Teori Film

Sabtu, 15 November 2014

Teori film psikoanalisa


                                                                                           

                                                           
Apa yang membuat penonton beranjak lebih cepat dari duduknya sebelum film selesai, berlama lama larut dalam kesedihan, atau ketiduran karena merasa lebih nyaman dengan suasana gelap gedung bioskop mendatangi gedung bioskop melakukan ritual sesaat, (mengamati poster, membaca synopsis, mengantri diloket sebelum menikmati film  yang kemudian berargumen tentang film yang ditontonnya baik kepada dirinya ataupun kepada orang lain) jawaban pertanyaan tersebut mungkin lebih sederhana dan simpel dibanding pertanyaanya. Ada banyak metode dalam menjelaskan  hal ini, selaku penulis ada dua dimensi point of view dari disiplin ilmu yang menarik serta penjabaran mengapa bioskop perlu dikunjungi. 



Pertama, dimensi sosiologis sebagai aspek yang global. Menurut Erwin Goffman seorang pakar sosio-psikolog, manusia pada hakekatnya secara aktif mengklarifikasikan dan mengkategorisasikan pengalaman hidup ini agar mempunyai arti dan makna, permasalahannya individu terkadang secara tidak sadar mengabaikannya, meskipun individu menyadarinya, ia perlu mencari  presentasi atau paradigma lain disekitarnya, agar individu yakin bahwa ada individu lain yang mau tidak mau memiliki keterhubungan dengan individunya. Akan muncul adanya semacam comparison, sebersit pernyataan bahwa pengalaman orang lain lebih berarti dari pengalaman hidupnya, dan itu adalah lumrah. Secara umum berakibat interprentasi individu menjadi tergantungan dengan kondisi individu lain. Hal inilah yang mengemukakan bahwa manusia adalah mahluk social. Representasi film jelas memberikan banyak karakter-individu dan pengalaman dari individu lain yang kemudian individu sendiri mencari-mengidentifikasi individu mana yang menyerupai pengalamannya sebagai sebuah interprentasi.


                                        


Semakin unik contoh-representasi  tersebut, maka akan semakin dibutuhkan karena individu berusaha menarik kesimpulan yang diinginkan dengan cepat membekas pada panca indra manusia sebagai sebuah proses sebab-akibat. Artinya point ini telah merambat ke dimensi psikologi sebagai suatu sikap atas individu.
Representasi dalam film atau strategi yang digunakan filmmaker adalah upaya untuk menekankan dan membuat pesan menjadi lebih bermakna, lebih unik dan mencari perhatian public. Upaya membuat pesan lebih mencolok dan lebih unik ini serta interaksi secara tidak langsung melalui layar dengan penonton adalah taraf lanjut yang  tak dapat dipisahkan dengan dimensi psikologis ke dalam film.



Kedua, dimensi Psikologis sebagai  aspek individual. Pendekatan psikologi menekankan bagaimana pengaruh kognisi konsep kesadaran seseorang dalam membentuk skema tentang diri, sesuatu ataupun gagasan teori. Bagaimana suatu individual memahami dan melihat realitas dengan skema tertentu yang tentunya banyak berhubungan dengan berbagai teori. Manusia pada dasarnya tidak dapat mengerti realitas dunia yang sangat kompleks. Oleh sebab itu manusia atau individu berusaha menarik kesimpulan dari sejumlah besar informasi yang dapat ditangkap dalam panca indera sebagai dasar hubungan sebab-akibat, dan kemudian dikristalisasikan secara psikologi tiap individu. Atribusi tersebut dipengaruhi oleh skema personal ataupun  skema social culture-politik-gender dsb pada tiap individu. 

Filmaker melalui skema film meramu berbagai cara untuk dapat menciptakan  efek   atau ‘mempermainkan’ 
psikologi penontonnya. Satu contoh kecil, jauh sebelum teori film berkembang  saat pemutaran film Lumiere diputar pertama kali di Grand Café Paris tahun 1895, penonton berhamburan keluar dari ruang bioskop, karena adegan kereta api yang melaju mempengaruhi persepsi penonton. 



Setahun kemudian, 1896. Sigmun Freud[1] menggunakan istilah psychoanalysis untuk pertama kali yang kemudian dikembang lebih lanjut oleh Jacques Lacan[2] melalui pendekatan lingusitik-semiotika khususnya didalam teori cinema, sebuah penjabaran ‘subject-effect[3] yang dialami pada penonton sebagai subjek yang dihasilkan dari cinematic apparatus.[4] Teori ini (psychoanalysis) yang dipunggawai Jacques Lacan ditahun 1970 awal sebagai perkembangan second semiology[5]. Ia meramu psikoanalisa Sigmund Freud yang dikaitkan dengan basis semiologi. Fokus utama studinya adalah ketidaksadaran (unconscious), yang sebelumnya diperkenalkan Freud. Lacan menggali kembali ketidaksadaran sebagai konsep dengan bantuan metode linguistik Saussure[6] dan memusatkan kajiannya pada beberapa metode Freud sebelumnya, seperti percakapan antara psikiater/psikolog dan pasien. Percakapan tersebut menurutnya, merupakan seuntai rantai penanda-penanda. 

Sineas melalui media film menyampaikan pesan melalui penyederhanaan realitas dunia yang sangat kompleks, tujuannya bukan hanya sekedar menyederhanakan dan dapat dipahami dengan mudah, tetapi juga agar lebih mempunyai persfektif, estetika, pada dimensi tertentu.

Filmmaker membingkai apa yang ada dalam pemikirannya melalui berbagi elemen yang terjadi dan mungkin yang akan terjadi dalam kehidupan social (sociology)  dan nantinya akan dituturkan kepenonton melalui media motoric yang secara tidak langsung mampu menghasilkan  efek psychologist pada penonton. Lebih jauh, efek inilah yang membuat penonton bertahan dan menikmati film, dan salah satu elemen yang membuat film berkembang menjadi seni sampai saat ini.

Film yang baik akan memberikan pesan moral kepada penontonnya, melalui point of view filmmaker, terlepas apakah pesan tersebut sampai atau tidak dengan baik kepada penonton, dan mau tidak mau itulah yang terjadi, dalam hal penyampaian atau cara penonton mengidentifikasi, teori psychoanalysa Lacan memberikan gambaran penyampaian pesan melalui bagaimana menganalisa pemikiran yang ada penonton dalam mengutip pesan film, dalam identifaksi penonton yang melibatkan kekuatan pemikiran dan cara berfikir, yang nantinya akan melahirkan efek dalam pemikiran penonton. Jelasnya, teori psychoanalysa Lacan berbicara tentang otak penonton pada saat menonton film dalam gedung bioskop.


Oleh karena filmaker menyampaikan pesan melalui media film kepada penontonnya, maka jelas bahwa posisi penonton sangat istimewa, melalui  psikoanalisa, sebuah teori yang mengistimewakan sisi individualitas (penonton), maka dalam paper ini akan mengurai sejarah psikoanalisa dan perkembangannya dalam cinema, melalui persfektif Lacanian.








