Apa
yang membuat penonton beranjak lebih cepat dari duduknya sebelum film selesai,
berlama lama larut dalam kesedihan, atau ketiduran karena merasa lebih nyaman
dengan suasana gelap gedung bioskop mendatangi gedung bioskop melakukan ritual
sesaat, (mengamati poster, membaca synopsis, mengantri diloket sebelum
menikmati film yang kemudian berargumen
tentang film yang ditontonnya baik kepada dirinya ataupun kepada orang lain)
jawaban pertanyaan tersebut mungkin lebih sederhana dan simpel dibanding
pertanyaanya. Ada
banyak metode dalam menjelaskan hal ini,
selaku penulis ada dua dimensi point of
view dari disiplin ilmu yang menarik serta penjabaran mengapa bioskop perlu
dikunjungi.
Pertama, dimensi
sosiologis sebagai aspek yang global. Menurut Erwin Goffman seorang pakar
sosio-psikolog, manusia pada hakekatnya secara aktif mengklarifikasikan dan
mengkategorisasikan pengalaman hidup ini agar mempunyai arti dan makna,
permasalahannya individu terkadang secara tidak sadar mengabaikannya, meskipun
individu menyadarinya, ia perlu mencari
presentasi atau paradigma lain disekitarnya, agar individu yakin bahwa
ada individu lain yang mau tidak mau memiliki keterhubungan dengan individunya.
Akan muncul adanya semacam comparison,
sebersit pernyataan bahwa pengalaman orang lain lebih berarti dari pengalaman
hidupnya, dan itu adalah lumrah. Secara umum berakibat interprentasi individu
menjadi tergantungan dengan kondisi individu lain. Hal inilah yang mengemukakan
bahwa manusia adalah mahluk social. Representasi film jelas memberikan banyak
karakter-individu dan pengalaman dari individu lain yang kemudian individu
sendiri mencari-mengidentifikasi individu mana yang menyerupai pengalamannya
sebagai sebuah interprentasi.
Semakin unik
contoh-representasi tersebut, maka akan
semakin dibutuhkan karena individu berusaha menarik kesimpulan yang diinginkan
dengan cepat membekas pada panca indra manusia sebagai sebuah proses
sebab-akibat. Artinya point ini telah merambat ke dimensi psikologi sebagai
suatu sikap atas individu.
Representasi
dalam film atau strategi yang digunakan filmmaker adalah upaya untuk menekankan
dan membuat pesan menjadi lebih bermakna, lebih unik dan mencari perhatian
public. Upaya membuat pesan lebih mencolok dan lebih unik ini serta interaksi
secara tidak langsung melalui layar dengan penonton adalah taraf lanjut
yang tak dapat dipisahkan dengan dimensi
psikologis ke dalam film.
Kedua, dimensi
Psikologis sebagai aspek individual.
Pendekatan psikologi menekankan bagaimana pengaruh kognisi konsep kesadaran seseorang dalam membentuk skema tentang diri,
sesuatu ataupun gagasan teori. Bagaimana suatu individual memahami dan melihat
realitas dengan skema tertentu yang tentunya banyak berhubungan dengan berbagai
teori. Manusia pada dasarnya tidak dapat mengerti realitas dunia yang sangat
kompleks. Oleh sebab itu manusia atau individu berusaha menarik kesimpulan dari
sejumlah besar informasi yang dapat ditangkap dalam panca indera sebagai dasar
hubungan sebab-akibat, dan kemudian dikristalisasikan secara psikologi tiap
individu. Atribusi tersebut dipengaruhi
oleh skema personal ataupun skema social
culture-politik-gender dsb pada tiap individu.
Filmaker melalui
skema film meramu berbagai cara untuk dapat menciptakan efek
atau ‘mempermainkan’
psikologi penontonnya. Satu contoh kecil, jauh
sebelum teori film berkembang saat pemutaran
film Lumiere diputar pertama kali di Grand Café Paris tahun 1895, penonton
berhamburan keluar dari ruang bioskop, karena adegan kereta api yang melaju
mempengaruhi persepsi penonton.
Setahun kemudian, 1896. Sigmun Freud[1]
menggunakan istilah psychoanalysis
untuk pertama kali yang kemudian dikembang lebih lanjut oleh Jacques Lacan[2]
melalui pendekatan lingusitik-semiotika khususnya didalam teori cinema, sebuah
penjabaran ‘subject-effect[3] yang
dialami pada penonton sebagai subjek yang dihasilkan dari cinematic apparatus.[4]
Teori ini (psychoanalysis) yang
dipunggawai Jacques Lacan ditahun 1970 awal sebagai perkembangan second semiology[5].
Ia meramu psikoanalisa Sigmund Freud yang dikaitkan dengan basis semiologi.
Fokus utama studinya adalah ketidaksadaran (unconscious), yang sebelumnya diperkenalkan Freud. Lacan menggali
kembali ketidaksadaran sebagai konsep dengan bantuan metode linguistik Saussure[6]
dan memusatkan kajiannya pada beberapa metode Freud sebelumnya, seperti
percakapan antara psikiater/psikolog dan pasien. Percakapan tersebut
menurutnya, merupakan seuntai rantai penanda-penanda.
Sineas melalui
media film menyampaikan pesan melalui penyederhanaan realitas dunia yang sangat
kompleks, tujuannya bukan hanya sekedar menyederhanakan dan dapat dipahami
dengan mudah, tetapi juga agar lebih mempunyai persfektif, estetika, pada
dimensi tertentu.
Filmmaker
membingkai apa yang ada dalam pemikirannya melalui berbagi elemen yang terjadi
dan mungkin yang akan terjadi dalam kehidupan social (sociology) dan nantinya
akan dituturkan kepenonton melalui media motoric yang secara tidak langsung
mampu menghasilkan efek psychologist pada penonton. Lebih jauh,
efek inilah yang membuat penonton bertahan dan menikmati film, dan salah satu
elemen yang membuat film berkembang menjadi seni sampai saat ini.
Film yang baik
akan memberikan pesan moral kepada penontonnya, melalui point of view filmmaker, terlepas apakah pesan tersebut sampai atau
tidak dengan baik kepada penonton, dan mau tidak mau itulah yang terjadi, dalam
hal penyampaian atau cara penonton mengidentifikasi, teori psychoanalysa Lacan memberikan gambaran penyampaian pesan melalui
bagaimana menganalisa pemikiran yang ada penonton dalam mengutip pesan film,
dalam identifaksi penonton yang melibatkan kekuatan pemikiran dan cara
berfikir, yang nantinya akan melahirkan efek dalam pemikiran penonton.
Jelasnya, teori psychoanalysa Lacan berbicara tentang otak penonton pada saat
menonton film dalam gedung bioskop.
Oleh karena
filmaker menyampaikan pesan melalui media film kepada penontonnya, maka jelas
bahwa posisi penonton sangat istimewa, melalui
psikoanalisa, sebuah teori yang mengistimewakan sisi individualitas
(penonton), maka dalam paper ini akan mengurai sejarah psikoanalisa dan
perkembangannya dalam cinema, melalui persfektif Lacanian.
