Teori Film

Minggu, 07 Maret 2010

montage (buat bahan presentasi)


Sebuah film yang baik tidak terlepas dari sebuah bentuk fisik-medium, yang berarti elemen tersebut terletak pada isi materi dalam film, sehingga film tersebut menjadi bermutu dan mempunyai soul. Montage digunakan oleh Eisenstein sebagai alat untuk dapat memisahkan film dengan realita dan menjadikannya sebagai sebuah karya seni yang otonom.
The shot is a montage cell) film memiliki materi dasar sama seperti semua bentuk di dunia ini, Eisenstein tidak menganggap frame sebagai meteri dasar dari film, karena sifatnya yang mikroskopik dan cara kerjanya yang lebih kecil dari pada meteri dasar seni lainnya, materi dasar untuk film yang dimaksud Eisenstein adalah sebuah shot, independent shot.


Material dasar dari film harus terlepas dari realita sehingga shot dapat diaransemen agar membentuk sebuah film dan filmmaker yang memiliki peran sebagai arrangernya.
Konsepsi shot sebagai attraction atau atraksi menciptakan pemikiran baru dalam film, bahwa sebuah shot harus memiliki atraksi (seperti sirkus) yang menarik dan menstimulus psikologi kita yang kombinasikan melalui shot sebelum dan shot sesudahnya, hingga menjadi sebuah cerita.
Penganalogian atas konsepsi shot sebagai atraksi disini dikuatkan lagi ketika Eisenstein menemukan dasar dari cara seniman formalis bekerja; landasan collision atau konflik dalam menggabungkan dua shot yang masing-masing shot memiliki arti yang berbeda, sehingga ketika digabungkan akan menghasilkan pengertian baru. Dan lebih jauh Eisenstein memproklamirkan konsep ideogram dalam cinema.
IDEOGRAM
Ideogram: simbol yang mempunyai arti sama dengan apa yang direpresentasikan, sebuah ideogram merepresentasikan dari satu kata, arti-maksud umum dan bukan sseuatu yang spesifik. Dalam tulisan Sergei Eisenstein (Film Form and the Film Sense), kekuatan gambar pada tulisan hieroglyph Mesir kuno sangat berfungsi menjelaskan suatu makna, dan tulisan dalam hieroglyph adalah hal yang paling dasar yang bisa dikatakan shot dalam cinema. Dalam ideogram Mesir kuno, tiap simbol mewakili sebuah kata seperti: a mouth + a bird = ‘to sing’.
Eisenstein menggunakan konsep ideogram sama seperti ideogram Mesir kuno, namun cara Eisenstein menggabungkan dua gambar untuk menciptakan maksud baru tidak berlaku dalam ideogram Mesir kuno, ia menerapkan konflik atau benturan dari dua buah gambar yang berdiri sendiri (independent) hingga memunculkan makan baru, sehingga elemen dasar (raw material) sangat penting baginya karena disitulah fungsi seniman...
Konsepsi atas konflik ini jika diterapkan dalam film contohnya akan seperti, shot sebuah mulut digabungkan dengan shot seekor burung yang akan menghasilkan arti baru, yakni bernyanyi. Mata dengan hujan berarti menangis dan lain-lain.
Konflik atau perbentrokan yang terdapat dalam Haiku inilah yang membuat konsepsi montage semakin kuat dalam mengolah atraksi dalam film dan elemen-elemen yang terdapat dalam sebuah shot dibuat berdasarkan konflik atraksi.

0 komentar:

Poskan Komentar