Teori Film

Minggu, 27 Januari 2013

Analisis dalam tradisi sinema

Analisis Film Dalam sejarah teori film, analisis film berkaitan dengan interpretasi banyak mengalami transformasi. Awal munculnya ditandai dengan lahirnya strukturalisme dalam tradisi film modern. Hingga kini interpretasi film masih merupakan mode analisis ‘candradimuka’ dalam studi sinema

 Analisis Film Strukturalisme 
Kuatnya pengaruh cultural studies pada medio 1970-an membangkitkan studi tentang film dengan ontologi yang jauh berbeda dari tradisi film klasik. Sejak saat itu film dilihat sebagai industri budaya, dan didiskusikan sebagai situs penting bagi produksi subjektifitas individu bahkan identitas nasional. Interpretasi film dalam tradisi strukturalis banyak dipengaruhi oleh pemikiran dua tokoh utama yaitu Ferdinand de Saussure dan Claude Lévi-Strauss. Ferdinand de Saussure (1857 –1913) merupakan bapak linguistik. 

Strukturalisme, sebagai sebuah moda analisis sosial mengadaptasi dua ide dasar dari karya Saussure. Pertama, perhatian pada relasi pokok antara teks dan praktik kultural dimana tata bahasa yang memungkinkan makna. Kedua, pandangan bahwa makna senantiasa merupakan hasil dari aksi resiprokal dari hubungan antara seleksi dan kombinasi yang dimungkinkan melalui struktur pokok. Dengan kata lain, teks dan praktik kulturaldipelajari sebagai analogi terhadap bahasa. Dengan kata lain, strukturlah yang memungkinkan hadirnya makna. Strukturalisme bertugas mengeksplisitkan aturan dan konvens (langue) yang menentukan produksi makna (parole)[2]. 

 Sementara Claude Lévi-Strauss (1908 – 2009) adalah seorang antropolog berkebangsaan Prancis. Inti dari pemikiran Lévi-Strauss adalah mitos, dimana ia menyatakan bahwa didalam luasnya heterogenitas mitos dapat ditemukan struktur yang homogen. Dengan kata lain mitos bekerja seperti bahasa dan tugas antropology menemukan ‘tata bahasa’ yang mendasari aturan dan regulasi yang memungkinkan mitos terstruktur berdasarkan opsi biner. Menurut Lévi-Strauss mitos mempunyai fungsi sosio-kultural yang sama dalam masyarakat. Tujuannya adalah membuat dunia bisa dijelaskan, untuk menyelesaikan persoalan-persoalan dunia dan kontradiksi-kontradiksi[3] dengan kata lain, mitos menyediakan model logis yang sanggup mengatasi kontradiksi.

 Mode analisis keduanya dalam interpretasi film dipublikasikan dalam buku Sixguns And Society karya Will Wright. Dalam buku Sixguns And Society, Will Wright menggunakan metode strukturalisme dalam menganalisis film koboi Hollywood sebagai mitos untuk menunjukkan bagaimana mitos dari sebuah masyarakat, melalui struktur mereka, mengkomunikasikan suatu tatanan konseptual kepada anggota masyarakat. Secara khusus ia mencoba menunjukka bagaimana film koboi menghadirkan konseptualisasi mengenai keyakinan sosial Amerika yang sederhana secara simbolik.

 Analisis Film Posstrukturalisme 

 Munculnya gerakan menonton film secara kritis melahirkan sebuah studi baru dalam disiplin ilmu sosial, bersamaan dengan itu berbagai pendekatan digunakan untuk mengkaji dan menganalisisi film. Posstrukturalisme, hadir hampir bersamaan dengan tradisi strukturalisme yang menjadi ‘rival’nya. Posstrukturalis menolak gagasan pokok strukturalis ihwal struktur yang pada akhirnya menentukan makna teks atau praktik budaya. Bagi para postrukturalis, makna senantiasa berada dalam proses dan aliran kemungkinan-kemungkinan yang tidak ada hentinya. Arus utama pemikiran posstrukturalisme berada pada teori dekonstruksi-Derrida. Jacques Derrida 1930–2004) adalah seorang filsuf Prancis, yang dianggap sebagai tokoh penting post-strukturalis-posmodernis. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Nietzshe dan phenomenology Husserl dan Heidegger. Dekonstruksi-Derrida hadir untuk membongkar oposisi biner-linguistik Saussure dalam strukturalisme. 

Oposisi biner ini adalah inti dari sistem perbedaan, Oposisi biner dalam linguistik ini berjalan seiring dengan hal yang sama dalam tradisi filsafat Barat, seperti: makna/bentuk, jiwa/badan, transendental/imanen, benar/salah, maskulin/feminin, idealisme/ materialisme, lisan/tulisan. Oposisi biner pada strukturalis memiliki hirarki, dimana salah satu dari oposisi selalu dianggap lebih superior dibandingkan yang lain. Hirarki inilah yang ditolak oleh Derrida. Dekonstruksi-Derrida menyatakan bahwa di dalam setiap teks terdapat titik-titik ekuivokasi (pengelakan) dan kemampuan untuk tidak memutuskan (undecidability), yang mengkhianati setiap stabilitas makna yang mungkin dimaksudkan oleh si pengarang dalam teks yang ditulisnya. Proses penulisan selalu mengungkapkan hal yang diredam, menutupi hal yang diungkapkan, dan secara lebih umum menerobos oposisi-oposisi yang dipikirkan untuk kesinambungannya. Inilah sebabnya mengapa “filsafat” Derrida begitu berlandaskan pada teks, dan mengapa term-term kuncinya selalu berubah, karena selalu tergantung pada siapa atau apa yang ia cari untuk didekonstruksi, sehingga titik pengelakan selalu dilokasikan di tempat yang berbeda. 

