Teori Film

Jumat, 16 April 2010

cultural studies dictionary



Pembahasan mengenai Kajian Budaya akan selalu berujung pada muatan politis, suatu wilayah pendidikan yang multidisipliner atau bahkan pascadisipliner yang mengaburkan batasan batasan dirinya sendiri dengan disiplin ilmu lain. Meski demikian, oleh karena kajian budaya tidak ingin diberi cap sebagai ‘serba bisa apapun juga’ maka kajian budaya berusaha membedakan dirinya sendiri melalui politik yang dilakukannya.
Kajian budaya secara konsisten mengklaim memusatkan perhatiannya pada isu isu kekuasaan, politik, dan kebutuhan perubahan sosial. Dengan demikian Kajian budaya berisikan sekumpulan teori dan pendiriran politik,
termasuk didalamnya penciptaan teori sebagai suatu praktik politik. Bagi kajian budaya, pengetahuan tidak pernah sebagai fenomena yang netral atau objektif. Pengetahuan adalah masalah posisionalitas yang diistilahkan Gray sebagai “siapa yang bisa mengetahui tentang siapa, dengan cara apa, dan untuk tujuan apa. Berikut beberapa kata kunci dalam cultural studies yang bisa dikatakan sebagai landasan pemikiran politis, oleh para pemikirnya.

Hegemony
Hegemony konsep dominasi politik ini pertama kali digagaskan oleh Gramsci pada tahun 1930an , dimana pada saat itu teori ini diterapkan pada khasanah kajian budaya. Dalam konteks budaya ini, hegemony diterjemahkan sebagai kemampuan suatu negara dalam memimpin negara negara lain yang berhubungan dengan sosio kultural dan politik. Hal terpenting yang mesti diingat adalah konsep hegemony hanya akan efektif apabila terjadi kesadaran penuh diantara masarakat untuk tunduk pada aturan sang penguasa yang lebih dominan.

Hegemony: Sistem dominan dengan melibatkan suka dan rela dari kelompok non dominan, artinya tidak ada penindasan atau paksaan pada konsep hegemony. Seperti nama yang bernuansakan Islam pada masarakat Indonesia

Contoh konkret dari hegemoni adalah: tahta kekuasaan negara super power Amerika serikat yang dapat dikatakan memimpin negara negara lain yang tidak memilki otoritas dan kemampuan superior. Dan aliansi ‘negara negara kecil’ ini bermufakat untuk menyetujui setiasp langkah dan kebijakan politik Amerika Serikat.

Meaning
Ibarat ia dibebankan ‘sesuatu untuk menghasilkan makna’ dengan hasil untuk kepentingan yang ‘berkuasa’.
Ditinjau dari sudut ilmu komunikasi media, meaning atau arti merupakan hasil dari komunikasi, yang oleh sebab itu menjadi bahan penelitian dan analisa lebih lanjut. Menurut Marshall Sahlins (1976) meaning dalam ruang lingkup ekonomi dan politik berubah fungsi dan pengertiannya menjadi subjek antropologi, serta menjelama menjadi produk kebudayaan.

Pengetahuan tentang bahasa menjadi demikian urgent/ mendesak ketika daya interpretasi suatu kelompok bersentuhan dengan kepentingan sosiopolitis dimasarakat. Terkadang pendekatan egaliter terhadap meaning berakibat terbentuknya nuansa nuansa baru yang menghembuskan angin etnografis. Teori kontekstual yang dikembangkan oleh beberapa penggagas kontemporer ini sedikit banyak membantu mengisolasi subjek tertentu dari pesan yang tersembunyi dari suatu interpretasi sebuah makna.
Seperti contoh, meaning dari konstruksi setiap kode didalam film, bahwa arti tersebut diciptakan oleh pembuat film (penguasa).