          II
           PEMBAHASAN
II .1. Psikologi  di era teori film klasik  (1916-1958)  

Kita membutuhkan berbagai paradigma sebagai alternative yang lebih kritis dalam melihat atau mengkaji realitas lain dibalik wacana media film dalam merangkum wacana dan perkembangan film sebagai media ditengah masarakat, dengan tujuan memperkaya interprentasi penonton dan filmmaker itu sendiri pada khususnya.
Era teori film klasik, psikoanalisa belum begitu berpengaruh dalam berbagai bidang termasuk dunia cinema, ilmu ini terhitung baru dan secara umum baru berkembang di tahun 1930an kemudian merambah teori film khususnya di Eropa pada tahun 1960 akhir. Namun unsure psyche-psychology adalah hal yang tidak terlepas dari dunia film dengan berbagai pendapat dan analisa para ahli teori film di era klasik.  Tahun 1920an, film dianggap mulai mencapai titik ‘kedewasaannya’ pada era ini para ahli teori dan sineas berfikir bahwa film memiliki unsure estetika dalam bertutur, dan sewajarnya film ditempatkan  sebagai seni ke-tujuh, diantara seni yang lain (seni rupa, seni drama, seni tari, seni musik, seni arsitektur dan seni sastra).  Di era ini memunculkan dua teori  besar dalam sejarah teori film klasik yaitu, Formalism thory [7] dan Realism theory[8].  Tokoh formalism yang melihat film dikaji dari form-bentuknya, paradigma dan konsep teori mereka pun bermacam macam antara lain Sergei Eisenstein[9], menilai film sebagai collisison,  Sergei merasa ‘benturan’-‘collision’ dari penggabungan materi shot digunakan untuk menggerakkan-‘manipulated  emosi dari penonton serta mengkreasikan sendiri methapora film.




 Ia percaya bahwa akan tercipta  arti-ide (intellectual) lain yang dapat diperoleh ketika dua shot yang memiliki arti  independent dan kemudian di kesinambungkan atau disejajarkan, arti lain akan tercipta dari susunan potongan tersebut.. Artikel dan buku bukunya (1920an) terutama Film Form and The Film Sense, memberikan dampak dan pengaruh terutama bagi filmaker di era selanjutnya. Ia percaya bahwa editing mampu memberikan efek psike lebih bagi penonton yang secara terperinci melalui hubungan/keterkaitan rangkain gambar. Kejadian di café Grand Paris sebagai salah satu contoh dari  Psychological of Empthy, yaitu; Hal yang ditekankan agar penonton ketika melihat rangkaian image merasa tergugah secara emosional dan intelektual, Eisenstein menekankan bahwa keutuhan film mampu memanipulasi keadaan jiwa. Pengaruh psikologis dan emosional tercipta karena adanya pengalaman (materi) dan kalkulasi (arti dari materi). Aksi sang aktor menjadikan penonton dibius oleh emosi, proses ini menurutnya adalah imitasi motorik, munculnya emosi karna adanya perubahan psikologis didalam jiwa-tubuh. Kajian utamanya adalah emosi dan persepsi intelektual, yang setelah itu baru mampu menciptakan gagasan-penyampaian..


Pendapat lain yang lebih extreme muncul dari tokoh teori  Formalis lain, jauh sebelum Eisenstein mengenal film, melalui tulisannya ‘The photoplay: A psychological’ 1916, Hugo Munsterberg[10] menilai esensi film ada pada pikiran penontonnya dengan latar ‘gestalt psychologist’ , dalam tulisannya ia mengklasifikasikan kronologis sejarah cinema kedalam dua bagian, yaitu :
1) Sejarah teknologi media film dan evolusi penggunaan media film tersebut oleh masarakat. Menurut pendapatnya, kemajuan teknologi telah memfasilitasi masarakat dalam mengakses dunia sinema, namun rasa ingin tahu / kebutuhan masarakat terhadap kebutuhan informasi, pendidikan, dan hiburanlah (sebagai kebutuhan) yang menyebabkan film itu ada. Munsterberg merasa cukup ideal dengan kemajuan tehnologi cinema di tahun 1915, karena teknologi pada saat itu dianggap telah bisa mewakili nilai nilai estetika cinema yang dituntut mesti  ada dalam kehidupan manusia sehari hari, sebagaimana yang di akui oleh Andre Bazin[11] 30 tahun kemudian bahwa film harus dilihat sebagai sebuah pengembangan peristiwa.

2) Proses nalar Psycho-sosiologis dalam menyikapi  suguhan tontonan media film yang melibatkan unsure unsure pikiran dan emosi menjadi bahan utama pembedahan film teori Hugo Munsterberg, dengan menarik kesimpulan bahwa emosi harus mampu mengatur aktivitas dan kekuatan pikiran dalam memproses informasi yang diterima oleh media film. Hugo Munsterberg membedakan  lebih jauh tentang proses penerimaan informasi ini dengan menyebutkan ransangan visual yang diterima oleh mata manusia yang diteruskan pada penalaran otak untuk  kemudian diterjemahkan kedalam suatu aspek kenyataan yang  bisa diterima oleh akal, yang pada akhirnya dapat menimbulkan suasana emosi tertentu. Seperti halnya musik bagi seni telinga. Lukis bagi mata, demikian pula halnya dengan cinema yang merupakan seni bagi mata.

Point inilah yang dinilai ekstrem dalam tanggapannya mengenai film, bagi Hugo Munsterberg, sensasi yang  diterima oleh manusia pada saat subjek-penonton ‘tersesat’  di alam fantasi pada saat menonton film adalah bukti yang cukup bahwa film adalah sebuah seni yang menjunjung tinggi nilai estetika. 

Melalui proses mata menerima gambar hingga ke otak merupakan latar ‘gestalt psychologist’ proses yang memikirkan kekutan pikiran dari berbagai aspek yang ada dalam film, baik dari bentuk, cahaya, warna, dsb  adalah proses yang nantinya ditafsirkan pada otak/akal. 



Teori dari Hugo Munsterberg (photoplay :1916) dalam menganalisa media film adalah sebuah proses nalar psikologi dalam menjembatani elemen ruang, waktu dan causalitas kedalam situasi pikiran yang bisa diterima oleh akal, dan proses tersebut adalah bagian dari estetika seni film. Artinya kekuatan pemikiran dan emosi yang ditimbulkan akibat dari tontonan visual lebih menitik beratkan pada pada proses pemikiran kita-spectator. (Film ada pada pikiran penonton).