Dalam kajian budaya, dekonstruksi-Derrida memberi pengaruh penting. Berkat dekonstruksi Derrida, makna kini tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang mutlak, tunggal, universal, dan stabil, tetapi makna selalu berubah. Klaim-klaim kebenaran absolut, kebenaran universal, dan kebenaran tunggal, yang biasa mewarnai gaya pemikiran filsafat sebelumnya, semakin digugat, dipertanyakan, dan tidak lagi bisa diterima. Dekonstruksi-Derrida juga mempengaruhi teori film dan analisis film secara tidak langsung, melalui wacana sosio-ideologis yang berkembang setelahnya termasuk analisis tekstual film atau yang lebih dikenal dengan Semiotika film yang diprakarsai oleh Christian Metz, serta beberapa analisis film populer lainnya seperti Psikoanalisis Lacan. 

Kritik Analisis di Luar Konteks Film (Munculnya Neo-Formalisme)

 Masuknya teori-teori strukturalisme dan posstrukturalisme dalam kajian sinema menempatkan film sebagai bahasa atau setidaknya sebagai gejala yang serupa dengan bahasa, karenanya analisis sinema memola film sebagai teks untuk lebih jauh menemukan makna (meaning) dari pola-pola tekstual hasil pembongkaran kemungkinan-kemungkinan wacana yang ditawarkan dalam sinema. Dengan arti lain, sejak munculnya linguistik dan semiotik film selalu dianalisis secara tekstual, setidaknya ini mulai mterasa sejak medio 1980-an. Namun ketidak puasan dalam analisis tekstual sinema mulai mencuat sekitar tahun 1989 dimana pemahaman teks sebagai suatu objek yang dipahami sepenuhnya secara mandiri. 

Beberapa kritik mengenai analisis tekstual dalam sinema dilontarkan oleh Jacques Aumont dan Michel Marie antara lain : 

 1. Analisis tekstual memiliki relevansi yang terbatas terhadap narasi sinema. 

 2. Analisis tekstual cenderung mengabaikan teks sebagai kesatuan organik. 

 3. Analisis teks telah mereduksi film.

 4. Analisis teks telah menghilangkan konteks film[4]. 

Arus baru pemikiran ini melihat hadirnya tradisi stukturalis mencari dan –akhirnya-menemukan irony, ‘kesatuan organik film’ dan mempetakan image sinema. Sementara kritik dekonstruksi terlihat lebih tendensius, apriori dan cenderung mencari-cari celah sebuah film. Seharusnya analisis film bukan sekedar metode menemukan ideology. Sudah seharusnya film dilihat melalui jendela yang paling ontologis. 

Victor F Perkins memulainya dengan melihat film secara independen sebagai film bukan sebagai bentuk seni lain. Perkins mengungkapkan bahwa cinematisasi sangat jauh berbeda dengan visualisasi yang dipahami dalam dunia sastra. 

Dalam bukunya Film as Film, perkins menganalisa dikotomi kritik film klasik dimana satu kubu menyebutkan kemampuan film dalam mengeksploitasi kualitas sinematik mendekati realitas tanpa abstaksi artistik, sementara yang lain mengklaim kemampuan sinematik lebih jauh menembus realistas melalui abstraksi artistik. Bagi Perkins kedua teori ‘ortodoks’ tersebut sebenarnya mampu menarik film sebagai sebuah potensi seni menuju praktek ilmiah. Munculnya kritik Perkins dianggap sebagai awal lahirnya aliran baru dalam teori film, aliran yang disebut sebagai Neo-formalis. 

Neo-formalisme 
a. Kognitifisme – David Bordwell 
 b. Scientific Realisme – Barry Salt 

 bersambung... 

[1] Nöel Carroll, Mystififying Movies: Fads and Fallacies in Contemporary Film Theory, New York: Columbia University Press, 1988, hal 29.
 [2] Jhon Storey, Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop; Pengantar Komprehendif Teori dan Metode, Penerbit Jalasutra, 2010, hal 70 
 [3] ibid 
 [4] Robert Stam, Film Theory; An Introduction, Blackwell Publishers, 2000 hal.193

apa itu Analisis (film)?

Menurut Jacques Aumont dan Michel Marie

 Analisis film adalah proses di mana sebuah film dianalisis, yang merupakan salah satu cara dalam teori film/ film studies, untuk mengungkapkan makna. dan salah satu cara palimg umum untuk menganalisa film adalah dengan analisis shot-by-shot, karena bagian ini yang paling bisa mencakup aspek2 terdetail dalam film (Aumont Jacques; Michele Marie. L’Analyse des films/Analysis of Film. 1988) Jacques Aumont dan Michel Marie mengusulkan beberapa poin kunci tentang analisis film, bahwa
 (1) Tidak ada metode universal dalam analisis film,

 (2) Analisis film bukan suatu kesimpulan, ada berbagai macam metode untuk mengeksplorasi makna film

 (3) Perlunya pengetahuan tentang sejarah film.

 Jacques Aumont and Michel Marie juga menawarkan berbagai jenis pendekatan:
 (1) Text-film berbasis analisis (pendekatan struktural),
 (2) analisis topik berbasis (pendekatan naratif),
 (3) pendekatan gambar dan suara (analisis ikonik),
 (4)pendekatan psikoanalisis dan
(5)pendekatansejarah

Menurut Thomas Elsaesser dan Warren Buckland dalam buku ‘Studying Contemporary American Film’ 'New Film History', muncul di era 70-an sebagai sebuah disiplin ilmu dan memiliki konsep institusi. Kajian film/ film study menawarkan 3 faktor untuk mengidentifikasi film:
- Sejarah film
 - Teori film
- Analisis film

Hal yang ia tentang dalam ‘old film history’ bahwa pembicaraan mengenai film dianggap jalan ditempat saja, sama halnya dengan membangun asumsi.
 Old film histori didasari pada 2 asumsi:

 Asumsi teleologi yang memfokuskan perhatian sejarawan pada film-film yang menampilkan inovasi teknis Dan asumsi esensialis yang mengusung bahwa prestasi teknis penting karena mereka mampu mengeksploitasi esensi sinema.

 Analisis adalah satu tujuan utama dari 'New Film History', adalah bagaimana film menciptakan makna. Apakah tidak ada kontradiksi antara persepsi dan resepsi. Analisis disini bertujuan membahas kontradiksi ini dengan berfokus pada film itu sendiri, mereka menempatkan hubungan antara film dan penonton (baik dari perspektif psikoanalisis ataupun ilmu kognitif).