Power
Kekuasaan disini dapat diartikan sebagai cara cara yang ditempuh oleh individu atau golongan tertentu dalam mendominasi kelompok lainnya, yang dalam pelaksanannya terdapat resitensi dari pihak lain. Kaitannya degan dimonasi dan kontrol sedemikian besar, sehingga apapun pengaruh yang ditimbulkan oleh efek psikologis kekuasaan bisa secara sistematis menyelinap masuk kedalam sendi sendi sosiopolitik dan kultural suatu masarakat.

Kekuasaan itu sendiri terbagi atas dua jenis yaitu;
Influential Power yang bersifat mempengaruhi dan membentuk opini masarakat, contoh; iklan, politik, media massa. Instrumental Power yang lebih condong pada pembelajaran sesuatu hal, contohnya; bidang hukum, pendidikan, bisnis dan manajemen.

Power Secara otomatis biasa dihubungkan dengan relation atau power relation, jadi diantara Penguasa, pendidikan, regulasi, media, kapital. Hubungan2 ini tidaksatupun lebih berkuasa dari yang lain, karena yang membentuk kuasa atau power ini adalah hubungan2 itu. Jadi bukan media, bukan penguasa, ataupun peraturannya. Tetapi merupakan hubungan kesemua aspek tersebut. Dengan kata lain sirkulasi ideologi
Foucault memberi contoh ide ‘langsing’ sebagai sesuatu yang dominan. Langsing merupakan suatu contoh bahwa power tidak dipaksakan oleh siapapun, namun mampu memaksakan siapapun untuk menjaga kondisi tersebut. Artinya, gagasan bahwa ‘Jiwa lebih penting dari tubuh’, kalah dengan ‘ tubuh barangkali lebih penting dari jiwa’.


Discourse
Istilah ini, atau bisa disebut sebagai ‘wacana ilmiah’ telah banyak digunakan dalam berbagai disiplin ilmu, dan sering kali dengan tujuan yang berbeda. Lazim digunakan dalam ilmu bahasa/ linguistic, sebagai Discourse Analysis, tidak hanya mengacu pada penjabaran verbal yang kompleks oleh seorang pembicara namun lebih dari itu, wacana ilmiah atau discourse berkaitan erat dengan proses interaksi sosial antara sesama individu.
Semenjak era Pasca Strukturalis dan semiotik (analisa persepsi), konsep discourse ini telah mengalami perkembangan baik makna maupun konteksnya, namun tetap berusaha melestarikan nilai nilai strukturalis. Melalui Michel Foucault konsep wacana ilmiah terbukti bermanfaat dan mampu mewakili pengertian umum tentang discourse dan juga beberapa cabang ilmu lainnya yang lebih spesifik.

Kajian ilmiah/ discourse ini merupakan produk dari formasi institusional yang bersifat sosio-historis, dan penjabarannya merupakan dampak langsung dari wacana institusi tersebut. Perkembangan sejarah dan konflik sosial politik turut berperan dalam memformulasikan struktur wacana.

Contoh konkret pengejawantahan bedah ilmiah ini dapat dilihat pada media cetak maupun televisi, sedangkan pada kajian yang bersifat instusional dapat dicermati pdada bidang kedokteran, literatur budaya, dan sains teknologi.


Ideologi
Pengertian Ideologi, yang mengindikasikan bagaimana nilai nilai susila dam kebudayaan mempengaruhi secara langsung persepsi/ sudut pandang kita pada suatu kenyataan, dapat diinterpretasikan sebagai konstelasi atau sekumpulan gagasan sistematis yang diimplementasikan oleh sekelompok orang tertentu. Aspek psikologis yang terkandung dalam nilai nilai sosial budaya ini berperan penting dalam menggerakkan roda roda ideologi suatu kelompok atau bangsa.

Peremasan intisari dari nilai nilai budaya kian terus diintensifkan mengingat pergolakan status dan kekuasaan bertambah relevan dewasa ini. Benih benih yang tertanam dalam konsep teorikal Marxism mengejakulasikan konsep fundamental masarakat yang berkaitan dengan aspek sosial budaya, sehingga tanpa disadari telah terjadi pergeseran norma norma didalam masarakat itu sendiri.

