Teori Film

Jumat, 23 April 2010

Ideology (sesi ke-enam dengan Seno GA)

Relasi antara discourse, ideology, dan meaning dalam Cultural Studies

Wacana/discourse adalah himpunan gagasan dan konstruksi budaya yang membentuk kita sebagai sosial subject dalam tatanan konstruksi sosial dan itu menentukan cara kita memandang dan berfikir, hal inilah yang membentuk salah satu aspek dari makna/ meaning. Artinya makna/ meaning tersebut tergantung pada bagaimana cara kita atau subjek memandang sesuatu hal, perkembangannya akan memunculkan wacana dominan dan wacana perlawanan, tentulah hal ini merupakan sesuatu yang bermuara ideologis, oleh karena didalam kajian budaya tidak ada sesuatupun yang tidak memiliki muatan ideologis, karena segala hal tidak ada yang tidak bermakna, dan dalam semua pemaknaan terdapat sebuah kepentingan. Oleh karena berbicara kepentingan (politis) maka ia berada dalam ranah Cultural Studies.


Secara objektif, manusia yang berperan sebagai individu memiliki kepentingan (politis) agar dirinya tidak ditindas dan didominasi oleh individu maupun kelompok lain. Fenomena ini menjadi sebuah proses nyata dari kehidupan manusia dalam berkompetisi untuk bertahan hidup dan mensejahterakan dirinya. Kompetisi yang terjadi dalam konstruksi sosial ini melahirkan berbagai wacana dan kepentingan. Anggaplah sebagai contoh: anggapan beberapa kalangan bahwa media massa itu jahat, karena media massa itu mampu membentuk opini publik, begitupun dengan film, ia bisa menggiring pendapat orang, dan membentuk sikap objektifitas dari pendapat umum. Disini saya beranggapan bahwa hal tersebut merupakan wacana/discourse akan konstruksi sosial yang berkembang, dan kita sebagai subject sosial dituntut untuk bisa memaknai wacana tersebut sebagai himpunan gagasan atas konstruksi budaya yang terbentuk kita. Pemaknaan atau meaning dari masing masing subject pastinya akan berbeda, karena setiap subject akan teregulasi oleh status sosiopolitik, dan setiap pemaknaan tidak bersifat statis, sehingga saya bisa saja beranggapan bahwa anggapan bahwa media itu jahat adalah salah besar.

Makna/ meaning merupakan hasil dari komunikasi atas konstruksi sosial, yang oleh sebab itu menjadi bahan penelitian dan analisa lebih lanjut. Menurut Marshall Sahlins (1976) meaning dalam ruang lingkup ekonomi dan politik berubah fungsi dan pengertiannya menjadi subjek antropologi, serta menjelama menjadi produk kebudayaan. Point disini adalah meaning tidak bersifat statis, namun bersifat produktif, dan tiap meaning memiliki muatan dan bertujuan ideologis. Karenanya makna/meaning adalah situs bukan sinonim, makna/meaning bisa berubah dan selalu ada analisa lebih lanjut, sesuai konstruksi cara pandang dan berfikir.
Tujuan dari makna (hasil dari meaning) merupakan ideologi, ideologi kemudian bertahan dalam wacana karena meaning memiliki dimensi yang bermacam macam yang akan menghasilkan meaning yang dinamis pula.
Didalam film, produsen makna bukan lagi ada pada pembuatnya (filmaker), melainkan makna tersebut hasil konstruksi sosial. Artinya meaning tercipta oleh konstruksi sosial, ia menjadikan Author is death, oleh karena kode pesan dalam film telah menjadi teks buat pembacanya, bukan pada pembuatnya sehingga kuasa / power tidak bersumber pada satu sumber atau institusi, karena kuasa/ power bermuatan relasi dan berkaitan dengan hal hal lain yang membentuk makna/ meaning.

Tidak pernah ada makna yang tetap, karena akan selalu terjadi wacana/ discourse, wacana dominan akan selalu bernegoisasi dengan wacana perlawanan, dan makna dominanlah yang selalu berlaku, meaning akan selalu berubah oleh faktor negoisasi tersebut dalam kultur socipolitik.

Mengapa makna/ meaning tidak tetap? Hal ini berkaitan dengan hegemoni, bahwa hegemoni merupakan suatu kondisi dalam proses, disebut proses karena wacana dominan harus bernegoisasi dengan wacana kelompok perlawanan, makanya hegemoni selalu berproses dan makna selalu berubah ubah. Seperti contoh: Film komersial selalu diibaratkan tidak lebih baik dengan film Art, dalam cultural studies sikap binerisme ditiadakan atau tidak ada. Artinya film Art dilihat sebagai usaha untuk lebih baik dari usaha yang ada pada konstruksi film komersial, bukan hanya dengan nama Art, tetapi dengan konstruksi kode kode tertentu yang tidak ada pada konstruksi komersil, yang menurut wacana dominan konstruksi kode tersebut dinilai sebagai Art (yang membedakan diri dari wacana popular) tujuannya untuk menghadirkan nilai ideologis yang berbeda dengan wacana popular.

Telah disebutkan bahwa meaning memilki muatan ideologis. Penganut Marxian (Gramsci, Hall) menilai bahwa wacana dominan dan ideologi adalah sebuah ‘kesadaran palsu’ karena ideologi dinilai sebagai sesuatu yang abstrak, sehingga para Marxian selalu menekankan materi (materialis) untuk menghindari kesan abstrak.Bagi Althusser menilai bahwa konsep abstrak tersebut menjelma dalam sehari hari yang bermuatan materialis (pakaian, tanah, dsb), jadi bukan ideologinya yang abstrak melainkan bahasa yang membentuk ideologi tersebutlah yang abstrak.

Ideologi tidak terdapat pada materi, namun subjeklah yang mengkonstruksi dan memaknai materi tersebut, oleh karena makna/ meaning merupakan konstruksi sosial, bahwa ada wacana yang meguasai diri kita, ada wacana yang kita kenal yang terbentuk dengan sendirinya melainkan lahir dari konstruksi sosial (ada nilai relasional terhadap sesuatu yang lain) atau dengan kata lain tanpa terbantahkan peran power relation berfungsi disini.
to be cont...

0 komentar:

Poskan Komentar