Dalam teori film/ film studies. Film dapat dianalisis berdasarkan bentuk dan strukturnya. Area bentuk adalah area yang tersentuh (bersifat teknis), namun area struktur adalah area abu abu yang tak dapat terlihat dengan sendirinya. Melalui analisis/ film analisis setidaknya beberapa area dari struktur tersebut bisa tampak/ muncul kepermukaan, meski beberapa aspek pula tak mampu terdeteksi. Ini adalah masalah persfektif teoritis, yang segalanya bisa saja tumpang tindih.

 Mungkin inilah yang menjadikan film/ analisis film selalu berada diarea debat, yang dapat dieksploitasi kemana saja karena tidak adanya metode tunggal, sehingga perlu untuk mengetahui sejarah dan teori sebelum menganalisa film, sebagai sebuah langkah yang baik.
Film analisis itu memiliki tiga pilihan:
 • Penilaian sesaat dan opini yang spontan dalam film;
 • Untuk mematuhi praktik salah satu teori dan metode analisis tertentu.
 •Atau mempelajari beberapa teori, sehingga mereka dapat menerapkan teori-teori tertentu dalam konteks yang tepat, daripada menggunakan teori yang sama dalam semua konteks.

Analisisis merupakan kegiatan pembacaan tekstual yang lebih dekat untuk mengatasi masalah pemaknaan sinematik dan bagaimana film menciptakan makna. Analis Film mencoba untuk menjelaskan fungsi film sebagai sebuah pengalaman yang kohern dan berkesinambungan.
Tapi ini menimbulkan dua masalah:

1. Bagaimana mungkin sebuah film menunjukkan sebuah dunia yang tanpa batas, sementara terdapat didalamnya intrik narasi yang membangun sebuah cerita

2. Masalah kedua lebih kompleks lagi, Bagaimana film menciptakan kesan dunia 'di luar sana' (yang mana kita hanyalah berlaku sebagai saksi tak terlihat) yang kemudian kita diposisikan sebagai penerima pesan dari apa yang disajikan.

Entah disengaja atau tidak, teks dan analisis merujuk kami untuk mempelajari sastra, dan itu adalah pengingat bahwa apa yang kita lakukan dalam Studi Film sebenarnya memiliki nilai historis dan metodologis berkaitan dengan studi literatur, khususnya dengan kecenderungan dalam literatur yang digunakan untuk kemudian disebut sebagai 'practical criticism'.

Di era kontemporer, kajian film digerakkan pada usaha mencari yang tersirat dibalik tampilan sebuah film, pengaruh cultural studies mampu menjadikan film sebuah ajang eksploitasi pencarian makna. Teori film memberikan clue untuk mengeksplore semua unsur didalam film, yakni: deskripsi, analisis, dan kesimpulan/ interpretasi. Ketiga hal ini sangat berkait satu sama lain.

Sebuah teori tentunya tidak lahir begitu saja, harus ada syarat-syarat untuk membuat teori.
1) deskripsi; Teori yang dianut memiliki deskripsi atau pengertian yang jelas dan konsisten diwilayah manapun dan bisa dipahami. Banyak hal yang mempengaruhi hal ini seperti; nilai historis, socio-geografis, culture dsb. Untuk itu perlu adanya tindak lanjut agar tidak terjadi kerancuan dalam hal ini.

2)tindakan analisis.; Tujuan dari diciptakannya teori adalah karena teori dapat menjadi sebuah petunjuk atau pedoman ketika kita mengadakan suatu analisis, ataupun riset. Teori bertujuan untuk menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan sebuah fenomena, data, dsb. Hal ini juga menjadi polemik, karena tidak semua analisis berujung pada pemahaman yang seragam.

3) interpretasi. teori harus akurat, tapi tak menutup kemungkinan untuk bisa disalahkan, atau ada pemaknaan lain yang bisa saja lebih objektif, hal ini lumrah saja agar terjadi perkembangan dalam teori itu sendiri.