II
PEMBAHASAN
II .1. Psikologi di era teori
film klasik (1916-1958)
Kita
membutuhkan berbagai paradigma sebagai alternative yang lebih kritis dalam
melihat atau mengkaji realitas lain dibalik wacana media film dalam merangkum
wacana dan perkembangan film sebagai media ditengah masarakat, dengan tujuan
memperkaya interprentasi penonton dan filmmaker itu sendiri pada khususnya.
Era teori film klasik,
psikoanalisa belum begitu berpengaruh dalam berbagai bidang termasuk dunia
cinema, ilmu ini terhitung baru dan secara umum baru berkembang di tahun 1930an
kemudian merambah teori film khususnya di Eropa pada tahun 1960 akhir. Namun
unsure psyche-psychology adalah hal
yang tidak terlepas dari dunia film dengan berbagai pendapat dan analisa para
ahli teori film di era klasik. Tahun
1920an, film dianggap mulai mencapai titik ‘kedewasaannya’ pada era ini para
ahli teori dan sineas berfikir bahwa film memiliki unsure estetika dalam
bertutur, dan sewajarnya film ditempatkan
sebagai seni ke-tujuh, diantara seni yang lain (seni rupa, seni drama,
seni tari, seni musik, seni arsitektur dan seni sastra). Di era ini memunculkan dua teori besar dalam sejarah teori film klasik yaitu, Formalism thory [7]
dan Realism theory[8]. Tokoh formalism yang melihat film dikaji dari
form-bentuknya, paradigma dan konsep
teori mereka pun bermacam macam antara lain Sergei Eisenstein[9],
menilai film sebagai collisison, Sergei
merasa ‘benturan’-‘collision’ dari
penggabungan materi shot digunakan untuk menggerakkan-‘manipulated’ emosi dari
penonton serta mengkreasikan sendiri methapora film.
Ia percaya bahwa akan
tercipta arti-ide (intellectual) lain yang dapat diperoleh ketika dua shot yang
memiliki arti independent dan kemudian
di kesinambungkan atau disejajarkan, arti lain akan tercipta dari susunan
potongan tersebut.. Artikel dan buku
bukunya (1920an) terutama Film Form and The
Film Sense, memberikan dampak dan pengaruh terutama bagi filmaker di era
selanjutnya. Ia percaya bahwa editing mampu memberikan efek psike lebih bagi penonton yang secara terperinci melalui hubungan/keterkaitan
rangkain gambar. Kejadian di café Grand Paris sebagai salah satu contoh
dari Psychological
of Empthy, yaitu; Hal yang ditekankan agar penonton ketika melihat
rangkaian image merasa tergugah secara emosional dan intelektual, Eisenstein
menekankan bahwa keutuhan film mampu memanipulasi keadaan jiwa. Pengaruh
psikologis dan emosional tercipta karena adanya pengalaman (materi) dan
kalkulasi (arti dari materi). Aksi sang aktor menjadikan penonton dibius oleh
emosi, proses ini menurutnya adalah imitasi motorik, munculnya emosi karna
adanya perubahan psikologis didalam jiwa-tubuh. Kajian utamanya adalah emosi
dan persepsi intelektual, yang setelah itu baru mampu menciptakan
gagasan-penyampaian..
Pendapat lain yang lebih extreme
muncul dari tokoh teori Formalis lain,
jauh sebelum Eisenstein mengenal film, melalui tulisannya ‘The photoplay: A psychological’ 1916, Hugo Munsterberg[10]
menilai esensi film ada pada pikiran penontonnya dengan latar ‘gestalt psychologist’ , dalam
tulisannya ia mengklasifikasikan kronologis sejarah cinema kedalam dua bagian,
yaitu :
1) Sejarah
teknologi media film dan evolusi penggunaan media film tersebut oleh masarakat.
Menurut pendapatnya, kemajuan teknologi telah memfasilitasi masarakat dalam
mengakses dunia sinema, namun rasa ingin tahu / kebutuhan masarakat terhadap
kebutuhan informasi, pendidikan, dan hiburanlah (sebagai kebutuhan) yang
menyebabkan film itu ada. Munsterberg merasa cukup ideal dengan kemajuan
tehnologi cinema di tahun 1915, karena teknologi pada saat itu dianggap telah
bisa mewakili nilai nilai estetika cinema yang dituntut mesti ada dalam kehidupan manusia sehari hari,
sebagaimana yang di akui oleh Andre Bazin[11]
30 tahun kemudian bahwa film harus dilihat sebagai sebuah pengembangan
peristiwa.
2) Proses nalar
Psycho-sosiologis dalam menyikapi
suguhan tontonan media film yang melibatkan unsure unsure pikiran dan
emosi menjadi bahan utama pembedahan film teori Hugo Munsterberg, dengan
menarik kesimpulan bahwa emosi harus mampu mengatur aktivitas dan kekuatan
pikiran dalam memproses informasi yang diterima oleh media film. Hugo
Munsterberg membedakan lebih jauh
tentang proses penerimaan informasi ini dengan menyebutkan ransangan visual
yang diterima oleh mata manusia yang diteruskan pada penalaran otak untuk kemudian diterjemahkan kedalam suatu aspek
kenyataan yang bisa diterima oleh akal,
yang pada akhirnya dapat menimbulkan suasana emosi tertentu. Seperti halnya
musik bagi seni telinga. Lukis bagi mata, demikian pula halnya dengan cinema yang
merupakan seni bagi mata.
Point inilah
yang dinilai ekstrem dalam tanggapannya mengenai film, bagi Hugo Munsterberg,
sensasi yang diterima oleh manusia pada
saat subjek-penonton ‘tersesat’ di alam
fantasi pada saat menonton film adalah bukti yang cukup bahwa film adalah
sebuah seni yang menjunjung tinggi nilai estetika.
Melalui proses
mata menerima gambar hingga ke otak merupakan latar ‘gestalt psychologist’ proses yang memikirkan kekutan pikiran dari
berbagai aspek yang ada dalam film, baik dari bentuk, cahaya, warna, dsb adalah proses yang nantinya ditafsirkan pada
otak/akal.
Teori dari Hugo Munsterberg (photoplay :1916) dalam menganalisa media film adalah sebuah proses
nalar psikologi dalam menjembatani elemen ruang, waktu dan causalitas kedalam
situasi pikiran yang bisa diterima oleh akal, dan proses tersebut adalah bagian
dari estetika seni film. Artinya kekuatan pemikiran dan emosi yang ditimbulkan
akibat dari tontonan visual lebih menitik beratkan pada pada proses pemikiran
kita-spectator. (Film ada pada
pikiran penonton).
Tanggapan lain muncul dari paradigm Andre Bazin,
salah satu rival bagi teori Formalism
semacam Sergei Eisenstein, dan Hugo Munsterberg, Bazin yang merupakan pelopor Realism dalam essaynya Andre
Bazin yang membandingkan film dengan media seni
lainnya hingga patut disejajarkan dengan seni yang lain bahwa film
adalah satu-satunya media yang sangat baik untuk mengungkapkan realitas, karena
kekuatan magis film yang menampilkan
sebuah realitas sempurna bagi penontonnya. Sebuah kedahsyatan film yang
membuat keterkejutan psikologis manusia ketika pertama kali melihat sebuah
gambar bergerak dan hidup (The myth of
total cinema), dalam rangkaian image hingga muncul istilah motion picture.