Tanggapan lain muncul dari paradigm Andre Bazin, salah satu rival bagi teori Formalism semacam Sergei Eisenstein, dan Hugo Munsterberg,  Bazin yang merupakan pelopor Realism dalam essaynya Andre Bazin yang membandingkan film dengan media seni lainnya hingga patut disejajarkan dengan seni yang lain bahwa film adalah satu-satunya media yang sangat baik untuk mengungkapkan realitas, karena kekuatan magis film yang menampilkan  sebuah realitas sempurna bagi penontonnya. Sebuah kedahsyatan film yang membuat keterkejutan psikologis manusia ketika pertama kali melihat sebuah gambar bergerak dan hidup (The myth of total cinema), dalam rangkaian image hingga muncul istilah motion picture.
Dari tokoh tokoh yang berbeda aliran teori dan jaman ini melihat film dari paradigma yang berlainan, dan boleh saya katakan bahwa pendapat pendapat yang muncul, gestalt psychologist, The myth of total cinema dan Psychological of Empthy mempunyai arti universal yang sama bahwa film terkait dengan dimensi psikologis bagi penontonnya terlepas dari teori mereka dalam menuangkan  konsep yang berbeda dalam menilai film sebagai seni.
Hingga dalam perkembangannya  (era teori film kontemporer ) memunculkan teori psikoanalisa salah satu disiplin ilmu yang berupaya menjelaskan perilaku manusia adalah psikologi. Dan (mungkin) hanya Lacan lah yang fokus total mengkaji film melalui sisi psikologis sebagai suatu disiplin ilmu dalam perkembangan di era teori film kontemporer tahun 1970 awal.



II.2. Munculnya Psychoanalysa.

Pertengahan tahun 1860, seorang anak kecil sedang belajar dengan lampu baca kebanggaannya, sementara keenam saudaranya hanya menggunakan lilin untuk belajar, dialah Sigmun Freud anak yang mendapat perhatian lebih dari Ibunya dibanding saudaranya yang lain. Tahun 1896, di usia 40 tahun Sigmun Freud menggunakan istilah psychoanalysis[12] untuk pertama kali didunia, setahun setelah perdana film Lumiere di Prancis, namun pada era itu masarakat belum mengenal ilmu ini (psikologi) dan belum banyak mendapat tanggapan dibanding ilmu fisika dan biologi.
Freud adalah seorang Jerman keturunan Yahudi, meskipun keluarganya Yahudi namun Freud menganggap bahwa dirinya adalah seorang Atheist.  

Sigmund Frued, pendiri Psikoanalisa asal Austria, adalah ahli psikologi dan seorang  psiaktri modern  pertama, memfokuskan psychoanalysa kepada totalitas kepribadian manusia dan bukan kepada bagian-bagian yang lain., analisa kejiwaan manusia. Inovasi Freud dipengaruhi atas penyelidikan atas dua relasi hubungan yang berbeda pemikiran (seperti ibu dan bayinya, pasien dan perawat), kemudian ia membangun teori  pikiran manusia human mind dan  teori tingkah laku manusia human behavior, seperti halnya tehnik metode klinik ia mencoba memikirkan menyembuhkan orang  yang mengalami gangguan kejiwan dengan perawatan psychopathology.

 
Awalnya Freud tertarik dan belajar hipnotis di Perancis, lalu menggunakannya untuk membantu penderita penyakit mental. Freud kemudian meninggalkan hipnotis setelah ia berhasil menggunakan metode baru (psiaktri modern)  untuk menyembuhkan penderita tekanan Psikologis berdasarkan teorinya yaitu asosiasi bebas free association dan analisis mimpi. Dasar terciptanya metode psiaktri modern  tersebut adalah dari konsep tentang alam bawah sadar ‘unconscious mind’.


Pada tahun 1900, Freud menerbitkan sebuah buku yang menjadi tonggak lahirnya aliran psikologi-psikoanalisa. Buku tersebut berjudul Interpretation of Dreams dalam buku ini Freud memperkenalkan konsep yang disebut "unconscious mind" (alam ketidaksadaran).

Selama periode 1901-1905 dia menerbitkan beberapa buku, tiga diantaranya adalah The Psychopathology of Everyday Life (1901), Three Essays on Sexuality (1905), dan Jokes and Their relation to the Unconscious (1905).  

Disini ia menuliskan bahwa ada bagian ingatan yang lazimnya tidak kita sadari dan bagian ini disebut ingatan tak sadar atau "unconscious mind".  Menurut Freud bahwa gagasan dan perasaan, terutama yang berkaitan dengan seks, itu ditekan pada keingatan tak sadar  dan ini terjadi pada kebanyakan orang. Penekanan inilah yang bisa  menyebabkan seseorang berperilaku aneh bahkan salah satu faktor penyebab gangguan ingatan. 

Sebagaimana tubuh fisik yang mempunyai struktur: kaki, badan, leher, dan kepala, Sigmund Frued berkeyakinan bahwa jiwa dan pikiran  manusia juga mempunyai struktur. Struktur jiwa tersebut meliputi tiga instansi atau sistem yang berbeda, masing-masing sistem (Id, Ego, dan Superego.) tersebut memiliki peran dan fungsi sendiri-sendiri. Keharmonisan dan keselarasan kerja sama di antara ketiganya sangat menentukan kesehatan jiwa seseorang. 

Freud menerapkan metodenya  dengan mencoba agar pasiennya menceritakan gagasan dan perasaanya, terutama tentang impian dan masa kanak kanak pasiennya, metode pada pasiennya ini dikenal secara umum dengan sebutan Psychoanalysis. Namun banyak gagasan-gagasannya baru dapat diterima dikalangan ahli kejiwaan sekitar tahun 1930, dan semenjak itu teori dan metodenya dikembangkan dan diubah oleh banyak ahli lain diberbagai bidang ilmu.

Dengan disiplin ilmu ini, Ia mengharapkan manusia bisa mengenal secara mendalam pemanfaatan psikologi bagi ilmu pengetahuan dan kehidupan, adalah Lacan yang mengantar teori psychoanalysa kedalam bagian cinema sebagai ilmu disiplin yang dikembangkan dalam teori-film di era kontemporer.

II.3. Psychoanalysa (the second semiology in cinema)

Pada era 1968  muncul suatu kecenderungan dikalangan sineas yang melahirkan beberapa aliran besar dalam teori film, terutama di Perancis, antara lain Psikoanalisa, Feminisme (Laura Mulvey, yang mengkritik teori psikoanalisa), teori film Marxistm, Post-strukturalis dsb.

Berlatar konteks social, kondisi kritis ini  terbagi dua wilayah besar (new left[13]may 1968[14], Prancis) yang kemudian berlanjut pada perdebatan teori film, bahwa film bukan sekedar berbasis pada aspek ilmu yang telah ada dan harusnya bisa berkembang lebih luas, oleh karnanya paradigma dalam melihat film harus pula bergeser sesuai dengan pergeseran zaman.  

 Dunia barat dihadapkan pada kondisi kritis social dan culture ‘dengan memprotes’ teori-ideologi yang telah ada sebelumnya, kondisi ini merupakan kondisi umum yang terjadi di dunia saat itu. Hubungannya ke dunia cinema, pada era ini memunculkan teori teori dan ideology baru dalam memandang film.

