Teori Film

Minggu, 17 Juni 2012

STASE (fin: 27 mei 12



BAB I
Teknologi dan Statistik; Ranah Baru Sejarah Dan Analisis Film Style
Sebuah pembacaan ulang atas buku Film Style and Tecnology : History and Analysis
Pendahuluan
Apa yang dilakukan oleh para sejarawan  film terhadap film style saat ini mungkin telah menemui hasil. Kita mengenal genre hingga periodesasi[1] film dari hasil mereka mengamati persamaan style dalam film. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa setiap periodesasi memiliki persamaan style? Apa yang sebenarnya memengaruhi style itu sendiri?
Style film dikenal sebagai teknik yang digunakan oleh sutradara dalam memberikan makna atau nilai dalam filmnya.  Hal ini mencakup setiap aspek dalam pembuatan film seperti     mise en scene, dialog  cinematography, sound, editing . Style film sendiri menjadi identititas sinema pada umumnya. Setiap era, kita mengenal sosok film-maker ataupun gendre melalu  style sebuah film.  Style film sendri merupakan salah satu dari bentuk estetika film sama seperti gendre, narasi, dll.
David Bordwell memaparkan begitu apik perjalanan  sejarah style film sejak film fiksi pertama dibuat tahun 1908 dalam bukunya On The History of Style Film. Ia membagi film kedalam beberapa klasifikasi berdasarkan persamaan style yang dimiliki.  Seperti Perkembangan film dunia dapat dilihat melalui perubahan style film dari masa-kemasa. Bahkan  setiap kemunculan style baru dalam film menandai perubahan periodeisasi jenis film tertentu.
Bordwell memberi contoh pada tahun 1908 dimana film fiksi drama selalu menampilkan para pemain berada dalam posisi sejajar menghadap penonton lengkap dengan seluruh latar dan dekor yang melengkapi film tersebut. Pada era ini, film tidak mendapat interupsi close-up. Style semacam ini menandai kehadiran sinema theaterikal. Saat ini style semacam itu dianggap tidak lagi sinematik[2].
1919, style film tampil dengan medium close up dimana style semacam ini dimulai pada periode 1913 dengan menggunakan gambar atau  komposisi gambar  yang lebih dalam  (depth of field ) dibanding film tahun-tahun sebelumnya. Pada periode ini  komposisi tipe shot kamera berubah drastis, sebisa mungkin digunakan atau diciptakan (depth of field ) dan untuk mengimbangi hal itu digunakanlah long shot.  Pada periode ini penggunaan long shot dan close up sering digunakan secara bergantian.
Apa yang dipaparkan Bordwel merupakan hasil pengamatannya sebagai seorang praktisi sekaligus sejarawan film. Namun pemaparannya tersebut tidak menjelaskan lebih jauh mengenai mengapa persamaan-persamaan tersebut terjadi? Padahal melihat pola yang diajukan Bordwel menimbulkan pertanyaan lebih jauh tentang apa yang mempengaruhi style sebuah film?
Banyak teori film praktis yang membahas persoalan style film, terutama teori-teori sosial yang berada dalam ranah cultural studies. Sayangnya teori-teori tersebut hanya membahas persoalan-persoalan artificial mengenai film style. Style hanya dilihat sebagai narasi dan simbol-simbol  yang harus dimaknai melalui interpretasi.
Lebih jauh, cultural studies tidak memberi penjelasan  yang tepat bagaimana ideologi atau kelas sosial seorang sineas mempengaruhi style film itu sendiri. Atau bagaimana alam bawah sadar memengaruhi kerja-kerja teknis seorang sineas, mengingat bahwa style film adalah teknik yang digunakan oleh sutradara dalam memberikan makna atau nilai dalam filmnya. 
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tampaknya cukup menyita waktu Barry Salt, seorang fisikawan yang juga praktisi film. Selama 15 tahun ia melakukan penelitian untuk menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Sebelumnya ia menemukan banyak ketidakpuasan terhadap teori-teori film yang banyak digunakan dalam penelitian/kajian film terutama yang berada dalam ranah cultural studies (semiotik, psikoanalisis, linguistic, dll) yang sifatnya interpretatif. Semua pemikiran dan hasil-hasil penelitiannya tentang style film ia bukukan dengan judul Film Style and Tecnology : History and Analysis.
Buku yang sudah tiga kali naik cetak sejak 1983 tersebut merupakan kumpulan artikel dan hasil-hasil penelitian Salt selama bertahun-tahun. Hasil penelitian Salt mengenai style film sebelumnya telah dibukukan dengan judul Moving Into Picture : More on Film History, Style, and Analysis dan beberapa isi buku tersebut juga dimuat dalam buku Film Style and Tecnology : History and Analysis yang penulis review kali ini.
Kehadiran Barry Salt dengan bukunya tersebut memberi gambaran atas pertanyaan sebelumnya, mengapa setiap periodesasi style film selalu memiliki persamaan. Jawaban yang tidak melenceng dari pengertian style itu sendiri yang merupakan konvensi teknis yang digunakan sineas untuk memberi daya tarik, nilai dan makna kedalam filmnya. Tidak mengherankan jika dalam pendekatannya Salt selalu kembali pada istilah-istilah teknis pembuatan film itu sendiri.