Dari tokoh tokoh yang berbeda aliran teori dan jaman ini
melihat film dari paradigma yang berlainan, dan boleh saya katakan bahwa
pendapat pendapat yang muncul, gestalt
psychologist, The myth of total cinema dan Psychological of Empthy mempunyai arti universal yang sama bahwa
film terkait dengan dimensi psikologis bagi penontonnya terlepas dari teori
mereka dalam menuangkan konsep yang
berbeda dalam menilai film sebagai seni.
Hingga dalam perkembangannya (era teori film kontemporer ) memunculkan
teori psikoanalisa salah satu
disiplin ilmu yang berupaya menjelaskan perilaku manusia adalah psikologi. Dan (mungkin) hanya Lacan lah yang fokus
total mengkaji film melalui sisi psikologis sebagai suatu disiplin ilmu dalam
perkembangan di era teori film kontemporer tahun 1970 awal.
II.2. Munculnya Psychoanalysa.
Pertengahan
tahun 1860, seorang anak kecil sedang belajar dengan lampu baca kebanggaannya,
sementara keenam saudaranya hanya menggunakan lilin untuk belajar, dialah
Sigmun Freud anak yang mendapat perhatian lebih dari Ibunya dibanding
saudaranya yang lain. Tahun 1896, di usia 40 tahun Sigmun Freud menggunakan
istilah psychoanalysis[12]
untuk pertama kali didunia, setahun setelah perdana film Lumiere di Prancis,
namun pada era itu masarakat belum mengenal ilmu ini (psikologi) dan belum
banyak mendapat tanggapan dibanding ilmu fisika dan biologi.
Freud adalah
seorang Jerman keturunan Yahudi, meskipun keluarganya Yahudi namun Freud
menganggap bahwa dirinya adalah seorang Atheist.
Sigmund Frued, pendiri Psikoanalisa asal Austria,
adalah ahli psikologi dan seorang
psiaktri modern pertama, memfokuskan
psychoanalysa kepada
totalitas kepribadian manusia dan bukan kepada bagian-bagian yang lain.,
analisa kejiwaan manusia. Inovasi Freud dipengaruhi atas penyelidikan
atas dua relasi hubungan yang berbeda pemikiran (seperti ibu dan bayinya,
pasien dan perawat), kemudian ia membangun teori pikiran manusia human mind dan teori tingkah laku manusia human behavior, seperti halnya tehnik metode klinik
ia mencoba memikirkan menyembuhkan orang
yang mengalami gangguan kejiwan dengan perawatan psychopathology.
Awalnya Freud
tertarik dan belajar hipnotis di Perancis, lalu menggunakannya untuk membantu
penderita penyakit mental. Freud kemudian meninggalkan hipnotis setelah ia
berhasil menggunakan metode baru (psiaktri
modern) untuk menyembuhkan
penderita tekanan Psikologis berdasarkan teorinya yaitu asosiasi bebas free association dan analisis mimpi. Dasar terciptanya metode psiaktri modern
tersebut adalah dari konsep tentang alam bawah sadar ‘unconscious
mind’.
Pada tahun 1900, Freud menerbitkan sebuah buku
yang menjadi tonggak lahirnya aliran psikologi-psikoanalisa. Buku
tersebut berjudul Interpretation of Dreams dalam buku ini Freud
memperkenalkan konsep yang disebut "unconscious mind" (alam
ketidaksadaran).
Selama periode 1901-1905 dia menerbitkan beberapa buku, tiga diantaranya adalah The Psychopathology of Everyday Life (1901), Three Essays on Sexuality (1905), dan Jokes and Their relation to the Unconscious (1905).
Disini ia menuliskan bahwa ada bagian ingatan yang lazimnya tidak kita sadari dan bagian ini disebut ingatan tak sadar atau "unconscious mind". Menurut Freud bahwa gagasan dan perasaan, terutama yang berkaitan dengan seks, itu ditekan pada keingatan tak sadar dan ini terjadi pada kebanyakan orang. Penekanan inilah yang bisa menyebabkan seseorang berperilaku aneh bahkan salah satu faktor penyebab gangguan ingatan.
Selama periode 1901-1905 dia menerbitkan beberapa buku, tiga diantaranya adalah The Psychopathology of Everyday Life (1901), Three Essays on Sexuality (1905), dan Jokes and Their relation to the Unconscious (1905).
Disini ia menuliskan bahwa ada bagian ingatan yang lazimnya tidak kita sadari dan bagian ini disebut ingatan tak sadar atau "unconscious mind". Menurut Freud bahwa gagasan dan perasaan, terutama yang berkaitan dengan seks, itu ditekan pada keingatan tak sadar dan ini terjadi pada kebanyakan orang. Penekanan inilah yang bisa menyebabkan seseorang berperilaku aneh bahkan salah satu faktor penyebab gangguan ingatan.
Sebagaimana tubuh fisik yang mempunyai struktur:
kaki, badan, leher, dan kepala, Sigmund Frued berkeyakinan bahwa jiwa dan
pikiran manusia juga mempunyai struktur.
Struktur jiwa tersebut meliputi tiga instansi atau sistem yang berbeda,
masing-masing sistem (Id, Ego, dan
Superego.) tersebut memiliki peran dan fungsi sendiri-sendiri. Keharmonisan dan keselarasan kerja sama di
antara ketiganya sangat menentukan kesehatan jiwa seseorang.
Freud menerapkan metodenya dengan mencoba agar pasiennya menceritakan
gagasan dan perasaanya, terutama tentang impian dan masa kanak kanak pasiennya,
metode pada pasiennya ini dikenal secara umum dengan sebutan Psychoanalysis.
Namun banyak gagasan-gagasannya baru dapat diterima dikalangan ahli kejiwaan
sekitar tahun 1930, dan semenjak itu teori dan metodenya dikembangkan dan
diubah oleh banyak ahli lain diberbagai bidang ilmu.
Dengan disiplin ilmu ini, Ia mengharapkan manusia
bisa mengenal secara mendalam pemanfaatan psikologi bagi ilmu pengetahuan dan
kehidupan, adalah Lacan yang mengantar teori psychoanalysa kedalam bagian cinema
sebagai ilmu disiplin yang dikembangkan dalam teori-film di era kontemporer.
II.3. Psychoanalysa (the second semiology in cinema)
Pada
era 1968 muncul suatu
kecenderungan dikalangan sineas yang melahirkan beberapa aliran besar dalam
teori film, terutama di Perancis, antara lain Psikoanalisa, Feminisme (Laura
Mulvey, yang mengkritik teori psikoanalisa), teori film Marxistm,
Post-strukturalis dsb.
Berlatar konteks social, kondisi kritis ini terbagi dua wilayah besar (new left[13] – may 1968[14], Prancis) yang kemudian berlanjut pada perdebatan teori film, bahwa film bukan sekedar berbasis pada aspek ilmu yang telah ada dan harusnya bisa berkembang lebih luas, oleh karnanya paradigma dalam melihat film harus pula bergeser sesuai dengan pergeseran zaman.
Dunia barat dihadapkan pada kondisi kritis social dan culture ‘dengan memprotes’ teori-ideologi yang telah ada sebelumnya, kondisi ini merupakan kondisi umum yang terjadi di dunia saat itu. Hubungannya ke dunia cinema, pada era ini memunculkan teori teori dan ideology baru dalam memandang film.