Telah disebutkan bahwa teori psychoanalisa dalam cinema muncul di tahun 1970 awal, yang merupakan langkah lanjut dari teori linguistik-semiotika awal sebagai kiblat awalnya. Pada teori film awal (semiotika tahap I awal tahun 1960an) teori linguistic (ilmu tentang bahasa) diorientasikan sebagai struktur lanjutan dari teori semiotika-semiology, bahwa segala sesuatunya, baik itu film memiliki system tanda atau penguraian kode budaya, tujuan dari teori ini (semiology) adalah bagaimana menemukan cara-system untuk menemukan tanda tanda tersebut, Ferdinand de Saussure selaku pelaku teori tersebut memberikan tempat yang dominant kepada linguistic, artinya linguistic menjadi model dari semiology awal. Saussure beranggapan segala sesuatu yang akan dianalisa harus dirintis melalui linguistic. 

Selang waktu sekitar sepuluh tahun kemudian, dimana pergolakan politik, kondisi social, budaya, gender, serta pengaruh ideology marxism turut  andil dalam perkembangan cinema, dan hal itu terbukti dengan munculnya second semiology yang berakibat semakin banyak cara pandang dalam cinema yang tentunya berkaitan dengan berbagai disiplin ilmu, salah satunya memunculkan nama Jacques Lacan yang memasukkan teori psikoanalisa sebagai tindak lanjut  dari metode linguistic Saussure. Dalam teori Linguistic, Second semiology memunculkan analisa (psycho-analysis) sebagai orientasi ideologi baru yang  paling mendapat perhatian dengan bermunculannya ideology ideology baru dalam cinema.

Seiring berkembangnya teori psikoanalisa di tahun 1970an dalam cinema Eropa (French Freud), memunculkan masa kerancuan khususnya perkembangan cinema, dimana pertemuan antara psikoanalisa dan sinema bukan merupakan sesuatu yang baru dalam cinema pada era tersebut. Sebuah sensasi teori yang sebenarnya keduanya telah lama muncul sebelumnya, Sigmun  Freud telah menggunakan istilah Psychoanalysis pada tahun 1896, selain itu buku yang ditulis Martha Wolfenstein dan Nathan Leites ditahun

1950, Movies: A Psychological Study[15] (memberikan penjabaran bahwa cinema memberikan ‘crystallized’ atau efek lain tentang mimpi-dreams, lebih jauh ia menjabarkan  ‘ketakutan’ terhadap populasi yang terus berkembang sehingga memunculkan pesimistis untuk meraih keinginan-cita cita padahal sebenarnya ada keyakinan bahwa cita cita bersama adalah sesuatu yang harus dicapai, sehingga sikap pesimistis tadi melahirkan  kultur-populasi  baru di dalam masarakat umum, dalam cinema penggambaran ini diwujudkan dengan adanya pengklasifikasian karakter (pembunuh dan korban, Lovers and Loved Ones, Parents and Children,) dimana kesemua ini kemudian ditafsirkan sebagai konsep konsep  dalam psychoanalytic. Hortense Powdermaker lewat The Dream Factory (1950), menguraikan Hollywood sebagai terminologi quasi-ethnographic, mimpi dan mitos. Film film Alfred Hitchcock seorang sutradara Inggris yang mapan oleh Hollywood, kebanyakan filmnya menyangkut seorang tokoh tak bersalah yang terjerat kedalam situasi yang penuh rahasia, The Lady Vanishes (1930) Psycho (1960).

Tahun 1958  dreams dan myths menjadi studi bagi Edward Morin yang juga seorang sineas, mengkaji kembali tentang makna kiasan yang memuliakan cinema (cinema magic), ia menyoroti kapasitas-kinerja sinema dalam mempengaruhi penonton, dalam tanggapanya ada masa penonton ‘terlena sesaat’ artinya penonton tidak terus menerus mengamati rangkaian cerita film dan menurutnya, penonton secara tidak sadar dalam rangkaian waktu yang singkat dan tidak terdeteksi,penonton dihinggapi ‘a neurotic intensity’ yaitu gangguan saraf yang memunculkan emosi namun mampu terkendalikan setelah adegan dalam film usai. Dari hal dan teori tersebut kemudian disetujui sebagai bentuk perkembangan dari the psycho-semioticians. Bagi Edward Morin menilai cinema merupakan implikasi penonton dengan kedalaman perasaan mereka, dan Teori klasik maupun kontemporer, mempresentasikan bahwa cinema sebagai ‘archive of souls’ arsip/dokumen jiwa, yang siap untuk dibaca dan dipotret setiap bentuk pergerakannya, yang merupakan sikap dan keinginan manusia itu sendiri, dengan kesimpulan, hal itu wajar karena sinema diilhami oleh kekayaan imajinasi tentang perasaan manusia yang akan menghadirkan pengalaman emosi yang kuat kepada penonton.

Setelah itu psychoanalysa menjadi bahan yang menarik dalam cinema, pada tahun 1975 communications sebuah jurnal Prancis mengangkat ‘ psychoanalysis and the cinema’ sebagai issue yang berkembang pada saat itu, adanya diskusi semiotic yang memunculkan ide ide teori baru tentang kelanjutan dari psikoanalisa seperti  scopophilia[16], voyeurism[17] dan fetishm[18], serta Jacques Lacan memunculkan konsep tentang imaginasi dan symbol  (‘the mirror stage[19])

Psikoanalisa di Eropa muncul sebagai konseptual yang lebih disukai untuk dikaji, sebab atensi terhadap film mulai bergeser yang awalnya film adalah bahasa ataupun film adalah struktur  (film language and film structure) bergeser kepada film sebagai ‘subject-effects’. Dampak psikologis  terjadi pada penonton yang dihasilkan oleh cinematic apparatus, sebuah system mekanisme dalam cinema., sebuah mata rantai dari efek-pengalaman yang dialami subjek-penonton dengan kinerja mekanik (proyeksi image ke layar) 
Sementara di America Utara muncul konsep ‘ego psychology’ atau logika sebagai sesuatu yang independent yang lebih menekankan pengembangan individual, kesadaran diri (consicous self), yang bertolak belakang dengan konsep French Freud (Unconscious).

Perbedaan antara ‘French Freud’ dan ‘American ego psychology’ mencerminkan perbedaan skala besar baik dalam politik maupun budaya, sesuatu yang membandingkan antara sikap optimisme Eropa sebagai kesuksesan pragmatis (French Freud) dimana (American ego psychology) dipandang sebagai sebuah teori harapan meraih kebahagian ‘the pursuit of happiness’ yang semakin pesimistis akibat masa lampau dunia (perang dunia I dan II sebagai bencana yang mengotori peradaban dunia). ‘Ego psychology’ yang umumnya terjadi di Amerika utara tersebut  dinilai mampu dihilangkan dengan ‘therapy’ karena hal tersebut merupakan sesuatu yang  disadari dan dipengaruhi dari realita  dan dikategorikan sebagai trauma, sementara Psikoanalisa Lacan semakin berkembang sebagai sebuah sistem intelktual kuat  yang menyatukan anthropology dari Levi Strauss, philosophy Heidegger, dan linguistic Saussure. 

