Teori Film

Selasa, 02 Oktober 2012

mempertanyakan 'sains' dalam teori film




Sebuah pertanyaan sederhana ketika dalam FFI 2006 ada kategori kritikus film Terbaik. Dari moment ini saya berfikir ini adalah sebuah profesi unik, khususnya dalam dunia sinema, karena ia memberikan bobot tersendiri ketika film telah disajikan. Dari hal ini muncul pertanyaan, sepenting apakah analisis dalam  film? Lalu hal apakah yang utama ketika sebuah film dianalisa?

Kata ‘analisa’ atau ‘menganalisa’ adalah sebuah pekerjaan yang harus  memiliki kerangka teori sehingga   kita tak mungkn luput  dari teori film/ film theory, yang nantinya akan menuntun kita menganalisa sebuah film. Meurut Dudley Andrew, teori film adalah suatu pekerjaan dimana teoritikus film membuat dan menguji kembali ucapan ucapannya memnganai film atau beberapa  elemen  tentang film. Mereka bisa melakukan bisa berdasarkan alasan teoritis atau hal hal yang bersifat praksis, teknis. Dalam dunia praktis, teori film mampu menjawwab permasalahan permasalahan dalam pembuatan film, seperti pemilihan jenis kamera, format bahan baku, dsb. teori film telah mempertegas apa yang pembuat film pahami secara intuitif.
Dalam sejarahnya, sejak media film lahir, teori film terus berkembang seiring jamannya dan menyisakan tokoh tokoh perfilman akan sumbangan pemikirannya. Singkatnya, ada dua teori film dikenal secara garis besar yakni teori film Klasik (1916- 1958)  dengan tujuan menjadikan film sebagai seni.  Dan teori film  kontemporer  yang merupakan perkembangan eksplanasi teori film Klasik dengan tujuan Film menjadi disiplin ilmu. Dari perkembangan teori film inilah  maka film bisa dibedah kedalam kajian disiplin ilmu manapun.
Dalam media film memuat begitu banyak elemen yang saling mendukung sebuah keutuhan film. Secara umum terdapat dua elemen center dalam film yakni Form (bentuk) dan Style (gaya), jika pada form bermuatan konsep naratif, teks, makna, dll. Maka pada style memiliki muatan yang lebih bersifat teknis.
Dalam tulisan ini, penulis akan fokus pada analisa style sebuah film, hal ini menjadi utama bagi penulis karena elemen style ini berbicara tentang teknis dalam film yang nantinya akan mengemas teks sebuah film,  sehingga elemen style ini sangat berkaitan erat dengan sejarah  dan teknologi yang menjadi perangkat utama dalam film. bila film diibaratkan sebuah buah, maka style merupakan tampak luar atau kulit dari sebuah film. Dan dari sinilah peran atau cirikhas  seorang sutradara bisa terlihat, dari analisa style pula yang menghadirkan konsep genre, hingga gaya film dari negara tertentu lahir dari analisa ini, seperti Ekspresionisme Jerman, Montage Rusia, Neo-Realisme Italia, dll.
Telah disebutkan sebelumnya bahwa perkembangan teori film telah menjadikan film sebagai disiplin ilmu, yang tentunya  film dapat dianalisa dari berbagai persfektif dan lintas disiplin ilmu yang lain, seperti Semiotika, Psikoanalisa, dll. Yang bila dikategorikan disiplin ilmu tersebut merupakan bagian dari ilmu2 sosial bukan dari materi film itu sendiri.
Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah ada analisa film yang menerapkan  materi film sebagai epicentrum penilitiannya atau analisisnya? Karena disiplin ilmu yang menganalisa film dan berkembang saat ini lebih bersifat subjektif dan melahirkan hasil analisa yang subjektif pula.
Eisenstein mengungkapkan bahwa Style film adalah sesuatu yang paling empiris oleh karena dia (style) itu empiris makanya ia bisa diukur secarah ilmiah  dan dimaknai.