-----mudah2an gak keliru.. ya maap kalo salah

Selasa, 02 Oktober 2012

kritik Barry Salt terhadap teori film, bukan pada analisa film



Style film dikenal sebagai teknik yang digunakan oleh sutradara dalam memberikan makna atau nilai dalam filmnya.  Hal ini mencakup setiap aspek dalam pembuatan film seperti mise en scene, dialog/narasi, cinematography, sound, editing, dll. Style film sendiri menjadi identititas sinema pada umumnya. Setiap era dalam sejarah film, filmaker dan gendre dapat dikenali lewat style yang dikembangkan, bisa diartikan bahwa style adalah kulit luar dari sebuah karya film, yang dapat dicermati dan dianalisa dari sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya Style film sendri merupakan salah satu bentuk estetika film sama halnya  seperti gendre, narasi, mode atau trend yang berkembang, dll.
Perkembangan film dunia dapat dilihat melalui perubahan style film dari masa-kemasa. Bahkan setiap kemunculan style baru dalam film menandai perubahan periodeisasi jenis film tertentu. Hal tersebut terlihat pada tahun 1908 dimana film fiksi drama selalu menampilkan para pemain berada dalam satu baris jauh menghadap penonton lengkap dengan seluruh latar dan dekor yang melengkapi film tersebut. Pada era ini, film tidak mendapat interupsi close-up. Style semacam ini menandai kehadiran sinema theaterikal. Namun seiring pergeseran jaman,  style semacam itu sudah dianggap tidak sinematik[1].
Pada periode 1919, style film tampil dengan dominasi penggunaan medium close up, dimana style semacam ini sudah dimulai sejak tahun 1913 dengan menggunakan gambar yang lebih dalam dari tahun-tahun sebelumnya. Pada periode ini angle kamera berubah drastis menjadi lebih tajam (depth of field) dalam beberapa shot dan untuk mengimbangi hal itu digunakanlah long shot.  Pada periode ini penggunaan long shot dan close up sering digunakan secara bergantian[2].
Perubahan yang signifikan style film juga menjadi ciri khas gendre film tertentu. Tahun 1940-1950an film-film terutama Hollywood didominasi oleh film bergendre drama kriminal. Gendre ini menggunakan gradasi visual dengan kontras tinggi yang dikendalikan oleh pencahayaan redup yang menjadi ciri khas style film tahun pada era tersebut. Style ini kemudian dikenal sebagai film noir[3]. Namun pada era yang sama hadir film berjudul Laura [Otto Preminger, 1941], sebuah film noir dengan menggunakan pencahayaan terang.
Menurut David Bordwell Pada dasarnya terdapat perbedaan yang jelas antara para sinematografer di Hollywood tahun 1930an dan 1940an yang mengarah pada penggunaan pencahayaan tertentu pada subjek-subjek tertentu pula. Hal ini dapat dilihat seperti pada adegan film kriminal tanpa bumbu komikal, maka pencahayaannya menggunakan low key-lighting. Sementara  ketika tiba film dengan bumbu banyolan atau romantika, maka pencahayaannya menjadi akan lebih terang, seperti yang terjadi pada film Laura. Lalu, mengapa hal tersebut dapat terjadi?
Bordwell berpendapat bahwa pada masa itu ada semacam ketidakleluasaan yang dikendalikan oleh konvensi genre dan itu menentukan mana gambar yang boleh dan tidak boleh[4] digunakan. Hal tersebut disebabkan  karena pada tahun 1940an, pembuatan film kriminal meningkat sangat tajam dan jumlahnya menjadi sangat banyak. Film kriminal kemudian “naik derajat” menjadi lebih dari sekedar drama dan tampak membentuk genre sendiri. Sejak saat itu style film tidak sekedar mewakili jejak historis dalam perkembangan film namun telah menjadi identitas dalam gendre film itu sendiri.
Para ahli sejarah film menyatakan ketika era film bisu kita dapat melihat standar style yang digunakan dalam film. Hadirnya film bersuara pada 1930-an juga menyisakan perdebatan tentang style film, seperti yang terjadi pada film noir. Dalam essay-nya “The Evolution of The Language of Cinema”Andre Bazin mempertanyakan kembali dasar permasalahan style film yang berkembang tahun 1930an-1940an.
Dalam hispotesanya, Bazin menyebutkan bahwa kehadiran film bersuara memberi keleluasaan film maker membuat ciri khas dalam filmnya dengan melakukan eksperimen-eksperimen style. Seperti memberi stempel personal dalam proyek filmnya yang disebut dengan style sutradara[5]. Teori ini yang selanjutnya berkembang menjadi Author Theory.
Secara garis besar, kritik Bazin terhadap style film membagi dua kategori sutradara yaitu; Sutradara yang menaruh keyakinannya dalam gambar dan Sutradara yang menaruh keyakinannya pada realitas[6].
Dalam kritiknya, Bazin menegaskan bahwa realitas film terbangun oleh sound, deep fokus, editing, dll, membuat film sebagaimana mestinya tanpa harus memasukkan unsur sugesti berlebihan seperti yang dilakukan Eisentstein dengan teknik montage-nya maupun set pencahayaan yang dramatis seperti pada aliran ekspresionis Jerman. Menurutnya apa yang dilakukan Eisentein dan ekspresionist Jerman telah menjauhkan sinema dari potensi terbaiknya; realitas. Karena itu Bazin menyebut montage sebagai komposisi gambar plastic/palsu. Dialektika ini kemudian melahirkan tradisi film modern, sebagai bentuk kritik atas tradisi film klasik

A.    Bergesernya Paradigma Style
Dialektika style film Bazin ini terdiri dari ajaran estetika standar dimana esensi film tidak lagi dilihat melalui kapasitas film bisu melalui kemampuannya yang hiper-stylisasi yang terdapat pada Ekspresionime maupun Dynamized abstraksi seperti yang terdapat pada Soviet Montage.
Bazin juga berpendapat bahwa tahun 1950-an merupakan puncak klimaks dari  perdebatan tentang style film. Pengembangan teknologi layar lebar (widescreen) menguatkan kepercayaannya bahwa long take, camera movement, depth of field dan istilah-istilah teknis lainnya sudah tidak relevan lagi sebagai standarisasi style. Ia menyebutnya sebagai akhir dari evolusi style. Selanjutnya dialektika style akan menemukan versi barunya yang lebih masuk akal pada estetika narasi film itu sendiri, sesuatu yang tidak ditemukan pada film-film bisu.
Setelah perang dunia pertama, film mendapat ‘kekuasaan’ penuh sebagai media massa yang berpengaruh. Kekuatan propaganda melalui medium film sangat efektif sehingga banyak kelas-kelas tertentu menggunakannya sebagai alat penyampaian gagasan/ide sampai mempertahankan kekuasaan. Saat itu style film tidak lagi dipahami sebagai apa yang tampak dari  visual film semata. Terlebih ketika beberapa teori dari ranah ilmu sosial dan psikologi memasuki wilayah kajian sinema, seperti  semiotik, postmodern, psikoanalisa, feminism, dll.
Kuatnya pengaruh cultural studies dalam kajian sinema di tahun 1970-1980an mempengaruhi cara pandang penelitian tentang film terutama menyangkut style film. Pada periode ini film dipandang secara sosial dan ideologis. Modus yang digunakan selalu mencari tahu siapa atau apa yang berada di balik semua produksi kultural termasuk sinema.
Cultural studies yang notabene sebagai bagian dari tradisi kritis Marxisme selalu mencurigai produk kultural seperti film pasti digunakan oleh satu atau beberapa pihak dalam masyarakat untuk meraih atau mempertahankan kepentingan politis-ekonomis tertentu[7]. Maka analisis style pada periode ini hadir untuk membongkar ideologi dan agenda politis di balik sebuah film.
Seperti yang diprediksi Bazin, bahwa style film akan dilihat melalui estetika narasinya bukan lagi pada penggunaan teknis pembuatan/pengambilan gambar atau visual film. Style film tidak lagi sebatas apa yang tampil dalam visual sinema melainkan alat untuk mengungkap realitas yang berada dibalik sinema tersebut. Menurut Bazin, film dengan bantuan teknis merupakan ‘fenomena idealis’. Baginya sinema pada dasarnya adalah sebuah relaita yang dimediasi oleh mekanik kamera. Selanjutnya penelitian/kajian tentang film kemudian selalu dikaitkan dengan realitas yang ditampilkannya. Sebagai contoh, teknik disolve dalam film sering didefinisikan sebagai perpindahan memori pemain atau pistol dalam film selalu diidentikkan sebagai sesuatu yang maskulin. Dari sini analisis style berkembang menjadi satu disiplin dalam kajian sinema dan mencakup beberapa teori-teori film yang hingga kini masih digunakan dalam kajian sinema.