Dari kedua analogy cinematic tersebut dinilai melahirkan kerancuan atau masa ketegangan, teori psikoanalisa Lacan-Lacanism lebih dilirik di sebagai sebuah konsep ambisius di Eropa (the art film) dibanding dengan konsep ‘happy end’ dari ‘ego psychology’ America (Hollywoodean). Sehingga memunculkan pertanyaan mengapa ‘French Freud’ semakin berkembang dan istemewa?

Dalam perkembangan second semiology, pergeseran paradigm ditempuh melalui analisis teori disiplin ilmu yang  diterapkan kedalam film adalah sebuah metode yang ampuh dalam sejarah teori film, demikian halnya dengan ‘French Freud’ menjadi istemewa disebabkan Psikoanalisa Lacan mengistemewakan tiga unsure teori yang saling berkaitan, 

1 )The id (‘orang yang tak punya naluri),
2) The Unconscious (sesuatu yang tak disadari) dan
3) The notion of the ‘subject’ (dugaan terhadap object).

1) Menurut Freud penggunaan istilah Id untuk menunjukkan wilayah ketaksadaran (the Unconscious) tersebut. Id merupakan lapisan paling dasar dalam struktur psikis seorang manusia. Id meliputi segala sesuatu yang bersifat impersonal atau anonim, tidak disengaja atau tidak disadari  secara mendasar yang menguasai kehidupan psikis manusia. Oleh karena itu, Frued memilih istilah “id” yang merupakan kata ganti orang atau thing yang netral. Dalam Id berlaku : bukan aku sebagai subjek pelakunya, melainkan ada yang melakukan dalam diri aku. 

Contoh adanya Id  terbukti melalui fenomena psikis seperti mimpi. Pada saat bermimpi, si pemimpi sendiri seolah-olah hanya merupakan penonton pasif. Ia bukan pelaku,  tontonan itu ditayangkan oleh ketaksadarannya.
Dalam bukunya Interpretation of Dreams (1900 ), Frued banyak membahas tentang mimpi, dan dalam buku ini pula Freud pertama kali memperkenalkan konsep yang disebut "unconscious mind"

2) Secara general, Unconscious mengacu pada divisi kejiwaan, dan bukan pada observasi langsung dari subjek, tetapi hanya sebagai penyimpul-menyimpulkan atas perilaku dari proses kesadaran tersebut . The ‘unconscious’ diposisikan sebagai unfulfilled desires ‘hasrat yang tak dipenuhi” yang kemudian dialihkan dan memunculkan atau membentuk ‘proses ketertekanan’ the process of repression’. Dengan demikian ‘unconscious’ memunculkan the process of repression’ (dari uraian ini psikoanalisa mengenal realitas kedua sebagai bentuk yang muncul atas hasrat yang tak terpenuhi, dimana kodart manusia untuk selalu menggapai hasratnya, dengan menarik garis Unconscious adalah subject) seperti halnya kita memahami sebuah adegan tanpa ada penjiwaan akan terasa hampa. 

Dengan kata lain tanpa kita sadari dibawah kesadaran kita, terdapat sesuatu yang dinamis dan terus berubah seperti interaksi kehidupan social kita sehari hari, didalam aktivitas ada semacam kekuatan hasrat yang memberikan kita pengertian tentang logika dan rasionalitas, karena kita mengetahui, mengakui sesuatu yang logis dan rasional karena adanya interaksi  aktivitas yang kita lihat dalam kehidupan kita, jika interaksi dan aktivitas ini hilang atau tidak kita lihat maka itu tidak dapat dikatakan sebagai Uncoscious.  Dalam cinema pendivisian ini bukan suatu yang absolut,  seperti suara yang sifatnya lebih constant yang memberikan makna timbal balik antara conscious and unconscious  dalam level aktivitas

3) The notion of the ‘subject’: Lacan juga mengaitkan psikoanalisa dengan proses identifikasi, proses dimana ‘subject’ mendasari dirinya sendiri dengan mencocokkannya dengan aspek lain semacam lawan bicara, dimana proses subject mengidentifikasi atau membutuhkan subject lain ataupun objek seperti contoh hubungan orang tua dan anak, atau yang lebih ekstreme tentang riwayat Oedipus. Secara simbolis dan spesifik Lacan menempatkan desire sebagai sebuah analisa, dalam hal ini (desire/hasrat) subject telah didasari sebuah hubungan terhadap subject lain yang menimbulkan ‘desire.  

 Lacan mengartikan ‘desire’ bukan hanya sesuatu yang bersifat biologis tetapi lebih kepada sebuah pergerakan phantasmatic (sesuatu yang bersifat khayalan) terhadap ketidakjelasan object, seperti masalah rohani ataupun sex. Artinya kata desire disini, tidak dapat memuaskan, secara defenisi adalah sebuah keinginan untuk bukan untuk sesuatu yang terjangkau, tetapi lebih kepadathe desire of the other,’  keinginan terhadap sesuatu yang lain.
Dalam pembingkaian ini, (pola pertama) tertera  teori antara psikoanalisa  dengan tradisi filosofi, Lacan mengkaji ‘subject’ kedalam berbagai sense seperti psikologi, philosofi, grammatical (sifat tata bahasa), kemudian (pola kedua) membandingkan logika tersebut sebagai sesuatu yang berdiri sendiri dengan ‘subject of the unconscious’ (‘subject yang tak sadar’). Sehingga dari proses pertama dan kedua muncul proses identifikasi pada subjek dalam menganalisa jiwa-self. 
Dari ketiga point diatas Lacan berbicara tentang keistimewaan  subject, sehingga perlu adanya penjelasan konsep subject dalam teori Lacan.

II.4. From linguistic to Psychoanalysa.