Mempertanyakan Kaidah Sains Dalam Teori Film
Meski terbilang baru dalam ranah akademik, kajian tentang film nyaris sama tuanya dengan medium film itu sendiri. Ini dimulai dari tradisi menonton kritis di Eropa Barat dan Amerika antara dekade tahun 1960 dan 1970. Setidaknya dalam mempelajari film baik secara teoritis maupun metodelogis, ada tiga aktifitas penting  yang membingkainya, yaitu : 
1.      Teori film,
2.      Kritik film,
3.      Sejarah film.  
Dalam teori film dewasa ini memiliki cakupan konsep yang berbeda-beda dan saling melengkapi satu sama lain dalam rangka mendekati film sebagai objek studi tersendiri. Setidaknya ada dua pendekatan yang membentuk teori-teori film yang berkembang hingga saat ini.
1.      Wacana formal-estetik yang menitikberatkan pada aspek formal film sebagai sebuah art form
2.      Wacana kritik yang menitik-beratkan pada aspek sosio-kultural-ideologis yang terkandung dalam sebuah film[1].
Kedua pendekatan tersebut menghadirkan tradisi teori yang berbeda. Teori lama dalam hal ini merujuk pada teori film klasik dimana pada fase ini teori film mencoba untuk memberi nilai spesifik pada sinema[2]. Bagi teori film klasik, sinema harus dilihat ontologinya: apakah sinema/film itu, apakah dia seni, apa yang membuatnya bisa disebut seni, dan apakah tujuannya.
Teori film klasik ini melahirkan dua tradisi besar yaitu formalisme dan realisme. Keduanya beranggapan bahwa film harus selalu dinilai dari kegunaan artistiknya[3] namun dengan sudut pandang dan argumentasi yang berbeda.
Tradisi formalisme yang pertama kali mempromosikan wacana ‘film sebagai seni’  dalam tradisi teori film klasik dengan Sergei Eisenstein, Lev Kuleshov, dan Dziga Vertov, sebagai pelopor dalam tradisi tersebut. Rudolf Arnheim dalam bukunya Film as Art (1932) menyebutkan bahwa film bisa meraih statusnya sebagai ‘seni’ ketika film punya esensinya sendiri dan terbukti berbeda dengan esensi seni yang lain, seperti seni rupa dan teater.
Potensi estetis film justru terletak pada keterbatasan mediumnya; ketika film terbukti tidak bisa menghadirkan kenyataan sehari-hari sepersis aslinya, maka disitulah film bisa menggali potensi kreatifnya sendiri. Berbeda dengan Arnheim, Eisenstein dan Kuleshov lebih fokus terhadap material film itu sendiri. Keduanya mendalami kemungkinan dimana film bisa disusun oleh beberapa shot untuk melahirkan makna tertentu, fenomena yang kemudian dikenal dengan teknik montage.
Tradisi film klasik menunjukkan bahwa keterbatasan film dalam menangkap realitas justru memungkinkan film untuk memanipulasi fungsinya dari sekedar media perekam menjadi alat pencerita yang memiliki kuasa menyedot penonton kedalam dimensi yang sama sekali berbeda.
Tradisi kedua dalam teori film klasik adalah realisme yang membantah keterbatasan film dalam tradisi formalisme. Realisme memperluas pembahasan mengenai film pada topik-topik yang lebih luas seperti proses representasi dan realitas sosial. Realisme pertama kali dicetuskan oleh kritikus film Prancis André Bazin. Ia berpendapat bahwa kekuatan terbesar sinema justru terletak pada kemampuannya menghadirkan kembali realitas sebagaimana aslinya.
Realisme Bazin berpandangan teknik montage merupakan bentuk pemaksaan sutradara dalam menyusun sebuah totalitas shot-shot yang bersifat fragmentaris. Dalam konteks ini, montage akan merusak realitas dengan cara menyusun shot-shot hanya untuk menimbulkan efek atau ide tertentu. Sementara, penganut realisme ingin menjaga kontinyuitas temporal dan kesatuan spasial dimana hal ini merupakan posisi ontologis daripada estetis film.
Tradisi kedua adalah teori film baru dalam hal merujuk kepada teori film modern (1970-1980-an). Tradisi yang muncul dari kuatnya pengaruh cultural studies pada dekade tersebut. Mazhab ini memandang film sebagai sistem yang terstruktur dan tertutup. Juga sebagai ilusi dari realitas.
Dari sudut epistemologi, aliran ini memandang hidup secara ideologis. Estetikanya adalah bagaimana sebuah film menciptakan makna yang tersembunyi. Sehingga tradisi ini tidak menggunakan material film sebagai bahan analisisnya seperti yang dilakukan oleh teori film klasik.
Pendekatan ini berupaya untuk melihat film secara sosio-ideologis, menganalisa apa yang menjadi representasi dalam film baik dari segi style maupun narasinya, lalu mencari pola hubungannya dengan konsep sosial-politis (biasanya yang dianut oleh peneliti film itu sendiri).
