Teori Film

Rabu, 26 Oktober 2011

Linguistik Louis Hjelmslev and Semiotika Eco Umberto


Linguistik dan Film
Ketertarikan para cendekiawan Prancis pada sistem Linguistik yang dikembangkan oleh Saussure dan Hjelmslev yang berawal pada 1970-an, kini telah menurun drastis, dan yang tersisa saat ini hanyalah beberapa terminologi usang/ ungkapan teknis semu  yang sesekali dilontarkan  untuk membuat terkesan khaylak intelektual Prancis termasuk (mahasiswa- mahasiswa DO). Konon, katanya ilmu Linguistik tidak hanya mampu membedah  ‘bahasa’ namun juga bisa mempelajari bentuk serta elemen komunikasi.

Barry Salt merasa tidak perlu untuk membahas hal ini secara lebih detil, oleh karena memang kegagalan linguistik   telah terbukti dan diakui oleh beberapa kalangan, baik cendikiawan/ akademisi maupun masarakat awam, yang mana kegagalan ini telah cukup dijelaskan oleh Jonathan Culler dalam bukunya Stucturalist Poetics.


Lebih lanjut, Salt menambahkan bahwa ada 2 hal yang mesti disadari tentang Linguistik
1)       Ilmu bahasa ini belum cukuplah untuk menjadi bahan dasar perbandingan dan pertimbangan dalam merumuskan suatu teori atau disiplin ilmu lainnya. Karena hingga kini belum tercapai kesepakatan diantara pelaku/ penggiat Linguistik  tentang beberapa sistem  teoretikal  yang terkandung didalamnya.
2)      Mekanisme/ metode  yang kita gunakan dalam  berfikir atau  mengambil persepsi  sangat berbeda jauh dengan  proses panca indera dan nalar kita  dalam mengartikan  atau mempelajari  suatu hal, untuk kemudian kita terjemahkan dalam suatu sistem  yang terpadu dan komprehensif (dapat dimengerti dengan mudah semua orang).

Sebagai contoh, kita dapat lebih gampang  dan lebih cepat  dalam mempelajari aspek verbal suatu bahasa dibanding  mempelajari cara menulis atau membacanya, dan kita juga terbiasa  secara visual dan matematis menganalisa hasil pemahaman kita  pada suatu hal tanpa harus memahaminya  secara verbal. Hal ini terjadi diakibatkan karena adanya dua proses informasi berbeda yakni, visual dan verbal pada masing kutub diotak kita, seperti yang telah ditunjukkan dalam Neurophysiology.

Sejak dulu telah terlihat bahwa kajian ilmu Linguistik Prancis hanya memberikan konstribusi kecil pada bidang studi Fonologi, bahkan sama sekali tidak menghasilkan sesuatu  yang beraarti pada bidang Syntax dan Semantik. Fakta ini dipertegas dengan adanya ketimpangan ketimpangan dalam rumusan teori  AJ. Greimas, sebab  biar bagaimanapun hasil karyanya cukup sering menjadi rujukan mahasiswa Inggris yang berminat mempelajari  metode teori Prancis, serta juga karena teorinya merupakan salah satu  dari sedikit upaya pendekatan yang pernah diterapkan untuk menelaah Kajian Narasi Film.


A.J. Greimas mengklaim bahwa diagram model dalam rumusan teori linguistik-nya telah mewakili struktur dasar dari ‘meaning’ (intepretasi pemahaman arti atau maksud  dari sebuah kejadian dan merupakan manifestasi (contoh konkrit) dari teori Jean Piaget.  Padahal sebenarnya Greimas hanya meminjam tanpa memahami perhitungan matematis  yang terkandung dalam teori Piaget, dan  menggabungkan diagram model lama dengan bentuk logika klasik ala Syllogisme.