I.2. Teori-Teori Dalam Analisis Style
Analisis style sendiri telah melewati banyak fase dalam dialektika keilmuan. Dalam teori film, analisis style hadir pasca wacana film sebagai seni atau lebih dikenal dengan teori film klasik. Teori film modern hadir mewacanakan film sebagai sosio-ideologis, ciri yang paling menonjol pada pendekatan ini adalah peneliti film berupaya menganalisa hal-hal yang terepresentasi lewat film, baik dari segi gaya maupun naratifnya, lalu mencari pola hubungannya dengan konsep-konsep sosial-politis yang dianut oleh si peneliti sendiri[8].
Hadirnya pendekatan ini kuat dipengaruhi oleh cultural studies pada dekade 1980-an. Dimana segala macam isu representasi akan ditinjau secara politis berdasarkan latar belakang  kelompok sosial atau budaya tertentu, serta selalu mencari tahu siapa yang berada dibalik semua produksi kultural. Menurut perspektif ini, film sebagai produk kultural pastilah digunakan oleh satu atau beberapa pihak dalam masyarakat untuk meraih atau mempertahankan kepentingan politis-ekonomis tertentu[9].
Pada era ini, kajian film kerap meminjam teori-teori seni dan estetika yang lebih luas. Dalam kaitannya dengan analisis style dan kajian film lainnya tidak terdapat perbedaan penggunaan teori, seperti semiotika dapat digunakan untuk analisis style maupun analisis narasi. Beberapa teori yang lazim digunakan dalam analisis style dan kajian sinema pada umumnya antara lain sebagai berikut :

a.        Semiotika
Semiotika merupakan varian dari ilmu linguistik yang mempelajari tanda. Teori ini muncul pada dekade tahun1970-an dimana identifikasi unsur politik representasi dalam film sebenarnya berawal dari kedekatan hubungan dengan semiotika, dimana para peneliti beranggapan bahwa film lebih dari sekedar seni, film merupakan sebuah fenomena linguistik.
Semiotika dalam analisis style didasarkan pada ajaran linguistik Ferdinand de Saussure dan konsepsi semiotika Charles Sanders Pierce. Dalam kajian sinema Christian Metz merupakan pakar semiotika film yang memandang film sebagai bahasa atau setidaknya fenomena menyerupai bahasa yang memungkinkan manusia untuk menggali partikel-partikel di dalamnya. Akibatnya, terbuka kemungkinan baru untuk menjawab pertanyaan ‘Apa sebenarnya film itu?’ (dalam terminologi semiotika) dan bagaimana ia bekerja dalam sistem secara keseluruhan.