BAB II
Pembahasan
Sebelum masuk lebih jauh pada pokok pemikiran Barry Salt dan bagaimana ia menemukan penyebab persamaan style film setiap periode ada baiknya penulis memaparkan sedikit gambaran tentang isi bukunya Film Style and Technology : History and Analysis. Setidaknya dengan demikian kita dapat meraba alur berpikir dan analisis yang ditawarkan Salt untuk memecahkan persoalan di atas. Berikut gambaran isi buku Salt berdasarkan susunan bab-bab dalam buku tersebut.
Bab 1(Introduction) merupakan perkenalan awal tentang pemikiran Salt, dimana ia merasa perlu ada pendekatan ilmiah dalam kajian film melihat keterbatasan-keterbatasan pendekatan ilmu-ilmu sosial yang sering kali dipinjam dalam mengkaji/meneliti cinema.
Bab 2 (Old Film Theory And New Film Theory). Dalam bab ini Salt membagi teori-teori film menjadi dua yaitu teori film lama dan teori film baru. Salt tidak membahas semua teori film dalam bab ini, ia hanya membahas teori-teori yang dianggap memiliki banyak ketimpangan seperti teori Auteur, linguistic, semiotika, psikoanalisis, dll. Ia juga mengkritik cukup pedas New French Film  Theory yang diaggapnya memiliki landasan filosofi yang rapuh dari kacamata sains.
Bab 3 (The Interprettation Of Film). Salt mengkritik tentang validitas interpretasi dalam analisis film dimana ia menganggap seketat apapun metode yang digunakan, interpretasi tetap tidak bisa menghindarkan penelitian dari subjektifitas peneliti. Salah satu buku yang menjadi sasaran kritiknya adalah making meaning; inference and rhetoric in the interpretation of cinema (Harvard University press, 1989) karya David Brodwell.
Bab 4 (French Film Theory Into English). Pada bab ini Salt khusus mengkritik teori film Prancis yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris yang banyak menyebabkan kesalahpahaman dalam teori film yang berkembangan selanjutnya. Menurut Salt, kesalahpahaman tersebut disebabkan karena artikel yang beredar terlebih dahulu merupakan artikel kritik atas teori film Prancis bukan terjemahan teori dasarnya.
Bab 5 (Practical Film Theory). Bagi Salt dari sekian banyak buku-buku film dengan judul teori film praktis tetap tidak bisa memaparkan metodelogi-metodelogi yang stabil, objektif, dan terukur validitasnya.
Bab 6 (Film Theory With American Accent) merupakan lanjutan perdebatan ilmiah Salt dengan praktisi cinema asal Amerika, David Bordwell dan istrinya Kristin Thompson. Dimana penulis buku making meaning dan Naration in the fiction Film ini dianggap menggunakan spekulasi psikologis dalam metode interpretasi filmnya.
Bab 7 hingga bab 11 dalam buku Salt merupakan hasil penelusuran perkembangan teknologi dan proses pembuatan film dari tahun 1985-1919.  Periodesasi tersebut ia bagi menjadi sebagai berikut;
Bab 7 (Film Style and Technology : 1895-1899). Periode ini merupakan periode awal munculnya cinema. Gambar bergerak yang kita kenal saat ini merupakan pengembangan fotografi ditahun 1889, sehingga style periode ini sangat dipengaruhi oleh framing fotografi (landscape) dan teater. Sehingga periode ini dikenal sebagai periode style teaterikal.
Bab 8 (Film Style and Technology : 1900-1906). Periode ini pertama kalinya menggunakan studio sebagai lokasi produksi film  seperti Pathe studio dan Nickelodeon. Periode ini juga menandai film menjadi sebuah media entertaiment yang sangat menjajikan dengan ditemukannya film berwarna,  penggunaan film dengan single frame[3], animasi dan berbagai teknik spesial efek lainnya.
Bab 9 (Film Style and Technology : 1907-1913). Periode ini menandai penemuan-penemuan teknik yang mengsupport kamera sebagai alat utama pembuatan film seperti pencahayaan, suara, animasi. Periode ini juga menjadi awal antuasiasme pembuat film mengeksplorasi teknik lighting sehingga beberapa konsep lighting baru ditemukan seperti Scandinavian  lighting, shadow play dll.  Pada periode yang sama prosedur pembuatan film secara komersil mulai digunakan.
Bab 10 (Dramatical Contruction From Stage to Film). Teori tentang bagaimana sebuah naskah film terstruktur dan diartikulasikan telah muncul di era 1908. Konstruksi bertutur dalam seni Teater memberikan pedoman yang penting kedalam cara bertutur Sinema. Di bab 10 ini Salt menjelaskan poin poin utama dalam membangun sebuah struktur penceritaan, Salt menguraikan  melalui buku  yang ditulis oleh Alfred Hennequin  ‘The Art of Playwriting’  seorang  Dramatis dari Belgia  yang dipublikasikan oleh Houghton Mifflin & co.
Bab 11 (Film Style and Technology : 1914-1919).
Tahun 1914 adalah era dimana Perang dunia I dimulai. Hal ini berarti sinema di Eropa tidak banyak berkembang khususnya ketika kita berbicara teknologi film, hal berbeda tentunya dengan perkembangan teknologi film  di Amerika. Seperti yang diutarakan Salt bahwa di Prancis sendiri, pasar film lebih dikendalikan oleh pasar film Amerika.
Pada periode ini diperkenalkan bahan baku kamera film sjenis terbaru Kodak, jika  sebelumnya dengan kode E.A, lalu berganti dengan kode F, kemudian  muncul  Par speed, yang menarik perhatian pasar film di Eropa. Selain itu diperkenalkan pula sistem studio termasuk teknik pencahayaan studio, seperti spotlight dan floodlight serta metode tree point lighting.
Selain penggunaan camera track telah digunakan untuk pencapaian tiga dimensi yang tak dimiliki oleh fotografi. Periode ini juga telah dikenal pengguanan efek pada kamera (direct effect), seperti soft focus dan masking frame yang disebut pencapaian estetika, meskipun tak lain bisa kita bilang itu adalah bagian dari promosi teknologi. Sinema Italia mendapat perhatian bagi Salt terhadap perkembangan tersebut.  Menurutnya salah satu aspek penurunan sinema Italia adalah pencapaian pictorialism  yang terlalu  mengandalkan exterior scene, dan available light  yang terkadang relevansinya terlepas dari naratif.
Bab 12 hingga bab 26 merupakan kumpulan hasil penelitian Salt menggunakan statistical style analysis yang sebagian juga terdapat pada bukunya yang berjudul: Moving Into Picture : More on Film History, Style, and Analysis.
Bab 12 (statistical style analysis of motion pictures-part 1). Bab ini merupakan penelitian style pertama Salt menggunakan pendekatanya. Salt menghitung style fim-film amerika yang rilis sekitar tahun 1913-1929. Pada bab ini pula Salt menetapkan kategori dari skala shot yaitu; long shot (LS), full shot (FS), medium long shot (MLS), medium shot (MS), medium close up (MCU), big close up (BCU). (lihat gambar1 dalam lampiran)
Bab 13 (film style and technology : 1920-1926). Periode ini ditandai dengan kelahiran sinema ekspresionis Jerman (1924) dan perubahan prosedur laboratorium dikarenakan penemuan negatif film 200/400 feet yang menghasilkan gambar bergerak lebih lambat dari sebelumnya.
Bab 14 (film style and technology : 1926-1929). Pada periode ini microphone yang menggunakan sinyal mulai digunakan (1927). Penemuan sound disk recording pun mengubah sistem suara dalam film dimana sebelumnya pengerjaan gambar dan suara dilakukan terpisah kini dapat dilakukan di satu studio saja.
Bab 15 (film style and technology : 1930an). Sistem teknik dua dan tiga warna pada periode  ini mulai digunakan. Teknik ini menggunakan sistem kamera technicolor splitting prisma dimana gambar dengan warna merah dan hijau (dua warna) dalam dua frame dimasukkan ke dalam satu strip negatif panchromatic menghasilkan gambar berwarna.
Bab 16 (style analysis of motion picture – part 2). Pada penelitian Salt di bab ini ia ingin menstabilkan parameter formal sutradara tidak sebatas skala shot saja. Kini Salt memasukkan camera movement sebagai salah satu parameter style sutradara.
Bab 17 (film style and technology in 1940-an). Pada periode ini eksplorasi angle kamera berkembang sangat pesat. Penggunaan low angle, wide angle hingga long take dengan wide angle banyak digunakan pada film-film di periode tersebut.
Bab 18 (film style and technology 1950-an). Periode ini dikenal dengan era benturan ideologi. Teknologi pada periode ini juga menjadi klaim ideologi tertentu seperti negara-negara komunis saat itu seperti Cina dan Kuba lebih memilih kamera buatan Rusia seperti kamera merk  Mitchel BNC dan Moskva EC 32. Klaim ideologi pada kamera berakhir ketika film masuk menjadi sebuah industri dengan persaingan yang ketat.
Bab 19 (statistical style analysis of motion picture – part2). Bab ini berisi hasil penelitian Salt tentang film-film investigasi Amerika yang rilis tahun 1959. Sampel yang digunakannya adalah film-film dalam format DVD maupun VHS.
Bab 20 (film style and technology  1960-an). Periode ini ditandai dengan penemuan kamera 35mm dengan kamera support yang bisa digunakan untuk studio shooting dan menghasilkan gambar bergerak yang lebih halus.
Bab 21 (film style and technology in 1970-an). Penggunaan film warna dan hitam putih mulai banak diekplorasi. Film pertama yang menggunakan style tersebut adalah film young Frankenstein (1974), dimana gambar hitam putih diasosiasikan sebagai periode lampau/masa lalu. Pada periode ini juga mulai digunakan time code system.
Bab 22 ( film style and technology  1980-an). Pada periode ini teknologi perfilman tidak lagi sekedar kamera, sound dan lighting. 1982, babak baru dalam sinema seiring munculnya pengguanaan 3D dan beberapa spesial efek menggunakan komputer dan animasi. Pada periode ini pula Sony Corporation mengeluarkan produk televisi teknologi HD atau HDTV yang memungkinkan kita menonton film tanpa harus ke bioskop.
Bab 23 (film style and technologi  1990-an). Jika sebelumnya Salt hanya meneliti film-film buatan ataupun yang rilis di Amerika, dalam bab ini Salt menganlasis style film-film Eropa.
Bab 24 (statistical style analysis of motion picture – part 4). Pada bab ini berisi hasil penelitian Salt terhadap perubahan style dalam film-film Amerika selama empat puluh tahun (1959-1999). Pada uraian di bab tersebut Salt cukup sistematis memaparkan langkah-langkah penelitiannya, mulai dari pencarian populasi, sampel hingga didapatkan hasil.
Bab 25 (film style and technology in 21st century). Pada bab ini dipaparkan bahwa kamera 35mm sudah sangat jarang  digunakan. Abad 21 merupakan era digital tidak terkecuali teknologi perfilman yang juga berkembang mengikuti tren tersebut. Dengan teknologi digital gambar yang dihasilkan kini lebih realistis bahkan memasuki hyperrealita.
Bab 26 (statistical analysis of the film of Max Ophulus). Jika pada bab-bab sebelumnya Salt melakukan penelitian film sesuai periodesasi teknologi, bab penutup dalam bukunya ini berisi hasil penelitiannya terhadap style seorang sutradara bernama Max Ophulus.
Dari gambaran isi buku diatas, setidaknya kita dapat melihat pandangan Salt mengenai style film dalam bukunya Film Style and Technology : History and Analysis terdiri atas tiga point utama, yaitu
 (1) Kritik terhadap teori film (cultural studies),
 (2) Hipotesa Barry Salt tentang korelasi teknologi dan style film,
(3) Pembuktian atas hipotesa BarrySalt (hasil-hasil penelitian Salt)
Ketiga point tersebut mengantarkan Barry Salt memperkenalkan pendekatan yang masih asing dalam kajian film, yaitu statistik. Untuk memudahkan pembahasan penulis akan memaparkan secara ringkas tiga poin yang dimaksudkan Salt dalam bukunya tersebut.