Pada fase ini pengaruh Marxis sangat kental. Jika sebelumnya kajian tentang film banyak meminjam teori dari bidang seni lain –terutama sastra dan teater – maka pada periode ini paham marxis selalu melakukan ‘penetrasi’ terhadap teori-teori yang digunakan membahas film[4].
Modus yang digunakan selalu mencari tahu siapa atau apa yang berada di balik semua produksi kultural. Cultural studies sebagai bagian dari tradisi kritis marxisme selalu mencurigai produk kultural seperti film pasti digunakan oleh satu atau beberapa pihak dalam masyarakat untuk meraih atau mempertahankan kepentingan politis-ekonomis tertentu[5].
Teori yang berkembang pada fase ini antara lain semiotika, psikoanalisis-Marxian, feminisme, postmodernisme, Auteur, dll. Dari keseluruhan teori yang berkembang tersebut dapat dilihat bahwa analisis film pada tradisi ini menjadikan persepsi dan interpretasi menjadi tujuan utama dalam menentukan apa sebenarnya film itu.
Kelemahan paling mendasar dalam menggunakan persepsi dan interpretasi dalam menganalisis film hanya akan memetakan film menjadi dua kelas; yang bagus/baik dan yang jelek/buruk seperti yang dilakukan oleh teori auteur yang dipopulerkan oleh Andrew Sarris[6]. Dimana menurut Sarris, sudradara Auteur pasti lebih unggunl dibanding sutradara yang bukan Auteur.
Kelemahan dalam teori film modern inilah yang melatarbelakangi seorang praktisi dan sejarawan film berkebangsaan Australia bernama Barry Salt melontarkan kritikannya[7]. Setidaknya menurut Salt ada 3 hal yang menjadi kelemahan dalam teori film modern :
(1) ketidak-konsisten-an dalam menginterpretasi film,
(2) Tidak adanya rumusan/ kriteria yang pasti,
(3) Subjektif / kriteria tergantung dari intepretasi sang kritikus. Secara garis besar kritik Salt menyebutkan bahwa teori-teori film yang ada jauh dari kaidah-kaidah sains/ilmiah.
Menurut Salt kajian film yang ideal harusnya meneladani aspek-aspek positif yang ada  pada sains yang lebih stabil dan mapan, meski diakuinya bahwa kajian film sulit menjadi sains murni. Namun hal ini akan menghindari para peneliti terjebak dalam retorika spekulatif. Sebab masing-masing kritikus film, sineas dan para pelaku film memiliki motif agenda, ekspektasi, maupun latar belakang  sosio ekonomi serta budaya sendiri dalam mengambil sikap  yang berkenaan dengan proses interpretasi sinema. Belum lagi muncul pertanyaan siapakah yang pantas memberikan interpretasi terhadap film? Yang menimbulkan polemik berkepanjangan.
Pada akhirnya ketika seorang kritikus film menggunakan intuisi pribadinya kedalam proses interpretasi, maka yang terjadi adalah  kita sebagai penikmat film akan kian tersudut  pada pengembangan wawasan dan terjebak sistem analisa yang sangat subjektif.
Karena itu Salt menyerukan pentingnya seorang reviewer/ kritikus film untuk lebih mempertimbangkan aspek teknis, yang antara lain  melibatkan depth of field, editing, shot selection, dsb kedalam rumusan interpretasi filmnya. Hal ini yang menurut Salt menjadi kekurangan yang menonjol dikalangan kritik akademis saat ini.
Berpegangan pada aspek konstruktif dalam memformulasikan rumusan teori filmnya, Salt kemudian menggunakan metode analisis dan evaluatif yang seobjektif mungkin dalam menelaah lebih dalam tentang berbagai unsur dalam cinema. Metode analisis dipandang perlu demi menguji seberapa  tinggi tingkat akurasi rumusan teori yang digunakan, demikian juga halnya dengan metode evaluatifnya.
Analisa film versi Barry Salt terbagi atas tiga unsur, yaitu :
1)      Berdasarkan Konstruksi teknisnya (jenis kamera yang digunakan, ukuran lensa, angle, editing, art direction dan tata ruang)
2)      Style (executive and artistic decision) sang sutradara. Dimana menurut Salt faktor kedua ini lebih banyak diabaikan dalam perumusan teori film dewasa ini.
3)      Dan yang terahir dan relatif kurang signifikan dari dua faktor diatas adalah film dapat dianalisa dengan mengukur seberapa besar tingkat respon dari penonton.
Sedang dalam kriteria evaluasi film, Barry mengklasifikasikan 3 aspek utama yaitu; (1) Originalitas, (2) Pengaruh film tersebut dengan film lainnya dan (3) seberapa besar visi dan pengaruh kreatif sang filmaker terpenuhi dalam film garapannya.