b.        Psikoanalisis Lacan
Salah satu teori yang berhasil menyingkirkan popularitas semiotik adalah psikoanalisis. Psikoanalisis menekankan pada dimensi Psikologis sebagai  aspek individual. Pendekatan psikologi menekankan bagaimana pengaruh kognisi konsep kesadaran seseorang dalam membentuk skema tentang diri, sesuatu ataupun gagasan teori. Bagaimana suatu individu memahami dan melihat realitas dengan skema tertentu yang tentunya banyak berhubungan dengan berbagai teori.
Sigmun Freud [10]menggunakan istilah psychoanalysis untuk pertama kali yang kemudian dikembang lebih lanjut oleh Jacques Lacan[11] melalui pendekatan lingusitik-semiotika khususnya didalam teori cinema. Ia meramu psikoanalisa Freud yang dikaitkan dengan basis semiologi.
Fokus utama studinya adalah ketidaksadaran (unconscious), yang sebelumnya diperkenalkan Freud. Lacan menggali kembali ketidaksadaran sebagai konsep dengan bantuan metode linguistik Saussure dan memusatkan kajiannya pada beberapa metode Freud sebelumnya, seperti percakapan antara psikiater/psikolog dan pasien. Percakapan tersebut menurutnya, merupakan seuntai rantai penanda-penanda. 
Selain semiologi,  psikoanalisis Lacan juga meramu teorinya dengan paham marxis yang sangat kental. Salah satu contoh dari hasil analisis berbasis psikoanalisis ini dapat diindera pada teori aparatus yang salah salah satunya diprakarsai oleh Jean-Louis Baudry. Baudry bukan hanya melihat cinematic apparatus (teknik seperti editing, camerawork dan proyeksi ke layar) semata sebagai perangkat ideologis, meskipun pernah dalam salah satu tulisannya ia menganalogikan film dengan mimpi (seperti halnya Freudian psikoanalisis yang memberikan perhatian pada mimpi sebagai dobrakan dari represifitas alam bawah sadar kita unconciousness).
c.         Postmodernisme
Meski postmodernisme tidak memiliki kerangka teoritis yang baku dan hanya mengamati tingkah polah dan cara pandang masyarakat namun gelombang paradigma ini cukup kuat dalam kajian-kajian ilmu sosial. Posmodernisme sering didefinisikan sebagai “apa saja yang bukan bagian dari modernitas”.
Para posmodernis selalu berusaha mencari apa yang tersembunyi, melihat film dengan seksama lalu membicarakan isinya. Lagi-lagi, umumnya para posmodernis hanya tertarik untuk membicarakan film secara ideologis, seperti juga yang dilakukan oleh para teoritisi yang karakternya sudah dijelaskan di sebelumnya seperti psikoanalisa, Marxisme, semiotika dan tradisi berpikir lain yang serupa.
d.        Neo-formalisme
 Neo-formalisme yang muncul pada dekade 1970-an sebenarnya tidak beranjak jauh dari formalisme Eisenstein, Pudovkin, dan Arnheim yang hanya tertarik pada kajian artistik film itu sendiri; bahasa sinematik, aspek naratif, style, dan relasi antara konstruksi formal dari film dengan pengalaman (psikologis) penonton film itu sendiri.
    Pencetus neo-formalisme pertama kali adalah Victor F Perkins. Dalam bukunya film as film (1972), Perkins berpendapat pentingnya mengkaji film tanpa mengaitkannya dengan teori dari disiplin ilmu lain seperti ilmu sosial dan seni. Baginya, film  dapat dikaji melalui sudut pandang yang paling ontologis.
Tradisi noe-formalisme ini kemudian diteruskan oleh duet David Bordwell dan Kristin Thompson. Dalam buku mereka yang berjudul Film Art menyebutkan bahwa asumsi-asumi neoformalis berkerja didasari pada dua hal: cinematic poetics dan historical poetics. Kedua konsep ini diadopsi kedalam konteks dimana film diproduksi lewat sebuah mode praksis yang akhirnya berpengaruh pada interaksi style dan naratif dan berujung pada film secara keseluruhan. Keduanya kemudian menjadi pencetus lahirnya pendekatan film kognitif, sebuah pendekatan psikologi baru dalam kajian cinema di tahun 1985.
Menurut Bordwel kognitifisme merupakan bentuk alternatif bagi teori film kontemporer, yang mendasarkan dirinya pada eksplanasi psikologis yang bersifat kognitif atas alam pikiran, emosi, dan tindakan, yang cenderung berlawanan dengan psikoanalisa, Marxisme, dan posmodernisme dalam hal interpretasi makna.
Selain mazhab kognitifisme yang diprakarsai Bordwel, tradisi neo-formalisme kini mulai berdialektika dengan munculnya aliran scientific realism[12] yang diperkenalkan oleh Barry Salt dalam bukunya Film Style and Technology : History and Analysis. Dalam teorinya, Salt menitik beratkan pada pentingnya menghormati kaidah-kaidah ilmiah/sains ke dalam penelitian sinema. Pada pendekatannya, Salt memijakkan dirinya pada paradigma positivisme (penelitian kuantitatif) sesuatu yang masih asing dalam kajian sinema, dimana sebelumnya kajian sinema didominasi oleh paradigma kritis yang berada dalam ranah penelitian kualitatif.
Pendekatan  teori film Salt mengembalikan pengamatan kepada material film itu sendiri. Satu-satunya dalam film yang dapat diukur melalui pendekatan sains. Merujuk pada komentar Eisenstein dalam mise en shot[13] bahwa hal yang paling empiris dalam film adalah style terutama yang berada dalam kendali sutradara dan dapat diidentifikasi dan  diukur melalui parameter shot. Banyak yang menganggap teori Salt mengembalikan tradisi formalisme Eisentein, namun yang membedakannya adalah teori Salt juga memiliki persamaan ciri dengan  teori-teori yang lahir pada masa post strukturalism dimana estetika dan efektivitas phenomenologi diabaikan untuk mengeksplorasi produksi makna teks sebagai aset strategi diskursif. Salt bahkan memperlakukan teks secara ‘kasar’ dan merubahnya manjadi averege shot lenghts (panjang rata-rata shot) , camera movements, shot types, dll.
Dalam pendekatannya, Salt menggunakan statistik untuk mengukur parameter shot/style film yang menjadi objek penelitiannya. Hasil perhitungan tersebut kemudian akan ditunjukkan melalui diagram batang. Salt sendiri merujuk style kepada satu set pola terukur yang signifikan dan menyimpang dari norma-norma kontekstual dimana style seorang sutradara merupakan parameter formal mereka yang tersistematis dalam filmnya.[14] Fungsi statistik sendiri adalah mengukur atau menjumlah data kemudian merepresentasikan data tersebut sebagai aturan dasar yang bersifat tetap atau final. Metode ini kemudian lebih dikenal sebagai stylistic atau Statistical style analysis.