II.  1.  Kritik Barry Salt Terhadap Teori Film
Dalam bukunya, Film Style and Technology; History and Analysis, Salt tidak memberikan kritik yang baru secara keilmuan. Kritiknya masih berada dalam wilayah perdebatan dua arus paradigma penelitian yaitu paradigma kualitatif dan paradigma kuantitatif.  Dimana sepanjang sejarah keilmuan kedua arus belum bisa dipertemukan, namun yang menjadi kritik Salt adalah kuatnya dominasi paradigma kualitatif dalam penelitian/ kajian film. 
Dominasi ini diwakili oleh banyaknya teori-teori sosial terutama yang berada dalam ranah  cultural studies  yang digunakan  dalam penelitian/kajian film. Dominasi tentu bukan hal yang sehat, oleh karena itu menurut Salt penelitian film perlu pendekatan lain untuk memahami apa dan bagaimana film itu bekerja.
Salt melihat sesungguhnya hanya ada satu hal yang menjadi persoalan dalam penelitian film yang ada saat ini, yaitu interpretasi. Menurutnya, teori atau pendekatan apapun yang digunakan dalam penelitian film selalu menempatkan interpretasi sebagai alat bahkan  metodenya. Karenanya secara garis besar, dalam bukunya tersebut Salt tidak berlarut-larut membahas tentang teori dan metodelogi penelitian dalam kajian film, melainkan langsung ‘menyerang’ pada kelemahan interpretasi yang menjadi satu-satunya alat dalam melakukan penelitian.
Salt memulai ‘serangan’nya tersebut dengan menuliskan; For the unfortunate truth is that many people have great difficulty in thinking rational, logically, and causally, and are limited to purely verbal manipulation. (hal. 2)
Menurut Salt, teori-teori film yang berkembang saat ini tidak lebih hanya sebagai bentuk manipulasi verbal semata, tidak rasional (terukur), tidak logis dan tidak memiliki hubungan kausalitas yang jelas. Namun setidaknya ada tiga kritik Salt terhadap interpretasi dalam kajian/penelitian film, yaitu :