Berlatar konteks social, kondisi kritis ini terbagi dua wilayah besar (new left[13] – may 1968[14], Prancis) yang kemudian berlanjut pada perdebatan teori film, bahwa film bukan sekedar berbasis pada aspek ilmu yang telah ada dan harusnya bisa berkembang lebih luas, oleh karnanya paradigma dalam melihat film harus pula bergeser sesuai dengan pergeseran zaman.
Dunia barat dihadapkan pada kondisi kritis social dan culture ‘dengan memprotes’ teori-ideologi yang telah ada sebelumnya, kondisi ini merupakan kondisi umum yang terjadi di dunia saat itu. Hubungannya ke dunia cinema, pada era ini memunculkan teori teori dan ideology baru dalam memandang film.
Telah disebutkan bahwa teori psychoanalisa dalam
cinema muncul di tahun 1970 awal, yang merupakan langkah lanjut dari teori
linguistik-semiotika awal sebagai kiblat awalnya. Pada teori film awal (semiotika tahap I
awal tahun 1960an) teori linguistic (ilmu tentang bahasa) diorientasikan
sebagai struktur lanjutan dari teori semiotika-semiology, bahwa segala
sesuatunya, baik itu film memiliki system tanda atau penguraian kode budaya,
tujuan dari teori ini (semiology) adalah bagaimana menemukan cara-system untuk
menemukan tanda tanda tersebut, Ferdinand de Saussure selaku pelaku teori
tersebut memberikan tempat yang dominant kepada linguistic, artinya linguistic
menjadi model dari semiology awal. Saussure beranggapan segala sesuatu yang
akan dianalisa harus dirintis melalui linguistic.
Selang waktu
sekitar sepuluh tahun kemudian, dimana pergolakan politik, kondisi social,
budaya, gender, serta pengaruh ideology marxism turut andil dalam perkembangan cinema, dan hal itu
terbukti dengan munculnya second
semiology yang berakibat semakin banyak cara pandang dalam cinema yang
tentunya berkaitan dengan berbagai disiplin ilmu, salah satunya memunculkan
nama Jacques Lacan yang memasukkan teori psikoanalisa sebagai tindak
lanjut dari metode linguistic Saussure.
Dalam teori Linguistic, Second semiology
memunculkan analisa (psycho-analysis)
sebagai orientasi ideologi baru yang
paling mendapat perhatian dengan bermunculannya ideology ideology baru
dalam cinema.
Seiring
berkembangnya teori psikoanalisa di tahun 1970an dalam cinema Eropa (French Freud), memunculkan masa
kerancuan khususnya perkembangan cinema, dimana pertemuan antara psikoanalisa
dan sinema bukan merupakan sesuatu yang baru dalam cinema pada era tersebut.
Sebuah sensasi teori yang sebenarnya keduanya telah lama muncul sebelumnya,
Sigmun Freud telah menggunakan istilah Psychoanalysis pada tahun 1896, selain
itu buku yang ditulis Martha Wolfenstein dan Nathan
Leites ditahun
1950, Movies: A Psychological Study[15] (memberikan penjabaran bahwa cinema memberikan ‘crystallized’ atau efek lain tentang
mimpi-dreams, lebih jauh ia menjabarkan
‘ketakutan’ terhadap populasi yang terus berkembang sehingga memunculkan
pesimistis untuk meraih keinginan-cita cita padahal sebenarnya ada keyakinan
bahwa cita cita bersama adalah sesuatu yang harus dicapai, sehingga sikap
pesimistis tadi melahirkan
kultur-populasi baru di dalam
masarakat umum, dalam cinema penggambaran ini diwujudkan dengan adanya
pengklasifikasian karakter (pembunuh dan korban, Lovers and Loved Ones, Parents
and Children,) dimana kesemua ini kemudian ditafsirkan sebagai konsep konsep dalam psychoanalytic.
Hortense Powdermaker lewat The
Dream Factory (1950), menguraikan Hollywood sebagai terminologi quasi-ethnographic, mimpi dan mitos. Film film Alfred Hitchcock seorang sutradara Inggris yang mapan oleh Hollywood, kebanyakan
filmnya menyangkut seorang tokoh tak bersalah yang terjerat kedalam situasi
yang penuh rahasia, The Lady Vanishes (1930) Psycho (1960).
Tahun 1958
dreams dan myths menjadi studi bagi Edward Morin
yang juga seorang sineas, mengkaji kembali tentang makna kiasan yang memuliakan
cinema (cinema magic), ia menyoroti
kapasitas-kinerja sinema dalam mempengaruhi penonton, dalam tanggapanya ada
masa penonton ‘terlena sesaat’ artinya penonton tidak terus menerus mengamati
rangkaian cerita film dan menurutnya,
penonton secara tidak sadar dalam rangkaian waktu yang singkat dan tidak
terdeteksi,penonton dihinggapi ‘a
neurotic intensity’ yaitu gangguan saraf yang memunculkan emosi namun mampu
terkendalikan setelah adegan dalam film usai. Dari hal dan teori tersebut
kemudian disetujui sebagai bentuk perkembangan dari the psycho-semioticians. Bagi Edward Morin menilai cinema merupakan
implikasi penonton dengan kedalaman perasaan mereka, dan Teori klasik maupun
kontemporer, mempresentasikan bahwa cinema sebagai ‘archive of souls’ arsip/dokumen jiwa, yang siap untuk dibaca dan
dipotret setiap bentuk pergerakannya, yang merupakan sikap dan keinginan
manusia itu sendiri, dengan kesimpulan, hal itu wajar karena sinema diilhami
oleh kekayaan imajinasi tentang perasaan manusia yang akan menghadirkan pengalaman
emosi yang kuat kepada penonton.
Setelah itu
psychoanalysa menjadi bahan yang menarik dalam cinema, pada tahun 1975 communications sebuah jurnal Prancis
mengangkat ‘ psychoanalysis and the
cinema’ sebagai issue yang
berkembang pada saat itu, adanya diskusi
semiotic yang memunculkan ide ide teori baru tentang kelanjutan dari
psikoanalisa seperti scopophilia[16],
voyeurism[17]
dan fetishm[18],
serta Jacques Lacan memunculkan konsep tentang imaginasi dan symbol (‘the
mirror stage[19]).
Psikoanalisa di
Eropa muncul sebagai konseptual yang lebih disukai untuk dikaji, sebab atensi
terhadap film mulai bergeser yang awalnya film adalah bahasa ataupun film
adalah struktur (film language and film structure) bergeser kepada film sebagai ‘subject-effects’. Dampak psikologis terjadi pada penonton yang dihasilkan oleh cinematic apparatus, sebuah system
mekanisme dalam cinema., sebuah mata rantai dari efek-pengalaman yang dialami
subjek-penonton dengan kinerja mekanik (proyeksi image ke layar)
Sementara di
America Utara muncul konsep ‘ego
psychology’ atau logika sebagai sesuatu yang independent yang lebih
menekankan pengembangan individual, kesadaran diri (consicous self), yang bertolak belakang dengan konsep French Freud
(Unconscious).