Sebelum melihat lebih jauh kaitan antara bahasa atau tanda dengan psikoanalisa, maka perlu melihat point of view Lacan tentang subject.  Hal ini sangat beralasan selain subjek merupakan pokok yang mendasar dalam diri manusia, subjek merupakan hal yang mendasar dalam diri manusia, juga bahwa subjek yang berbicara dapat memunculkan (tanda-sign; Saussure[20]). Penjelasan konsep subjek bagi lacan seperti struktur dalam jiwa (describe the elements of the psychic structure). Teori psike Lacan dipengaruhi oleh Freud, dan bahkan ia mengembangkannya lebih dalam, terutama ia memasukkan konsep ’the mirror stage’. Ada tiga kategori yang dikemukakan oleh Lacan dalam jabaran psikoanalisa tentang subjek.
 (1) The Real
Alam Realitas dalam pemahaman Lacan berbeda dengan realitas pada umumnya. Hal ini merupakan tahap awal dari keadaan psyche-jiwa manusia yang belum mendapat pengaruh dari dunia luar. Ini terjadi sejak bayi ditiupkan roh atau jiwanya. Bayi pada masa ini tidak dapat mengidentifikasi dirinya dengan yang lain.
Artinya tidak ada suatu keterpisahan diri dengan di luar diri, yang bayi mengerti bahwa realitas itu adalah dirinya sendiri. 
Psike bayi bergerak secara evolutif menuju ’Stage of Mirror’ di mana secara perlahan mulai merasa adanya subjek yang lain. Menurut Lacan fase ini sang bayi mulai mengidentifikasi dirinya dan diluar dirinya mengontrol gerak tubuh mengenal bahasa namun tidak secara utuh, sehingga bayi belum sepenuhnya dapat mengenal (saya, kamu, mereka, dsb) serta berbagai tuntuan lain. Jadi semakin tuntutan bayi tidak terpuaskan, maka semakin ia mulai mengenal bahasa, dan secara perlahan bayi memasuki tahap imaginer.
(2)The imaginary : (depends on a division between self and other)
Dimasa ini bayi melewati masa ’Stage of Mirror’ yang merupakan bagian dari fase imajiner, maka selanjutnya sang bayi memahami ada bagian yang lain di luar dirinya. Di sinilah seseorang mencoba selalu belajar dan mengenal bahasa. Mengenal bahasa adalah suatu keharusan, manusia hidup dalam bahasa dan tidak dapat lepas dari bahasa. 
Fase simbolik ini berlanjut di mana ‘the speaking’ subject terwujud, yang ditandai dengan memposisikan dirinya sebagai ‘saya’. Di sini seseorang memperoleh subjektivitas yang sadar dan memunculkan desire-keinginan karena adanya kesadaran tentang ‘individu-saya sebagai subjek’. Meskipun desire tersebut belum sepenuhnya bisa terkontrol dengan stabil. Ketidakterwujudan individu atas desire yang ada padanya, maka segala tuntutan dan keinginan tersebut tetap terpaksa dikontrol, namun ia tidaklah musnah, dan akhirnya tuntutan dan keinginan ini berlarut dan tersimpan.

 (3) The Symbolic : (the ordering structures of language and grammar in which the Imaginary self-formulates)
Hasrat yang terpendam ini akhirnya kembali tersimpan, dan sewaktu-waktu ia dapat muncul melalui bahasa atau perilaku sehari-hari melalui mimpi, kesalahan, humor, dsb. Munculnya realitas dua berfungsi sebagai proses pengontrolan hasrat dan represi yang selalu ditekan, namun ia masih menyisa dan tidak musnah. Hal ini   tetap berbekas, oleh karena itu, gejala-gejalanya selalu tidak disadari (unconscious).  
Unconscious inilah yang merupakan subject yang sebenarnya, ketidaksadaran yang direduksi itu selalu ingin muncul, untuk dapat memunculkannya melalui sebuah proses  dream-work yang memunculkan fantasi-hasrat, proses ini terdiri dari (condensation: penyederhanaan) dan (displacement: pengalihan). Atau yang juga disebut primary processes.[21]
Karena hasrat juga membentuk jiwa manusia, maka hasrat-hasrat yang dimiliki subjek akhirnya menjadi basis bahasa atau penanda, dan disitulah subjektivitas dapat berlaku. Dari hasrat ini dapat memunculkan signifikasi atau makna-makna bersamaan dengan upaya subjek secara contuinity  mengendalikan desire-hasratnya.
Hasrat merupakan prinsip dari perwujudan kekurangan (lack) yang dialami individu. Kekurangan ini berkaitan dengan ketidakpuasan individu untuk memenuhi hasratnya, karena pada umumnya berbenturan dengan aturan-aturan sosial. 
Dan untuk mengungkapkan hasrat, orang menggunakan bahasa, tetapi bahasa juga mengekang manusia sehingga selalu hasrat tidak terpenuhi. Konflik yang dimunculkan dari hasrat ini akhirnya membentuk struktur  ketidaksadaran (unconscious)
Dalam psikoanalisa, arah gerak struktur Unconscious direpresentasikan melalui tulisan-tulisan. Lacan mengatakan bahwa fenomena sosial selalu memiliki makna, dan psikoanalisis merupakan metode penafsirannya. Untuk memahami kaitan semiotika dan psikoanalisa adalah dengan pandangan psikoanalisa terhadap penomena sosial, yang dihubungkan dengan konsep subjek dan bahasa. the speaking subject diperbudak oleh bahasa, ‘’bahasa adalah penjara’’.
Artinya, setuju atau tidak setuju bahasa adalah segalanya, dalam bahasa  makna dan tanda selalu memunculkan makna atau penanda yang baru. Hubungan ini dapat dijelaskan dengan menurut prinsip metonimia dan metafora (Saussure).
Walaupun telah banyak pergeseran dari linguistic ke psychoanalysis, namun sesungguhnya hal ini merupakan bagian perubahan yang melesat cepat kearah teori psikoanalisa yang merupakan bagian dari cinema. Disini Lacan memperkenenalkan metode distinguishing synchronic and diachronic structurings[22]  didalam bahasa, yang akan memungkinkan kita untuk memahami lebih baik perbedaan nilai dari bahasa yang kita asumsikan sebagai penafsiran dari the resistances[23] and the transference[24]
Linguistics dan psychoanalysis bukan sebuah pilihan atas pertimbangan sepihak, tetapi merupakan cara pandang karena kita diperlihatkan dua sains yang berhadapan secara langsung dengan pengertian masing masing. Disinilah pengaruh utama Lacan yang memberikan fakta pergeseran linguistic kepada psikoanalisa.


II.5. Dimensi prakstis psychoanalytic.

Fokus interest psychoanalytic merupakan tahap lanjut dari semiotika yang berasal dari hubungan antara filmic image dan reality bergeser terhadap konsep apparatus theory[25] , sebuah bentuk dimana teory-ideologi yang berkembang ke dalam praktis, sebagai inti-self dari film itu sendiri. Pengembangan ini bukan hanya dilihat sebagai sisi efek dari instrument dasarnya saja seperti kamera-proyektor dan layar, tetapi juga dilihat dari sisi pengembangan atau bagaimana mengembangkan hasrat-keinginan penonton atas istitusi sinema yang sangat tergantung pada tampilan object dengan berbasisi ideologi.
Pendekatan Psikoanalisa disini bukan menyoroti banyak hal dari berbagai meaning mengenai psychology tetapi lebih menyoroti satu sisi dimensi pada cinema yaitu dengan pendekatan meta-psychological[26] dimana realita merupakan realisasi pencerminan ide  pada objek. Meta-psychological merupakan bentuk praktis dari teori psikoanalisa karena dengan pendekatan ini merupakan titik temu antara activating and regulating spectatorial desire.  Bentuk praktis ‘psychological’ disini bukan merupakan penjabaran cara pandang classic seperti pendekatan the psychoanalysis of authors, plots, or characters, yang dianggap tidak relevan karena hanya sebatas dunia ide-illusi.Pada tahapan ini pola pandanglah yang harus bergeser.
Ahli teori psychoanalysa akan lebih tertarik pada menelaah tampilan medium film sebagai dimensi psychic (kekuatan jiwa-batin) dari sebatas kesan reality ‘impression of reality’. Sebab mereka mengkhawatirkan apakah hal tersebut ‘impressi’ mampu menjelaskan ‘kekuatan yang luar biasa dari cinema’  atas perasaan seseorang.