II. 1. A. Interpretasi Tidak Memiliki Metode/Rumusan Yang Pasti.
Sebagai bagian dari ilmu humaniora/sosial, kajian film merupakan studi fenomenologi yang lebih menekankan pada pengalaman sensorial dan pengetahuan perwujudan (knowledge). Dimana objek penelitian ilmu sosial pada dasarnya berhubungan degan interpretasi terhadap realitas. Menurut Edmund Husserl  bahwa penemuan makna dan hakikat realitas ditemukan melalui pengalaman karenanya setiap orang memiliki interpretasi sendiri tentang realitas.
Tidak terkecuali dalam ranah kajian film, peneliti di’halal’kan menggunakan pendekatan masing-masing sesuai dengan bentuk kesadaran dan pengalaman-pengalaman langsung; religius, moral, estetis, konseptual, serta indrawi. Sehingga pendekatan ini tidak memiliki metode atau rumusan yang  pasti dan tetap. Hal tersebut sangat berpengaruh pada hasil penelitian yang berbeda-beda,  meskipun  penelitian/kajiannya menggunakan objek dan  pendekatan yang sama.
                 II. 1. B. Interpretasi Tidak Memiliki Konsistensi
Sekali lagi pemaknaan yang mengandalkan intuisi dan pengalaman peneliti membuat kita terjebak pada pandangan subjektif peneliti yang sifatnya labil. Sebuah tanda maupun teks seringkali memiliki makna yang ambigu. Beberapa bahkan terpenjara dalam  ruang, waktu dan budaya yang sangat dinamis.
Ketika seorang kritikus film menggunakan intuisi pribadinya kedalam proses interpretasi, maka yang trerjadi adalah: kita sebagai penikmat film akan kian tersudut  pada pengembangan wawasan dan terjebak sistem analisa yang sangat subjektif. Ketidak konsistenan interpretasi dalam penelitian film dapat dilihat dari dua hasil kajian mengenai film Young Mr. Linclon  karya John  Ford yang dimuat pada Cahiers du Cinema dalam dua edisi yang berbeda.
Dalam artikelnya di Cahiers du Cinema,  Jonathan Rosenbaum  dan  Bruce Kawin menyebutkan bahwa sorot tajam tatapan mata Linclon diartikan sebagai ‘Castrating’ (pengebirian) sementara bila dipandang dari sudut  psikoanalisa  seperti yang dikutip oleh Peter Wollen dalam artikel  lainnya, sorot mata tajam tersebut  dimaknai sebagai ‘phallus’ (penis) yang identik dengan power (kekuasaan)  dan dominasi pria, serta mewakili simbol pemerkosaan (hal. 16).
Disini terlihat jelas kontras perbedaan interpretasi dimana satu sisi visualisasi tatapan  mata Linclon diartikan sebagai bentuk  ketidakberdayaan (kelemahan karakter sang protagonis yang dikebiri) sedangkan sisi lain tatapan mata  tajam yang sama dimaknai sebagai keangkuhan  maskulinisme Linclon sebagai sosok pria dewasa dan tangguh.
Situasi seperti ini, dimana kajian  interpretasi memiliki dua atau lebih makna yang  jauh berbeda  antara satu dengan yang lain cukup sering terjadi  dan hal ini dianggap wajar  oleh pengikut paham Psikoanalisa.
Dari sini kita dapat melihat kontras perbedaan interpretasi antara satu dan yang lainnya sering terjadi dan hal itu dianggap wajar dalam pandangan psikoanalisa. Namun menurut Salt, ketidakkonsistenan dari interpretrasi film ini justru  dikhawatirkan akan menimbulkan miskonsepsi yang bisa berdampak serius bagi pesan moral dan visi filmaker, serta tentunya akan mempengaruhi  setiap elemen  teknis dan estetika produksi film yang bersangkutan
II.  1. C. Subjektif  Dan Tidak Terukur
Penelitian kualitatif cenderung menggunakan data teks yang bersifat subyektif. Realitas yang dipelajari dikonstruksikan sesuai dengan nilai sosial yang ada, oleh karenanya pemaknaan realitas sesuai dengan pemahaman peneliti. Penelitian kualitatif memiliki jalinan variabel yang kompleks dan sulit untuk diukur. Sebab sekali lagi interpretasi tidak memiliki data ataupun bukti empiris.
Apa yang dimaksud Salt tentang objektifitas adalah sesuatu yang bisa diterima dimanapun dan oleh siapapun serta memiliki konsistensi. Hal inilah yang menurutnya menjadi persoalan terbesar interpretasi. Menurutnya ada kecenderungan intuisi personal peneliti digunakan dalam interpretasi (hal. 16). Penggunaan  intuisi tersebut tampak meningkat secara radikal menjelang akhir pengambilan hasil.
Masing masing kritikus film, sineas dan para pelaku film memiliki motif agenda, ekspektasi, pengharapan maupun latar belakang  sosio ekonomik serta budaya sendiri dalam mengambil sikap  yang berkenaan dengan proses interpretasi sinema.
Hal ini pula yang menyebabkan sulitnya menghitung tingkat validitas hasil penelitian kualitatif, sebab hasil penelitian tersebut tergantung kuat atau lemahnya  argumentasi yang digunakan peneliti.
Tiga poin kritik Salt terhadap interpretasi dalam penelitian film membawanya pada kesimpulan bahwa kita membutuhkan pendekatan yang lain dalam kajian film. Pendekatan kualitatif dianggap tidak dapat memberikan kepastian pada setiap hasil penelitian serta sangat jauh darikaidah-kaidah ilmiah.
one of the merits of the theoretical framework for film put forward here is that it has spaces to accommodate quantities of useful work, writing, and information  that have been produced in the past and are still being produced by a large number of people interested in films. (hal. 29)
Bagi Salt, teori-teori film yang berlandaskan interpretasi dan subjektifitas tidak memiliki pengaruh apapun terhadap perkembangan film itu sendiri. Teori-teori yang ada hanya akan menjadi mesin produksi makna secara terus-menerus.
Bagi Salt, setidaknya dalam penelitian film harus mengikuti kaidah-kaidah ilmiah/sains. Ia menyebut bahwa kaidah ilmiah menitikberatkan pada paradigma objektif dimana penelitian memiliki kesinambungan antara teori, eksperimen, dan observasi sehingga hasil yang didapat bersifat sama dan tetap dimanapun itu diterapkan (hal. 2). Satu hal yang tidak ditemukan dalam metode penelitian kualitatif.
Untuk itu Salt menyerukan pentingnya seorang reviewer/peneliti film untuk lebih mempertimbangkan aspek teknis, yang antara lain  melibatkan depth of field, editing, shot selection, dan elemen lainnya kedalam rumusan filmnya. Dengan demikian kerangka teori yang digunakan akan menyulitkan urusan personal peneliti masuk kedalamnya.
Prihal analisis filmnya tersebut Salt membaginya menjadi tiga point, yaitu ;
1)      Berdasarkan  konstruksi  teknisnya (jenis kamera yang digunakan, ukuran lensa, angle, editing,)
2)      Style sang sutradara (executive and artistic decision, seperti koreo adegan, arah pandang, ekspersi dsb) Dimana menurut Salt faktor kedua ini lebih banyak diabaikan dalam perumusan teori film dewasa ini.
3)      Dan yang terahir dan relatif kurang signifikan dari dua faktor diatas adalah film dapat dianalisa dengan mengukur seberapa besar tingkat respon dari penonton.