Perbedaan antara
‘French Freud’ dan ‘American ego psychology’ mencerminkan perbedaan skala besar
baik dalam politik maupun budaya, sesuatu yang membandingkan antara sikap
optimisme Eropa sebagai kesuksesan pragmatis (French Freud) dimana (American
ego psychology) dipandang sebagai sebuah teori harapan meraih kebahagian ‘the pursuit of happiness’ yang semakin
pesimistis akibat masa lampau dunia (perang dunia I dan II sebagai bencana yang
mengotori peradaban dunia). ‘Ego psychology’ yang umumnya terjadi di Amerika
utara tersebut dinilai mampu dihilangkan
dengan ‘therapy’ karena hal tersebut merupakan
sesuatu yang disadari dan dipengaruhi
dari realita dan dikategorikan sebagai
trauma, sementara Psikoanalisa Lacan semakin
berkembang sebagai sebuah sistem intelktual kuat yang menyatukan anthropology dari Levi
Strauss, philosophy Heidegger, dan linguistic Saussure.
Dari kedua
analogy cinematic tersebut dinilai melahirkan kerancuan atau masa ketegangan,
teori psikoanalisa Lacan-Lacanism lebih dilirik di sebagai sebuah konsep
ambisius di Eropa (the art film)
dibanding dengan konsep ‘happy end’
dari ‘ego psychology’ America (Hollywoodean). Sehingga memunculkan
pertanyaan mengapa ‘French Freud’ semakin berkembang dan istemewa?
Dalam
perkembangan second semiology, pergeseran paradigm ditempuh melalui analisis
teori disiplin ilmu yang diterapkan
kedalam film adalah sebuah metode yang ampuh dalam sejarah teori film, demikian
halnya dengan ‘French Freud’ menjadi istemewa disebabkan Psikoanalisa Lacan
mengistemewakan tiga unsure teori yang saling berkaitan,
1 )The id (‘orang yang tak punya
naluri),
2) The Unconscious (sesuatu yang tak
disadari) dan
3) The notion of the ‘subject’ (dugaan
terhadap object).
1)
Menurut Freud penggunaan istilah Id untuk
menunjukkan wilayah ketaksadaran (the
Unconscious) tersebut. Id
merupakan lapisan paling dasar dalam struktur psikis seorang manusia. Id meliputi segala sesuatu yang bersifat
impersonal atau anonim, tidak disengaja atau tidak disadari secara mendasar yang menguasai kehidupan
psikis manusia. Oleh karena itu, Frued memilih istilah “id” yang merupakan kata ganti orang atau thing yang netral. Dalam Id berlaku
: bukan aku sebagai subjek pelakunya, melainkan ada yang melakukan dalam diri
aku.
Contoh adanya Id terbukti melalui fenomena psikis seperti mimpi. Pada saat bermimpi, si pemimpi sendiri
seolah-olah hanya merupakan penonton pasif. Ia bukan pelaku, tontonan itu ditayangkan oleh ketaksadarannya.
Dalam bukunya Interpretation of Dreams
(1900 ), Frued banyak membahas
tentang mimpi, dan dalam buku ini pula Freud
pertama kali memperkenalkan konsep yang disebut "unconscious mind"
2)
Secara general, Unconscious mengacu
pada divisi kejiwaan, dan bukan pada observasi langsung dari subjek, tetapi
hanya sebagai penyimpul-menyimpulkan atas perilaku dari proses kesadaran tersebut
. The ‘unconscious’ diposisikan
sebagai unfulfilled desires ‘hasrat
yang tak dipenuhi” yang kemudian dialihkan dan memunculkan atau membentuk
‘proses ketertekanan’ the process of repression’.
Dengan demikian ‘unconscious’ memunculkan the process
of repression’ (dari uraian ini psikoanalisa mengenal realitas kedua sebagai bentuk yang
muncul atas hasrat yang tak terpenuhi, dimana kodart manusia untuk selalu
menggapai hasratnya, dengan menarik garis Unconscious
adalah subject) seperti halnya kita memahami sebuah adegan tanpa ada penjiwaan
akan terasa hampa.
Dengan kata lain
tanpa kita sadari dibawah kesadaran kita, terdapat sesuatu yang dinamis dan
terus berubah seperti interaksi kehidupan social kita sehari hari, didalam
aktivitas ada semacam kekuatan hasrat yang memberikan kita pengertian tentang
logika dan rasionalitas, karena kita mengetahui, mengakui sesuatu yang logis
dan rasional karena adanya interaksi
aktivitas yang kita lihat dalam kehidupan kita, jika interaksi dan
aktivitas ini hilang atau tidak kita lihat maka itu tidak dapat dikatakan
sebagai Uncoscious. Dalam cinema pendivisian ini bukan suatu yang
absolut, seperti suara yang sifatnya
lebih constant yang memberikan makna timbal balik antara conscious and
unconscious dalam level aktivitas
3)
The notion of the ‘subject’: Lacan juga mengaitkan psikoanalisa dengan proses identifikasi,
proses dimana ‘subject’ mendasari dirinya sendiri dengan mencocokkannya dengan
aspek lain semacam lawan bicara, dimana proses subject mengidentifikasi atau
membutuhkan subject lain ataupun objek seperti contoh hubungan orang tua dan
anak, atau yang lebih ekstreme tentang riwayat Oedipus. Secara simbolis dan spesifik Lacan menempatkan desire sebagai sebuah analisa, dalam hal ini (desire/hasrat) subject telah didasari
sebuah hubungan terhadap subject lain yang menimbulkan ‘desire.’
Lacan mengartikan ‘desire’ bukan hanya sesuatu yang bersifat biologis tetapi lebih kepada sebuah pergerakan phantasmatic (sesuatu yang bersifat khayalan) terhadap ketidakjelasan object, seperti masalah rohani ataupun sex. Artinya kata desire disini, tidak dapat memuaskan, secara defenisi adalah sebuah keinginan untuk bukan untuk sesuatu yang terjangkau, tetapi lebih kepada‘ the desire of the other,’ keinginan terhadap sesuatu yang lain.
Lacan mengartikan ‘desire’ bukan hanya sesuatu yang bersifat biologis tetapi lebih kepada sebuah pergerakan phantasmatic (sesuatu yang bersifat khayalan) terhadap ketidakjelasan object, seperti masalah rohani ataupun sex. Artinya kata desire disini, tidak dapat memuaskan, secara defenisi adalah sebuah keinginan untuk bukan untuk sesuatu yang terjangkau, tetapi lebih kepada‘ the desire of the other,’ keinginan terhadap sesuatu yang lain.
Dalam
pembingkaian ini, (pola pertama) tertera
teori antara psikoanalisa dengan
tradisi filosofi, Lacan mengkaji ‘subject’ kedalam berbagai sense seperti
psikologi, philosofi, grammatical (sifat tata bahasa), kemudian (pola kedua)
membandingkan logika tersebut sebagai sesuatu yang berdiri sendiri dengan ‘subject of the unconscious’ (‘subject
yang tak sadar’). Sehingga dari proses pertama dan kedua muncul proses
identifikasi pada subjek dalam menganalisa jiwa-self.
Dari ketiga
point diatas Lacan berbicara tentang keistimewaan subject, sehingga perlu adanya penjelasan
konsep subject dalam teori Lacan.
II.4. From linguistic to Psychoanalysa.