I.3.  Statistical Style Analysis ; Pendekatan Alternatif dalam Analisis Style.
Teori-teori di atas merupakan teori yang umum digunakan dalam analisis film termasuk analisis style film. Kesemuanya merupakan teori yang di ‘pinjam’ dari ilmu sosial yang lebih dulu ada seperti linguistik dan psikologi. Semuanya juga telah memberi implikasi yang sangat signifikan terhadap kajian sinema sebagai sebuah keilmuan.
Meski mengalami silang sengketa satu sama lain, kesemua teori yang telah dibahas sebelumnya memiliki satu persamaan yaitu berfokus pada usaha menginterpretasi film sebagai objek. Interpretasi sendiri merupakan bagian dari mazhab study fenomenologi yang lebih menekankan pada pengalaman sensorial dan pengetahuan perwujudan (knowledge). Dimana objek penelitian pada dasarnya berhubungan dengan interpretasi terhadap realitas. Menurut Edmund Husserl bahwa penemuan makna dan hakikat realitas ditemukan melalui pengalaman karenanya setiap orang memiliki interpretasi sendiri tentang realitas.
Fenomenologi sendiri merupakan satu dari sekian banyak mazhab pemikiran dalam paradigma penelitian kualitatif. Penelitian film sendiri hingga saat ini masih didominasi oleh penelitian kualitatif, tapi bukan berarti pendekatan kuantitatif tidak pernah atau tidak bisa digunakan dalam kajian sinema.
Barry Salt, seorang sejarawan dan praktisi cinema kebangsaan Australia memperkenalkan pendekatan kuantitatif pada analisis style yang disebutnya sebagai Statistical style analysis[15]. Statistik sendiri dikenal sebagai jembatan penghubung antara ilmu-ilmu sosial dengan penelitian kuantitatif (positivisme). Statistik digunakan untuk mengukur fenomena-fenomena sosial kedalam grafik-grafik angka untuk kemudian digeneralkan.
Alih-alih menggunakan fenomena sosial, Statistical style analysis Salt sama sekali tidak ditujukan untuk pengamatan polah laku dan konstruksi sosial masyarakat. Salt malah kembali pada tradisi formalisme klasik dimana objek penelitian terfokus pada material film itu sendiri. Di mana statistik digunakan Salt untuk menghitung skala penggunaan teknis dan mise n scene film seperti camera movement, long shot, close up, dll.
Meski masih dikategorikan sebagai pengikut neo-formalisme, Barry Salt sebagai pencetus pendekatan statistik dalam analisis film style keras mengkritik teori-teori sebelumnya termasuk teori kognitif Bordwell yang juga lahir pada dekade yang sama dengan pendekatannya.
Kritik Salt terfokus pada teori-teori interpretasi film baik yang berada dalam ranah cultural studies maupun psikologi kognitifisme. Menurut Salt meski memiliki metodelogi dan pendekatan teori yang cukup jelas dalam analisis film style-nya, namun interpretasi –dalam penelitian- memiliki persoalan yang cukup kompleks. Kelemahan utamanya terdapat pada persepsi yang digunakan sebagai alat dalam menganalisa diragukan objektifitasnya. Dalam pendekatan ilmiah (positivisme) interpretasi atau subjektifitas dalam penelitian tidak memiliki bukti empirik yang dapat mendukung kebenaran hipotesisnya. Sehingga hasil yang ditemukan hanyalah berupa asumsi-asumsi yang dapat sewaktu-waktu dibantahkan bahkan dimentahkan kembali. Beberapa kritikan Salt terhadap interpretasi antara lain :
a.    Tidak Memiliki Metode/Rumusan Yang Pasti
Sebagai bagian dari ilmu sosial, kajian film merupakan studi fenomenologi yang lebih menekankan pada pengalaman sensorial dan pengetahuan perwujudan (knowledge). Dimana objek penelitian ilmu sosial pada dasarnya berhubungan degan interpretasi terhadap realitas. Menurut Edmund Husserl bahwa penemuan makna dan hakikat realitas ditemukan melalui pengalaman karenanya setiap orang memiliki interpretasi sendiri tentang realitas.
Tidak terkecuali dalam ranah kajian film, peneliti di’halal’kan menggunakan pendekatan masing-masing sesuai dengan bentuk kesadaran dan pengalaman-pengalaman langsung; religius, moral, estetis, konseptual, serta indrawi. Sehingga pendekatan ini tidak memiliki metode atau rumusan yang  pasti dan tetap. Hal tersebut sangat berpengaruh pada hasil penelitian yang tidak sama, meskipun menggunakan satu objek yang penelitian dengan menggunakan pendekatan yang sama.
b.    Ketidak Konsistenan Interpretasi
Sebagai bagian dari ilmu sosial, kajian sinema merupakan studi fenomenologi yang lebih menekankan pada pengalaman sensorial dan pengetahuan perwujudan (knowledge), peneliti di’halal’kan menggunakan pendekatan masing-masing sesuai dengan bentuk kesadaran dan pengalaman-pengalaman langsungnya seperti; religius, moral, estetis, konseptual, serta indrawi.
Sekali lagi pemaknaan yang mengandalkan intuisi dan pengalaman peneliti membuat kita terjebak pada pandangan subjektif yang labil. Sebuah tanda maupun teks seringkali memiliki makna yang ambigu. Beberapa bahkan terpenjara dalam  ruang, waktu dan budaya yang sangat dinamis.
Ketika seorang kritikus film menggunakan intuisi pribadinya kedalam proses interpretasi, maka yang trerjadi adalah  kita sebagai penikmat film akan kian tersudut  pada pengembangan wawasan dan terjebak sistem analisa yang sangat subjektif. Ketidak konsistenan interpretasi dalam penelitian film dapat dilihat dari dua hasil kajian mengenai film ‘Young Mr. Linclon, karya John  Ford.
Dalam artikelnya di Cahiers du Cinema, Jonathan Rosenbaum dan Bruce Kawin menyebutkan bahwa sorot tajam tatapan mata Linclon diartikan sebagai ‘Castrating’ (pengebirian) sementara bila dipandang dari sudut  psikoanalisa  seperti yang dikutip oleh Peter Wollen dalam artikel lainnya, sorot mata tajam tersebut  dimakanai sebagai ‘phallus’ (penis) yang identik dengan power (kekuasaan)  dan dominasi pria, serta mewakili simbol pemerkosaan[16].
Disini terlihat jelas kontras perbedaan interpretasi dimana satu sisi visualisasi tatapan  mata Linclon diartikan sebagai bentuk  ketidakberdayaan (kelemahan karakter sang protagonis yang dikebiri) sedangkan sisi lain tatapan mata  tajam yang sama dimaknai sebagai keangkuhan  maskulinisme Linclon sebagai sosok pria dewasa dan tangguh. Situasi disini, dimana kajian interpretasi  jauh berbeda  antara satu dengan yang lain cukup sering terjadi  dan hal ini dianggap wajar  oleh pengikut paham Psikoanalisa.
c.                   Subjektif  Dan Tidak Terukur
Penelitian kualitatif cenderung menggunakan data teks yang bersifat subyektif. Realitas yang dipelajari dikonstruksikan sesuai dengan nilai sosial yang ada, oleh karenanya pemaknaan realitas sesuai dengan pemahaman peneliti. Penelitian kualitatif memiliki jalinan variabel yang kompleks dan sulit untuk diukur..
Hal ini pula yang menyebabkan sulitnya menghitung tingkat validitas hasil penelitian kualitatif, sebab hasil penelitian tersebut tergantung kuat atau lemahnya  argumentasi yang digunakan peneliti