II. 2. Hipotesa Barry Salt
II.  2. A. Style dan Teknologi
Dalam kritiknya terhadap paradigma penelitian dalam kajian film, Salt memberi solusi pentingnya kembali pada material film dan mempertimbangkan aspek teknis sebab film merupakan hasil dari kerja-kerja teknis dan kedua hal tersebut merupakan bentuk empiris dari film itu sendiri.
Hipotesis Salt tersebut bukan hanya mendobrak ‘pakem’ penelitian film yang sudah ada. Dia bahkan memberi pandangan baru terhadap bagaimana kita melihat sejarah film itu sendiri. Setelah sebelumnya sejarah film hanya memuat tentang materi film seperti tema, style, narasi, dll. Kini Salt memberi pandangan tentang material film itu sendiri seperti teknologi  kamera, lighting, sound, editing dan beberapa istilah teknis lainnya yang kurang disentuh pada penelitian film saat ini.
Dalam kajian sejarah sebelumnya, style film misalnya hanya sekedar dijadikan penanda kelahiran genre, aliran, hingga ciri khas seorang sutradara (author) semata. Namun, Salt menegaskan pentingnya menguji seberapa  tinggi tingkat akurasi rumusan  teori yang digunakan. Penilaian objektif secara penuh dalam perumusan teori film mutlak diperlukan karena hal ini akan mendorong tumbuhnya penerapan ilmu komunikasi yang lebih maksimal.
Menurut Salt, film begitu juga karya seni lainnya tidak sekedar dilihat dari segi estetikanya. Mereka harus dihargai sebagai kemampuan penguasaan teknik yang menghasilkan sesuatu yang bernilai. Namun tentu saja kemampuan teknis tersebut terbatas pada media/teknologi yang digunakan dalam film itu sendiri baik itu kamera, pencahayaan, editing, dll, yang membatasi keinginan seorang sutradara menampilkan gambarannya secara ideal.
Sebagai contoh,  sineas ditahun 1890an dimana film saat itu masih hitam putih. Mereka terbatasi kendala teknis untuk menampilkan gambar bergerak sesuai realitas maupun keinginan mereka. Berbeda dengan kondisi 1930an dimana film berwarna telah ditemukan. Pada saat tersebut sineas memperoleh lebih banyak alternatif teknik yang dapat digunakan. Mereka tinggal memilih menggunakan film hitam-putih, berwarna atau menggabungkan keduanya.
            Sekali lagi Salt menitikberatkan analisisnya kepada konstruksi teknis dalam menganalisa film,  lebih lanjut Salt menjelaskan bahwa evolusi kemajuan  teknologi industri perfilman yang dibarengi dengan pergeseran nilai-nilai budaya sosial dimasarakat, telah memberikan dampak yang sangat besar terhadap perkembangan sinema dimasa kini berikut dinamisme perumusan teori dan kajian baru dalam film.
Untuk membuktikan hipotesanya tersebut Salt melakukan penelitian  style film sesuai periodesasi dengan menelusuri teknologi-teknologi yang digunakan. Mulai dari jenis dan merek kamera, lensa, lampu, hingga fasilitas yang dimiliki studio editing. Dari penelusuran tersebut Salt dapat memprediksikan teknis-teknis apa saja yang dapat digunakan dalam pembuatan film dan kemungkinan style yang dapat ditampilkan.
Contoh hasil penelitiannya adalah ketika style film seolah-olah mengikuti pakem teater (1890an), Salt menemukan bahwa ternyata ditahun tersebut pengaruh frame photographic  sangat besar disamping kamera film secara fisik sangat besar dan berat. Edison Kinetograph merupakan merk kamera pertama yang digerakkan menggunakan alat elektrik bermotor untuk memudahkan penggunaannya (hal. 35)
Salt juga membandingan film-film era 1890an dan 1900an. Dimana tahun-tahun tersebut merupakan era film bisu. Meski sama-sama film bisu, film 1890an memiliki perbedaan style yang cukup signifikan dibanding dengan film bisu era 1900an.
Ini bisa dilihat dimana film era 1890an camera speed yang cepat  (fast motion) dalam adegan. Hal ini disebabkan oleh film negatif yang diproduksi  Kodak  pada era tersebut masih diperuntukkan untuk fotografi dan hanya memiliki panjang 100ft, sehingga durasi adegan harus dipadatkan atau disesuaikan dengan panjang pita film. Adapun hentakan yang terjadi pada adegan atau ketidak konsistenan intermitten movement (kumpulan gambar diam yang digerakkan secara konstan sehingga terjadi ilusi gerak pada film) pada saat film diputar tesebut merupakan pengaruh proyektor yang langsung terhubung pada kamera. Proyektor yang bisa memutar film lebih halus baru ditemukan tahun 1896. (hal. 36)
Meski proyektor yang lebih bagus telah ditemukan namun hentakan (ketidak konsistenan intermitten movement)  masih terjadi pada film-film 1900an. Hal ini bukan disebabkan oleh proyektor, melainkan gerak kamera (camera movement) Era 1900an merupakan awal dimana track kamera (salah satu bagian dari camera movement) digunakan,  dengan durasi film yang lebih lama dan gambar yang lebih halus dan gerak yang lebih konstan. Hal ini disebabkan karena Kodak telah mengeluarkan film khusus untuk gambar bergerak (motion picture negative) dengan panjang 200ft, selain peralatan pendukung kamera  (grip support) semakin berkembang
Oleh karena itu, pendekatan  teori film Salt mengembalikan pengamatan kepada material film itu sendiri. Satu-satunya dalam film yang dapat diukur melalui pendekatan sains. Ia menyebutnya sebagai scientific realisme (hal. 1), merujuk pada pengertian Stanley Kubrick tentang scientific realisme merupakan kondisi yang di dalamnya terdapat sesuatu yang benar-benar dapat diteliti.
Pertanyaan kemudian mengapa harus style film yang menjadi sentral penelitian Salt? Jawabannya kembali pada pernyataan Eisenstein mengenai mise-en-scene, dimana mise-en-scene merupakan segala sesuatu yang nampak dalam layar (scene).
Studi atas mise-en-scene merupakan relasi antara persoalan Subjek film dan film style [4]. Film style sendiri dikenal sebagai teknik pembuat film atau sutradara dalam memberi makna atau nilai tertentu dalam filmnya. Hal ini dapat mencakup semua aspek dalam pembuatan film seperti sound, mise-en-scene, dialog, sinematografi, ekspresi, dll.
Merujuk pada komentar Eisenstein dalam mise en shot[5] bahwa hal yang paling empiris dalam film adalah style terutama yang berada dalam kendali sutradara[6] dan dapat diidentifikasi dan  diukur melalui parameter shot.
Apa yang dilakukan Salt membuatnya dianggap sebagai seseorang yang mengembalikan tradisi formalism (neo-formalism) meski ia menolak disebut neo Eisenstein, yang membedakan teori Salt dan formalisme Eisenstein adalah teori Salt juga memiliki persamaan ciri dengan  teori-teori yang lahir pada masa post strukturalism dimana estetika dan efektivitas phenomenologi diabaikan untuk mengeksplorasi produksi makna teks sebagai Aset strategi diskursif. Salt bahkan memperlakukan teks secara ‘kasar’ dan merubahnya manjadi averege shot lenghts (panjang rata-rata shot) , camera movements, shot types, dll.
Bagi Salt,  style film merupakan hubungan relasional dan perbandingan beberapa fenomena karenanya penelitian tentang style film harus dapat merumuskan  norma-norma dalam sebuah fenomena beserta inovasi yang mengikutinya. Salt mengantisipasi hipotesisnya dengan menggunakan paradigma positifisme (salah satu paradigma ilmu pengetahuan dengan berdasar rasional)  agar hasil penelitian stylenya dapat digeneralisir.