Sebelum melihat lebih jauh
kaitan antara bahasa atau tanda dengan psikoanalisa, maka perlu melihat point of view Lacan tentang ‘subject’. Hal
ini sangat beralasan selain subjek merupakan pokok yang mendasar dalam diri
manusia, subjek merupakan hal yang mendasar dalam diri manusia, juga bahwa
subjek yang berbicara dapat memunculkan (tanda-sign; Saussure[20]).
Penjelasan konsep subjek bagi lacan seperti struktur dalam jiwa (describe
the elements of the psychic structure). Teori psike Lacan dipengaruhi oleh
Freud, dan bahkan ia mengembangkannya lebih dalam, terutama ia memasukkan
konsep ’the mirror stage’. Ada tiga
kategori yang dikemukakan oleh Lacan dalam jabaran psikoanalisa tentang subjek.
(1) The
Real
Alam Realitas dalam pemahaman Lacan berbeda dengan realitas pada umumnya.
Hal ini merupakan tahap awal dari keadaan psyche-jiwa
manusia yang belum mendapat pengaruh dari dunia luar. Ini terjadi sejak bayi ditiupkan roh
atau jiwanya. Bayi pada masa ini tidak dapat mengidentifikasi dirinya dengan
yang lain.
Artinya tidak ada suatu keterpisahan
diri dengan di luar diri, yang bayi mengerti bahwa realitas itu adalah dirinya
sendiri.
Psike bayi bergerak secara evolutif
menuju ’Stage of Mirror’ di mana
secara perlahan mulai merasa adanya subjek yang lain. Menurut Lacan fase ini sang bayi mulai mengidentifikasi dirinya dan
diluar dirinya mengontrol gerak tubuh mengenal bahasa namun tidak secara utuh,
sehingga bayi belum sepenuhnya dapat mengenal (saya, kamu, mereka, dsb) serta berbagai
tuntuan lain. Jadi
semakin tuntutan bayi tidak terpuaskan, maka semakin ia mulai mengenal bahasa,
dan secara perlahan bayi memasuki tahap imaginer.
(2)The imaginary : (depends
on a division between self and other)
Dimasa ini bayi melewati masa ’Stage of
Mirror’ yang merupakan bagian dari fase
imajiner, maka selanjutnya sang bayi memahami ada bagian yang lain di luar
dirinya. Di sinilah seseorang mencoba selalu belajar dan mengenal bahasa.
Mengenal bahasa adalah suatu keharusan, manusia hidup dalam bahasa dan tidak
dapat lepas dari bahasa.
Fase simbolik ini berlanjut di mana ‘the speaking’ subject terwujud, yang ditandai dengan memposisikan
dirinya sebagai ‘saya’. Di sini seseorang memperoleh subjektivitas yang sadar
dan memunculkan desire-keinginan
karena adanya kesadaran tentang ‘individu-saya sebagai subjek’. Meskipun desire tersebut belum sepenuhnya bisa
terkontrol dengan stabil. Ketidakterwujudan
individu atas desire yang ada
padanya, maka segala tuntutan dan keinginan tersebut tetap terpaksa dikontrol,
namun ia tidaklah musnah, dan akhirnya tuntutan dan keinginan ini berlarut dan
tersimpan.
(3) The Symbolic : (the ordering
structures of language and grammar in which the Imaginary self-formulates)
Hasrat yang terpendam ini akhirnya kembali tersimpan, dan
sewaktu-waktu ia dapat muncul melalui bahasa atau perilaku sehari-hari melalui
mimpi, kesalahan, humor, dsb. Munculnya realitas
dua berfungsi sebagai proses pengontrolan hasrat dan represi yang selalu
ditekan, namun ia masih menyisa dan tidak musnah. Hal ini tetap berbekas, oleh karena itu,
gejala-gejalanya selalu tidak disadari (unconscious).
Unconscious inilah yang merupakan subject yang sebenarnya,
ketidaksadaran yang direduksi itu selalu ingin muncul, untuk dapat
memunculkannya melalui sebuah proses dream-work yang memunculkan
fantasi-hasrat, proses ini terdiri dari (condensation:
penyederhanaan) dan (displacement: pengalihan).
Atau yang juga disebut primary processes.[21]
Karena hasrat juga membentuk jiwa manusia, maka hasrat-hasrat
yang dimiliki subjek akhirnya menjadi basis bahasa atau penanda, dan disitulah
subjektivitas dapat berlaku. Dari hasrat ini dapat memunculkan signifikasi atau
makna-makna bersamaan dengan upaya subjek secara contuinity mengendalikan desire-hasratnya.
Hasrat merupakan prinsip dari
perwujudan kekurangan (lack) yang
dialami individu. Kekurangan ini berkaitan dengan ketidakpuasan individu untuk
memenuhi hasratnya, karena pada umumnya berbenturan dengan aturan-aturan
sosial.
Dan untuk mengungkapkan hasrat, orang
menggunakan bahasa, tetapi bahasa juga mengekang manusia sehingga selalu hasrat
tidak terpenuhi. Konflik yang dimunculkan dari hasrat ini akhirnya membentuk
struktur ketidaksadaran (unconscious)
Dalam psikoanalisa, arah gerak
struktur Unconscious direpresentasikan melalui tulisan-tulisan. Lacan
mengatakan bahwa fenomena sosial selalu memiliki makna, dan psikoanalisis
merupakan metode penafsirannya. Untuk memahami kaitan semiotika dan psikoanalisa
adalah dengan pandangan psikoanalisa terhadap penomena sosial, yang dihubungkan
dengan konsep subjek dan bahasa. the speaking subject diperbudak oleh
bahasa, ‘’bahasa adalah penjara’’.
Artinya, setuju atau tidak setuju
bahasa adalah segalanya, dalam bahasa
makna dan tanda selalu memunculkan makna atau penanda yang baru.
Hubungan ini dapat dijelaskan dengan menurut prinsip metonimia dan metafora
(Saussure).
Walaupun telah
banyak pergeseran dari linguistic ke psychoanalysis, namun sesungguhnya hal ini
merupakan bagian perubahan yang melesat cepat kearah teori psikoanalisa yang
merupakan bagian dari cinema. Disini Lacan memperkenenalkan metode distinguishing synchronic and diachronic
structurings[22]
didalam bahasa, yang akan
memungkinkan kita untuk memahami lebih baik perbedaan nilai dari bahasa yang
kita asumsikan sebagai penafsiran dari the
resistances[23]
and the transference[24]
Linguistics dan
psychoanalysis bukan sebuah pilihan atas pertimbangan sepihak, tetapi merupakan
cara pandang karena kita diperlihatkan dua sains yang berhadapan secara
langsung dengan pengertian masing masing. Disinilah pengaruh utama Lacan yang
memberikan fakta pergeseran linguistic kepada psikoanalisa.
II.5. Dimensi prakstis psychoanalytic.
Fokus
interest psychoanalytic merupakan tahap lanjut dari semiotika yang berasal dari
hubungan antara filmic image dan reality bergeser terhadap konsep apparatus theory[25] , sebuah
bentuk dimana teory-ideologi yang berkembang ke dalam praktis, sebagai inti-self dari film itu sendiri. Pengembangan
ini bukan hanya dilihat sebagai sisi efek dari instrument dasarnya saja seperti
kamera-proyektor dan layar, tetapi juga dilihat dari sisi pengembangan atau
bagaimana mengembangkan hasrat-keinginan penonton atas istitusi sinema yang
sangat tergantung pada tampilan object dengan berbasisi ideologi.