Sumber kesalahan Griemes  adalah kenaifannya  dalam berasumsi bahwa semua elemen  pasti memilki faktor lawannya (contoh, untuk semua huruf ‘P’ pasti selalu ada ‘non-P’), serta aplikasinya  yang menyesatkan tentang studi kasus  beraneka ragamnya hubungan seksual seperti: perselingkuhan, Homoseks, Incest, dsb.) dalama masarakat  tradisional Prancis.
Walaupun demikian, tetap ada upaya pengkajian ‘interpretasi Film’  dengan menerapakan  pendekatan teori  Grimas dalam  beberapa terbitan jurnal film berbahasa Inggris. Selain metodenya yang rancu, banyak aspek dalam rumusan teori Grimas yang didasarkan pada ketimpangan logika, terutama pada model narasi. Transformasionalnya seperti yang telah diaplikasikan Oleh Roger Silverstone kedalam drama televisi.




ECO dan Konsep Semiotika
Sekitar 1970-an, ketika dimulai disadari kurang berhasilnya kajian sains dalam ilmu komunikasi  dengan menggunakan tanda simbol (semiotik) yang diadaptasi langsung dari model linguistik struktural Prancis, maka muncullah upaya untuk menciptakan teori kajian sains yang tidak terlalu tergantung pada model linguistik. Dalam bukunya Trattato di semiotica generale (1975 - English translation: A Theory of  Semiotics (Indiana University press, 1976), Umberto Eco berusaha menampilkan proses hipotesa (dugaan) dalam menginterpretasikan suatu simbol atau kode yang berkaitan erat dengan proses komunikasi.
Penggunaan/ aplikasi teori semiotik Eco dalam kajian sinema sedikit banyak telah meniupkan ruh pada konsep kode dan interpretasi pada narasi film yang selama ini berpijak pada koridor koridor orthodox sinema.

Namun bukan berarti apa yang dirumuskan Eco  seratus persen benar. Menurut Barry Salt,  yang dilakukan Eco dan penggagas semiotika yang  lain ‘hanyalah’  mengganti seperangkat istilah deskriptif yang ada, sebagai contoh: Kode, metode, dan interpretasi,  serta membedakan diantara hubungan baku sebuah meaning/ arti, hubungan yang berubah ubah (fluktuatif)  sebuah arti dengan hubungan sembarangan/ acak sebuah arti. 


Sebagai contoh dalam film sering kita jumpai penggunaan dissolve  (suatu adegan dimana gambar pada film  secara lambat laun  memudar dan berganti dengan gambar yang lain) yang mana bisa dilihat  sebagai kode atau simbol bergesernya waktu. Tapi menurut Salt, hal tersebut tidak sepenuhnya berlaku mutlak untuk arti atau meaning dari sebuah penggunaan dissolve, sepanjang pengamatannya dalam sejarah perkembangan film, sering kali ambigu (tidak jelasnya makna- tergantung dari sudut pandang/ interpretasi masing masing individu) dan tidak selalu berfungsi sebagai kode/ simbol transisi peralihan dimensi atau waktu.


Setelah memprakarsai rumusan rumusan dasar teorinya yang dituang dalam bukunya A Theory of Semiotics secara jelas dan konsisten  (walaupun masih terdapat beberapa ketimpangan  yang fundamental dalam beberapa bagian), Eco kemudian menindak lanjuti teorinya dengan mengadopsi metode pendekatan yang  lebih variatif  (yang menurut Salt cenderung ‘menyesatkan’)   dengan cara mencoba  menggabungkan sebanyak mungkin konsep konsep semiotik karya penggagas teori  lain, dan bereksperimen   dengan kesemuanya. Sebagai contoh: Eco menelaah teori linguistik A.J. Griemas yang sarat dengan kerancuan serta teori teori lain yang sama timpangnya.

Bila dipandang dari sudut perfilman sendiri, kode/ simbol bermuatan tiga makna (a triply articulated code) yang  ditawarkan oleh Umberto Eco ini sebenarnya masih bisa diaplikasikan dalam menginterpretasi narasi sebuah film, walaupun diperlukan tingkat pemahaman yang relatif utuh dalam menerjemahkan dan mengadaptasi konsep semiotika yang diusungnya  kedalam bahasa film.


sumber: Salt, Barry, Film Style and Technology : History and Analysis, London: Starword Publishing, 2003

0 komentar:

Poskan Komentar