Teori Film

Selasa, 20 Oktober 2009

Mengkaji Film Film Rako Prijanto (draft1)


Director as Auteur
Tulisan ini merujuk pada satu nama sutradara yang dipilih oleh penulis, untuk kemudian karya karya sutradara tersebut dikaji secara tekstual. Apakah diantara sederet karya karya yang dihasilkan oleh sutradara tersebut memiliki konsistensi tema dan style begitu pula akan originalitas idealismenya.

Julukan ‘Auteur’ dikenal di era 1950an diberikan kepada sutradara yang memiliki konsistensi tema pada style dan tema pada karyanya. Kritikus ‘Auteur’ menilai bahwa pakar perfilman bekerja secara kolektivitas team, namun tanggung jawab sepenuhnya tetap berada pada kekuatan sutradara dari pra hingga pasca produksi. Oleh karenanya seorang ‘Auteur’ dianggap mampu mempertahankan idealismenya dan menjalankan konsistensi pada style dan temanya, walaupun bekerja dalam aturan studio/rumah produksi yang terkadang bersifat membatasi.
Adalah Rako Prijanto seorang sutradara muda Indonesia yang lebih dikenal sebagai sutradara komedi saat ini (6 dari 8 filmnya bergenre komedi). Selain dari hal tersebut, kekuatan dari sutradara ini adalah konsistensinya yang sangat
mengutamakan kekuatan aktor, baik peran utama maupun pembantu disetiap filmnya (pemilihan actor untuk mengisi setiap karakter dalam film Rako bisa dibilang karena relationship yang baik diantara mereka). Oleh karena keakrabannya baik pada proses syuting maupun diluar syuting, menjadikan Rako sebagai sutradara telah sangat mengenal setiap karakter dan kekuatan dari pemainnya (karakter asli dari pemain tersebut ataupun karakter yang sesuai untuk di perankan oleh pemain tersebut), sebutlah aktor sekaliber Tora Sudiro, Indra Birowo, Garry Iskak, yang kemudian memunculkan nama baru semacam Vincent Rompies. Dan bisa saya asumsikan bahwa sutradara ini ‘mudah jatuh cinta’ terhadap actor maupun actor pendukungnya, seperti Norman Akyuwen, Kang Epi, Ence Bagus. Hampir diseluruh filmnya nama nama actor tersebut selalu bermunculan, hal ini mengingatkan saya pada Akira Kurasawa seorang ‘Auteur’ asal Jepang dengan pemain kesayangannya Toshiru Mifune.

Ada dua penilaian yang menurut saya penting dalam melihat seluruh film film Rako, pada film yang bergenre drama (Ungu Violet, dan Merah itu Cinta) kekuatan simbolisasi melalui warna menjadi kekuatannya. Banyak simbol-simbol berbagai hal ditunjukkan dan diwakilkan oleh warna-warna yang mencolok. Kekuatan cerita ada pada dua tokoh laki dan wanita dengan konflik cinta adalah segalanya didunia ini. Sedangkan untuk film komedi menyajikan banyak plot dan karakter yang sama kuatnya, biasanya tema cerita pada film komedi ini berkisar tentang kegagalan social (frustasinya anak band, kaum homosexual, kehidupan anak poligami, sulitnya mencari pekerjaan, dsb) hingga yang berujung pada bagaimana meramu ‘kegagalan’ tersebut menjadi senyuman, disini saya beranggapan bahwa karakter yang dibentuk bukan karena pengaruh atau dampak social sehingga situasi ini memudahkan untuk menyadur ataupun mentreat-nya kedalam komedi ditengah situasi yang serius, ada banyak visualisasi dalam film film Rako mengenai hal tersebut.

Hal menarik lainnya adalah seluruh film Rako yang saya tonton tak ada satupun yang memperlihatkan adegan ranjang, meskipun scene tersebut adalah adegan ranjang tetapi oleh Rako dikemas komedi, ('Benci Disko'_ u can see adegan ranjang pada saat tokoh yang diperankan Deny Malik menghamili anak sekolah, kocak dech…)
Rako selalu menampilkan nuansa etnis-Cina hampir disetiap filmnya (Unguviolet hingga Maling Kutang), baik itu melalui karakter peran, melalui soundtrack/effect, hingga shot dan editingnya, kita akan meras bahwa Rako menampilkan unsure etnis tersebut. Tak jauh beda pula dengan karakter Waria dalam film filmnya.

Film pertamanya ‘Ungu Violet’ yang melambungkan nama Rako Prijanto meraih Best Supporting Actres pada Festival Film Asia Pasifik ke-50 dan ‘Merah itu Cinta’meraih 5 nominasi penghargaan pada festifal film Indonesia 2007 meski demikian, kedua film bergenre drama mendapat banyak kritikan yang ditujukan buat Sutradara yang dianggap tidak mampu mengadaptasi scenario ke layar lebar., dua tahun berselang media menggangapRako sebagai sutradara komedi yang handal melalui konsistensi film komedinya yang dianggap mampu memberikan hiburan bagi masarakat sekaligus menguntungkan bagi pihak produksi. Kecaman dan kritikan kembali muncul diakhir tahun ini saat Rako akan menggarap film ‘Menculik Miyabi’ yang menghadirkan bintang porno asal Jepang Maria Ozawa.

0 komentar:

Poskan Komentar