Pendekatan Psikoanalisa disini bukan menyoroti banyak hal
dari berbagai meaning mengenai psychology tetapi lebih menyoroti satu
sisi dimensi pada cinema yaitu dengan pendekatan meta-psychological[26]
dimana realita merupakan realisasi pencerminan ide pada objek. Meta-psychological merupakan bentuk praktis dari teori psikoanalisa
karena dengan pendekatan ini merupakan titik temu antara activating and regulating spectatorial desire. Bentuk praktis ‘psychological’ disini bukan
merupakan penjabaran cara pandang classic seperti pendekatan the psychoanalysis of authors, plots, or
characters, yang dianggap tidak relevan karena hanya sebatas dunia
ide-illusi.Pada tahapan ini pola pandanglah yang harus bergeser.
Ahli teori
psychoanalysa akan lebih tertarik pada menelaah tampilan medium film sebagai
dimensi psychic (kekuatan jiwa-batin)
dari sebatas kesan reality ‘impression of
reality’. Sebab mereka mengkhawatirkan apakah hal tersebut ‘impressi’ mampu
menjelaskan ‘kekuatan yang luar biasa dari cinema’ atas perasaan seseorang.
Daya magnit ‘cinematic apparatus[27]’ telah di analisa dan menghasilkan sejumlah
factor:
the cinematic situation (immobility, darkness) dimana penonton dihadapkan pada situasi gelap bioskop
tanpa aktivitas selain diam dan menonton.
the enunciatory mechanisms of the image
(camera, optical projections, monocular
perspective). Kinerja kamera dan projeksi image memberikan keragaman
perspektif atas image yang ditampilkan.
Sehingga bentuk
penyajian dari cinematic apparatus
tersebut menghasilkan cue-isyarat yang
mempengaruhi subject dalam merepresentasikan diri mereka.
Adalah Jean Louis Baudry yang pertama kali
menggambarkan psychoanalytic theory sebagai karakterisasi cinematic apparatus sebagai sebuah tekhnologi, lembaga-institusi,
dan mekanika ideology yang kuat dalam membangun
‘subjek-effect’, dimana kesadaran subject
dibawa kepada suatu kesadaran transendental, yaitu suatu rasa
kesadaran menjadi dirinya dan ‘sesuatu’ yang lain secara bersamaan dan
merupakan pendekatan yang mendukung teori Psikoanalisa dalam sinema. Dalam
tulisan Baudry,‘Ideological Effects of
the Basic Cinematic Apparatus’ (1971). Ia berargumen bahwa. apparatus
sinema telah memiliki
daya tarik ’infantile narcissism’
dengan ‘mengagungkan’ the spectatorial
subjects’ sebagai titik pusat dan asal dari arti yang tercipta.
Baudry postulated[28]
bahwa unconscious merupakan
lapisan bawah-bagian kecil dari identifikasi,
sebagai sebuah hal tiruan apparatus (a
simultation apparatus) dalam cinema yang tidak hanya menghadirkan kembali
‘real-kenyataan’ tetapi juga mendorong ketegangan '
subject-effects'.
Tulisan The
Apparatus’ (1975) Baudry telah menyelidiki persamaan antara the sense of Plato’s cave and the apparatus
of cinematic projection, dengan menyanggahnya bahwa sinema didasari oleh
realisasi teknik, sebuah cita cita yang telah bertahun tahun akan sebuah
kesempurnaan, total simulacrum, dan
sangat berbeda dengan hal hal yang dimunculkan-disebabkan langsung oleh mimpi-dream.
Image pada
layar, suasana gelap ruang bioskop, nuansa passive penonton,ambient noises, adalah hal hal yang
dapat mempengaruhi pengalaman penonton,
dimana hal hal tersebut dapat membantu perkembangan pemikiran penonton atas
status tiruan yang merupakan kekurangan dari cinema dan hal inilah yang
membedakannya dengan mimpi, melalui konstruksi real dari mekanisme sinema,
image menciptakan suatu kesadaran transcendental kedalam pemikiran penonton.
III
PENUTUP
Psikoanalisa bisa dibilang terlambat masuk dalam
perkembangan teori film, meskipun umurnya hanaya terpaut setahun dengan film,
para ahli teori di era klasik lebih memperjuangkan ‘film as art’ sehingga
psikoanalisa bisa dibilang hanya mendapat porsi teknis, karena hanya dilihat
dari sebatas sisi efek dan minimnya
porsi analisa pada sisi subject, Usaha Hugo Munsterberg sempat melirik pemikiran penonton dalam
teorinya (1918) namun teori film yang ia bangun dinilai tanpa reference, telah
ada usaha dalam melirik psychology sebagai sebuah konsep dalam film, meskipun
film masih dianggap rendah dibandingkan dengan seni yang lain pada saat itu,
selain konsep ilmu psychoanalysa baru bisa diterima diberbagai bidang ilmu pada
tahun 1930an.
Berkembangnya semiotika dengan motto film as language menjadikan psikoanalisa sangat berkembang, seiring
pergeseran cara pandang dalam cinema memunculkan second semiology sehingga film tidak lagi berbasis ‘film sebagai
system tanda ataupun film adalah struktur’ dan memunculkan banyak metode
disiplin ilmu yang bisa diterapkan dalam teori film.
Di era second
semiology, psikoanalisa memang pantas diistimewakan, karena teorinya
merupakan sebuah sistem intelktual kuat
yang menyatukan anthropology dari Levi Strauss, philosophy Heidegger,
dan linguistic Saussure dan konsep otentik Freud: ‘dreams as the royal road to the Unconscius’.
Jacques Lacan mengusung
film as subject-effect berbekal
dengan senjata ampuh cinematic apparatus, membuktikan bahwa
pergeseran disertai perlunya paradigma baru membuktikan bahwa fenomena sosial selalu memiliki
makna yang merupakan salah satu faktor terbesar penyebab munculnya ilmu ini.
Film seperti
sebuah mimpi, menuturkan cerita, sebuah cerita yang dibuat dari berbagai image
dan oleh karena itu ia bergema dan menyatu dalam pemikiran kita.
(psychoanlysis.kajianmedia.ikj.09.Kritik
dan saran. yunus_pattawari@yahoo.co.id)
[1] Sigismund
Schlomo Freud (Sigmund Freud) 6 May 1856 – 23September
1939, berprofesi dokter jiwa dan ahli saraf, Ia mendefenisikan ulang
konsep sexual desire sebagai suatu
bentuk yang terus bergerak dan mengarah kepada objek yang luas. Ia terkenal
dengan teori ‘the unconscious mind’ , the mechanism of repression, serta tehnik terapinya pengobatannya yang berkaitan
dengan value of dreams.
[2] Jacques Marie-Émile Lacan (13 April 1901 - 9 September 1981) adalah
psikoanalis Prancis artikelnya, Ecrits (1966), berpengaruh banyak di
bidang linguistik teori film, dan kritik sastra. Ia mengembangkan psikoanalisa dari
metode unconscious Freud dan metode linguistic
Saussure.