Daya magnit ‘cinematic apparatus[27]  telah di analisa dan menghasilkan sejumlah factor:
the cinematic situation (immobility, darkness) dimana penonton dihadapkan pada situasi gelap bioskop tanpa aktivitas selain diam dan menonton.
the enunciatory mechanisms of the image (camera, optical projections, monocular perspective). Kinerja kamera dan projeksi image memberikan keragaman perspektif atas image yang ditampilkan.
Sehingga bentuk penyajian dari cinematic apparatus tersebut menghasilkan cue-isyarat yang mempengaruhi subject dalam merepresentasikan diri mereka.
 Adalah Jean Louis Baudry yang pertama kali menggambarkan psychoanalytic theory sebagai karakterisasi cinematic apparatus sebagai sebuah tekhnologi, lembaga-institusi, dan mekanika ideology yang kuat dalam membangun  ‘subjek-effect’, dimana kesadaran subject dibawa kepada suatu kesadaran transendental, yaitu suatu rasa kesadaran menjadi dirinya dan ‘sesuatu’ yang lain secara bersamaan dan merupakan pendekatan yang mendukung teori Psikoanalisa dalam sinema. Dalam tulisan Baudry,‘Ideological Effects of the Basic Cinematic Apparatus’ (1971). Ia berargumen bahwa. apparatus sinema  telah memiliki daya tarik ’infantile narcissism’ dengan ‘mengagungkan’ the spectatorial subjects’ sebagai titik pusat dan asal dari arti yang tercipta.    
Baudry postulated[28] bahwa unconscious merupakan lapisan bawah-bagian kecil dari identifikasi,  sebagai sebuah hal tiruan apparatus (a simultation apparatus) dalam cinema yang tidak hanya menghadirkan kembali ‘real-kenyataan’ tetapi juga mendorong ketegangan ' subject-effects'.
Tulisan The Apparatus’ (1975) Baudry telah menyelidiki persamaan antara the sense of Plato’s cave and the apparatus of cinematic projection, dengan menyanggahnya bahwa sinema didasari oleh realisasi teknik, sebuah cita cita yang telah bertahun tahun akan sebuah kesempurnaan, total simulacrum, dan sangat berbeda dengan hal hal yang dimunculkan-disebabkan langsung oleh mimpi-dream.
Image pada layar, suasana gelap ruang bioskop, nuansa passive penonton,ambient noises, adalah hal hal yang dapat mempengaruhi  pengalaman penonton, dimana hal hal tersebut dapat membantu perkembangan pemikiran penonton atas status tiruan yang merupakan kekurangan dari cinema dan hal inilah yang membedakannya dengan mimpi, melalui konstruksi real dari mekanisme sinema, image menciptakan suatu kesadaran transcendental  kedalam pemikiran penonton.




 III
      PENUTUP

Psikoanalisa bisa dibilang terlambat masuk dalam perkembangan teori film, meskipun umurnya hanaya terpaut setahun dengan film, para ahli teori di era klasik lebih memperjuangkan ‘film as art’  sehingga psikoanalisa bisa dibilang hanya mendapat porsi teknis, karena hanya dilihat dari sebatas sisi efek dan minimnya porsi  analisa pada sisi subject, Usaha Hugo Munsterberg  sempat melirik pemikiran penonton dalam teorinya (1918) namun teori film yang ia bangun dinilai tanpa reference, telah ada usaha dalam melirik psychology sebagai sebuah konsep dalam film, meskipun film masih dianggap rendah dibandingkan dengan seni yang lain pada saat itu, selain konsep ilmu psychoanalysa baru bisa diterima diberbagai bidang ilmu pada tahun 1930an.
Berkembangnya semiotika dengan motto film as language menjadikan psikoanalisa sangat berkembang, seiring pergeseran cara pandang dalam cinema memunculkan second semiology sehingga film tidak lagi berbasis ‘film sebagai system tanda ataupun film adalah struktur’ dan memunculkan banyak metode disiplin ilmu yang bisa diterapkan dalam teori film.
Di era second semiology, psikoanalisa memang pantas diistimewakan, karena teorinya merupakan sebuah sistem intelktual kuat  yang menyatukan anthropology dari Levi Strauss, philosophy Heidegger, dan linguistic Saussure dan konsep otentik  Freud: ‘dreams as the royal road to the Unconscius’.
Jacques Lacan mengusung   film as subject-effect berbekal dengan  senjata ampuh cinematic apparatus, membuktikan bahwa pergeseran disertai perlunya paradigma baru membuktikan bahwa fenomena sosial selalu memiliki makna yang merupakan salah satu faktor terbesar penyebab munculnya ilmu ini.
Film seperti sebuah mimpi, menuturkan cerita, sebuah cerita yang dibuat dari berbagai image dan oleh karena itu ia bergema dan menyatu dalam pemikiran kita.


     



         (psychoanlysis.kajianmedia.ikj.09.Kritik dan saran. yunus_pattawari@yahoo.co.id)



[1] Sigismund Schlomo Freud (Sigmund Freud) 6 May  1856 –  23September  1939, berprofesi dokter jiwa dan ahli saraf, Ia mendefenisikan ulang konsep sexual desire sebagai suatu bentuk yang terus bergerak dan mengarah kepada objek yang luas. Ia terkenal dengan teori ‘the unconscious mind’ , the mechanism of repression, serta tehnik terapinya pengobatannya yang berkaitan dengan value of dreams.

[2] Jacques Marie-Émile Lacan  (13 April 1901 - 9 September 1981) adalah psikoanalis Prancis artikelnya, Ecrits (1966), berpengaruh banyak di bidang linguistik teori film, dan kritik sastra.  Ia mengembangkan psikoanalisa dari metode  unconscious Freud dan metode linguistic Saussure.
[3] subjek-effect’ yaitu  kesadaran subject dibawa kepada suatu kesadaran transendental, yaitu suatu rasa kesadaran menjadi dirinya dan ‘sesuatu’ yang lain secara bersamaan dan merupakan pendekatan yang mendukung teori Psikoanalisa dalam sinema.