Paradigma ini dapat menghindarkan peneliti dari perdebatan interpretatif mengenai fitur-fitur film yang sering ditemui dalam metode penelitian film yang umum digunakan (hal. 36). Dengan demikian maka penelitian film pun akan semakin dekat dengan kajian ilmiah.

II.  2. B. Statistical Style Analysis
Untuk menyempurnakan pendekatannya dan membuktikan secara empiris teorinya, Barry Salt  menggunakan statistik dalam mengukur style film yang menjadi objeknya. Hasil perhitungannya tersebut ditunjukkan melalui diagram batang. Selanjutnya metode ini lebih dikenal dengan sebagai stylistic atau Statistical style analysis.
Pada stylistic, Salt merujuk style kepada satu set pola terukur yang signifikan dan menyimpang dari norma-norma kontekstual dimana style seorang sutradara merupakan parameter formal mereka yang tersistematis dalam filmnya.[7] Fungsi statistik sendiri adalah mengukur atau menjumlah data kemudian merepresentasikan data tersebut sebagai aturan dasar yang bersifat tetap atau final.
Pendekatan statistik dalam penelitian film  memberikan hasil secara visual angka-angka yang lebih jelas dan sistematis. Statistical style analysis sendiri secara spesifik memiliki 3 tujuan standar, yaitu :
1.      Menawarkan analisis style dengan menggunakan pendekatan kuantitatif.
2.      Menghindari sengketa teks yang berkaitan dengan atribut kepenulisan
3.      Untuk mengidentifikasi kronologis film ketika adegan atau urutan komposisi tidak jelas atau tidak runut[8].
Memasukkan statistik sebagai alat analisa, Statistical style analysis berhasil menghindari hubungannya antara style dan tema sebuah film, sesuatu yang menjadi fokus pada teori mise-en-scene terdahulu yang ’mati-matian’ membantah asumsi bahwa tampilan scene dalam sebuah film (gerakan kamera, tata cahaya, dll) hanya keperluan estetika semata. Analisis style dalam pendekatan statistik menunjuk satu set pola terukur yang secara signifikan menyimpang dari norma kontekstual film.
Analisis style yang digunakan Salt melibatkan statistik baik secara deskriptif dan inferensial. Tujuan  utamanya adalah mengumpulkan jumlah dan frekuensi data parameter formal sutradara  kemudian diwakilkan ke dalam grafik, dan presentase variable.
Dalam pengambilan sampel film yang diteliti, Salt menggunakan penarikan sampel secara acak (simple random sampling) atau disesuaikan dengan kemampuan peneliti dalam mengumpulkan film-film yang diinginkan. Sebab diakui lembaga-lembaga yang mendokumentasikan film memiliki keterbatasan dalam menyediakan film-film yang di inginkan.
Penghitungan dapat dilakukan dengan mengukur panjang pita film atau durasi pada film yang menggunakan cakram digital (CD) selang satu menit atau  per 100-feet  pada film 35mm. Pada kenyataannya Salt hanya mengumpulkan shot yang muncul dalam 30menit film yang dianalisanya. Menurutnya shot-shot yang muncul 30menit awal film merupakan repsentasi sampel film tersebut. Namun belakangan, keputusan menghitung shot seluruh film dilakukan agar skala shot lebih akurat. 
Adapun style  individu sutradara dapat diidentifikasi dengan cara  mengumpulkan data parameter formal secara sistematis terutama yang berada dalam kendali langsung sutradara seperti :
Average shot length/ASL  (Duration of the shot / panjang rata-rata shot)
Shot scale
Camera movement.
a.  Average shot length/ASL
Konsep ASL merupakan panjang dari film dibagi dengan jumlah shot di dalam film, yang dapat dinyatakan sebagai panjang fisik yang sebenarnya dari film atau lebih dikenal sebagai durasi.  Sebelumya untuk film yang menggunakan celluloid/film bisu dimana kecepatan proyektor mempengaruhi durasi  Barry menggunakan satuan  feet yang diambil dari panjang pita. Namun hal ini menimbulkan persoalan ketika perbandingan dilakukan dengan film-film yang dibuat pada masa yang berbeda. Untuk itu Barry mengganti satuan ASL menjadi detik, mengingat akurasi persentase kecepatan  proyektor pada film bisu hanya memiliki perbedaan yang sangat kecil.
Dalam penghitungan statistiknya, Barry merekomendasikan beberapa cara untuk memilih interval waktu yang digunakan dalam menghitung ASL, yaitu :
1.      Gunakan interval waktu per satu menit atau 60 detik pada film dalam cakram digital (CD) atau 100-feet pada film 35mm
2.      Lakukan  perhitungan jumlah tipe shot dalam angka (misalnya 50 tipe shot) kemudian hitunglah jumlah shot dari keseluruhan tipe shot yang ada.
3.      ASL atau panjang rata-rata shot didapat dari perhitungan interval waktu keseluruhan  scene dalam film. Kemudian hitunglah jumlah shot seluruhnya.  Jika scene berlangsung 2 menit (120 detik) dan jumlah shot setiap scene adalah 12 maka  ASL nya adalah 10 detik (ASL = durasi film : jumlah shot)