[3] subjek-effect’
yaitu kesadaran
subject dibawa kepada
suatu kesadaran transendental, yaitu suatu rasa kesadaran menjadi dirinya dan
‘sesuatu’ yang lain secara bersamaan dan merupakan pendekatan yang
mendukung teori Psikoanalisa dalam sinema.
[4] Representasi penyajian
ideologis kedalam mekanisme film, seperti mekanisme kamera, mekanisme editing, komposisi
kedalam kultur penonton sebagai pusat persfektif ideology., menurut Baudry Cinematic Apparatus dipandang sebagai
sebuah tekhnologi, lembaga-institusi, dan mekanika ideology yang kuat dalam
membangun ‘subjek-effect’
[5] Era dimana teori Semiotika lebih
berkembang dari sekedar ‘film sebagai text-bahasa’. Pada era 1968 muncul suatu kecenderungan yang telah
melahirkan beberapa aliran besar dalam teori film terutama di Perancis,
sehingga memunculkan teori teori baru antara lain, Psikoanalisa, yang mendapat
perhatian lebih dalam semiology.
[6] Ferdinand de Saussure adalah tokoh semiotik dari Prancis yang mengatakan bahwa
tanda-tanda disusun dari dua elemen penting, yaitu aspek citra tentang bunyi
(penanda), dan sebuah konsep di mana citra bunyi disandarkan (petanda).
[7] Formalism, adalah sebuah teori film yang berkembang
di tahun 1918 konsepny a mengutamakan form
(bentuk) atau element yang terdapat dalam film. Seperti, editing, komposisi,
warna, pencahayaan, set dan suara Dalam teori ini pula eksplorasi medium sangat
diutamakan, sehingga isi tidak lagi menjadi penting. Tokoh utamanya adalah
sergei Eisenstein
[8]Realism : teori yang berkembang ditahun 1950, dipelopori
Andre Bazin yang menilai film merupakan media dan seni yang utuh dalam
membingkai realitas dibanding dengan seni atau medium yang lain. Konsepnya adalah representasi realita
Pemikiran realitas Bazin ini merupakan bentuk kontra terhadap Formalism film theory Sergei Eisenstein
yang telah berkembang sebelumnya.
[9] Sergei
Mikhailovich Eisenstein (Russian;
January 23, 1898 – February 11, 1948) was a revolutionary Soviet Russian film
director and film theorist noted in particular for his silent films Strike,
Battleship Potemkin and October, as well as historical epics Alexander
Nevsky and Ivan the Terrible
[10] Hugo Münsterberg (June 1, 1863 – December 19, 1916) was a German-American
psychologist and film theoriest. He was one of the pioneers in applied
psychology, extending his research and theories to Industrial / Organizational
(I/O), legal, medical, clinical, educational and business settings.
[11] André Bazin (April 18, 1918 – November 11, 1958) was
a renowned and influential French film critic and pioner of realist film
theory.
[12] Metode
Freud dalam menyembuhkan pasien pasiennya yang mengalami gannguan kejiwaan.
[13]
1960 akhir, pemikiran ilmu sosial, kebudayaan, dan politik di Eropa diwarnai
dengan munculnya kekuatan baru para pemikir Marxis yang disebut sebagai (Left
Culturalism) atau (New Left). Berbeda dengan pemikir-pemikir
Marxis sebelumnya, kelompok baru ini dicirikan dengan independensinya atas
Partai Komunis dan kritiknya atas pemikiran Marxis Komunis. Ideologinya semakin
berkembangdiberbagai bidang dan dapat
dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu
(ideology)
[14]
Revolusi yang terjadi di Prancis, karena pemecatan ketua sinematic PrancisHenry
Langlois, Demonstrasi mahasiswa, sabotase festval Cannes,dll.
[15] But when a dream night after night is
brought
Throughout a week and such weeks few or many
Recur each year for several years, can any
Discern the dream from real life in aught?
[16] Another term form erotic component of seeing, because there
is no precise distinction between the terms
in psychoanalytic
literature.
[17] Istilah Voyeurism berasal dari Voyeur
yang artinya pemahaman dari seseorang yang mendapatkan kepuasan / kesenangan
dengan melihat seseorang tanpa busana atau aktifitas sex. Aktifitas itu merupakan
sebuah perbuatan yang asusila dan terlarang oleh sosial masyarakat
[18]
Berasal dari kata Fetish yang berarti
bentuk perilaku kepuasan seksual dengan melihat sesuatu yang memberikan
kekuatan, Sesuatu itu biasanya berbentuk bagian dari tubuh terutama pada tubuh
wanita Dalam teori filn feminism makna
ini berarti sebuah bentuk pemujaan / kekaguman dan bukan pada menghasilkan kepuasan nafsu
[19] The mirror stage merupakan essai dan
menjadi metode Lacan dimana ia "mengembangkan konsep ( I – aku ) yang diungkapkan
melalui eksperimen psikology
(perkembangan bayi, populasi hewan, dsb) yang merupakan teori pertamanya yang
tercantum dalam Écrits buku
Lacan yang berpengaruh dalam teori film.
[20] Saussure also provided the most
influental definition of the sign within the semiotic tradition; he defined the
sign as the union of a from which signifies – the signifier – and an
idea signified – the signified.
[21] These processes of the dream-work
are called Primary processes, and they concist of CONDENSATION (in which a
whole range of associations can be represented by a single image), and DISPLACEMENT (in which psychic energy is
transferred from something significant to something banal, conferring great
importance on a trivial item)
[22]
Metode Lacan yang menilai konsep Unconscious
sebagai sebuah struktur, sama seperti menyajikan sebuah bahasa yang berlanjut
dan menjembatani satu sama lain diantara dua bidang ilmu, bahasa dan jiwa.
[23] Resistance
: Gangguan atau halangan dalam mengakses the
unconscious
[24] Transference : the actualization of
unconscious wishes, typically in the analytic situation, by according a kind of
value to the analyst which enables the repetition of early conflicts
[25] Apparatus theory diperoleh pada sebagaian teori film Marxist, semiotic dan psikoanalisa,
sebuah teori yang dominant dalam cinema studies sepanjang tahun 1970an, yang
lebih memelihara konsep cinema itu sendiri sebagai ideology yang natural,
sebab bentuk penyajiannya mekanisme tersebut merupakan representasi dari
ideology. Mekanika penyajiannya antara lain meliputi mekanisme kamera, editing,
. Sebuah penyajian yang menempatkan penonton sebagai posisi central dalam persfektif dan penjabaran
ideologi.
[26] meta-psychological; Penekanan atau perhatian atas proses
unconscious (Freud), didalam study
film disebut sebagai pendekatan meta-psychological sebab bentuk pendekatan ini berhadapan
dengan konstruksi psikoanalisa yang menjadi viewing
subject dalam cinema.
Istilah ini mengacu pada kebanyakan
teori yang mempelajari bidang psikologi (Freud), the theorization of the unconscious.
[27] Sebuah
sistem representasi dan praktek material dalam proses merealisasikan subjek
yang dibangun oleh ideologi. Disini fungsi sinema sebagai pendukung dan
instrumen ideologi dalam menciptakan sebuah gambaran dunia ilusif.
[28] (postulated : sesuatu/teori
yang dianggap sahih kemurniannya
secara umum tapi belum atau tidak mungkin dibuktikan secara
konkrit)
0 komentar:
Posting Komentar