[4] Representasi penyajian ideologis kedalam mekanisme  film, seperti mekanisme kamera, mekanisme editing, komposisi kedalam kultur penonton sebagai pusat persfektif ideology., menurut Baudry Cinematic Apparatus dipandang sebagai sebuah tekhnologi, lembaga-institusi, dan mekanika ideology yang kuat dalam membangun  ‘subjek-effect’

[5] Era dimana teori Semiotika lebih berkembang dari sekedar ‘film sebagai text-bahasa’. Pada era 1968  muncul suatu kecenderungan yang telah melahirkan beberapa aliran besar dalam teori film terutama di Perancis, sehingga memunculkan teori teori baru antara lain, Psikoanalisa, yang mendapat perhatian lebih dalam semiology.

[6] Ferdinand de Saussure adalah tokoh semiotik dari Prancis yang mengatakan bahwa tanda-tanda disusun dari dua elemen penting, yaitu aspek citra tentang bunyi (penanda), dan sebuah konsep di mana citra bunyi disandarkan (petanda).

[7] Formalism,  adalah sebuah teori film yang berkembang di tahun 1918 konsepny a mengutamakan form (bentuk) atau element yang terdapat dalam film. Seperti, editing, komposisi, warna, pencahayaan, set dan suara Dalam teori ini pula eksplorasi medium sangat diutamakan, sehingga isi tidak lagi menjadi penting. Tokoh utamanya adalah sergei Eisenstein

[8]Realism : teori yang berkembang ditahun 1950, dipelopori Andre Bazin yang menilai film merupakan media dan seni yang utuh dalam membingkai  realitas  dibanding dengan seni atau medium yang lain. Konsepnya adalah representasi realita Pemikiran realitas Bazin ini merupakan bentuk kontra terhadap Formalism film theory Sergei Eisenstein yang telah berkembang sebelumnya.

[9] Sergei Mikhailovich Eisenstein (Russian; January 23, 1898 – February 11, 1948) was a revolutionary Soviet Russian film director and film theorist noted in particular for his silent films Strike, Battleship Potemkin and October, as well as historical epics Alexander Nevsky and Ivan the Terrible
[10] Hugo Münsterberg (June 1, 1863 – December 19, 1916) was a German-American psychologist and film theoriest. He was one of the pioneers in applied psychology, extending his research and theories to Industrial / Organizational (I/O), legal, medical, clinical, educational and business settings.

[11] André Bazin (April 18, 1918 – November 11, 1958) was a renowned and influential French film critic and pioner of realist film theory.
[12] Metode Freud dalam menyembuhkan pasien pasiennya yang mengalami gannguan kejiwaan.
[13] 1960 akhir, pemikiran ilmu sosial, kebudayaan, dan politik di Eropa diwarnai dengan munculnya kekuatan baru para pemikir Marxis yang disebut sebagai (Left Culturalism) atau (New Left). Berbeda dengan pemikir-pemikir Marxis sebelumnya, kelompok baru ini dicirikan dengan independensinya atas Partai Komunis dan kritiknya atas pemikiran Marxis Komunis. Ideologinya semakin berkembangdiberbagai bidang dan  dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu (ideology)
[14] Revolusi yang terjadi di Prancis, karena pemecatan ketua sinematic PrancisHenry Langlois, Demonstrasi mahasiswa, sabotase festval Cannes,dll.
[15] But when a dream night after night is brought
    Throughout a week and such weeks few or many
   Recur each year for several years, can any
   Discern the dream from real life in aught?

[16] Another term form erotic component of seeing, because there is no precise distinction between the terms
in psychoanalytic literature.

[17] Istilah Voyeurism berasal dari Voyeur yang artinya pemahaman dari seseorang yang mendapatkan kepuasan / kesenangan dengan melihat seseorang tanpa busana atau aktifitas sex. Aktifitas itu merupakan sebuah perbuatan yang asusila dan terlarang oleh sosial masyarakat

[18] Berasal dari kata Fetish yang berarti bentuk perilaku kepuasan seksual dengan melihat sesuatu yang memberikan kekuatan, Sesuatu itu biasanya berbentuk bagian dari tubuh terutama pada tubuh wanita  Dalam teori filn feminism makna ini berarti sebuah bentuk pemujaan / kekaguman dan  bukan pada menghasilkan  kepuasan nafsu
[19] The mirror stage merupakan essai dan menjadi metode Lacan dimana ia "mengembangkan konsep ( I – aku ) yang diungkapkan melalui  eksperimen psikology (perkembangan bayi, populasi hewan, dsb)  yang merupakan teori pertamanya yang tercantum dalam Écrits buku Lacan yang berpengaruh dalam teori film.

[20] Saussure also provided the most influental definition of the sign within the semiotic tradition; he defined the sign as the union of a from which signifies – the signifier – and an idea signified – the signified. 

[21] These processes of the dream-work are called Primary processes, and they concist of CONDENSATION (in which a whole range of associations can be represented by a single image),  and DISPLACEMENT (in which psychic energy is transferred from something significant to something banal, conferring great importance on a trivial item)

[22] Metode Lacan yang menilai konsep Unconscious sebagai sebuah struktur, sama seperti menyajikan sebuah bahasa yang berlanjut dan menjembatani satu sama lain diantara dua bidang ilmu, bahasa dan jiwa.
[23] Resistance : Gangguan atau halangan dalam mengakses the unconscious

[24] Transference : the actualization of unconscious wishes, typically in the analytic situation, by according a kind of value to the analyst which enables the repetition of early conflicts
[25] Apparatus theory diperoleh pada sebagaian teori film Marxist, semiotic dan psikoanalisa, sebuah teori yang dominant dalam cinema studies sepanjang tahun 1970an, yang lebih memelihara konsep  cinema  itu sendiri sebagai ideology yang natural, sebab bentuk penyajiannya mekanisme tersebut merupakan representasi dari ideology. Mekanika penyajiannya antara lain meliputi mekanisme kamera, editing, . Sebuah penyajian yang menempatkan penonton sebagai posisi central dalam persfektif dan penjabaran ideologi.

[26] meta-psychological; Penekanan atau perhatian atas proses unconscious (Freud),  didalam study film disebut sebagai pendekatan meta-psychological  sebab bentuk pendekatan ini berhadapan dengan konstruksi psikoanalisa yang menjadi viewing subject dalam cinema.
Istilah ini mengacu pada kebanyakan teori yang mempelajari bidang psikologi (Freud), the theorization of the unconscious.

[27] Sebuah sistem representasi dan praktek material dalam proses merealisasikan subjek yang dibangun oleh ideologi. Disini fungsi sinema sebagai pendukung dan instrumen ideologi dalam menciptakan sebuah gambaran dunia ilusif.
[28] (postulated : sesuatu/teori  yang dianggap sahih kemurniannya  secara umum  tapi  belum atau tidak mungkin dibuktikan secara konkrit)

0 komentar:

Poskan Komentar