. Mencari Satuan Matematis Analisis Film
Ketidakpuasan Salt terhadap metodelogi yang tawarkan teori film yang ada disebabkan teori-teori tersebut jauh dari paradigma ilmiah dimana objektif, rasional (terukur) dan sistematis merupakan syarat mutlak dalam penelitian. Setidaknya, menurut Salt kajian film harus menghormati kaidah-kaidah ilmiah jika ingin dikategorikan sebagai sebuah Ilmu.
Hal ini menuntut pendekatan Salt menemukan objek yang paling empiris dalam sebuah film, sehingga memudahkannya untuk melakukan perhitungan. Salt kemudian merujuk pada pernyataan Eisentein, dimana ia menyebut style merupakan sesuatu yang paling mudah diidentifikasi dalam film. Jika film diibaratkan sebuah buah, maka style merupakan tampak luar atau kulit dari sebuah film.
Style film sendiri dikenal sebagai teknik film maker atau sutradara dalam memberi makna atau nilai tertentu dalam filmnya. Hal ini dapat mencakup semua aspek dalam pembuatan film seperti sound, mise-en-scene, dialog, sinematografi, ekspresi, dll.
Style terutama yang berada dalam kendali sutradara merupakan hal yang paling empiris dalam film dan dapat diukur melalui parameter shot. Pada pendekatannya Salt merujuk style kepada satu set pola terukur yang signifikan dan menyimpang dari norma-norma kontekstual. Metode pengukuran style ini dikenal sebagai stylometry dengan shot sebagai satuannya. Metode yang diperkenalkan Salt ini kemudian lebih akrab disebut Statistical Style Analysis.
Pada pendekatannya tersebut Salt menggunakan fungsi dasar statistik untuk mengukur atau menjumlah data kemudian merepresentasikan data tersebut sebagai aturan dasar yang bersifat tetap atau final. Dalam metode ini statistik digunakan untuk menganalisa atau lebih tepatnya mengukur-style.
Metode statistik dalam kajian sinema menjadikan penelitian film menjadi lebih sistematis, terukur dan lebih objektif. Tujuan utamanya adalah mengumpulkan jumlah dan frekuensi data parameter formal sutradara  kemudian diwakilkan ke dalam grafik, persentase, dan rata-rata panjang tiap shot (Average Shot Lenght / ASL).
Pendekatan statistik dalam penelitian film  memberikan hasil secara visual angka-angka yang lebih jelas dan sistematis. Statistical style analysis sendiri secara spesifik memiliki 3 tujuan standar, yaitu:
1.      Menawarkan analisis style dengan menggunakan pendekatan kuantitatif.
2.      Menghindari sengketa teks yang berkaitan dengan atribut kepenulisan
3.      Untuk mengidentifikasi kronologis film ketika adegan atau urutan komposisi tidak jelas atau tidak runut.[8]
Dengan memasukkan statistik sebagai alat analisanya, Salt berhasil menghindari hubungannya antara style dan tema sebuah film, sesuatu yang menjadi fokus pada teori sebelumnya yang ’mati-matian’ membantah asumsi bahwa tampilan scene dalam sebuah film (gerakan kamera, tata cahaya, dll) hanya keperluan estetika semata[9].
Analisis style dalam pendekatan statistik menunjuk satu set pola terukur yang secara signifikan menyimpang dari norma kontekstual film. Tujuannya adalah mengindetifikasi style individu sutradara dengan mengumpulkan data parameter formal secara sistematis terutama yang berada dalam kendali langsung sutradara seperti Duration of the shot (termasuk  panjang rata-rata per-shot, atau  Average shot length/ASL),  Shot scale,  Camera movement.[10]
Dalam teorinya, Salt merujuk style kepada satu set pola terukur yang signifikan dan menyimpang dari norma-norma kontekstual. Ia menggambarkan style seorang sutradara merupakan parameter formal mereka yang tersistematis dalam filmnya. Ia kemudian merepresentasekan parameter formal ini ke dalam grafik batang dan persentase[11].
Walaupun terkesan masih asing bagi dunia kajian sinema namun pendekatan Salt sangat menarik perhatian penulis dan patut untuk diaplikasikan dalam film-film Indonesia. Karena itu, pada penelitian kali ini, penulis ingin mengaplikasikan Statistical style analysis-Barry Salt untuk menganalisis film-film Indonesia.