Dalam konteks ilmu komunikasi dan budaya, konsep ideologi terbukti menunjukkan taringnya dengan senantiasa memberikan keteduhan pada ketidakstabilan suatu gagasan. Lebih dari sekedar konseptualisasi hubungan sosial, ideologi terlahirkan untuk menjadi piston penggerak empirisme pada segala bentuk buah pemikiran.

Seperti contoh, Indonesia di era 50an berkembang ideologi Nasakom: adalah singkatan Nasionalis Agama dan Komunis, pada masa Orde Lama. Konsep ini diperkenalkan oleh Presiden Soekarno (penguasa orde lama), yang berfungsi sebagai satu jalan menyatupadukan golongan-golongan berlainan haluan politik di Indonesia. konsep penyatuan ini diharapkan Presiden Soekarno dapat membawa Indonesia menjadi lebih baik.

Ideology: (Althusser) ideology itu tidak abstrak dan tercermin dalam kehidupan sehari hari. Seperti kostum para seniman dengan para karyawan, kenapa liburan harus ditempat seperti pantai, gunung dsb.

Ideology: (Gramsci)
Kegagalan partai komunis di Italia membuat Gramsci mempertanyakan mengapa hal tersebut bisa berlaku, sementara mereka didukung oleh dominan kelas buruh dan petani. Disini Gramsci berpendapat bahwa meskipun para kader komunis diantaranya para buruh dan petani yang beraliran komunis, akan tetapi pikiran mereka masih tertanam pikiran borjuis-kapitalis, artinya bahwa pemikiran mereka selalu beranggapan bahwa pemikiran aristokrat (kasta/ klas diatas buruh dan petani, seperti bangsawan dan pedagang) lebih dari mereka, jadi ideologi tersebut yang dimaksud Gramsci adalah pemikiran yang ada dikepala tiap masing masing, bahwa para petaniburuh tersebut susah untuk lepas dari pemikiran lepas dari tatanan kelas.


Ideology (Barthes)
Berawal dari konsep linguistic Teori konotasi dan denotasi, Barth mengungkapkan bahwa ideology itu adalah konotasi dan denotasi itu tidak ada, konotasi adalah dominan, mengapa demikian? Disebutkan karena adanya mitos (bukan berarti dongeng) mitos itu adalah yang ideologis. Apapun yang diterima sebagai kebenaran adalah mitos. Jadi yang dianggap benar adalah mitos dan itu adalah ideologis. Contoh: seperti kata ‘diamankan’ secara bahasa kata ini bermakna nyaman, namun pada kenyataan sehari hari dalam lingkup sosial kata ‘diamankan’ merupakan mitos, mengapa? oleh karena kata ini tidak seperti yang kita harapkan dalam pikiran kita], didalam kamus kata ini berarti positif namun didalam pikiran kita kata ‘diamankan’ ini menjadii sebuah arti yang negatif bagi diri kita, kita tak percaya lagi pada istilah kamus, pemikiran inilah yang dimaknai Barth sebagai mitos, hal ini benar, sehingga yang benar dalam hal ini bagi Barth adalah ideology.
Tugas ideology adalah membuat buatan manusia menjadi alamiah, makna apapun seolah olah alamiah (dengan sendirinya kamu tidak boleh membunuh). Contoh: Pancasila, sejak lahir kita telah didoktrin pancasilais, namun pancasila itu adalah ideologi, yang dbentuk sealamiah mungkin.


Reference
Barker Chris, the SAGE Dictionary of Cultural Studies, SAGE publications London, 2004.
Hartley John, Communication, Cultural and Media Studies,Third Edition, Routledge, London, 2002.
Materi kelas Seno GA.

0 komentar:

Poskan Komentar