b.  Skala Shot
Pada mulanya Barry mendapatkan skala shot kebanyakan dari data-data untuk ASL  (scene dan jumlah  shot) dan  hasil persentase terbalik dari potongan angle yang diambil dari 30 menit panjang  film atau setidaknya 200 shot. Namun kriteria tersebut tidak memuaskan dengan range error (tingkat kesalahan) mencapai lebih 10%. Karenanya distribusi skala shot sekarang diambil dari keseluruhan panjang film. Adapun tipe shot yang dihitung adalah :
1.      Big Close Up (BCU)
2.      Close Up (CU)
3.      Medium Close Up (MCU)
4.      Medium Shot (MS)
5.      Medium Long Shot (MLS)
6.      Full Shot (FS)
7.      Long Shot (LS)

c.     Camera Movement
Tren menggunakan gerak  kamera yang luas muncul pada akhir abad ke-20 dan masih berlangsung hingga memasuki periode film bersuara. Hal ini memunculkan perbedaan antara jumlah shot dengan gerak kamera (Camera Movement). Perdebatanpun muncul tentang apakah gerak kamera merupakan salah satu bagian dari style sutradara dimana gerak kamera tidak menampakkan kerja-kerja sutradara didalamnya melain kerja cameraman.
Namun menyadari bahwa gerak kamera berada dalam kewenangan sutradara dalam hal ini kamera bergerak sesuai  keinginan  sutradara dan lebih jauh melihat kedekatan kerja antara sutradara dan cameraman yang lebih dibanding kru lainnya, dalam hal ini jika sutradara  memutuskan untuk tracking shot maka eksekusi berada pada operator kamera dibanding lighting cameraman.
Alasan tersebutlah yang membuat Barry menyimpulkan bahwa camera movement merupakan bagian dari style sutradara. Adapun penghitungan skala camera movement mencakup :
1.      Pan
2.      Tilt
3.      Pan With Tilt
4.      Track
5.      Track With Pan
6.      Crane
II. 2. C. Hasil  Penelitian
Pada Bab 24 (hal. 367) berisi hasil  penelitian Salt terhadap perubahan style dalam film-film Amerika selama empat puluh tahun (1959-1999).  Pada uraian di bab tersebut Salt cukup sistematis memaparkan langkah-langkah penelitiannya, mulai dari pencarian populasi, sampel hingga didapatkan hasil. Dalam penelitiannya tersebut, Salt mengambil sampel 20 film dari tahun 1959 dan 20 film dari tahun 1999.
Salt menggunakan penarikan  sampel random (acak) melalui database film yang terdapat pada situs film www.imdb.com, ia menemukan ada 671 film dan memilih 20 judul secara acak. Kesulitan datang ketika 20 film tersebut sulit didapat dalam bentuk DVD, sehingga Salt memilih hanya film-film yang diputar di Inggris baik di bioskop maupun televisi. Iapun meminta 500 orang memberikan  rating untuk film-film yang ada, hasilnya ia mengumpulkan 179 film. Ia lalu memilih 20 film yang di rilis tahun 1959 dan1999.
Setelah melakukan perhitungan Salt menemukan rata-rata panjang shot film yang rilis tahun 1999 adalah 5,5 detik dan 9,3 detik untuk film yang rilis tahuan 1959. Tampak jelas film-film yang dirilis tahuan 1959  lebih panjang dibanding film yang dirilis tahun 1999.
Setelah menghitung shot dengan menggunakan skala 500 shot, Salt  tidak menemukan banyak kemiripan antara film yang rilis antara 1959 dan 1999. Hal yang paling mencolok adalah penggunaan Big Close Up dan Close Up yang cukup banya pada film-film yang rilis tahun1999. Sementara film yang rilis tahun 1959 tampak lebih seimbang dimana tampak pada jumlah  Medium Shot Out ke Long Shot.  Satu hal yang tampak menyimpang dari film-film yang dirilis tahun 1999.  (hal. 371)
Dalam penelitian yang sama, Salt juga menghitung skala shot serial televisi Amerika yang diputar tahun 1999, Melrose Place dan Dark City. Hasilnya cukup mengejutkan. Serial televisi  Amerika di tahun 1999 memiliki lebih banyak kemiripan dengan film yang rilis di tahun yang sama.
Dari sini jelas antara serial televisi dan film kini semakin mirip. Salt juga melakukan komparasi style film dengan serial televisi lain sesuai genrenya dan menemukan hasil antara film dan serial televisi  tidak memiliki banyak perbedaan mencolok dalam style nya. Tentu saja hasil penelitian Salt ini mematahkan asumsi sebelumnya dimana style serial televisi  dianggap tidak sinematik.