I.4. Aplikasi Statistical Style Analysis
Hal yang paling empiris dalam film adalah style, terutama yang berada dalam kendali sutradara[17]. Ini merujuk pada pernyataan Eisentein tentang style yang merupakan sesuatu  yang paling mudah diidentifikasi dalam film. Oleh karena itu Style film sendiri dapat diukur melalui parameter shot dimana metode pengukuran style ini dikenal sebagai stylometry atau  lebih akrab disebut Statistical Style Analysis  yang diperkenalkan oleh Barry Salt. Fungsi dasar statistik sendiri adalah mengukur atau menjumlah data kemudian merepresentasikan data tersebut sebagai aturan dasar yang bersifat tetap atau final. Dalam analisis style, statistik digunakan menganalisa atau lebih tepatnya mengukur-style
Metode statistik dalam kajian sinema menjadikan penelitian film menjadi lebih sistematis, terukur dan lebih objektif. Analisis style kuantitatif di sini melibatkan statistik baik secara deskriptif dan inferensial. Tujuan utamanya adalah mengumpulkan jumlah dan frekuensi data parameter formal sutradara  kemudian diwakilkan ke dalam grafik, persentase, dan rata-rata panjang tiap shot (Average Shot Lenght / ASL). Pendekatan statistik dalam penelitian film  memberikan hasil secara visual angka-angka yang lebih jelas dan sistematis. Statistical style analysis sendiri secara spesifik memiliki 3 tujuan standar, yaitu:
1.      Menawarkan analisis style dengan menggunakan pendekatan kuantitatif.
2.      Menghindari sengketa teks yang berkaitan dengan atribut kepenulisan
3.      Untuk mengidentifikasi kronologis film ketika adegan atau urutan komposisi tidak jelas atau tidak runut.[18]
Dengan memasukkan statistik sebagai alat analisanya, Salt berhasil menghindari hubungannya antara style dan tema sebuah film, sesuatu yang menjadi fokus pada teori sebelumnya yang ’mati-matian’ membantah asumsi bahwa tampilan scene dalam sebuah film (gerakan kamera, tata cahaya, dll) hanya keperluan estetika semata[19].
Analisis style dalam pendekatan statistik menunjuk satu set pola terukur yang secara signifikan menyimpang dari norma kontekstual film. Tujuannya adalah mengindetifikasi style individu sutradara dengan mengumpulkan data parameter formal secara sistematis terutama yang berada dalam kendali langsung sutradara seperti Duration of the shot (termasuk  panjang rata-rata per-shot, atau  Average shot length/ASL),  Shot scale,  Camera movement.[20]
Dalam teorinya, Salt merujuk style kepada satu set pola terukur yang signifikan dan menyimpang dari norma-norma kontekstual. Ia menggambarkan style seorang sutradara merupakan parameter formal mereka yang tersistematis dalam filmnya. Ia kemudian merepresentasekan parameter formal ini ke dalam grafik batang dan persentase[21].
Walaupun terkesan masih asing bagi dunia kajian sinema namun pendekatan Salt sangat menarik perhatian penulis dan patut untuk diaplikasikan dalam film-film Indonesia. Karena itu, pada penelitian kali ini, penulis ingin mengaplikasikan Statistical style analysis-Barry Salt untuk menganalisis film-film Indonesia.


[1] David Bordwell, On The History of Style film, Harvard University Pres: 1997 (hal 1)
[2] Ibid 1
[3] Istilah untuk film yang menggunakan teknik pencahayaan low-key dan visual hitam-putih. Istilah film noir banyak digunakan untuk mendeskripsikan film-film drama kriminal hollywood (The Visual Story: Seeing the Structure of Film, TV, and New Media, 2001)

[4] Ari Ernesto Purnama  Ke Gombrich Lewat Bordwell: Catatan dari Zomerfilmcollege 2011, Antwerpen, Belgia (http://cinemapoetica.com/)

[5] Ibid, David Bordwell, On The History of Style film (hal 47)
[6] Andre Bazin, The Evolution of Language of Cinema” dalam Leo Brudy and Marshall, Film Theory and Criticism, 1999 (hal 43)
[7] Richard Dryer, “Introduction to Fim Studies,” dalam The Oxford Guide to Film Studies
(hal 6)
[8]  Film Studies and Film Theory: Mapping Out the Complex Terrain From Russian Formalism to the Cognitive Approaches.
[9] Richard Dryer, The Oxford Guide to Film Studies
[10] Sigismund Schlomo Freud (Sigmund Freud) 6 May  1856 –  23September  1939, berprofesi dokter jiwa dan ahli saraf, Ia mendefenisikan ulang konsep sexual desire sebagai suatu bentuk yang terus bergerak dan mengarah kepada objek yang luas. Ia terkenal dengan teori ‘the unconscious mind’ , the mechanism of repression, serta tehnik terapinya pengobatannya yang berkaitan dengan value of dreams

[11] Jacques Marie-Émile Lacan  (13 April 1901 - 9 September 1981) adalah psikoanalis Prancis artikelnya, Ecrits (1966), berpengaruh banyak di bidang linguistik teori film, dan kritik sastra.  Ia mengembangkan psikoanalisa dari metode  unconscious Freud dan metode linguistic Saussure.

[12] Scientific realisme dalam istilah yang diperkenalkan oleh Stanley Kubrick merujuk pada istilah suatu kondisi yang di dalamnya benanr-benar terdapat sesuatu yang bisa diteliti secara empiris.
[13] Thomas Elsaesser & Warren Buckland. Studying Contemporary American Film. Oxford University Press Inc : 2002 (hal. 81-82)
[14] Thomas Elsaesser & Warren Buckland. Studying Contemporary American Film. Oxford University Press Inc : 2002 (hal. 81-82)

[15] Film Style and Technology : History and Analysis, Barry Salt, 2003
[16] Barry Salt,The Interpretation of Films
[17] Studying Contemporary American Film, 2002
[18] Thomas Elsaesser & Warren B, Studying Contamporary American Film; A Guide To Movie Analysis Oxford University Press, 2002
[19] ibid 13
[20] Ibid13
[21] Thomas Elsaesser & Warren Buckland. Studying Contemporary American Film. Oxford University Press Inc : 2002