ini, tetapi kalau penilaiannya siapa yang paling berkarakter, jempol buat Mita. (emang acara the Casting, akakakakakakkakkkkkk)



Untuk karakter Japra yang dimainkan Aming, kita tidak usah ragukan lagilah kemampuan akting Aming dalam genre Komedi, tetapi Justru Garry Iskak yang berperan sebagai Marwan yang memukau saya dalam film ini. Emang cocok tuh orang jadi komedian.


Dalam ranah kreatif, Rako Prijanto sebagai sutradara dalam Film ini (mungkin ini film ke 12nya setelah Ungu Violet), memberikan banyak pandangan dalam film ini, kritik sosial melalui setting rumah susun dan karakter Srimpi, bagaimana menterjemahkan emansipasi melalui karakter Lela cs, Masalah kepercayaan diri melalui karakter Japra, membina hubungan keluarga, hingga mempertanyakan Mitos. Dan inilah yang selalu menjdi cirikhas film2 Rako baik komedi maupun Drama.
• Dari keseluruhan filmnya Ia selalu mengangkat tokoh Anak Muda (yang tidak muda lagi) dilema perkawinan, pekerjaan maupun gaya hidup.
• Setring Urban dan kelas Marginal selalu ada dalam filmnya.
• Kritik Mitos, hingga masalah Etnis (Tanda semiotik tentang China selalu ada dalam filmnya).
• Masalah Sex/ orientasi sex tidak penting, lebih kepada cara pandang dan seharusnya tidak ditabukan.
• Perempuan lebih punya sikap/ lebih ‘kuat’ dibanding laki2.
• (Mungkin ada yang mau nambahin??? Silahkan!!!! Crewnya selalu main dalam tiap filmnya Mungkin…)


















Lebih jauh Film Pengantin Sunat, ini mungkin memberikan hal yang menyegarkan dan positif bagi penontonnya. Tetapi untuk perfilman Indonesia kedepan Film ini belum bisa bersifat dialogis, tendensinya selalu mengarah konsumerisme. Ibaratnya kita tidak bisa menjadikan box-office sebagai patokan keberhasilan kalau transparasnsi data penonton saja tidak ada.

0 komentar:

Poskan Komentar