Teori Film

Minggu, 27 Januari 2013

Analisis dalam tradisi sinema

Analisis Film Dalam sejarah teori film, analisis film berkaitan dengan interpretasi banyak mengalami transformasi. Awal munculnya ditandai dengan lahirnya strukturalisme dalam tradisi film modern. Hingga kini interpretasi film masih merupakan mode analisis ‘candradimuka’ dalam studi sinema

 Analisis Film Strukturalisme 
Kuatnya pengaruh cultural studies pada medio 1970-an membangkitkan studi tentang film dengan ontologi yang jauh berbeda dari tradisi film klasik. Sejak saat itu film dilihat sebagai industri budaya, dan didiskusikan sebagai situs penting bagi produksi subjektifitas individu bahkan identitas nasional. Interpretasi film dalam tradisi strukturalis banyak dipengaruhi oleh pemikiran dua tokoh utama yaitu Ferdinand de Saussure dan Claude Lévi-Strauss. Ferdinand de Saussure (1857 –1913) merupakan bapak linguistik. 

Strukturalisme, sebagai sebuah moda analisis sosial mengadaptasi dua ide dasar dari karya Saussure. Pertama, perhatian pada relasi pokok antara teks dan praktik kultural dimana tata bahasa yang memungkinkan makna. Kedua, pandangan bahwa makna senantiasa merupakan hasil dari aksi resiprokal dari hubungan antara seleksi dan kombinasi yang dimungkinkan melalui struktur pokok. Dengan kata lain, teks dan praktik kulturaldipelajari sebagai analogi terhadap bahasa. Dengan kata lain, strukturlah yang memungkinkan hadirnya makna. Strukturalisme bertugas mengeksplisitkan aturan dan konvens (langue) yang menentukan produksi makna (parole)[2]. 

 Sementara Claude Lévi-Strauss (1908 – 2009) adalah seorang antropolog berkebangsaan Prancis. Inti dari pemikiran Lévi-Strauss adalah mitos, dimana ia menyatakan bahwa didalam luasnya heterogenitas mitos dapat ditemukan struktur yang homogen. Dengan kata lain mitos bekerja seperti bahasa dan tugas antropology menemukan ‘tata bahasa’ yang mendasari aturan dan regulasi yang memungkinkan mitos terstruktur berdasarkan opsi biner. Menurut Lévi-Strauss mitos mempunyai fungsi sosio-kultural yang sama dalam masyarakat. Tujuannya adalah membuat dunia bisa dijelaskan, untuk menyelesaikan persoalan-persoalan dunia dan kontradiksi-kontradiksi[3] dengan kata lain, mitos menyediakan model logis yang sanggup mengatasi kontradiksi.

 Mode analisis keduanya dalam interpretasi film dipublikasikan dalam buku Sixguns And Society karya Will Wright. Dalam buku Sixguns And Society, Will Wright menggunakan metode strukturalisme dalam menganalisis film koboi Hollywood sebagai mitos untuk menunjukkan bagaimana mitos dari sebuah masyarakat, melalui struktur mereka, mengkomunikasikan suatu tatanan konseptual kepada anggota masyarakat. Secara khusus ia mencoba menunjukka bagaimana film koboi menghadirkan konseptualisasi mengenai keyakinan sosial Amerika yang sederhana secara simbolik.

 Analisis Film Posstrukturalisme 

 Munculnya gerakan menonton film secara kritis melahirkan sebuah studi baru dalam disiplin ilmu sosial, bersamaan dengan itu berbagai pendekatan digunakan untuk mengkaji dan menganalisisi film. Posstrukturalisme, hadir hampir bersamaan dengan tradisi strukturalisme yang menjadi ‘rival’nya. Posstrukturalis menolak gagasan pokok strukturalis ihwal struktur yang pada akhirnya menentukan makna teks atau praktik budaya. Bagi para postrukturalis, makna senantiasa berada dalam proses dan aliran kemungkinan-kemungkinan yang tidak ada hentinya. Arus utama pemikiran posstrukturalisme berada pada teori dekonstruksi-Derrida. Jacques Derrida 1930–2004) adalah seorang filsuf Prancis, yang dianggap sebagai tokoh penting post-strukturalis-posmodernis. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Nietzshe dan phenomenology Husserl dan Heidegger. Dekonstruksi-Derrida hadir untuk membongkar oposisi biner-linguistik Saussure dalam strukturalisme. 