Buah Pemikiran para tokoh Film
Rudolph Arnheim, salah satu tokoh pemikir, mengacu kepada adanya potensi perubahan dari pembuatan film dari aslinya, dikarenakan adanya pilihan framing, sudut kamera, dan pencahayaan. Maka, proses pengeditan menjadi akar dari teori ini.
Lev Kuleshov melakukan eksperimen dengan mengedit rekaman bersama-sama dengan cara yang berbeda untuk menentukan dampak pada penonton. Hal itu menunjukkan bahwa penonton menjadi penentu hubungan dari bidikan satu ke bidikan lainnya.
Sergei Eisenstein berpendapat bahwa potensi tertinggi dalam pengeditan terletak pada tabrakan gambar yang berbeda untuk menghasilkan ide-ide baru.
André Bazin dan Siegfried Kracauer menjelaskan bahwa film tidak memproduksi dunia yang telah dikenal oleh penonton, tetapi mengungkapkan apa yang tidak diketahui sebelumnya oleh penonton. Dalam hal pengeditan, teori realis juga tidak sepaham dengan teori formatif. Bazin percaya bahwa jika sebuah film harus diedit, maka harus mengalami pengeditan yang berkelanjutan, di mana tindakan pengeditan dibagi persusunannya, lalu kemudian disusun kembali. Oleh karena itu, Bazin menyukai pendekatan sinematik yang mengambil take panjang, yaitu membidik seluruh adegan dalam satu bidikan yang terus-menerus dengan fokus yang nampak sama. Bazin menekankan bahwa para pembuat film harus bebas saat membuat film dengan melakukan berbagai pendekatan sinematik, bukan menenakankan pengeditan.
Setelah itu, banyak teori bermunculan, teori ini dikembangkan dari ilmu sosial, misalnya teori lingusitik oleh Ferdinand de Saussure dan teori psikoanalisis oleh Jacques Lacan. Teori ini juga harus dipahami dalam konteks sejarah, bahwa film diproduksi sesuai lingkungan sosialnya, misalnya tentang hak-hak sipil, hak perempuan, dan gerakan antiperang pada zaman tersebut. Ide-ide tradisional tentang gender dan seksualitas juga menjadi tantangan dalam film.
Hingga muncul teori baru, Teori Marxis dan Teori Film Feminis. Marxisme merupakan tantangan kapitalisme, sedangkan feminisme merupakan tantangan patriarki, yang sama-sama menjadi ideologi dominan dalam budaya pada saat itu. Marxisme mendukung untuk mengakhiri penindasan kaum miskin dan kelas pekerja, sementara feminisme mendukung untuk mengakhiri penindasan perempuan. Kedua perspektif tersebut digunakan dalam berbagai kritik pada film. Teori ini dianggap dapat mendorong kelanjutan ideologi penindasan dalam struktur-struktur lainnya, sehingga mereka hanya dianggap sebagai koreksi dalam perfilman.
Setelahnya, Teori Film sekali lagi berubah arah. Teori baru menolak asumsi dasar dari teori materialis, namun secara implisit mengakui kekakuan sistematis yang mereka bawa ke studi tentang film. Teori baru ini dicontohkan pada karya Gilles Deleuze. Film sebagai bahasa sistem atau kode yang harus dipecahkan untuk menemukan makna yang tersembunyi di dalamnya. Deleuze berpendapat bahwa film sebagai gambar dan suara yang kompleks.