BAB III
KESIMPULAN
Dari pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa, style film bukan sekedar kepentingan estetika belaka. Jika dengan kajian cultural studies, style film dicurigai merupakan bagian produk budaya yang memiliki agenda politik kelas tertentu,  kini saatnya melihat film secara objektif dan netral. Tentu saja tanpa harus mencurigai secara sinis ideologi orang-orang yang berada dibelakang pembuatan film.
Apa yang telah dilakukan Barry Salt telah memberi kita sebuah perspektif baru mengenai sejarah style  film.  Kini style film tidak  selalu harus dilihat melalui sisi naratifnya ataupun interpretasi teks terhadap tampilan film itu sendiri. Film style juga dapat dilihat melalui kacamata teknis,  sejarah perfilman bukan lagi tentang pertarungan ideologi dan kelas tertentu melainkan sebuah perjalanan inovasi teknologi untuk mewujudkan gambar bergerak yang ideal.
Analisis style kini tidak sekedar mesin pencipta makna yang beroperasi terus-menerus, melainkan sebuah relasi baru mengenai teknologi dan film style  itu sendiri. Dimana film  style merupakan suatu keterbatasan teknis yang terus menerus diperbaharui dengan inovasi-inovasi baru teknologi pembuatan film. Teknologi dalam dunia perfilman bukan lagi sebuah tuntutan sains melainkan kebutuhan ‘komersilitas’ industri.
Stastisitik style adalah pendekatan yang diperkenalkan Barry Salt, meski bukan metode baru dalam penelitian sosial namun memberi alternatif baru dalam  kajian sinema yang selama ini didominasi oleh pendekatan kualitatif. Selain memberi pandangan baru dalam kajian film yang lebih rasional, objektif, dan sistematis. Pendekatan ini pula dapat menghindarkan perdebatan interpretatif pada hasil akhir penelitian.
Lebih lanjut, penelitian  style film menggunakan metode statistik atau statistical style analysis memberi kesempatan lebih banyak mengeksplorasi objek yang diteliti mengingat hubungan erat antara teknologi pembuatan film dan style film. Karena semakin berkembang teknologi film maka semakin banyak pula parameter formal yang bisa digunakan sutradara dalam menciptakan stylenya sendiri.
Hasil penelitian Barry Salt dengan menggunakan pendekatannya tersebut berhasil membuktikan secara empirik/angka-angka bahwa style cinema dan style televisi dalam satu periodik tampak sama sekali tidak berseberangan. Anggapan yang mengatakan bahwa style televisi  tidak cinematik telah dibantahkan dengan melihat hasil perhitungan data statistik shot keduanya yang ternyata lebih memiliki banyak persamaan.
Apa yang menjadi hasil penelitian Salt terhadap Style cinema dan style televisi juga memperkuat hipotesanya tentang teknologi. Dimana perkembangan teknologi televisi selalu mengekor pada teknologi cinema sendiri, hal ini bisa dilihat mulai dari format HD hingga 3D yang juga marak digunakan dalam teknologi pertelevisian.
Dari pembahasan di atas, jawaban  mengenai apa yang mempengaruhi style film telah dijawab Baryy Salt lewat analisis stylenya. Ia telah membuktikan bahwa teknologi lebih berperan dalam tampilan style sebuah film ketimbang ideologi, kelas sosial, dll. Sesuatu yang dianggapnya hanya membahas film secara artificial semata.







DAFTAR PUSTAKA
Thomas Elsaesser & Warren Buckland Studying Contemporary American Film, Oxford University Press Inc, 2002
John Gibbs and Douglas Pye, Style and Meaning; Studies In The Detailed Analysis Film, Manchester University Perss, 2005
Bazin, Andre The Evolution of Language of Cinema” dalam Leo Brudy and Marshall, Film Theory and Criticism, 1999
Salt, Barry Film Style and Tecnology : History and Analysis, Starword, 2009
Bordwell, David On The History of Style film, Harvard University Pres, 1997.
Bordwell, David Making Meaning; Inference And Rhetoric In The Interpretation Of Cinema, Harvard University press, 1989
Gibbs, John Mise-en-scène. United Kingdom: Wallflower Press, 2002.












Lampiran 1


Text Box: Gambar 1: Perbedaan skala shot - long shot (LS), full shot (FS), medium long shot (MLS), medium shot (MS), medium close up (MCU), big close up (BCU), very long shot (VLS)
 























Lampiran 2

Gambar 2 : Daftar isi buku  Film Style and Technology : History and Analysis karya Barry Salt
 
Lampiran 3.
Gambar 3 : Halaman copyright buku Film Style and Technology : History and Analysis karya Barry Salt

 
 
Lampiran 4.
Gambar 4 : Sampul buku Film Style and Technology : History and Analysis karya Barry Salt

 
 



[1] David Bordwell, On The History of Style film, Harvard University Pres: 1997 (hal 1)

[2] David Bordwell, On The History of Style film, Harvard University Pres: 1997 (hal 1)

[3] Single frame filming kini lebih dikenal dengan teknik stop motion, awalnya dua potongan huruf dibuat bergerak membentuk kata-kata dengan menggesernya sedikit demi sedikit dalam satu frame dengan exposure yang sama . Teknik ini kemudian menjadi satu standar dalam animasi (Film Style and Technology : History and Analysis hal. 50)
[4] John Gibbs. Mise-en-scène. United Kingdom: Wallflower Press, 2002.
[5] mise en shot  merujuk pada ‘kekhasan’ yang berkaitan dengan mise en scene dalam  sinematografi
[6] Thomas Elsaesser & Warren Buckland. Studying Contemporary American Film. Oxford University Press Inc : 2002
[7] Ibid 5
[8] Ibid 5

1 komentar:

  1. Oke shiipp.. thanks ya.. keren.. semua rujukan sdh aku lihat.. sukses selalu..

    BalasHapus