Oposisi biner ini adalah inti dari sistem perbedaan, Oposisi biner dalam linguistik ini berjalan seiring dengan hal yang sama dalam tradisi filsafat Barat, seperti: makna/bentuk, jiwa/badan, transendental/imanen, benar/salah, maskulin/feminin, idealisme/ materialisme, lisan/tulisan. Oposisi biner pada strukturalis memiliki hirarki, dimana salah satu dari oposisi selalu dianggap lebih superior dibandingkan yang lain. Hirarki inilah yang ditolak oleh Derrida. Dekonstruksi-Derrida menyatakan bahwa di dalam setiap teks terdapat titik-titik ekuivokasi (pengelakan) dan kemampuan untuk tidak memutuskan (undecidability), yang mengkhianati setiap stabilitas makna yang mungkin dimaksudkan oleh si pengarang dalam teks yang ditulisnya. Proses penulisan selalu mengungkapkan hal yang diredam, menutupi hal yang diungkapkan, dan secara lebih umum menerobos oposisi-oposisi yang dipikirkan untuk kesinambungannya. Inilah sebabnya mengapa “filsafat” Derrida begitu berlandaskan pada teks, dan mengapa term-term kuncinya selalu berubah, karena selalu tergantung pada siapa atau apa yang ia cari untuk didekonstruksi, sehingga titik pengelakan selalu dilokasikan di tempat yang berbeda. 

Dalam kajian budaya, dekonstruksi-Derrida memberi pengaruh penting. Berkat dekonstruksi Derrida, makna kini tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang mutlak, tunggal, universal, dan stabil, tetapi makna selalu berubah. Klaim-klaim kebenaran absolut, kebenaran universal, dan kebenaran tunggal, yang biasa mewarnai gaya pemikiran filsafat sebelumnya, semakin digugat, dipertanyakan, dan tidak lagi bisa diterima. Dekonstruksi-Derrida juga mempengaruhi teori film dan analisis film secara tidak langsung, melalui wacana sosio-ideologis yang berkembang setelahnya termasuk analisis tekstual film atau yang lebih dikenal dengan Semiotika film yang diprakarsai oleh Christian Metz, serta beberapa analisis film populer lainnya seperti Psikoanalisis Lacan. 

Kritik Analisis di Luar Konteks Film (Munculnya Neo-Formalisme)

 Masuknya teori-teori strukturalisme dan posstrukturalisme dalam kajian sinema menempatkan film sebagai bahasa atau setidaknya sebagai gejala yang serupa dengan bahasa, karenanya analisis sinema memola film sebagai teks untuk lebih jauh menemukan makna (meaning) dari pola-pola tekstual hasil pembongkaran kemungkinan-kemungkinan wacana yang ditawarkan dalam sinema. Dengan arti lain, sejak munculnya linguistik dan semiotik film selalu dianalisis secara tekstual, setidaknya ini mulai mterasa sejak medio 1980-an. Namun ketidak puasan dalam analisis tekstual sinema mulai mencuat sekitar tahun 1989 dimana pemahaman teks sebagai suatu objek yang dipahami sepenuhnya secara mandiri. 

Beberapa kritik mengenai analisis tekstual dalam sinema dilontarkan oleh Jacques Aumont dan Michel Marie antara lain : 

 1. Analisis tekstual memiliki relevansi yang terbatas terhadap narasi sinema. 

 2. Analisis tekstual cenderung mengabaikan teks sebagai kesatuan organik. 

 3. Analisis teks telah mereduksi film.

 4. Analisis teks telah menghilangkan konteks film[4]. 

Arus baru pemikiran ini melihat hadirnya tradisi stukturalis mencari dan –akhirnya-menemukan irony, ‘kesatuan organik film’ dan mempetakan image sinema. Sementara kritik dekonstruksi terlihat lebih tendensius, apriori dan cenderung mencari-cari celah sebuah film. Seharusnya analisis film bukan sekedar metode menemukan ideology. Sudah seharusnya film dilihat melalui jendela yang paling ontologis. 

Victor F Perkins memulainya dengan melihat film secara independen sebagai film bukan sebagai bentuk seni lain. Perkins mengungkapkan bahwa cinematisasi sangat jauh berbeda dengan visualisasi yang dipahami dalam dunia sastra. 

Dalam bukunya Film as Film, perkins menganalisa dikotomi kritik film klasik dimana satu kubu menyebutkan kemampuan film dalam mengeksploitasi kualitas sinematik mendekati realitas tanpa abstaksi artistik, sementara yang lain mengklaim kemampuan sinematik lebih jauh menembus realistas melalui abstraksi artistik. Bagi Perkins kedua teori ‘ortodoks’ tersebut sebenarnya mampu menarik film sebagai sebuah potensi seni menuju praktek ilmiah. Munculnya kritik Perkins dianggap sebagai awal lahirnya aliran baru dalam teori film, aliran yang disebut sebagai Neo-formalis. 

Neo-formalisme 
a. Kognitifisme – David Bordwell 
 b. Scientific Realisme – Barry Salt 

 bersambung... 

[1] Nöel Carroll, Mystififying Movies: Fads and Fallacies in Contemporary Film Theory, New York: Columbia University Press, 1988, hal 29.
 [2] Jhon Storey, Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop; Pengantar Komprehendif Teori dan Metode, Penerbit Jalasutra, 2010, hal 70 
 [3] ibid 
 [4] Robert Stam, Film Theory; An Introduction, Blackwell Publishers, 2000 hal.193

0 komentar:

Poskan Komentar