Perkembangan Teori
1930-an, Teori Formatif, yaitu:
film bukan sekedar rekaman gambar, karena adanya potensi perubahan dari pembuatan film dari aslinya, dikarenakan adanya pilihan framing, sudut kamera, dan pencahayaan, maka, proses pengeditan menjadi akar dari teori ini.
meskipun Teori Film dari masa pergantian abad melalui tahun 1930-an berbeda-beda sesuai fokus dari tokoh pemikir masing-masing, tetapi mereka menekankan pada perubahan sebuah film dikarenakan alat-alat yang ada.

1945-an (Setelah Perang Dunia II), Teori Realis, yaitu:
kualitas film terletak pada kemampuannya menangkap hal-hal yang nyata dan realis
film tidak memproduksi dunia yang telah dikenal oleh penonton, tetapi mengungkapkan apa yang tidak diketahui sebelumnya oleh penonton.
pembuat film harus bebas saat membuat film dengan melakukan berbagai pendekatan sinematik, bukan menenakankan pengeditan.

1960-an, Teori Materialis, yaitu:
tindakan dan kesadaran manusia dibentuk oleh materi sebagai kekuatan pokok yang ada di luar kendali individu. eori dikembangkan dari ilmu sosial, misalnya teori lingusitik oleh Ferdinand de Saussure dan teori psikoanalisis oleh Jacques Lacan.
film diproduksi sesuai lingkungan sosialnya, misalnya tentang hak-hak sipil, hak perempuan, dan gerakan antiperang pada zaman tersebut

Setelah 1970-an, Teori Marxis dan Teori Film Feminis, marxisme merupakan tantangan kapitalisme, sedangkan feminisme merupakan tantangan patriarki, yang sama-sama menjadi ideologi dominan dalam budaya pada saat itu
teori ini dianggap mendorong kelanjutan ideologi penindasan dalam struktur-struktur lainnya, sehingga mereka hanya dianggap sebagai koreksi dalam perfilman.

1980-an, Teori Film kembali berubah arah, yaitu:
menolak asumsi dasar dari teori materialis, namun mengakui kekakuan sistematis film.
film sebagai bahasa sistem atau kode yang harus dipecahkan untuk menemukan makna yang tersembunyi di dalamnya. film  sebagai gambar dan suara yang kompleks.


Asumsi Dasar
Tahapan pertama pemikiran teoritis tentang film merupakan respon dari orang-orang yang menolak bahwa gambar bergerak (kata lain dari sinema pada zamannya) hanyalah rekaman tanpa nilai intrinsik. Pada mulanya, Teori Film berpendapat bahwa film merupakan sebuah seni baru, maka mereka menganalogikan film dengan seni tradisional. Gerakan dalam bingkai dan pemotongan beberapa rangkaian membentuk ritme visualisasi gambar dan musik, yang menjadi estetika baru. Teori ini membantah bahwa film merupakan rekaman belaka, karena bahan baku atau subjek harus melalui kamera yang kemudian diubah, dimanipulasi, dan dibentuk oleh proses sinematik.

Pengaplikasian Teori
Teori ini biasa digunakan untuk pengamat perfilman, terutama bagi kritikus film yang mengkonsentrasikan penelitiannya kepada dunia perfilman. Teori ini merupakan teori film yang ada di Barat, akan tetapi karena film Barat telah dibawa oleh arus globalisasi, maka film non-Barat juga kurang lebih mengikuti teori tersebut
(sumber http://catatankomunikasi.blogspot.com/2012/07/teori-komunikasi-teori-film.html)


[1] Richard Dryer, “Introduction to Fim Studies,” dalam The Oxford Guide to Film Studies
[2] John Hill dan Pamela Church Gibson (ed.), The Oxford Guide to Film Studies, Oxford University Press, 1998.
[3] Ibid 3
[4] Joseph D. Anderson, The Reality of Illusion: An Ecological Approach to Cognitive Film Theory, Carbondale: Southern Illinois University Press, 1996
[5] Richard Dryer, ibid hal 6
[6] Andrew Sarris merupakan kritikus film yang  mempopulerkan teori Auteur di USA melalui bukunya The American Cinema: Directors and Directions 1929-1968 (1968).
[7] Barry Salt sengaja tidak melakukan kritik terhadap tradisi film klasik, sebab menurutnya teori-teori yang sudah ada telah mewakili pemikirannya. Teori film modern juga hadir sebagai kritik terhadap teori film klasik.
[8] Thomas Elsaesser & Warren B, Studying Contamporary American Film; A Guide To Movie Analysis Oxford University Press, 2002
[9] ibid 13
[10] Ibid13
[11] Thomas Elsaesser & Warren Buckland. Studying Contemporary American Film. Oxford University Press Inc : 2002

0 komentar:

Poskan Komentar