Teori Film

Jumat, 09 September 2011

Membantah Semiotik-Metz

Metz dan Sinema Semiotik


Rumusan teori Christian Metz yang mencoba mengkaji khasanah semiotila dalam sinema hanya mampu menghasilkan satu proposal yang bisa diaplikasikan/ diterapkan dalam menganalisa film. Metz, jarang sekali terjun langsung menganalisa film, namun sekalinya dia turun serta, yang bisa dia lakukan hanyalah menulis ulang kritik yang usang /cliché’ tentang subjek lama Film Society Classsics- seperti yang tertuang pada halaman 112-114 dalam bukunya Language and Cinema (Mouton, 1974).

Menurut Barry Salt, tulisan/ pernyataan Metz yang kadang kontradiktif dan sikapnya yang tidak konsisten dalam semiotika sinema merupakan kelemahan utama Metz dalam melegitimasikan teori karyanya.



Sebagai contoh ketidakkonsistenannya adalah, Metz pernah berpidato bahwa unsur gabungan antara truism/ pernyataan yang teruji kebenarannya, error/ kesalahan dan kontradiksi yang membentuk konsep awal semiotik-nya tidak mengenal adanya sistem bahasa sinematografi (cinematographic language system), kemudian seiring bergulirnya waktu dia memperbaharui teorinya dengan berujar bahwa konsep kebahasaan yang sistemik dalam dalam sinematografi (cinematographic language system) terbukti berguna dalam analisa serta interpretasi narasi film.

Sedangkan kontradiksi terdapat terlihat dari statementnya yang bersikeras menyatakan bahwa sinema bukanlah sistem komunikasi karena sinema tidak memungkinkan terselenggaranya interaksi langsung bilateral/ dua arah antara sender/ pengirim pesan dengan receiver / penerima pesan.

Tentunya hal ini menunjukkan ketidakcermatannya dalam menganalisa sistem komunikasi yang mana minimal hanya membutuhkan sender,
metode encoding (proses perubahan bentuk bahasa: verbal,
tulisan atau kode menjadi bentuk lain.

Contoh: dialog verbal sebuah film disadur kedalam bentuk subtitle teks), dan transmisi (proses pengiriman pesan), kemudian selanjutnya dilanjutkan ketahap decoding (pemaknaan arti pesan) oleh receiver (penerima pesan).

Jadi agak aneh bila Metz menganggap medium sinema bukanlah sebuah sistem komunikasi karena dia acap kali menganggap metode aplikasi film (convention) sebagai kode yang merupakan elemen semiotik dalam mengkaji serta menganalisa ilmu komunikasi.

Sesumbar Christian Metz yang menyatakan bahwa dia telah ‘berhasil’ mengidentifikasi dan merumuskan sistem simbolik/ pengkodean sinema (a codified filmic system) menambah panjang daftar kekeliruannya dalam memahami keterkaitan antara konsep dasar analisa aLinguistik dengan sistem komunikasi.

Sebenarnya ada beberapa pemerhati film dan sineas yang merasakan ketimpangan dan kehampaan dalam rumusan tulisan tulisan Metz, tetapi sayangnya mereka enggan mempublikasikan sanggahan tersebut.

Dalam artikel bertajuk ‘Segmenting? Analyzing’ di majalah The Quarterly Review of Film Studies vol. 1 no 3 yang ditulis oleh Raymond Bellour, terdapat petikan berita yang berisi pengakuan pribadi (curhat) Metz kepada Bellour mengenai kegelisahannya perihal adanya kemungkinan besar teori grande syntagmatique milik Metz gagal untuk diaplikasikan kedalam kajian sinema.

Namun demikian, ternyata masih ada juga yang berminat mencetak ulang tulisan, essay dan artikel Metz dan berdiskusi soal syntagmisme. Yang lebih merisaukan bagi Salt adalah penganiut Metz dibeberapa universitas yang tersebar di Paris masih memasukkan teorinya kedalam kurikulum pendidikan, seyogyanya fakta ini dapat dijadikan tolak ukur betapa kurang kritisnya cara berfikir dan logika sebagian kaum intelektual cendekiawan Prancis.

next: membantah Psikoanalisa Lacan

0 komentar:

Poskan Komentar